KeSimpulan.com Dokumentasi Berita Sains
(2008-2013)
HOME - ARSIP - PENCARIAN

Selasa, 10 Maret 2009

Efektivitas Modifikasi Perilaku Kognitif Untuk Mengurangi Kecemasan Komunikasi Antar Pribadi

(kesimpulan) Hasil penelitian Berlo tahun 1980, bahwa 70% waktu aktif manusia di Amerika Serikat digunakan untuk berkomunikasi. Bentuk komunikasi secara garis besar dibagi dalam dua sistem: Pertama, Komunikasi pribadi yang terbagi menjadi dua: a) Komunikasi intra pribadi yaitu proses komunikasi yang berlangsung dalam diri seseorang b) Komunikasi antar pribadi yaitu proses komunikasi yang berlangsung antara individu satu dengan individu lainnya. Kedua, Komunikasi kelompok: proses komunikasi yang terjadi pada suatu kelompok manusia, terbagi dalam kelompok kecil, kelompok besar, dan komunikasi massa.

Burgoon dan Ruffner mengatakan, komunikasi antar pribadi harus dibedakan dari berbicara di muka umum maupun komunikasi di dalam kelompok. Komunikasi antar pribadi juga harus mampu mencerminkan bahwa manusia yang berkomunikasi mampu mengekspresikan kehangatan, keterbukaan, dukungan terhadap pihak yang sedang diajak berkomunikasi. Bochner dan Kelly mengemukakan adanya kemampuan-kemampuan yang dibutuhkan dalam menjalin komunikasi antar pribadi, yaitu: (1) empati, atau proses kemampuan menangkap hal¬hal yang terdapat di dalam komunikasi dengan orang lain dengan cara menganalisis isi pembicaraan, nada suara sehingga dapat menangkap pikiran dan perasaan yang sesuai dengan orang yang bersangkutan, (2) diskripsi, kemampuan untuk membuat pernyataan yang konkrit, spesifik, diskriptif, (3) kemampuan merasakan dan memahami pernyataan yang dibuat dan bertanggungjawab sehingga tidak hanya menyalahkan orang lain terhadap perasaan yang dialami, (4) sikap kedekatan, keinginan untuk membicarakan perasaan-perasaan pribadi, (5) tingkah laku yang fleksibel ketika menghadapi kejadian yang baru dialami.

Meskipun komunikasi antar pribadi telah menjadi bagian hidup manusia, banyak permasalahan yang timbul berkenaan dengan komunikasi. Perselisihan yang tedadi antara dua sahabat akibat salah paham, dapat bersumber dari kesalahan komunikasi. Suatu keluarga dapat terbentuk menjadi harmonis atau tidak harmonis dapat dilacak dari hubungan komunikasi yang terjadi di keluarga tersebut.

Salah satu masalah yang dihadapi manusia dalam berkomunikasi dikenal dengan istilah hambatan komunikasi (communication apprehension). Orang yang mengalami hambatan komunikasi akan merasa sulit dan merasa cemas ketika harus berkomunikasi antar pribadi, sehingga tidak mampu mencerminkan rasa kehangatan, keterbukaan, dan dukungan. Individu yang mengalami kecemasan dalam berkomunikasi akan merasakan adanya perubahan psikis dan fisiologis. Perubahan psikis ditandai dengan perasaan tegang, khawatir, dan takut. Perubahan fisiologis yang terjadi ketika cemas yaitu denyut jantung, pernafasan, dan tekanan darah yang meningkat.

Croskey menunjukkan 15-20% mahasiswa di Amerika Serikat menderita hambatan komunikasi communication apprehension. Hurt (1978) melaporkan 10-20% mahasiswa di berbagai Perguruan Tinggi Amerika menderita kecemasan berkomunikasi. Burgoon dan Ruffner (1978) mengemukakan 10-20% populasi di Amerika Serikat mengalami kecemasan berkomunikasi yang sangat tinggi, dan sekitar 20% yang mengalami kecemasan komunikasi yang cukup tinggi.

Markman pada tahun 1977 melakukan, teknik modifikasi perilaku-kognitif dan hasil penelitiannya menunjukkan bahwa modifikasi perilaku-kognitif ternyata efektif untuk mengatasi kecemasan komunikasi antar pribadi yang dilakukan pada subjek remaja. Teknik modifikasi perilaku-kognitif merupakan teknik yang sedang berkembang pesat sejak dekade yang lalu. Mchenbaum menggabungkan antara modifikasi perilaku dan terapi kognitif. Modifikasi perilaku kognitif didasarkan pada asumsi bahwa perilaku manusia secara resiprok dipengaruhi oleh pemikiran, perasaan, proses fisiologis, serta konsekuensinya pada perilaku. Jadi bila ingin mengubah perilaku yang maladaptif dari manusia, maka tidak hanya sekedar mengubah perilakunya saja, namun juga menyangkut aspek kognitifnya.

Modifikasi perilaku-kognitif terdiri dari berbagai prosedur pelatihan yang berbeda-beda, termasuk di dalamnya antara lain relaksasi, terapi kognitif, dan pemantauan diri. Modifikasi perilaku-kognitif merupakan gabungan terapi perilaku dan terapi kognitif. Dalam pelaksanaannya, modifikasi perilaku-kognitif menekankan pada pemahaman terhadap aspek pengalaman kognisi yang berbeda-beda misalnya kepercayaan, harapan, imaji, pemecahan masalah, disamping mempelajari ketrampilan teknik perilaku.

Dalam mempertimbangkan bahwa: (a) komunikasi merupakan hal penting, sehingga kualitas hidup manusia, hubungan sesama manusia dapat ditingkatkan dengan memahami dan memperbaiki komunikasi yang dilakukan. (b) masalah kecemasan komunikasi antar pribadi merupakan masalah emosional yang dapat ditangani dengan modifikasi perilaku-kognitif. (c) perlunya ditemukan teknik yang seefektif mungkin untuk mengatasi kecemasan komunikasi antar pribadi, maka penulis merasa tertarik dan ingin melakukan studi wacana tentang efektivitas modifikasi perilaku-kognitif untuk mengatasi masalah kecemasan antar pribadi.

Modifikasi perilaku-kognitif efektif untuk mengatasi individu yang mengalami kecemasan komunikasi antar pribadi. Modifikasi perilaku-kognitif merupakan teknik menggabungkan terapi kognitif dan bentuk modifikasi perilaku. lndividu yang akan bertindak, sebelumnya didahului adanya proses berpikir, sehingga bila ingin mengubah suatu perilaku yang tidak adaptif, terlebih dahulu harus memahami aspek-aspek yang berada dalam pengalaman kognitif dan usaha untuk membangun perilaku adaptif melalui mempelajari ketrampilan-ketrampilan yang terdapat pada terapi perilakuan.

Meichenbaum menekankan interaksi antara manusia dan lingkungan. Modifikasi perilaku-kognitif merupakan bentuk terapi yang ingin melihat bahwa individu tidak hanya dipahami melalui perilaku yang tampak saja seperti yang dilihat oleh pihak perilakuan (behaviorist), namun dibalik tingkah laku yang tampak terdapat proses internal yang sebenarnya merupakan hasil pemikiran kognisi. Tidak mudah untuk menjelaskan definisi modifikasi perilaku-kognitif. Di dalam modifikasi perilaku-kognitif terdapat berbagai macam prosedur, termasuk di dalamnya terapi kognitif, terapi emotif rasional, latihan penurunan stress, latihan pengelolaan kecemasan, kontrol diri, dan latihan instruksi diri. Modifikasi perilaku-kognitif dilakukan berkenaan untuk menolong klien mendefinisikan problem kognitif dan perilakunya, dengan mengembangkan kognisi, emosi, perubahan perilaku dan mencegah kambuh kembali.

Asumsi yang mendasari modifikasi perilaku kognitif adalah: 1) Kognisi yang tidak adaptif membentuk tingkah laku yang tidak adaptif pula. 2) Peningkatan diri yang adaptif dapat ditempuh melalui peningkatan pemikiran yang positif. 3) Klien dapat mempelajari peningkatan pemikiran mengenai sikap, pikiran, dan tingkah laku.

Meichenbaum mengemukakan 10 hal yang harus diperhatikan seorang terapis dalam penggunaan modifikasi perilaku-kognitif, yaitu: 1) Terapis perlu memahami bahwa perilaku klien ditentukan oleh pikiran, perasaan, proses fisiologis, dan akibat yang dialaminya. Terapis dapat memasuki sistem interaksi dengan memfokuskan pada pikiran, perasaan, proses fisiologis, dan perilaku yang dihasilkan klien. 2) Proses kognitif sebenarnya tidak menyebabkan kesulitan emosional, namun yang menyebabkan kesulitan emosional adalah karena proses kognitif itu sendiri merupakan proses interaksi yang kompleks. Bagian penting dari proses kognisi adalah meta-kognisi yaitu klien berusaha untuk memberi komentar secara internal pada pola pemikiran dan perilakunya saat itu. Struktur kognisi yang dibuat individu untuk mengorganisasi pengalaman adalah personal schema. Terapis perlu memahami personal schema yang digunakan oleh klien untuk lebih mamahami masalah yang dialami klien. Perubahan personal schema yang tidak efektif adalah bagian yang penting dari terapi. 3) Tugas penting dari seorang terapis adalah menolong klien untuk memahami cara klien membentuk dan menafsirkan realitas. 4) Modifikasi perilaku-kognitif memahami persoalan dengan pendekatan psikoterapi yang diambil dari sisi rasional atau objektif. 5) Modifikasi perilaku-kognitif ditekankan pada penjabaran serta penemuan proses pemahaman pengalaman klien. 6) Dimensi yang cukup penting adalah untuk mencegah kekambuhan kembali. 7) Modifikasi perilaku-kognitif melihat bahwa hubungan baik yang dibangun antara klien dan terapis merupakan sesuatu yang penting dalam proses perubahan klien. 8) Emosi memainkan peran yang penting dalam terapi, untuk itu klien perlu dibawa ke dalam suasana terapi yang mengungkap pengalaman emosi. 9) Terapis perlu menjalin kerjasama dengan pihak keluarga ataupun pasangan klien. 10) Modifikasi perilaku-kognitif dapat diperluas sebagai proses pencegahan timbulnya perilaku maladaptif.

Pengukuran merupakan hal yang penting dalam modifikasi perilaku-kognitif. Melalui pengukuran akan diperoleh data yang berguna untuk melakukan identifikasi, klasifikasi, prediksi, spesifikasi, dan evaluasi. Terapis perlu mengidentifikasi faktor-faktor pada subjek yang dapat menjadi penghambat ataupun pendorong timbulnya perilaku subjek, aspek biologis, dan anatomis. Setelah informasi diperoleh, terapis dapat melakukan klasifikasi perilaku yang tidak adaptif, dan perilaku yang adaptif. Prediksi yang dilakukan terutama terkait dengan kontrol yang bersifat terapiutik untuk munculnya perilaku adaptif. Langkah selanjutnya adalah menentukan teknik serta tujuan yang ingin dicapai. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh efek pelatihan berpengaruh terhadap subjek.

Modifikasi perilaku-kognitif terdiri dari bermacam-macam teknik. Pada bagian ini akan dibahas teknik-teknik yang digunakan dalam penelitian ini. (a)Teknik relaksasi. Teknik ini dilakukan berdasar pada asumsi bahwa individu dapat secara sadar untuk belajar merilekskan otot-ototnya sesuai dengan keinginannya melalui suatu cara yang sistematis. Ada bermacam-macam teknik relaksasi, salah satunya yaitu teknik relaxation via letting go agar subjek mampu melepaskan ketegangan dan akhirnya mencapai keadaan tanpa ketegangan. Diharapkan subjek belajar menyadari ketegangannya dengan menegangkan otot-ototnya dan berusaha untuk sedapat mungkin mengurang dan menghilangkan ketegangan otot tersebut. Selain itu dilatihkan pula teknik diferential relaxation yang mengajarkan kepada subjek ketrampilan untuk merilekskan otot-otot yang tidak mendukung aktivitas yang dilakukan, karena dalam keadaan cemas seluruh otot cenderung tegang, walau otot tersebut kurang berperan dalam aktivitas tertentu.

Distorsi kognitif yang dapat dialami oleh individu terdiri dari penyimpangan pemikiran-pemikiran dapat dipaparkan sebagai berikut: 1) Pemikiran "Segalanva atau Tidak Sama Sekali". Pemikiran ini menunjuk pada kecenderungan individu untuk mengevaluasi kualitas pribadi diri sendiri dalam kategori 'hitam atau putih' secara ekstrim. Pemikiran 'bila saya tidak begini maka saya bukan apa-apa sama sekali" merupakan dasar dari perfeksionisme yang menuntut kesempumaan. Pemikiran ini menyebabkan individu takut terhadap kesalahan atau ketidaksempurnaan apapun, sehingga untuk selanjutnya individu akan memandang dirinya sebagai pribadi yang kalah total, dan individu akan merasa tidak berdaya. 2) Terlalu Menggeneralisasi. Individu yang melakukan pemikiran terlalu menggeneralisasi terhadap peristiwa yang dihadapinya maka individu tersebut menyimpulkan bahwa satu hal yang pernah terjadi pada dirinya akan terjadi lagi berulang kali, karena apa yang pernah terjadi sangat tidak menyenangkan, maka individu selalu senantiasa merasa terganggu dan sedih. 3) Filter Mental. Pemikiran ini menunjuk kecenderungan individu untuk mengambil suatu hal negatif dalam situasi tertentu, terus memikirkannya, dan dengan demikian individu tersebut mempersepsikan seluruh situasi sebagai hal yang negatif. Dalam hal ini individu yang bersangkutan tidak menyadari adanya "proses penyaringan", maka individu lalu menyimpulkan bahwa segalanya selalu negatif. Istilah teknis untuk proses ini ialah "abstraksi selektif. 4) Mendiskualifikasikan Yang Positif. Suatu pemikiran yang dilakukan oleh individu yang tidak hanya sekedar mengabaikan pengalaman-pengalaman yang positif, tetapi juga mengubah semua pengalaman yang dialaminya menjadi hal yang negatif. 5) Loncatan ke Kesimpulan. Individu melakukan pemikiran meloncat ke suatu kesimpulan negatif yang tidak didukung oleh fakta dari situasi yang ada. Dua jenis distorsi kognitifini adalah "membaca pikiran" dan "kesalahan peramal". Membaca pikiran yaitu individu berasumsi bahwa orang lain sedang memandang rendah dirinya, dan individu tersebut yakin akan hal ini sehingga dirinya sama sekali tidak berminat untuk mengecek kembali kebenarannya. Kesalahan peramal yaitu kecenderungan individu untuk membayangkan sesuatu yang buruk akan terjadi, dan individu tersebut menganggap pemikirannya sebagai suatu fakta walaupun sama sekali tidak realistis. 6) Pembesaran dan Pengecilan. Individu memiliki kecenderungan untuk memperbesar atau memperkecil hal-hal yang dialaminya di luar proporsinya. Pembesaran yaitu individu akan melebih-lebihkan kesalahan, ketakutan, atau ketidaksempurnaan dirinya. Pengecilan yaitu individu akan mengecilkan nilai dari kemampuan dirinya sehingga kemampuan yang dimilikinya tampak menjadi kecil dan tidak berarti. Jika individu membesar-besarkan ketidaksempurnaan dirinya serta memperkecil kemampuannya, maka individu akan merasa dirinya rendah dan tidak berarti. 7) Penalaran Emosional. Individu menggunakan emosinya sebagai bukti untuk kebenaran yang dikehendakinya. Penalaran emosional akan menyesatkan sebab perasaan individulah yang menjadi cermin pemikiran serta keyakinannya, bukan kondisi yang sebenarnya. 8) Pernyataan "Harus". Individu mencoba memotivasi diri sendiri dengan mengatakan "Saya harus melakukan pekerjaan ini". Pernyataan tersebut menyebabkan individu merasa tertekan, sehingga menjadi tidak termotivasi. Bila individu menunjukkan pernyataan "harus" kepada orang lain, maka individu akan mudah frustasi ketika mengalami kenyataan yang tidak sesuai dengan harapannya. 9) Memberi Cap dan Salah Memberi Cap. Memberi cap pribadi berarti menciptakan gambaran diri yang negatif yang didasarkan pada kesalahan individu. Ini mernpakan bentuk ekstrim dari terlalu menggeneralisasi. Pemikiran dibalik distorsi kognitif ini adalah nilai individu terletak pada kesalahan yang dibuatnya, bukan pada kelebihan potensi dirinya. Salah memberi cap berarti menciptakan gambaran negatif didasarkan emosi yang dialami saat itu. 10) Personalisasi. Individu merasa bertanggung jawab atas peristiwa negatif yang terjadi, walaupun sebenarnya peristiwa bukan merupakan kesalahan dirinya. Jadi, individu memandang dirinya sebagai penyebab dari suatu peristiwa yang negatif, yang dalam kenyataan sebenarnya bukan individu yang harus bertanggung jawab terhadap peristiwa tersebut.

Bellack, A. S. and Hersen, M. 1977. Behavior Modification: An Introductory Textbook. New York: Oxford University Press.

Burgoon, M. and Ruffner, M. 1978. Human Communication. New York: Holt Rinehart and Winston.

Burns, D. D. 1988. Terapi Kognitif. Pendekatan baru Bagi Penanganan Depresi. Jakarta: Penerbit Airlangga.

Goldfried, M. R., and Davison, G. L. 1976. Clinical Behavior Therapy. New York: Holt Rinehart and Winston.

Hurt, T. H. 1978. Communication in the Classroom. Menlopark: Addison Wesley.

Ivey, A E., Ivey, M. B., Simek, L. Morgan. 1993. Conseling and Psychotherapy. A Multicultural Perspective. Boston: Allyn and Bacon a Division of Simon and Schuster, Inc.

Jandt, F. E. 1976. The Process of Interpersonal Communication. New York: Harper and Row Publisher Inc.

Kanfer, F. H. and Goldstein, AP. 1986. Helping People Change. New York :Pergamon Press.

Kindred. J. 1984. Interpersonal Communication. Minneapolis: University of Minnesota Press.

Lazarus, R. S. 1969. Pattern of Adiusment and Human Effectiveness. New York: Mc Graw- Hill Book Company.

Liliweri, A 1991. Komunikasi Antar Pribadi. Bandung: Citra Aditya Bakti.

Soetarlinah S. 1983. Modifikasi perilaku: Penerapan Sehari-hari dan Penerapan Profesional. Yogyakarta : Liberty.

Walker, C. E., Clement, P. W. 1981. Clinical Procedures for Behavior Therapy. New Jersey: Prentice - Hall Inc. Englewood Cliffs.

Artikel Lainnya:

Jurnal Sains