KeSimpulan.com Dokumentasi Berita Sains
(2008-2013)
HOME - ARSIP - PENCARIAN

Wednesday, March 11, 2009

Perilaku Masturbasi Pada Remaja

(kesimpulan) Salah satu masalah yang membuat remaja tertekan yaitu mengenai dorongan seksual. Terbatasnya pengetahuan pada remaja mengenai masalah seksual, mengakibatkan merasa ingin tahu dan coba-coba dalam bentuk tingkah laku. Dorongan rasa ingin tahu dan mencari tahu tentang masalah seksual mendorong remaja untuk bereksperimen sehingga timbullah perilaku seksual. Perilaku seksual merupakan perilaku yang didasari oleh dorongan seksual atau kegiatan untuk mendapatkan kesenangan organ seksual melalui berbagai perilaku. Dorongan yang datang pada masa remaja lebih kuat dan dorongan seks tersebut menyebabkan ketegangan-ketegangan yang menuntut kepuasan dan sukar sekali untuk dikendalikan. Maka muncullah perilaku- perilaku seksual pada remaja, yang salah satunya adalah perilaku seksual masturbasi.

Masturbasi sudah dianggap sebagai satu hal yang wajar dan normal dilakukan walaupun orang suka masturbasi masih sembunyi-sembunyi melakukannya dan selain itu merupakan kejadian yang umum ditengah perkembangan seksual seseorang. Penelitian Sarwono pada remaja SMA di Jakarta yang berumur 16-18 tahun menunjukan bahwa remaja pria lebih banyak tahu tentang masturbasi, yaitu 96% dan lebih banyak melakukan masturbasi 92%. Pada remaja putri pengetahuan tentang masturbasi 56% dan yang pernah melakukan masturbasi 21% dan yang tidak pernah 79%.

Dorongan seksual remaja putri dirangsang oleh hal-hal yang menyentuh emosi seperti perasaan romantis atau khayalan. Masturbasi yang biasanya dilakukan dengan menyentuh payudara maupun vulva (alat kelamin bagian luar). Ada juga yang memasukan jari atau benda-benda lain ke dalam vagina, tangan atau jari 20%, bantal 15%, kursi 15%, pensil atau bolpoin 13%, lantai 11%

Studi yang dilakukan oleh Pilar PKBI Jawa Tengah pada 2005 menunjukan 63,33% mahasiswi mengenal sedikit masturbasi. Informasi diperoleh melalui media cetak (buku atau majalah) 36,66%, teman sebaya 33,33% dan melalui media elektronik 16,66%. Responden yang pernah melakukan masturbasi sebanyak 46,66%. Sedangkan yang masih melakukan sampai saat ini 26,66%, sisanya 23,33% menyatakan tidak pernah. Frekuensi masturbasi, 20% menyatakan jika ingin saja, kadang-kadang 13,33% dan sebulan sekali 6,66%. Tujuan masturbasi untuk mengurangi stres dan tekanan 26,66%, penyaluran dorongan seksual 16,66%, menghilangkan kesepian 13,33% kompensasi atau pelarian 6,66%. Sebanyak 20% responden menyatakan tujuan tercapai, 26,66% tidak selalu tercapai, 30% menyatakan tidak tahu. Perasaan yang dialami setelah masturbasi 26,66% nikmat dan senang, 23,33% merasa bersalah dan malu, 13,33% merasa rendah diri, 10% merasa nafsu seks meningkat. Pengalaman masturbasi menunjukan 33,33% dapat mengurangi tekanan dan stress, bebas berfantasi 23,33%, rasa puas 6,66%. Pengalaman masturbasi yang paling disukai 26,66% saat melihat film porno, 23,33% membaca buku porno, saat bermimpi 10%, membayangkan idola 6,66%. Melakukan masturbasi dengan mengunakan jari atau tangan 30%, dengan bantal 23,33%, sisanya 46,66% hanya membayangkan saja.

Masturbasi diartikan sebagai pencapaian suatu keadaan ereksi alat kelamin dan memperoleh orgasme lewat perangsangan manual atau dengan perangsang mekanis atau digital (dengan benda atau alat bantu seks) atau merupakan suatu aktivitas dengan cara-cara tertentu sehingga mendapatkan kepuasan seksual (kepuasan semu). Sebenarnya perilaku seksual masturbasi ini sangat mendasar dalam kehidupan manusia karena dalam perkembangan manusia sudah terjadi pada masa anak-anak yaitu pada fase falik seksual.

Keinginan untuk melakukan masturbasi timbul karena rangsangan-rangsangan seksual yang mengerakan libido untuk memenuhi kebutuhan seks guna mencari kepuasan. Pria lebih terangsang oleh rangsangan visual, sedangkan pada wanita lebih terangsang oleh rangsangan taktil (rabaan) walaupun kedua jenis rangsangan tersebut juga mempunyai pengaruh pada kedua jenis kelamin.

Perilaku merupakan hasil hubungan antara stimulus atau perangsang dengan respon. Hasil dari tindakan atau perbuatan suatu organisme tersebut dapat diamati bahkan dapat dipelajari seperti halnya perilaku masturbasi. Masturbasi merupakan hal yang populer di kalangan remaja. Banyak yang menyatakan bahwa masturbasi merupakan hal yang kotor dan tabu untuk dibicarakan sehingga remaja yang ingin mengetahui permasalahan seputar masturbasi harus mencari sendiri atau berekplorasi. Masturbasi biasanya dilakukan secara bersembunyi-sembunyi supaya tidak ada orang lain yang mengetahui.

Masturbasi merupakan perilaku menyentuh atau menggosok-gosokkan alat kelamin sendiri untuk mendapatkan kenikmatan. Proses ini mungkin mencapai klimaks seksual yang disebut orgasme atau mungkin juga tidak. Masturbasi adalah pemuasan seks secara “swalayan” yaitu merangsang alat kelamin sendiri, dilakukan sendiri untuk kepuasan sendiri, menyentuh bagian tubuh yang lain juga dapat memberikan kenikmatan seksual. Masturbasi adalah induksi satu keadaan penegangan alat kelamin dan pencapaian orgasme lewat rangsangan dengan tangan atau rangsangan mekanis. Masturbasi diartikan sebagai pemenuhan dan pemuasan kebutuhan seksual dengan merangsang alat kelamin sendiri dengan tangan atau dengan alat-alat mekanik.

Pada wanita selain menggunakan tangan juga menggunakan benda lain yang masuk ke vagina atau dengan cara mengampit kedua paha dengan menggesek-gesek sampai anggota kelamin tergesek-gesek sehingga menimbulkan orgasme, cara yang paling umum adalah dengan mengelus-¬ngelus kelentit. Aktifitas masturbasi bertujuan mencari kepuasan diri sendiri atau memuaskan keinginan nafsu seksual tidak dengan jalan bersetubuh.

Masturbasi adalah upaya mencapai suatu keadaan ereksi organ-organ kelamin dan perolehan orgasme lewat perangsang manual dengan tangan, atau perangsangan mekanis. Gejala masturbasi pada usia puberitas dan adolesense banyak sekali terjadi. Hal ini disebabkan kematangan seksual yang memuncak, yang tidak mendapatkan penyaluran wajar.

Ada banyak hal yang dapat mendorong seseorang untuk mulai melakukan masturbasi: 1) Eksplorasi, merupakan salah satu faktor yang mendorong seseorang untuk melakukan masturbasi. Hal ini sudah dimulai dari waktu kecil dan biasanya mereka melakukannya secara spontan sebagai rasa ingin tahu. 2) Menyaksikan hubungan orang tua, masturbasi karena melihat orang tuanya melakukan hubungan suami istri secara tidak sengaja. 3) Belajar dari anak lain. 4) Belajar dari orang dewasa. 5) Gambar porno

Menurut Sarlito perilaku seksualitas pada remaja dipengaruhi oleh faktor-faktor meningkatnya seksualitas, penundaan usia perkawinan, adanya penyebaran informasi dan rangsangan seksual melalui media, komunikasi keluarga, pergaulan yang makin bebas, ketaatan beragama. Menurut Monks dan Knoers, faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual yaitu usia dan jenis kelamin. Gunarsa dan Gunarsa mengemukakan bahwa faktor-¬faktor yang mempengaruhi remaja berperilaku seksual adalah informasi seks lewat teknologi canggih serta media massa, kurangnya informasi mengenai seks dari orang tua, kaburnya nilai-nilai moral yang dianut, dan faktor hormonal

Aspek-aspek perilaku masturbasi digolongkan sebagai aspek-aspek perilaku seksual, yang terdiri dari biologis, psikologis, sosial, dan moral. Sarwono mengemukakan bahwa aspek perilaku masturbasi ada 4 (empat) yaitu: 1) Aspek frekuensi melakukan masturbasi. 2) Aspek fantasi. 3) Aspek sikap individu terhadap masturbasi. 4) Aspek pengetahuan individu mengenai masturbasi. Fisher menyatakan perilaku masturbasi terdiri dari 3 (tiga) aspek yaitu: 1) Aspek frekuensi atau keseringan masturbasi. 2) Aspek pengetahuan atau pengalaman masturbasi. 3) Aspek fantasi.

Perempuan lebih menyalurkan kebutuhan seksual secara psikis seperti fantasi, kegelisahan, mimpi siang sehingga sedikit ditemukan perempuan melakukan perilaku masturbasi untuk memenuhi kebutuhan seksualnya. Perempuan yang melakukan masturbasi lebih banyak dirangsang oleh hal-hal yang berhubungan dengan perasaan, yang menyentuh emosi, romantisme atau khayalan. Perilaku masturbasi pada pria lebih digerakkan oleh hal-hal yang bersifat fisik seperti gambar porno atau film porno.

Dampak yang terjadi ketika melakukan masturbasi yaitu.
1. Dampak fisik
Luka-luka pada alat kelamin, masturbasi yang dilakukan secara keras dan menggunakan benda-benda kasar akan dapat merobek kulit vagina, iritasi atau infeksi pada alat kelamin. Ejakulasi dini, kebiasaan ingin cepat mendapatkan kepuasan masturbasi akan cenderung menjadikan seseorang cepat mengalami orgasme. Impotensi. Faktor yang sangat mempengaruhi adalah psikis atau emosi.

2. Dampak psikologis
Rasa bersalah diakibatkan adanya perasaan berdosa karena telah melanggar norma yang dianut seperti norma agama, dan norma sosial. Rasa malu karena adanya anggapan bahwa masalah masturbasi adalah sesuatu yang dianggap kotor, tabu, dan tidak layak dibicarakan. Khayalan yang mengikat ketika melakukan masturbasi dalam jangka panjang dan dilakukan secara terus-menerus akan dapat mengikat dan menguasai pikiran, sehingga khayalan itu akan muncul secara terus menerus setiap saat. Isolasi, sebagai pelarian ke dunia yang penuh khayalan sehingga seseorang yang telah merasa nikmat dan merasa aman dengan dunia khayalannya akan cenderung menarik diri dari pergaulan.

Menurut PKBI (1999, h. 31) dampak- dampak masturbasi yaitu : 1) Infeksi. 2) Energi fisik dan psikis terkuras sehingga orang menjadi mudah lelah. 3) Pikiran terus menerus ke arah fantasi seksual. 4) Perasaan bersalah dan berdosa. 5) Bisa mengakibatkan lecet jika dilakukan dengan frekuensi tinggi. 6) Kemungkinan mengalami ejakulasi dini pada saat berhubungan intim. 7) Kurang bisa memuaskan pasangan jika sudah menikah karena terbiasa memuaskan diri sendiri. 8) Menimbulkan kepuasan diri. 9) Ketagihan.

Ancok, D. 2000. Psikologi dan Tantangan Milenium ketiga: Dampak Teknologi Internet pada kehidupan manusia dan pengelolaan Institusi Pendidikan Psikologi. Journal Psikologi. Psikologika Volume.VI Nomer. 01 Maret 2000.Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada.

Arkinson, R., Atkinson R. C., Smith, E. E., Ben D. J. 1999. Pengantar Psikologi. Edisi 12. Jilid1. Alih bahasa: Widjaya Kusuma. Batam: Interaksa

Badudu, J. S., Zain, S.M.1994. Kamus umum bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar harapan

Block, Joel D, Dph.D. 1997. Secrets Of beteer sex. Jakarta: Professional Books

Bourne, E., Ekstrand.1979. Psycology. Third Edition. New York: hoit rinehart and winston

Chaplin,C.P,2002. Kamus Lengkap Psikologi. Cetakan Kedelapan, Alih bahasa Dr. Kartini Kartono. Jakarta : PT.Raja Grafindo Persada

Comer, D. E. 1997. The Internet Book. New Jersey: Prentice Hall, Inc

Cooper dan Scherer. 1999. Journal Of Psychology. Dalam Femina no.4/ XXVIII; 3 Februari 2000, Jakarta

Disanawati, Ajen. 2003. Pendidikan Seks untuk Remaja. Jakarta: Kawan Pustaka.

Djubaidah, S., Ellyawati, R., Winarti, S. 2001. Studi tentang perilaku seksual pada pengguna Layanan cybersex. Journal Psikologi. Fenomena. Volume VI. Nomer 01 Agustus 2001. Surabaya: yayasan Penerbit fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945

Drever, James. 1988 . Kamus Psikologi. Jakarta: PT. Bina Aksara

Fisher,D.L.1994. Jalan Keluar Dari Jerat Masturbasi, Yogyakarta:Yayasan Andi.

Gunarsa, S. D dan Gunarsa. Y.S.D, 1999, Psikologi Praktis: Anak, Remaja dan Keluarga. Jakarta: PT. BPK Mulia

Hurlock, E.B. 1993. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan sepanjang Rentang Kehidupan; penterjemah: Istiwidayanti. Jakarta : Erlangga.

Hutoro, M., A. 1996. Frekuensi Masturbasi, Religius dan Kecemasan pada remaja laki-laki yang beriman khatolik, Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada (tidak diterbitkan).

Indracaya, A. 2000. Menyingkap Tirai Psikologi Psikoseksual dan Seksologi. Yogyakarta: Galang Press

Irwanto, Drs. Psikologi Umum. Jakarta: Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama dan APTIK

Kamal, R. F.2000. Seri Penuntun Praktis Cyberbusiness. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo

Kartono, K.1989. Psikologi Abnormal dan Abnormalitas Seksual. Bandung: Mander Maju.

Kartono, K. 1990. Psikologi Umum. Bandung :Penerbit Mander Maju

Kartono, K. 2000. Masturbasi. Mitos dan Faktanya, Dalam Cita Cinta. No.18/1 Edisi 16.29 November 2000. Jakarta: PT. Bina Favorit Press

Loekmono, J. T. L. 1988. Seksualitas, Pornografi, pernikahan. Semarang : Satya Wacana

Masland, R.P. Estridge, D. 1997. Apa yang diketahui Remaja tentang seks. Alih bahasa: Mitra T,W, Jakarta: Bumi Aksara.

Monks,F.J. Knoers,A.M.P.1987. Psikologi Perkembangan: Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya ; Penterjemah : Siti Rahayu Handitono. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Piliang, Yasraf Amir. 1998. Sebuah Dunia yang dilipat: Realitas Kebudayaan Menjelang Milenium Ketiga dan Matinya Posmodernisasi. Bandung: Penerbit Mizan

PKBI . 1999. Pendidikan Seksualitas unuk Remaja. Jakarta: PKBI

PKBI pilar Jawa Tengah. 2000. Modul cetakan III.Perkembangan Seksualitas Remaja . Semarang: Pilar PKBI

Saraswati.2000. Merebaknya Situs Porno. Majalah Aneka. Jakarta

Sarlito, S. 2000. Psikologi Remaja. Jakarta: PT. Rajawali Press

Sears, D., O., Freedman, J., L., Peplau, L., A.1992. Psikologi Sosial. Alih bahasa: Michael Adryanto. Ed.4 jilid 1. Jakarta: Penerbit Erlangga

Sopyan, Y. 2003. Romansa Cyber. Jakarta : Gagasmedia

Soekadji, S. 1983. Modifikasi Perilaku: Penerapan sehari- hari dan penerapan profesional. Yogyakarta: Liberty

Suryabrata.S.1993. Pengantar Psikodialognostik. Yogyakarta: Rakesarasin.

Tukan, S. J. 1990, Etika Seksual dan Perkawinan. Jakarta: Intermedia

Tukan, S. J. 1993. Metode Pendidikan Seks, Perkawinan dan Keluarga. Jakarta: Erlangga.

Twiford, R.J.1988. Mengendalikan Perilaku Anak. Alih bahasa: Panel. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia

Virginia, S. T. 1980.ed. The New Webster Encyclopedic Dictionary Of the English Language. New York: Avenel books

Wijanarko, M. 1999. Seksualitas Remaja. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada

Zaleski, Jeff. 1999. Spiritualitas Cyberspace: Bagaimana Teknologi Komputer Mempengaruhi Keberagaman Kita. Bandung: Penerbit Mizan

Artikel Lainnya: