Dokumentasi Berita Sains (2008-2013)
HOME - ARSIP - PENCARIAN

Gaya dan Tipe Kepemimpinan

(kesimpulan) Masalah kepemimpinan telah muncul bersamaan dengan kesadaran pentingnya hidup berkelompok untuk mencapai tujuan bersama, suatu kelompok apakah bersifat permanen atau kelompok yang terpaksa dibentuk karena menghadapi suatu kesulitan atau ancaman, maka di situ dibutuhkan pemimpin yang mempunyai kelebihan dengan harapan dapat menuntun anggota kelompok untuk memecahkan masalahnya.

Karakteristik kepemimpinan yang terbukti menjamin eksistensi organisasi antara lain adalah perhatian terhadap bawahan. Karakteristik ini menempati peringkat kedua terpenting setelah visi sang pemimpin. Ini berarti bahwa pengelolaan manusia dalam organisasi merupakan kunci untuk memperbaiki kinerja organisasi dan kesiapan menghadapi perubahan di abad 21.

Suatu organisasi membutuhkan pemimpin yang efektif yaitu mempunyai kemampuan mempengaruhi perilaku anggotanya atau anak buahnya, seorang pemimpin akan diakui apabila mempunyai pengaruh dan mampu mengarahkan bawahannya ke arah pencapaian tujuan organisasi.

PENGERTIAN-PENGERTIAN KEPEMIMPINAN

Kepemimpinan sebagai suatu kegiatan untuk mempengaruhi perilaku orang-orang agar bekerja bersama-sama menuju suatu tujuan tertentu yang mereka inginkan bersama. Dengan kata lain, kepemimpinan adalah kemampuan mempengaruhi kelompok untuk mencapai tujuan kelompok tersebut.

Kepemimpinan sebagai interaksi antara anggota kelompok. Pemimpin adalah agen perubahan, yaitu seseorang yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi orang lain lebih besar dibandingkan dengan orang-orang di sekitarnya. Kepemimpinan sebagai pola hubungan antara individu yang menggunakan wewenang dan pengaruh terhadap orang lain atau kelompok agar terbentuk kerjasama untuk menyelesaikan suatu tugas.

Rumusan kepemimpinan menunjukkan, suatu organisasi terdapat orang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi, mengarahkan, membimbing dan juga sebagian orang yang mempunyai kegiatan untuk mempengaruhi perilaku orang lain agar mengikuti apa yang menjadi kehendak atasan atau pimpinan mereka. Karena itu, kepemimpinan dapat dipahami sebagai kemampuan mempengaruhi bawahan agar terbentuk kerjasama di dalam kelompok untuk mencapai tujuan organisasi. Apabila orang-orang yang menjadi pengikut atau bawahan dapat dipengaruhi oleh kekuatan kepemimpinan yang dimiliki oleh atasan maka mereka akan mau mengikuti kehendak pimpinannya dengan sadar, rela, dan sepenuh hati.

Kepemimpinan merupakan bakat dan seni dalam teknik melakukan tindakan-tindakan seperti teknik memberikan perintah, cara-cara memberikan teguran, teknik memperkuat keutuhan atau kohesivitas kelompok, menanamkan rasa ketertarikan pada tugas, mengembangkan komitmen bawahan, mempengaruhi moral dan kepuasan kerja, keamanan dalam bekerja, mendorong pengembangan karir bawahannya, dan memacu produktivitas organisasi.

Defenisi kepemimpinan berimplikasi pada tiga hal utama, yaitu:
1. Kepemimpinan menyangkut “orang lain”, bawahan, atau pengikut. Kesediaan mereka untuk menerima pengarahan dari pemimpin. Jika tidak ada pengikut, maka tidak akan ada pula pemimpin. Tanpa bawahan semua kualitas kepemimpinan seorang atasan akan menjadi tidak relevan.
2. Kepemimpinan merupakan suatu “proses”. Agar bisa memimpin, pemimpin harus melakukan sesuatu, kepemimpinan lebih dari sekedar menduduki suatu posisi otoritas.
3. Kepemimpinan harus “membujuk”. Pemimpin membujuk para pengikutnya lewat berbagai cara seperti menggunakan otoritas yang terlegitimasi, menciptakan model (menjadi teladan), penetapan sasaran, memberi imbalan dan hukuman, restrukturisasi organisasi, dan mengkomunikasikan sebuah visi.

Pengertian lainnya tentang kepemimpinan sebagai hubungan di mana satu orang yakni pemimpin mempengaruhi pihak lain untuk bekerja sama secara sukarela dalam usaha mengerjakan tugas-tugas yang berhubungan untuk mencapai hal yang diinginkan oleh pemimpin tersebut.

Kepemimpinan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi orang-orang untuk bekerja sama ke arah berbagai tujuan yang sama-sama mereka inginkan. Dengan demikian kepemimpinan dapat dikatakan sebagai usaha-usaha pada pihak yang mempengaruhi untuk menunjukkan pengaruhnya terhadap seseorang atau pengikut-pengikut lainnya dalam suatu kelompok. Hakekat kepemimpinan lebih cenderung dikaitkan dengan ciri kepribadian seseorang, di mana kualifikasi kepribadian dalam kepemimpinan merupakan faktor yang sangat vital, bahkan kepribadian dan kemampuan inilah yang justru membedakan antara pemimpin dengan orang-orang yang dipimpinnya. Sekelompok manusia yang ingin mencapai suatu tujuan tertentu dan menghadapi suatu masalah atau konflik, akan membutuhkan seseorang yang memiliki kemampuan dan kepribadian yang melebihi dari yang lainnya sehingga dapat mempengaruhi anggota kelompok itu dalam memecahkan konflik yang dihadapi.

Kepemimpinan mempunyai dua aspek, yaitu:

  1. Kelebihan individual dalam bidang teknik kepemimpinan, yang meliputi kondisi fisik yang baik, memiliki keterampilan yang tinggi, menguasai teknologi, mempunyai persepsi yang cepat, memiliki pengetahuan yang luas, mempunyai ingatan yang baik, serta imajinasi yang meyakinkan
  2. Keunggulan pribadi dalam hal ketegasan, keuletan, kesadaran, dan keberhasilan

Kemampuan mempengaruhi orang lain mengisyaratkan perlunya seorang pemimpin memiliki karakteristik kepribadian yang peka terhadap kondisi masing-masing bawahan, kecerdasan yang memadai, keterampilan mengelola emosi dan keterampilan manajerial, serta kemampuan menciptakan hubungan dan komunikasi yang setara dengan karakteristik personal dari masing-masing pengikutnya.

GAYA KEPEMIMPINAN

Kepemimpinan tergantung kepada banyak faktor dan tiap-tiap pimpinan senantiasa dapat memperbaiki dan mempertinggi kemampuannya dalam bidang kepemimpinannya dengan jalan mengimitasi cara-cara yang ditempuh oleh pemimpin yang berhasil dalam tugas-tugas mereka atau mempelajari dan menerapkan prinsip-prinsip yang mendasari kepemimpinan yang baik.

Gaya kepemimpinan adalah pola perilaku seseorang pemimpin untuk memimpin bawahan, mengatur dan merumuskan, menerapkan suatu pekerjaan dan tugas yang dilaksanakan oleh masing-masing bawahan dalam arti kapan dilakukan dan di mana melaksanakannya, dan bagaimana tugas-tugas itu dicapai. Gaya kepemimpinan adalah suatu cara yang digunakan pemimpin dalam mempengaruhi perilaku orang lain. Dari gaya ini dapat diambil manfaatnya untuk dipergunakan sebagai pemimpin dalam memimpin bawahan atau para pengikutnya. Gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang dipergunakan oleh seseorang pemimpin pada saat mencoba mempengaruhi perilaku orang lain atau bawahan.

Pemimpin tidak dapat menggunakan gaya kepemimpinan yang sama dalam memimpin bawahannya, namun harus disesuaikan dengan karakter-karakter tingkat kemampuan dalam tugas setiap bawahannya. Pemimpin yang efektif dalam menerapkan gaya tertentu dalam kepemimpinannya terlebih dahulu harus memahami siapa bawahan yang dipimpinnya, mengerti kekuatan dan kelemahan bawahannya, serta mengerti bagaimana caranya memanfaatkan kekuatan bawahan untuk mengimbangi kelemahan yang mereka miliki. Istilah gaya adalah cara yang dipergunakan pimpinan dalam mempengaruhi para pengikutnya.

Penjelasan yang lebih spesifik tentang gaya kepemimpinan dikemukakan, yaitu pola perilaku yang diperlihatkan oleh orang itu pada saat mempengaruhi aktivitas orang lain seperti yang dipersepsikan orang lain. Gaya kepemimpinan yang dimaksud dalam pengertian ini merupakan persepsi orang lain, pengikut atau bawahan yang akan dipengaruhi perilakunya dan bukannya persepsi pemimpin itu sendiri. Ada dua hal yang biasanya dilakukan seorang pemimpin terhadap bawahan, yakni:

  1. Perilaku mengarahkan. Sejauhmana seorang pemimpin melibatkan diri dalam komunikasi satu arah, seperti: menetapkan peranan yang seharusnya dilakukan bawahan dan lainnya
  2. Perilaku mendukung. Sejauhmana seorang pemimpin melibatkan diri dalam komunikasi dua arah, misalnya mendengar, menyediakan dukungan dan dorongan, memudahkan interaksi dan melibatkan bawahan dalam pengambilan keputusan

EMPAT GAYA DASAR KEPEMIMPINAN

Gaya Kepemimpinan Instruktif

Gaya kepemimpinan di mana pemimpin banyak memberikan pengarahan tetapi sedikit memberikan dukungan terhadap bawahan. Gaya kepemimpinan yang tinggi pengarahan dan rendah dukungan dirujuk sebagai “instruksi” karena gaya ini dicirikan dengan komunikasi satu arah. Inisiatif pemecahan masalah dan pembuatan keputusan semata-mata dilakukan oleh pemimpin.

Pada umumnya penelitian-penelitian tentang kepemimpinan merumuskan konsep kepemimpinan sebagai proses pertukaran timbal balik. Misalnya, anak buah akan menerima imbalan berdasarkan perilakunya yang sesuai dengan keinginan sang pemimpin. Imbalan tersebut bisa bersifat material (upah, insentif) atau immaterial (kebanggaan/kepuasan).

Teori kepemimpinan transaksional dilandasi oleh ide bahwa hubungan pemimpin dan anak buah merupakan serangkaian pertukaran atau tawar menawar secara implisit. Peran pemimpin adalah sebagai pengisi kekosongan dalam hubungan pekerja dengan pekerjaaannya serta lingkungannya. Ketika pekerjaan dan lingkungan tidak menyediakan bimbingan, kepuasan, dorongan motivasi, maka adalah tugas pemimpin untuk menyediakan hal-hal tersebut.

Dalam organisasi pemerintahan sangat lazim terjadi hubungan pimpinan-bawahan yang bersifat transaksional sehingga kadang-kadang jika pimpinan lupa atau lalai tidak memberikan dukungan atau imbalan yang setimpal maka kinerjanya langsung menurun. Hal semacam itu tidak akan terjadi jika sang pemimpin memiliki kualitas yang menunjukkan dukungan. Bagi para pengikutnya, pemimpin yang tidak mengabaikan pemberian dukungan dapat mendorong mereka untuk bertindak melebihi yang diharapkan. Mereka mau berkorban dan merasa iklas untuk bekerja sehingga bisa lebih mandiri dan lebih maju atau berkinerja tinggi dalam bekerja.

Gaya Kepemimpinan Konsultatif

Pemimpin yang bergaya kepemimpinan konsultasi menunjukkan sikap banyak memberikan pengarahan tetapi juga memberikan banyak dukungan terhadap bawahan. Artinya, keputusan dan kebijakan yang diambil berdasarkan masukan dari bawahannya, tetapi di bawah kendali pengawasan dan pengarahan untuk menyelesaikan tugas-tugas bawahannya. Bagi banyak bawahan gaya seperti ini dipandang sebagai gaya kepemimpinan yang efektif.

Gaya pemimpin yang tinggi pengarahan dan tinggi dukungan dirujuk sebagai “konsultatif” karena dalam menggunakan gaya ini, pemimpin masih banyak memberikan pengarahan dan masih membuat hampir sama dengan keputusan, tetapi diikuti dengan meningkatkan komunikasi dua arah dengan berusaha mendengar ide-ide dan saran bawahan meskipun pengambilan keputusan tetap pada pemimpin.

Gaya kepemimpinan konsultatif ini memiliki kemiripan dengan gaya perilaku kepemimpinan transformasional, yaitu suatu bentuk kepemimpinan yang lebih mengedepankan proses pelayanan terhadap nilai-nilai para pengikut untuk tujuan organisasional yang lebih tinggi. Dalam konteks ini kepemimpinan transformasional tidak hanya berkaitan dengan nilai-nilai para pengikut atau bawahan, tetapi lebih menekankan pada konsep hubungan antara visi para pemimpin dalam organisasi dengan nilai-nilai para pengikutnya.

Kepemimpinan konsultasi atau perilaku kepemimpinan transformasional memiliki dampak yang melebihi gaya kepemimpinan instruktif atau perilaku kepemimpinan transaksional, yaitu mengilhami dan memotivasi anak buah untuk berbuat lebih dari yang diharapkan. Indikator langsung dari adanya kepemimpinan konsultasi ini terletak pada perilaku pengikutnya yang didasarkan pada persepsi mereka terhadap sang pemimpin. Bawahan yang mempersepsi perilaku kepemimpinan atasannya sebagai perilaku konsultasi atau transformasional akan mampu menunjukkan kinerja yang lebih baik dalam melakukan tugas-tugasnya.

Gaya Kepemimpinan Partisipatif

Gaya kepemimpinan partisipatif lebih menekankan pada tingginya dukungan dalam pembuatan keputusan dan kebijakan tetapi sedikit pengarahan. Gaya pemimpin yang tinggi dukungan dan rendah pengarahan dirujuk sebagai “partisipatif” karena posisi kontrol atas pemecahan masalah dan pembuatan keputusan dipegang secara bergantian. Dengan penggunaan gaya partisipatif ini, pemimpin dan bawahan saling tukar menukar ide dalam pemecahan masalah dan pembuatan keputusan.

Dalam aktivitas menjalankan organisasi, pemimpin yang menerapkan gaya ini cenderung berorientasi kepada bawahan dengan mencoba untuk lebih memotivasi bawahan dibandingkan mengawasi mereka dengan ketat. Mereka mendorong para anggota untuk melaksanakan tugas-tugas dengan memberikan kesempatan bawahan untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan, menciptakan suasana persahabatan serta hubungan-hubungan saling mempercayai dan menghormati dengan para anggota kelompok.

Selain itu gaya ini berupaya untuk meningkatkan kesadaran bawahan terhadap persoalan-persoalan dan mempengaruhi bawahan untuk melihat perspektif baru. Melalui gaya ini, pemimpin terus merangsang kreativitas bawahan dan mendorong untuk menemukan pendekatan-pendekatan baru terhadap masalah-masalah lama. Bawahan didorong untuk berpikir mengenai relevansi cara, sistem nilai, kepercayaan, harapan, dan bentuk organisasi yang ada. Bawahan didorong untuk melakukan inovasi dalam menyelesaikan persoalan dan berkreasi untuk mengembangkan kemampuan diri, didorong untuk menetapkan tujuan atau sasaran yang menantang. Dengan kata lain, bawahan diberi kesempatan untuk mengekspresikan dan mengembangkan dirinya melalui tugas-tugas yang dihadapinya. Pemimpin gaya partisipatif menunjukkan perilaku dan perhatian terhadap anak buah yang sifatnya individual (individual consideration). Artinya dia bisa memahami dan peka terhadap masalah dan kebutuhan tiap-tiap anak buahnya. Hal ini tercermin dari persepsi anak buah yang merasa bahwa sang pemimpin mampu memahami dirinya sebagai individu. Setiap anak buah merasa dekat dengan pemimpinnya dan merasa mendapat perhatian khusus. Perhatian individual dapat berupa aktivitas pembimbingan dan mentoring, yang merupakan proses pemberian feedback yang berkelanjutan dan pengkaitan misi organisasi dengan kebutuhan individual sang anak buah. Dengan demikian anak buah akan merasakan pentingnya berusaha dan bekerja semaksimal mungkin atau menunjukkan kinerja yang tinggi karena itu terkait langsung dengan kebutuhannya sendiri. Bawahan lebih merasa memiliki respek terhadap atasan yang kompeten dibandingkan atasan yang lebih mengedepankan aspek struktur.

Gaya Kepemimpinan Delegatif

Gaya kepemimpinan delegatif dicirikan dengan perilaku pimpinan yang hanya sedikit memberikan pengarahan, dan juga tidak mau memberikan dukungan, gaya pendelegasian keputusan dan tanggung jawab penuh dalam melaksanakannya diserahkan kepada bawahan.

Gaya pemimpin yang rendah dukungan dan rendah pengarahan dirujuk sebagai “delegatif” karena pemimpin mendiskusikan masalah bersama dengan bawahan sehingga tercapai kesepakatan mengenai definisi masalah yang kemudian proses pembuatan keputusan didelegasikan secara keseluruhan kepada bawahan.

Pemimpin yang bergaya delegasi dicirikan: (1) ia tidak mempunyai percaya diri sebagai seorang pemimpin, (2) ia tidak menetapkan tujuan untuk kelompok, (3) ia membiarkan keputusan dibuat oleh siapa saja dalam kelompok yang menghendakinya, (4) akibat sikapnya, produktivitas pada umumnya rendah, (5) anggota kelompok menjadi tidak berminat pada tugasnya atau pekerjaannya, dan (6) semangat kerja dan kerja tim pada umumnya menjadi rendah.

Dalam batas-batas tertentu gaya kepernimpinan dapat saja digunakan apabila anggota atau orang-orang yang terikat dalam kelompok itu menunjukkan tingkat kematangan yang tinggi, mampu dan mau bekerja, artinya mempunyai kemampuan yang tinggi dalam melaksanakan tugasnya dan besar rasa tanggung jawabnya, serta tinggi motivasinya. Mereka ini biasanya sudah memahami tentang apa yang mereka harus lakukan, kapan dan bagaimana melakukannya, sehingga bila terlalu banyak diarahkan justru dapat menurunkan motivasi kerja. Sebaliknya, bagi bawahan yang tingkat kematangannya masih sangat rendah, dan tidak mendapat dukungan serta pengarahan yang memadai, maka cenderung kinerjanya menurun.

GAYA KEPEMIMPINAN DAN TINGKAT KEMATANGAN PENGIKUT/BAWAHAN

Gaya kepemimpinan yang ideal menggunakan semua gaya yang ada sebaik mungkin. Hal ini berarti bahwa situasilah yang mungkin menentukan gaya apa yang digunakan. Seorang pemimpin yang efektif harus memperhatikan dengan baik orang (personal/karyawan/pegawai) maupun hasil produksi. Dia harus menciptakan iklim di antara orang-orang untuk bekerjasama mendapatkan hasil yang bermutu, dan juga harus mampu membuat orang mengakui bahwa ada keterkaitan yang kuat antar kepuasan bekerja dan pencapaian pekerjaan.

Kematangan (maturity) dalam kepemimpinan situasional dapat dirumuskan sebagai suatu kemampuan dan kemauan dari orang-orang untuk bertanggung jawab dalam mengarahkan perilakunya sendiri. Kematangan ini hendaknya hanya dipertimbangkan dalam hubungannya dengan tugas-tugas yang spesifik yang harus dilakukan. Dengan demikian seseorang individu atau kelompok bukannya dikatakan tidak dewasa atau tidak matang dalam pengertian yang umum. Semua orang cenderung menjadi lebih atau kurang dewasa dalam hubungannya dengan suatu tugas spesifik, fungsi atau tujuan yang akan dicapai oleh pemimpin lewat usaha-usahanya.

Kemampuan merupakan salah satu unsur dalam kematangan, berkaitan dengan pengetahuan atau keterampilan yang dapat diperoleh dari pendidikan, latihan, dan pengalaman. Adapun kemauan unsur yang lain dari kematangan bertalian dengan keyakinan diri dan motivasi seseorang.

Realitas menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun yang mampu bekerja secara penuh (fully developed) atau sebaliknya di bawah garis kematangan (under developed). Dengan kata lain kematangan atau perkembangan bukanlah suatu konsep global, malainkan sebuah konsep tentang tugas spesifik. Seseorang cenderung berada pada tingkat yang berbeda-beda yang tergantung atas tugas, fungsi atau tujuan tertentu yang ditugaskan kepada mereka. Dengan demikian kepemimpinan situasional berfokus pada kesesuaian atau efektivitas gaya kepemimpinan sejalan dengan tingkat kematangan atau perkembangan yang relevan dari para pengikut.

Tingkat kematangan dapat dimasukkan ke dalam kontinum model kepemimpinan untuk empat tingkat yaitu rendah, rendah ke sedang, sedang ke tinggi, dan tinggi. Tiap tingkat perkembangan ini menunjukkan kombinasi kemampuan dan kemauan yang berbeda seperti dapat dirujuk pada ilustrasi di bawah ini.

Hubungan antara tingkat kematangan para pengikut atau bawahan dengan gaya kepemimpinan yang sesuai untuk diterapkan ketika para pengikut bergerak dari kematangan yang sedang ke kematangan yang telah berkembang. Hubungan tersebut dapat diikuti uraian penjelasan sebagai berikut:

Instruktif

Instruktif adalah untuk pengikut yang rendah kematangannya. Orang yang tidak mampu dan mau memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan sesuatu adalah tidak kompoten atau tidak memiliki keyakinan. Dalam banyak kasus ketidakinginan mereka merupakan akibat dari ketidakyakinannya atau kurangnya pengalaman dan pengetahuannya berkenaan dengan sesuatu tugas. Dengan demikian, gaya kepemimpinan instruktif memberikan pengarahan yang jelas dan spesifik. Dari pengawasan yang ketat memiliki tingkat kemungkinan efektif yang paling tinggi. Sekali lagi perlu ditingkatkan bahwa gaya ini dirujuk sebagai instruksi karena dicirikan dengan peranan pemimpin yang membatasi peranan dan menginstruksikan orang/bawahan tentang apa, bagaimana, bilamana, dan dimana harus melakukan sesuatu tugas tertentu.

Konsultatif

Konsultatif adalah untuk tingkat kematangan rendah ke sedang. Orang yang tidak mampu tetapi berkeinginan untuk memikul tanggung jawab memiliki keyakinan tetapi kurang memiliki ketrampilan. Dengan demikian, gaya kepemimpinan konsultatif yang memberikan perilaku pengarahan, karena mereka kurang mampu, juga memberikan perilaku mendukung untuk memperkuat kemampuan dan antusias, tampaknya merupakan gaya yang sesuai dipergunakan bagi individu pada tingkat kematangan seperti Gaya ini dirujuk sebagai konsultatif karena hampir seluruh pengarahan masih dilakukan oleh pimpinan. Namun melalui komunikasi dua arah dan penjelasan pimpinan melibatkan pengikut dengan mencari saran dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan. Komunikasi dua arah ini membantu dalam mempertahankan tingkat motivasi pengikut yang tinggi dan pada saat yang sama tanggung jawab untuk kontrol atas pembuatan keputusan tetap ada pada pimpinan.

Partisipasif

Partisipatif adalah berkaitan dengan tingkat kematangan dari sedang ke tinggi. Seorang pengikut atau bawahan pada tingkat perkembangan ini memiliki kemampuan tetapi tidak berkeinginan untuk melakukan suatu tugas yang diberikan. Ketidakinginan mereka itu seringkali disebabkan karena kurangnya keyakinan. Namun bila mereka yakin atas kemampuannya tetapi tidak mau maka keengganan mereka untuk melaksanakan tugas tersebut lebih merupakan persoalan motivasi dibandingkan persoalan keamanan. Dalam kasus-kasus seperti ini pemimpin perlu membuka komunikasi dau arah dan secara aktif mendengar dan mendukung usaha-usaha para pengikut untuk menggunakan kemampuan yang telah mereka miliki. Dengan demikian gaya yang mendukung, tanpa mengarahkan, partisipatif mempunyai tingkat keberhasilan yang tinggi untuk diterapkan bagi individu dengan tingkat kematangan seperti ini. Gaya ini disebut partisipatif karena pemimpin atau pengikut selain tukar-menukar ide dalam pembuatan keputusan, dengan peranan pimpinan yang utama memberikan fasilitas dan berkomunikasi. Gaya ini melibatkan perilaku hubungan kerja yang tinggi dan perilaku berorientasi tugas yang rendah. Pada gaya kepemimimpinan ini, seorang pengikut memungkinkan untuk mengemukakan ide atau gagasan yang dimilikinya sehingga mereka memperoleh kesempatan untuk mewujudkan perannya dalam kelompok, dimana mereka memiliki kemampuan yang setiap saat dapat diberdayakan pemimpin bagi kemajuan kelompok dan organisasi yang dikutinya.

Delegatif

elegatif adalah tingkat kematangan yang tinggi, orang-orang dengan tingkat kematangan seperti ini adalah mampu dan mau, atau mempunyai keyakinan untuk memikul tanggung jawab. Dengan gaya delegatif yang berprofil rendah yang memberikan sedikit pengarahan atau dukungan memiliki tingkat kemungkinan efektif yang paling tinggi dengan individu-individu dalam tingkat kematangan seperti ini. Sekalipun pemimpin barangkali masih mampu mengidentifikasikan persoalan, tanggung jawab untuk melaksanakan rencana diberikan kepada pengikut-pengikut yang sudah matang. Mereka diperkenankan untuk melaksanakan sendiri dan memutuskan tentang ikhwal bagaimana, kapan, dan dimana melakukannya. Pada saat yang sama, mereka secara psikologis adalah matang, oleh karenanya tidak memerlukan banyak komunikasi dua arah atau perilaku mendukung. Gaya ini melibatkan perilaku hubungan kerja yang rendah dan perilaku berorientasi pada tugas juga rendah. Kondisi dapat terjadi karena dalam kelompok tidak terjadi komunikasi di antara bawahan, mereka bekerja atau menghadapi pekerjaannya masing-masing tanpa banyak mendapatkan pengarahan dan petunjuk dalam menjalankan tugas yang diembannya, padahal banyak aspek dari tugas-tugas tertentu yang kadang-kadang baru dapat dilakukan oleh seorang bawahan secara efektif dan maksimal apabila terlebih dahulu mendapat pengarahan dari pimpinannya karena mereka mungkin kurang memahami atau belum mendapat kejelasan tentang tugas yang akan dilakukannya.

As'ad, Moh. (2003), Psikologi Industri, Seri Ilmu Sumber Daya Manusia, Liberty, Jakarta.

Barron, R.A., & Greenberg, J. (1990) Behavior in Organization : Understanding and Managing the Human Side of Work. Allyn and Bacon.

Bass, B.M. (2005). Leadership and Performance Beyond Expectation. New York: Free Press.

Bernardin, H.J., & Russell, J.E.A. (1998) Human Resource Management: An Experiential Approach, Irwin/McGraw-Hill.

BPKP. (2000). Pengukuran Kinerja: Suatu Tinjauan Pada Instansi Pemerintah. Tim Studi Pengembangan Sistem Akuntanbilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Jakarta.

Campbell, J.P., & Campbell, R.J. (1990). Productivity in Organizations New Perpectives From Industrial & Organizational Psychology. Jossey Bass Publishers, 1990.

Gibson, L. James, John M. Ivancevich, and James H. Donnelly, Jr. (2000). Organisasi: Perilaku, Struktur, Proses. Edisi Kedelapan. Jilid I. Jakarta: Binarupa.

Gie, The Liang. (1995). Efisiensi Kerja bagi Pembangunan Negara : Suatu Bunga Rampai Bacaan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Hasibuan, Melayu, SP. (1997). Organisasi dan Motivasi, Dasar Peningkatan Produktifitas. Jakarta: Bumi Aksara.

Irawan, Prasetya. (2000). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: STIA-LAN Press.

Lock E.A. (2003). Esensi Kepemimpinan (terjemahan). Jakarta: Mitra Utama.

Mangkunegara, Anwar Prabu. (2000). Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.

Mintorogo. (1997). Kepemimpinan Dalam Organisasi. Jakarta: STIA-LAN RI.

Pace, R. Wayne. Don F. Faules (2001). Komunikasi Organisasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Reksohadiprodjo, S., & Handoko,T.H. (1998). Organisasi Perusahaan: Teori, Struktur dan Perilaku, BPFE.

Robbins, S.P. (1996) Organizational Behavior, New York: Prentice Hall.

Sagir, S. (1998) Motivasi dan Disiplin Kerja Karyawan untuk Meningkatkan Produktivitas dan Produksi, Seri Produktivitas II, LSIUP.

Schermerhorn, R (1978), Human Resources, New Delhi : Prentice Hall India Of India Private Limited.

Siagian, S.P. (2002). Teknik Menumbuhkan dan Memelihara Perilaku Organisasional. Jakarta: Haji Mas Agung.

SWA, (2001). Eksekutif Terbaik Tahun 2001. Majalah. Januari 2001.

Thoha. M. (2001). Kepemimpinan Dalam Manajemen: Suatu Pendekatan Perilaku. Jakarta: Rajawali Press.

Thoha. M. (2004). Perilaku Organisasi: Konsep Dasar dan Aplikasinya. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Wexley, Kenneth, N dan Yukl, Gary, (2000). Perilaku Organisasi dan Psikologi Personalia, terjemahan Muh Shobaruddin. Jakarta: Rineka Cipta.

Artikel Lainnya: