Dokumentasi Berita Sains (2008-2013)

Gaya Pengasuhan Atau Pola Asuh Orang Tua Pada Remaja

(kesimpulan) Gaya Pengasuhan atau Pola Asuh orang tua adalah suatu konstruk yang digunakan untuk menangkap variasi normal pada orang tua dalam mengontrol dan mensosialkan remaja. Gaya pengasuhan orang tua terdapat dua elemen penting dalam pengasuhan yaitu pengasuhan yang responsiveness dan pengasuhan yang demandingness. Pengasuhan responsiveness (mengacu pada pengasuhan yang hangat dan memberikan dukungan) orang tua menawarkan apa yang diinginkan dan dituntut remaja. Pengasuhan demandingness (mengacu pada kontrol tingkah laku) orang tua membesarkan remaja dengan memberikan tuntutan, pengawasan, disiplin yang harus ditaati remaja.

Pola asuh orang tua adalah suatu metode disiplin yang diterapkan orang tua terhadap remaja. Metode disiplin meliputi dua konsep yaitu konsep positif dan konsep negatif. Konsep positif dijelaskan bahwa disiplin berarti pendidikan dan bimbingan yang lebih menekankan pada disiplin diri dan pengendalian diri. Sedangkan konsep negatif dijelaskan bahwa disiplin dalam diri berarti pengendalian dengan kekuatan dari luar diri, hal ini merupakan suatu bentuk pengekangan melalui cara yang tidak disukai dan menyakitkan.

BENTUK-BENTUK GAYA PENGASUHAN ORANG TUA

Beberapa ahli psikologi telah mengadakan pembagian gaya pengasuhan orang tua dari sudut pandang yang berbeda, yaitu:

Authoritarian

Orang tua dengan gaya pengasuhan ini dinilai rendah dalam penggunaan kontrol rasional. Mereka lebih mengandalkan penegasan kekuasaan, disiplin keras, kurang hangat, kurang mengasuh, kurang mengasihi, kurang simpatik pada remaja. Orang tua menggunakan kontrol dan kekuasaan sepenuhnya, serta tidak mendorong remaja untuk mengemukakan ketidaksetujuan atas keputusan atau peraturan orang tua dan memberi sedikit kehangatan. Remaja yang secara rutin diperlakukan secara otoriter cenderung tidak konstan karena dalam bertingkah laku sangat dipengaruhi oleh suasana hati, tidak bahagia, takut, menarik diri, tidak sopan dan tidak peduli dengan pengalaman baru.

Orang tua dengan gaya pengasuhan authoritarian dalam mengontrol anak mereka mengacu pada kekuasaan mereka sebagai orang tua yang meliputi orang tua menuntut kepatuhan yang tinggi. Pola asuh otoriter orang tua memberikan perlakuan dan aturan-aturan yang kaku dan ketat yang dipergunakan sebagai pengontrol tingkah laku remaja, aturan-aturan dan batasan-batasan dari orang, tua mutlak harus ditaati remaja dan remaja harus bertingkah laku sesuai dengan aturan yang diterapkan oleh orang tua. Anak harus patuh, tunduk dan tidak ada pilihan lain yang sesuai dengan kemauan atau pendapatnya sendiri. Orang tua tidak mempertimbangkan pandangan dan pendapat remaja, orang tua tetap mengambil dan menentukan keputusan, tidak ada komunikasi timbal balik, hukuman diberikan tanpa alasan dan jarang memberi hadiah. Orang tua hanya mengatakan apa yang harus dilakukan remaja, tetapi tidak memjelaskan mengapa remaja harus melakukan sesuatu dan tidak boleh melakukan yang lain.

Authoritative

Gaya pengasuhan authoritative adalah kombinasi dari pengasuhan dengan kontrol yang tinggi dan pemberian dukungan yang positif bagi kemandirian remaja. Orang tua yang menerapkan gaya pengasuhan authoritative membuat suasana yang kondusif bagi remaja untuk bertingkah laku yang mandiri. Orang tua juga memberikan informasi dan alasan tentang apa yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Pada saat yang bersamaan orang tua yang menerapkan gaya pengasuhan authoritative memberikan model yang baik, tenang, masuk akal dan tingkah laku yang dewasa.

Orang tua authoritative dalam mengontrol anak mereka mengacu pada mengarahkan anak pada hal-hal yang baik dan tidak baik, sabar, yang meliputi orang tua memberikan kontrol yang beralasan. Gaya pengasuhan authoritative memiliki arti yang sama seperti pola pengasuhan demokratis. Pola asuh demokratis memberlakukan peraturan-peraturan yang dibuat bersama oleh anggota keluarga yang bersangkutan. Orang tua selalu memperhatikan keinginan dan pendapat remaja, kemudian mendiskusikannya untuk mengambil keputusan terakhir. Di sini tetap ada bimbingan dan tidak lepas dati pertolongan orang tua, yang sifatnya mengarahkan agar anak tidak halnya taat secara buta terhadap peraturan, tetapi tahu dan mengerti dengan baik mengapa ada hal yang boleh dilakukan dan ada yang tidak boleh dilakukan. Dengan demikian remaja juga memperoleh kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya sendiri bila ada peraturan yang dapat diterimanya. Diskusi dan bimbingan akan membantu perkembangan dan perturnbuhan remaja ke arah yang lebih baik, sebab di sini pihak remaja diberi kepercayaan dan harapan agar mereka dapat bertanggung jawab dalam hidupnya dan akibat-akibat dari keputusan atau piiihan yang diambil sendiri. Selain dalam pola asuh demokratis ditandai dengan adanya komunikasi terbuka dari dua arah, misalnya orang tua selalu bermusyawarah dengan remaja tentang tindakan yang diambil dan menerangkan alasan-alasan dari peraturan yang dibuatnya dan menjawab setiap pertanyaan yang timbul dari remaja serta dalam memberikan hadiah dan hukuman disertai penjelasan.

Permissive

Gaya pengasuhan permissive (serba membolehkan) ini orang tua tidak mengendalikan, tidak menuntut dan hangat. Mereka tidak terorganisasi dengan baik atau tidak efektif dalam menjalankan rumah tangga, lemah dalam mendisiplinkan dan mengajar remaja, hanya menuntut sedikit perilaku dewasa, dan hanya memberi sedikit perhatian dalam melatih kemandirian dan kepercayaan diri. Orang tua dengan gaya pengasuhan permissive memberikan sedikit tuntutan dan menekankan sedikit disiplin.

Orang tua authoritative dalam mengontrol anak mereka mengacu pada pengawasan yang serba membolehkan, anak bebas berbuat semaunya yang meliputi orang tua tidak memberikan tuntutan. Pola asuh permisif tidak menggunakan aturan-aturan yang ketat bahkan bimbingan jarang diberikan, sehingga tidak pengendalian atau pengontrolan serta tuntutan kepada remaja. Kebebasan diberikan secara penuh dan remaja diijinkan membuat keputusan untuk dirinya sendiri, tanpa pertimbangan orang tua dan boleh berkelakuan menurut apa yang diinginkannya tanpa adanya kontrol dari orang tua. Remaja harus belajar sendiri bagaimana harus berperilaku dalam lingkungan sosial, karena kurang diajarkan atau diarahkan pada peraturan-peraturan, baik yang berlaku dilingkungan keluarga maupun masyarakat. Remaja tidak dihukum walaupun sengaja melanggar peraturan, juga tidak ada hadiah bagi remaja yang berperilaku sosial dengan baik. Jadi remaja dibiarkan berbuat sesuka hati dengan sedikit kekangan, memanjakan dan memenuhi kebutuhan remaja agar mereka senang.

Dalam kenyataannya jarang orang tua, yang menerapkan satu bentuk gaya pengasuhan tertentu secara mutlak, sehingga informasi mengenai bentuk gaya pengasuhan hanya diketahui melalui kecenderungannya.

CIRI-CIRI GAYA PENGASUHAN ORAN TUA

Ciri-ciri gaya pengasuhan orang tua sebagai berikut:

  1. Gaya pengasuhan authoritarian: orang tua menuntut kepatuhan yang tinggi pada remaja, tidak boleh bertanyu terhadap tuntutan orang tua, orang tua banyak menghukum bila remaja melanggar tuntutannya, orang tua tidak membicarakan berbagai masalah pada remaja, orang tua memberi sedikit sekali kesempatan untuk mengungkapkan perasaan remaja, orang tua tidak memberi penjelasan terhadap perintahnya kepada remaja. Selanjutnya orang tua tidak memberi kesempatan pada remaja untuk mengatur dirinya.

  2. Gaya pengasuhan authoritative: orang tua menjadikan dirinya panutan model bagi remaja, orang tua hangat dan berupaya membimbing remaja, orang tua melibatkan remaja dalam membuat keputusan, orang berwenang untuk mengambil keputusan akhir dalam keluarga, orang tua menghargai disiplin remaja.

  3. Gaya pengasuhan permissive: orang tua kurang sekali terlibat dalam mengontrol remaja, orang tua menerapkan hukuman pada remaja, orang tua tidak menentukan peran remaja dalam keluarga, orang tua kurang menggunakan haknya untuk membuat aturan kepada remaja.

Pendapat yang lain mengungkapkan bahwa terdapat tiga tipologi pola asuh dengan ciri-ciri, yaitu:

  1. Pola asuh otoriter, antara lain dicirikan dengan kendali terhadap remaja mutlak di tangan orang tua, komunikasi satu arah dari orang tua ke remaja.

  2. Pola asuh demokratis, yaitu komunikasi bersifat timbal balik dan karena orang tua berupaya memberdayakan remaja, maka kontrol secara berangsur-angsur berpindah ke tangan remaja.

  3. Pola asuh permisif, yaitu memberikan kebebasan secara mutlak pada remaja, kendali ada di tangan remaja, komunikasi bersifat dua arah, namun dialog yang ada tidak bersifat memberdayakan, tidak meletakkan remaja untuk memiliki locus of control.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri dari masing-masing tipe gaya pengasuhan adalah sebagai berikut:

  1. Gaya pengasuhan authoritarian: orang tua menuntut kepatuhan yang tinggi pada remaja, tidak boleh bertanya terhadap tuntutan orang tua, orang tua banyak menghukum bila remaja melanggar tuntutannya, orang tua tidak membicarakan berbagai masalah pada remaja, orang tua memberi sedikit sekali kesempatan untuk mengungkapkan perasaan remaja, orang tua tidak memberi penjelasan terhadap perintahnya kepada remaja. Selanjutnya orang tua tidak memberi kesempatan pada remaja untuk mengatur dirinya.

  2. Gaya pengasuhan authoritative: orang tua menjadikan dirinya panutan model bagi remaja, orang tua hangat dan berupaya membimbing remaja, orang tua melibatkan remaja dalam membuat keputusan, orang tua berwenang untuk mengambil keputusan akhir dalam keluarga, orang tua menghargai disiplin remaja.

  3. Gaya pengasuhan permissive: orang tua kurang sekali terlibat dalam mengontrol remaja, orang tua menerapkan hukuman pada remaja, orang tua tidak menentukan peran remaja dalam keluarga, orang tua kurang menggunakan haknya untuk membuat aturan kepada remaja.

ASPEK-ASPEK GAYA PENGASUHAN ORANG TUA

Istilah pola pengasuhan mengemukakan bahwa aspek-aspek pola pengasuhan orang tua adalah:

  1. Pengawasan (kontrol), yaitu usaha orang tua untuk mengawasi dan mempengaruhi kegiatan anak.

  2. Komunikasi orang tua dan anak

  3. Disiplin yang; diterapkan dengan fungsi sebagai pedoman dalam melakukan penilaian terhadap tingkah laku anak.

  4. Hukuman dan hadiah.

Aspek-aspek pola pengasuhan berdasarkan kesimpulan yang diambil dari jenis pola asuh masing-masing adalah sebagai berikut:

  1. Pola asuh otoriter: kontrol terhadap anak bersifat kaku, tidak ada komunikasi timbal balik, hukuman diberikan tanpa alasan dan jarang memberikan hadiah, disiplin yang diterapkan tidak dapat dirundingkan dan tidak ada penjelasan.

  2. Pola asuh demokratis: kontrol yang bersifat luwes dimana orang tua memberikan bimbingan yang sifatnya mengarahkan agar anak mengerti dengan balk mengapa ada hal yang boleh dilakukan dan ada yang tidak boleh, komunikasi terbuka dengan dua arah, disiplin yang diterapkan dapat dirundingkan dan ada penjelasan, hukuman dan pujian diberikan sesuai dengan perbuatan dan disertai penjelasan.

  3. Pola asuh permisif: tidak ada pengendalian atau kontrol serta tuntutan orang tua kepada anak, komunikasi kurang hangat karena orang tua bersikap masa bodoh, disiplin yang bersifat permisif yaitu sedikit disipiin atau tidak berdisiplin yang berarti tidak membimbing anak ke arah pola perilaku yang disetujui secara sosial dan tidak ada hukuman dan hadiah.

Pendapat yang lain mengemukakan tiga tipologi pola asuh dengan aspek-aspek:

  1. Pola asuh otoriter: antara lain dicirikan dengan kendali terhadap anak mutlak di tangan orang tua, komunikasi satu arah dari orang tua ke anak.

  2. Pola asuh demokratis: komunikasi bersifat timbal balik, dan karena crang tua berupaya memberdayakan anak maka kontrol secara berangsur-angsur berpindah ke tangan anak.

  3. Pola asuh permisif: memberikan kebebasan mutlak kepada anak, kendali di tangan anak, komunikasi bersifat dua arah, namun dialog yang ada tidak bersifat memberdayakan, tidak meletakkan anak untuk memiliki locus of control.

Disimpulkan bawa aspek-aspek dari masing-masing tipe gaya pengasuhan orang tua adalah sebagai berikut:

  1. Gaya pengasuhan authoritarian meliputi aspek pengawasan (kontrol) terhadap anak bersifat kaku, tidak ada komunikasi timbal balik, disiplin yang diterapkan tidak dapat dirundingkan dan tidak ada penjelasan, hukuman diberikan tanpa alasan dan jarang memberikan hadiah.

  2. Gaya pengasuhan authoritative meliputi aspek pengawasan (kontrol) yang bersifat luwes dimana orang tua memberikan bimbingan yang sifatnya mengarahkan agar anak mengerti dengan baik mengapa ada hal yang boleh dilakukan dan ada yang tidak boleh dilakukan, komunikasi terbuka dua arah, disiplin yang diterapkan dapat dirundingkan dan ada penjelasan, hukuman dan pujian diberikan sesuai dengan perbuatan dan disertai penjelasan.

  3. Gaya pengasuhan permissive meliputi aspek tidak adanya pengendalian atau kontrol serta tuntutan kepada anak, komunikasi kurang ?httngat karena orang tua bersikap masa bodoh, disiplin yang bersifat permisif yaitu sedikit disiplin atau bahkan tidak berdisiplin yang membimbing anak ke pola perilaku yang disetujui secara sosial, dan tidak ada hukuman serta hadiah.

Ahmadi, A dan Soleh, M. 2005. Psikologi Perkembangan. Cetakan 2 (edisi revisi). Jakarta: Rineka Cipta.

Brigham, I C. 1991. Social Psychology. Edisi kedua. New York: Harper Coiling Publisher, Inc.

Conger, J. J. 1989. Perkembangan dan Kepribadian Anak. Alih bahasa: FA. Budiyanto, Gianto Widianto, Arum Gayatri. Edisi 6. Jakarta: Arcan.

Davidoff, L. L. 1987. Introduction to Psychology Third Edition. USA: Mc Graw-Hill, Inc.

Edwina, I. P. 2002. Sistem dan Dinamika Keluarga dalam Pembentukan Perilaku Prososial Anak. Psikodimensia. Vol I, No. 2, h. 145. Semarang: Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata.

Faw, Terry., Belkin Gray. 1989. Child Psychology. McGraw-Hill.

Gerungan, W. A. 1991. Psikologi Sosial suatu Ringkasan. Bandung: Eresco.

Harini, P. 1998. Perbedaan Pola Asuh Orang Tua dengan Perilaku Remaja. Skripsi (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada.

Hurlock, E. B. 1993. Psikologi Perkembangan. Alih bahasa: Dra. Istiwidayanti dan Drs Soedjarwo, Msc. Jakarta: Erlangga.

Hurlock, E. B. 1999. Perkembangan Anak Edisi 6. Alih bahasa: Metasari Tjandrasa. Jakarta: Elangga.

Kartono, K. 1992. Mengenal Gadis Remaja dan Dewasa. Jakarta: Rajawali.

Mahmud, H. R. 2003. Hubungan antara Gaya Pengasuhan Orang Tua dengan Tingkah Laku Prososial Anak. Jurnal Psikologi. Vol II. No. 1, h. 1-9: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Monks, F. J., Knoers, A. M. P., Haditono, S. R. 2001. Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Mussen, P. H. 1989., Conger, J. J., Kangan, J. 1979. Child Development and Personality. Fifth edition. New York: Harper and Row Publisher, Inc.

Peter Salim.; Yenny Salim. 1991. Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer. Edisi Pertama. Jakarta: Modern English Press.

Sears, D.O., Freedman, J. L., Peplau, L. A. 1994. Psikologi Sosia Jilid 2. Alih bahasa : Michael Adryanto dan Savitri Soekrisno. Jakarta : Erlangga.

Stanrock, J. W. 2003. Adolesence, 6th Edition. Alih bahasa: Dra. Shinto. B. Adelar, Msc; Sherly Saragih, S.Psi. Jakarta : Erlangga.

Staub, E. 1979. Positive Behavior an Morality. Social an Personal Influences. Vol I. New York: Academy Press.

Steinberg, L. 1991. Adolesence Thrid Edition. North America: Mc Grow-Hill, Inc.

Watson, D. L. 1974. Psychology Science and Application. Illions: Scot Foresman and Company.

Artikel Lainnya: