KeSimpulan.com Dokumentasi Berita Sains
(2008-2013)
HOME - ARSIP - PENCARIAN

Tuesday, April 28, 2009

Gelombang Electroencephalography (EEG) Pada Anak Kesulitan Belajar

(kesimpulan) Kelainan EEG diduga berhubungan dengan masalah kognitif bila ada kelainan fungsional atau struktural otak dan ini menyebabkan terjadinya kesulitan belajar. Sebab itu sejak ditemukan Electroencephalography (EEG) oleh Hans Berger (1929), EEG merupakan alat bantu untuk pemeriksaan neurofisiologis aktivitas otak dan menjadi dasar untuk pemeriksaan penunjang pada anak dengan kesulitan belajar.

Lepasan gelombang epileptiform selama perekaman EEG akan diikuti penurunan fungsi kognitif. Penelitian lain juga mendukung adanya perubahan gelombang EEG pada anak dengan kesulitan membaca (disleksia). Gelombang ireguler pada rekaman EEG anak disleksia yang sesuai dengan tingkat kesulitan membacanya.

Karena itu abnormalitas gelombang EEG pada anak dengan kesulitan belajar dianggap sebagai bukti utama dari disfungsi serebral. Perubahan kognitif sementara yang menyertai disritmia serebral intermiten memenuhi definisi serangan epilepsi, dan cukup untuk menjadi dasar pemberian terapi obat anti epilepsi (OAE).

Lamotrigin merupakan OAE baru yang dipakai sebagai terapi tambahan tetapi dapat dipakai sebagai monoterapi dengan efek samping minimal. Lamotrigin dapat mengatasi kejang juga memperbaiki abnormalitas gelombang EEG interiktal serta mempunyai pengaruh positif pada kualitas hidup penderita karena dapat memperbaiki fungsi kognitif.

Lamotrigin menekan aktivitas epileptiform interiktal sehingga penderita yang gelombang epileptiformnya berkurang mengalami perubahan tingkah laku. Hal ini juga didapati pada penderita epilepsi yang memakai Lamotrigin dan terbukti memberikan perbaikan performance kognitif.

KESULITAN BELAJAR

Kesulitan belajar sudah diketahui sekitar 100 tahun yang lalu. Bahkan sejak tahun 1960 istilah kesulitan belajar digunakan sebagai identifikasi pada anak dengan kesulitan membaca (disleksia), DMO, hambatan persepsi, disfungsi persepsi motorik, gangguan bahasa spesifik serta prestasi belajar rendah dibidang tertentu. Seseorang disebut menderita kesulitan belajar bila prestasi belajarnya berada jauh dibawah yang diharapkan dan tidak sesuai dengan tingkat intelegensinya.

Kesulitan belajar merupakan kumpulan dari gangguan heterogen yang bisa timbul berupa gangguan bahasa lisan, bahasa baca, bahasa tulis, juga berhitung. Dalam praktek sering dijumpai kesulitan belajar pada bidang yang satu bisa juga berhubungan dengan bidang yang lainnya.

Penyebab kesulitan belajar berhubungan dengan banyak hal. Beberapa teori mengatakan, kesulitan belajar disebabkan oleh gangguan struktural dan fungsi otak yang minimal dan disebut DMO. Anak dengan DMO mempunyai intelegensia bervariasi, mulai dari mendekati rata-rata, rata-rata atau diatas rata- rata (tinggi) dan disertai kesulitan belajar spesifik atau kelainan perilaku, juga penyimpangan fungsi SSP.

DMO seringkali tidak dapat dideteksi dengan pemeriksaan alat canggih seperti CT scan kepala, MRI, dan PET Scan karena yang terganggu terjadi ditingkat sel seperti akson, dendrit dan neurotransmiter. Pemeriksaan diagnostik pada DMO yang paling sesuai adalah pemeriksaan neuropsikologik melalui wawancara dan tes khusus, yang juga diikuti pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang berupa EEG dan Brain mapping.

Kesulitan belajar dipengaruhi juga oleh gangguan pada pemusatan perhatian, daya ingat, serta aspek-aspek lain yang juga turut berpengaruh seperti:

  1. Status Perkembangan Otak.
  2. Status Panca indra
  3. Status Lingkungan Psikososial

The Federal Register United State Office Of Education (1977) membuat patokan dalam menentukan kesulitan belajar yaitu apabila terdapat ketidak cocokkan yang berat antara prestasi belajar yang dicapai dengan kemampuan intelektual yang dimiliki dalam satu atau lebih bidang seperti ekspresi oral, komprehensi mendengar, ekspresi tertulis, kecakapan membaca dasar, komprehensi membaca, kalkulasi matematik dan penalaran matematik.

ELEKTROENSEFALOGRAFI EEG

Dalam melakukan fungsinya sehari-hari, neuron-neuron yang ada diotak menghantarkan impuls saraf satu dengan yang lain, baik dari korteks serebri ke perifer maupun sebaliknya. Aktifitas listrik ini bersifat ritmik, terus menerus dan diduga berasal dari talamus yang berfungsi semacam pacemaker, yang dipancarkan ke korteks serebri melalui neuron dan sinaps-sinapsnya.

Intensitas kegiatan listrik ini berubah sesuai dengan tingkat aktivitas otak, tetapi selalu terdapat aktivitas listrik dasar yang bersumber dari talamus tadi. Untuk merekam aktivitas listrik tersebut, dipakai alat Elektroensefalografi (EEG) yang dapat merekam aktivitas listrik setelah sampai di korteks.

Tehnik EEG

Rekaman EEG umumnya melalui elektroda yang diletakkan di kulit kepala tetapi dapat juga ditanam intra kranial. Penempelan elektroda sesuai dengan titik-titik yang sudah ditentukan pada kulit kepala dan akan mencatat perbedaan potensial listrik diantara titik-titik tersebut.

Penempatan elektroda di kulit kepala mengikuti sistem yang sudah ditentukan yaitu sistem 10-20, dengan melihat kode huruf yang menyatakan lokasi dan angka ganjil menunjukan sisi kiri serta angka genap menunjukan sisi kanan. Penempatan elektroda yang tepat dan baik merupakan syarat utama untuk mendapatkan hasil rekaman EEG yang baik dan dapat dipercaya. Disamping itu kebersihan kulit kepala, kondisi elektroda, mesin EEG dan kepatuhan anak saat perekaman juga sangat berpengaruh untuk mendapatkan hasil yang baik.

Patofisiologi Gelombang Epileptiform

Patofisiologi seluler yang mendasari gelombang paku fokal diyakini sebagai Paroksismal Depolarization Shift (PDS). Depolarisasi neuron yang berkelanjutan yang diperantarai oleh masuknya ion kalsium mendasari serangkaian aksi potensial masuknya natrium. Repolarisasi dan hiperpolarisasi, terutama diperantarai oleh ion kalium yang mengikuti depolarisasi berkelanjutan.

Pada perekaman EEG permukaan, akan terlihat gambaran gelombang selama masuknya ion kalium dan ion natrium yang berupa gambaran bentuk puncak negatif, yang akan turun kembali sampai ke dan dibawah garis dasar selama hiperpolarisasi dan akhirnya akan terlihat kembali kegaris dasar.

PDS berdasarkan rekaman sel tunggal ektraseluler dan intraseluler, tetapi pada keadan in vivo neuron-neuron hipokampus dan neokorteks sangat penting untuk menghasilkan lepasan listrik interiktal dan iktal. Neuron-neuron talamus dan korteks bertanggung jawab dalam menghasilkan kompleks paku – gelombang generalisata sebagai gelombang epileptiform.

Lepasan eksitatorik dan inhibitorik pada retikulum talamus, relay talamus, dan neuron piramidal neokorteks menghasilkan gelombang seperti sisir dan ritmik yang mendasari kompleks gelombang paku, sedangkan gelombang lambat pada kompleks gelombang tersebut merupakan inhibitorik.

Interpretasi

Setiap EEG harus dibaca sesubjektif mungkin. Idealnya pembaca harus menguraikan temuan-temuannya dan membuat diagnosis. Untuk menginterpretasikan hasil rekaman EEG yang harus diperhatikan adalah usia, tingkat kesadaran/status penderita saat diperiksa, urutan rekaman dan baru kemudian menganalisa hasil meliputi; mengenali artefak, aktivitas latar belakang gelombang terhadap usia, gambaran abnormal, serta menilai perubahan akibat provokasi.

Gambaran abnormal pada EEG dapat berupa gelombang lambat, tajam, runcing, spike-wave, yang dapat muncul secara lateralisasi, fokal, general maupun paroksismal. Gelombang epileptiform dapat muncul pada orang yang epilepsi maupun yang tidak ada klinis epilepsi ini disebut epileptiform sub klinis.

Yang dimaksud gelombang epileptiform adalah gelombang tajam, runcing, dengan atau tanpa diikuti gelombang lambat, dan gelombang tajam, bisa muncul tunggal atau dalam rangkaian letupan yang bersifat umum atau paroksismal.

GAMBARAN EEG PADA KESULITAN MEMBACA

Dalam penelitian ini salah satu hal yang akan dilihat adalah gambaran EEG pada anak kesulitan membaca. Menurut beberapa penelitian terdahulu didapatkan adanya hubungan antara kelainan EEG dengan masalah fungsi kognitif yang menyebabkan kesulitan belajar. Karena itu pemeriksaan EEG banyak dilakukan untuk mendiagnosis kesulitan belajar pada anak. Pada DMO yang menyebabkan kesulitan belajar dapat terlihat adanya perubahan pada hasil EEG berupa gelombang lambat yang tidak khas dan konstan.

Kesulitan belajar dapat ditemukan pada anak dengan hasil EEG gelombang epileptiform yang disertai kejang maupun tanpa kejang. Kondisi tanpa kejang ini dianggap sebagai ”subklinis” atau ”interiktal” atau ” lepasan larval”.

Gambaran abnormalitas gelombang EEG dapat berupa disorganisasi aktifitas latar belakang yang ringan dan lebih lambat dibandingkan dengan usia, juga adanya gambaran paroksismal yang ringan. Pada anak dengan gangguan tingkah laku ditemukan kurang lebih 40%-50% EEG-nya abnormal dengan aktifitas gelombang dasar lebih lambat dan difus, tetapi sering predominan didaerah pretemporal, sehingga sering terjadi asimetris perlambatan pada hemisfere kiri.

Penelitian lain juga mendukung adanya perubahan gelombang EEG pada anak-anak kesulitan membaca., berhitung, dan hiperkinetik, yang menunjukan abnormalitas. Ditemukan gelombang ireguler pada hasil rekaman EEG anak disleksia yang sesuai dengan tingkat kesulitan membacanya. Ditemukan juga ada kecenderungan perubahan gelombang EEG kuantitatif yang menunjukan hubungan neuropsikologis penderita disleksia dengan efek dari hasil terapi membaca.

Profil tes neuropsikologi yang abnomal pada murid dengan gelombang epileptiform subklinis, bahkan pada beberapa pemeriksaan psikologi kontinyu ditemukan episode singkat gangguan fungsi kognitif, selama munculnya gelombang epileptiform.

Karena itu Geswid berpendapat pemeriksaan EEG merupakan alat analisa yang bisa membantu mendiagnosis dan memberi informasi adanya disfungsi serebral yang menyebabkan terjadinya gangguan fungsi kognitif. Sedangkan Rapin mengatakan pemeriksaan EEG sangat perlu dilakukan pada anak dengan suspek disfungsi otak untuk mendeteksi adanya discharge yang tidak berhubungan dengan klinis kejang. Dan menurut Faber EEG dapat mendeteksi lebih dini jika ada perubahan listrik di neuron sebelum terjadi proses patologis yang menimbulkan kerusakan diotak.

Abnormalitas Gelombang EEG Fungsi Kognitif Dan Kesulitan Membaca

Telah diketahui terdapat hubungan antara abnormalitas EEG dengan fungsi kognitif dan ini berpengaruh dalam terjadinya kesulitan belajar. Dilaporkan bahwa gelombang epileptiform akan berefek secara langsung pada proses informasi, memori jangka pendek, pemecahan masalah, abstraksi, dan pemusatan perhatian, karena itu gangguan fungsi kognitif dan kesulitan belajar dapat juga diakibatkan oleh adanya gelombang epileptiform subklinis.

Penelitian lain mengatakan, pemusatan perhatian sangat sensitif terhadap gelombang epileptiform. Gelombang epileptiform subklinis fokal dan multifokal menyebabkan gangguan yang lebih kecil pada fungsi kognitif dibandingkan dengan yang bersifat umum atau general.

Diketahui gelombang epileptiform yang timbul pada usia yang sangat muda (lebih awal) terutama dengan kejang akan mempengaruhi perkembangan otak dan pada jangka panjang akan berefek pada fungsi kognitif melalui inhibisi mitosis sel, proses mielinisasi yang terganggu, serta penurunan jumlah sel dan ukurannya.

Penelitian Aarts dkk membuktikan adanya defisit fungsi kognitif yang bersifat sementara selama terjadinya lepasan gelombang epileptiform subklinis. Hal ini dinamakan Transitory Cognitive Impairment (TCI). Pada TCI terdapat gangguan global dari kewaspadaan atau perhatian dan penurunan transmisi informasi. TCI digunakan untuk mendiagnosis timbulnya gelombang epileptiform yang terjadi simultan dengan penurunan skor tes fungsi kognitif dan ini dapat menjelaskan adanya kesulitan belajar. TCI juga berperan pada timbulnya abnormalitas profil pemeriksaan psikologis dan mengganggu aktifitas harian, seperti membaca dan mengemudi kendaraan. Sedangkan pada anak-anak berhubungan dengan gangguan tingkah laku. Di temukan gambaran TCI selama adanya gelombang epileptiform (subklinis) pada anak yang tidak epilepsi.

Tes “simple reaction time” yang digunakan oleh Aarts (1984), menemukan adanya penurunan fungsi kognitif yang hampir 50% selama timbulnya gelombang epileptiform subklinis saat perekaman EEG. Dengan demikian diketahui bahwa anak dengan gelombang epileptiform subklinis mengalami gangguan atau defisit fungsi kognitif.

Pelepasan gelombang epileptiform subklinis (tanpa kejang) dapat menurunkan fungsi kognitif walaupun hanya sementara sehingga dapat menyebabkan kesulitan belajar. Bahkan sebagian anak mengalami masalah penurunan fungsi kognitif spesifik disekolah walaupun gambaran EEG-nya hanya didapatkan gelombang epileptiform subklinis fokal.

Discharge di hemisfer kanan berhubungan dengan gangguan tes spasial, sedangkan discharge di hemisfer kiri berhubungan dengan kesalahan pada memori verbal.

Pada anak dengan discharge fokal di hemisfer kiri memiliki kemampuan membaca yang lebih rendah dibandingkan dengan yang memiliki fokus di hemisfer kanan. Sedangkan anak dengan fokus di temporal kiri mempunyai kemampuan aritmatika yang lebih rendah dibandingkan dengan fokus di temporal kanan. Selama membaca discharge epileptiform yang terjadi di hemisfer kiri lebih jarang dibandingkan hemisfer kanan. Penilaian tes membaca dapat digunakan sebagai alat diagnostik yang spesifik untuk mendeteksi keterlibatan discharge epileptiform pada fungsi kognitif.

Tahun 1988 Kasteleijn, meneliti efek dari gelombang epileptiform subklinis pada membaca, berhitung dan kemampuan motorik sisi kanan. Ditemukan terjadi gangguan pada kemampuan membaca yang signifikan yaitu berupa pengulangan, koreksi, penghilangan, pengurangan maupun penambahan pada cetusan gelombang epileptiform subklinis.

Perbandingan kemampuan membaca, menulis dan berhitung yang merupakan tugas kognisi yang kompleks secara verbal maupun visuospasial. Pada berhitung atau aritmatik memerlukan kerja kedua hemisfer sehingga tidak terpengaruh efek lateralisasi dari gelombang epileptiform. Umumnya aktifitas fungsi kognitif menurunkan frekwensi gelombang epileptiform spontan.

Dapat disimpulkan bahwa banyak fungsi kognitif seperti perhatian, konsentrasi, fungsi bicara, kalkulasi, memori jangka pendek, proses transformasi dan informasi, pengaturan kewaspadaan, visuospasial, visuomotorik, dan gangguan tingkah laku sangat berhubungan erat dengan kelainan gelombang EEG yang dapat berupa:

  1. Gelombang epileptiform subklinis fokal, multifokal, umum, bersifat episodik.

  2. Abnormalitas pada gelombang dasar berupa ireguler dengan latar belakang gelombang yang lebih lambat dari usianya.

  3. Gelombang epileptiform subklinis yang menunjukkan lateralisasi.

Anak dengan gambaran kelainan EEG, berupa gelombang epileptiform subklinis dapat menyebabkan terjadinya kesulitan belajar karena terdapat gangguan fungsi kognitif yang berkepanjangan.

Terapi Pada Gelombang Epileptiform Sub-Klinis

Walaupun penurunan fungsi kognitif mungkin hanya bersifat sementara tetapi anak dapat mengalami frustrasi dan kehilangan rasa percaya diri dengan keadaan ini, sehingga akan berakibat sekolahnya terganggu. Selain itu banyak peneliti yang merasa yakin bahwa jika pelepasan gelombang epileptiform dibiarkan berlanjut untuk jangka panjang akan mengakibatkan defisit fungsi kognitif yang permanen.

Hal ini telah dibuktikan melalui penelitian pada Electrical Status Epilepticus of Slow-Wave Sleep (ESES) dengan terapi obat anti epilepsi selama 36 bulan. Karena itu penting untuk melakukan terapi dini pada anak-anak dengan deteriorasi fungsi kognitif dan ESES pada rekaman EEG.

Terapi dengan obat-obat anti epilepsi terhadap anak dengan TCI akan menghasilkan perbaikan fungsi psikososial yang signifikan. Bahkan yang terakhir dikonfirmasikan bahwa mengurangi pelepasan gelombang epileptiform dengan obat anti epilepsi akan memperbaiki perilaku anak. Meskipun pada beberapa pasien terapi dengan obat anti epilepsi tidak dapat mengontrol kejangnya secara tuntas tetapi dapat mengontrol pelepasan gelombang paku sehinggga sangat bermanfaat untuk fungsi kognitifnya.

Anak-anak dengan kesulitan belajar yang ditandai gangguan fungsi kognitif dan berhubungan dengan abnormalitas rekaman EEG, berupa paroksismal gelombang epileptiform subklinis terutama yang mempunyai gelombang paku (tajam dan runcing) atau tajam lambat, memungkinkan untuk diberi terapi OAE dengan harapan dapat menekan gelombang epileptiform subklinis sehingga dapat memperbaiki fungsi kognitif.

Beberapa penelitian pembedahan untuk menyingkirkan sumber pelepasan gelombang epileptiform memberikan hasil kognisi yang baik pada sebagian pasien. Ditemukan juga perbaikan pada anak-anak dengan disleksia setelah dilakukan hemisferiktomi.

Hal-hal diatas ini dapat menjadi dasar bahwa gelombang epileptiform subklinis sebaiknya dikontrol atau dikurangi dengan berbagai cara supaya dapat memperbaiki fungsi kognitif sehingga kesulitan belajar dapat diatasi. Dalam penelitian ini akan dicoba untuk mengurangi gelombang epileptiform dengan salah satu OAE adjuvan seperti lamotrigin

Mekanisme Kerja Obat Anti Epilepsi

Serangan epilepsi menyebabkan kerusakan neuron, kerusakan ini tidak hanya timbul akibat hipoksia/iskemia, namun oleh mekanisme yang lebih spesifik. Otak menggunakan glukosa sebagai sumber utama energi, sedangkan Glutamat merupakan metabolit utama dalam metabolisme glukosa melalui siklus Krebs, sehingga glutamat beredar luas di jaringan otak maupun LCS. Peran Glutamat adalah sebagai bahan untuk sintesis protein dan peptida, juga sebagai prekusor dalam pembuatan GABA. Glutamat dikenal sebagai eksitotoksik yang bisa berdampak pada kerusakan dan kematian neuron.

Neuron mempunyai jenis reseptor glutamat yang berbeda-beda di permukaannya yaitu inotropik dan metabotropik. Reseptor inotropik yaitu AMPA, dan asam kainat/NMDA. Reseptor AMPA permeabel terhadap ion Na dan reaktif permeabel terhadap ion Ca. Reseptor kainat bila teraktivasi diduga akan diikuti dengan influks ion Ca. Reseptor NMDA menggunakan Mg sebagai ”penjaga pintu gerbang”, jika membran terdepolarisasi, maka ion Mg menepi, sedangkan kanal terbuka dan ion Ca masuk, ini memicu rantai kimiawi yang bisa sampai menimbulkan kematian sel. Sehingga ion Ca dipandang sebagai mediator utama dalam proses eksitotoksik menuju kerusakan sel. Tergantung dari tersedianya energi, maka nekrosis, apoptosis atau kedua-duanya. Masuknya ion Ca memicu pelepasan neurotransmiter seperti glutamat. Karena itu pencegahan masuknya ion Ca sangat penting. Reseptor metabotropik glutamat melakukan aksi tidak langsung pada kanal ion melalui second messenger.

Melalui mekanisme neurotransmiter dan ion-ion diatas dapat diambil kesimpulan, bahwa hal dibawah ini diharapkan, dapat diatasi agar tidak terjadi kerusakan neuron melalui:

  1. Membatasi letupan berulang yang lama, misalnya penyekat kanal ion Na.
  2. Penguatan inhibisi oleh GABA
  3. Mengurangi aktivitas kanal voltage sensitive ion Ca.
  4. Menurunkan eksitasi glutamat.

Terdapat banyak mekanisme yang diajukan untuk kerja obat anti-konvulsan. Tiga mekanisme yang telah diakui ialah sebagai berikut:

  1. Merintangi secara selektif aksi potensial frekuensi tinggi.
  2. Memperkuat efek hambatan transmiter GABA.
  3. Hambatan selektif aliran Ca2+ yang tergantung pada voltase.

Lain peneliti membagi mekanisme kerja obat anti epileptik dalam 3 bagian besar:

  1. Mengatur saluran ion yang tergantung pada voltase
  2. Menambah proses hambatan melalui GABA
  3. Menurunkan rangsangan eksitasi transmisi sinaptik (terutama melalui glutamat)

Hartono B. Aspek neurologik dari kesulitan belajar spesifik. Neurona majalah kedokteran Neuro-Sains. PERDOSSI. Jakarta, vol 21, no 1, 2003

Lumbantobing SM. Gangguan belajar. Dalam: Anak dengan mental terbelakang. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta, 1997.

Royanto LRM. Identifikasi anak dengan disleksia. Dalam Kesulitan belajar darimasa ke masa “ deteksi dini & intervensi terkini ”. dalam : Konferensi Nasional Neurodevelopmental II. Jakarta, 2006.

Hartono B. Kesulitan belajar karena disfungsi minimal otak (DMO). Dalam:Hadinoto S, Hartono B, Soetedjo (ed) Kesulitan belajar dan gangguan bicara.Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang, 1991.

Saputro D. Pemeriksaan brain elektro activity mapping pada gangguan tingkah laku anak. Jiwa. Indon Psychiat Quqrt ; XXXI 2 :Jakarta, 1998.

Besag FMC. The EEG and learning disability. In: Learning disability and epilepsy an integrative approach. Guildford London,. Clarius Press Ltd, 2003.

Sidiarto LD. Aspek neurologis anak – anak dengan disfungsi minimal otak. Neurona majalah kedokteran Neuro-Sains. PERDOSSI. Jakarta, vol 14, no 1,1997.

Pressler RM, Robinson RO, Wilson GA, Binnie CD. Treatment of Interictal Epileptifoem Discharges Can Improve Behavior in Children With Behavioral Problems and Epilepsy. The Journal of Pediatrics, January , 2005.

Aldenkamp AP, Mulder OG, Overweg J. Cocnitive effects of Lamotrigine as first line add-on in patients with lateralized related (partial) Epilepsy. J Epilepsy 1997; 10: 117-121.

Sackellares CJ, Kwong JW. Lamotrigine monotherapy improves health – related quality of life in epilepsy. In: epilepsy and Behavior, 2002.

Widyawati I. Deteksi dini kesulitan belajar. Jiwa, Indon pschiat Quart, XXX: 3, Jakarta, 1997.

Kerr M. Improving the general health of people with learning disabilities. Advances in psychiatric treatment, 2004, vol 10: 200-206.Available from.

Sidiarto LD. Aspek neurologis anak – anak dengan kesulitan belajar. Neurona majalah kedokteran Neuro-Sains. PERDOSSI. Jakarta, vol 8, 1990.

Njiokiktjien C, Panggabean R, Hartono B. Masalah – masalah dalam perkembangan psikomotor. Semarang. Diponegoro university press – SUYI Publ Indonesia , 2003.

Kustiowati E. Penggunaan EEG dalam diagnosis dan evaluasi epilepsi. Dalam peningkatan kualitas hidup penyandang epilepsi. Semarang, badan penerbit UNDIP 2001.

Manford M. Electroencephalography In : Practical Guide to Epilepsy, Burlington, Butterworth – Heinemann: 2003.

Zhadin MN. Formation of rhytmic processes in the Bio-Elektrical activity of the cerebral cortex biophysics, vol 39, no 1, 1994.

Devinsky O.Cognitive and behavioral effects of antiepileptic drugs. Epilepsia 36 (Supp. 2), 1995.

Martin JH. Cortical neuron the EEG and the mechanism of epilepsy. In: Kandel R, Scwarttz, eds. Principles of neuroscienc, 2 ed. New York , Elsevier, 1995.

Sills GJ, Brodie MJ. Update on the mechanisms of action of antiepileptic drugs. Epileptic disorders. vol 3, no 4, dec, 2001.

Shorvon SD, K van Rijckevorsel. A new antiepileptic druc. J. Neurol. Neurosug. Psychiatry, 2002.

Aldnkamp AP. Effect of seizure and epileptiform discharges on cognitive function. Epilepsia 38(supp.1), 1997.

Ben EM, Edrich P, Van Vleymen B, Sanders JWAS, Schmidt B. Evidence for Sustained Efficacy of Epilepsy Therapy. In Epilepsy Research 2003.

Shorvon S. Handbook of Epilepsy Treatment. Blackwell Science. United Kingdom, 2000

Santoso SO, Wiria MSS, : Farmakologi dan Terapi, edisi 4, Bagian Farmakologi Universitas Indonesia. Jakarta, 1995.

Green B. Lamotrigine in mood disorders. Departement of Psychiatry of Liverpool, UK. Librapharm LTD-Cuff Med Res Opin, 2003.



Link situs lain : Laporan Penelitian | Tutorial Akademik | Pencarian Jurnal

Artikel Lainnya: