KeSimpulan.com Dokumentasi Berita Sains
(2008-2013)
HOME - ARSIP - PENCARIAN

Minggu, 26 April 2009

Independensi Auditor dan Praktek Manajemen Laba

(kesimpulan) Laporan keuangan merupakan bentuk pertanggungjawaban manajemen kepada calon investor pada umumnya dan pemegang saham khususnya. Laporan keuangan memberikan informasi yang berguna kepada para pengguna umumnnya untuk pembuatan keputusan. Oleh karena itu, patutnya laporan keuangan dapat memenuhi keperluan para pengguna terutama berkaitan dengan validitas informasi tersebut, dapat dipercaya. Namun pada prakteknya laporan keuangan seringkali disalahgunakan oleh manajer dengan lakukan manajemen laba.

Isu mengenai usaha manajer untuk melakukan manajemen laba sebenarnya bukan merupakan isu baru di bidang akuntansi. Sudah ada sejak lama, dahulu dikenal sebagai income smoothings. Manajemen laba merupakan usaha pihak manajer yang disengaja untuk memanipulasi laporan keuangan dalam batasan yang dibolehkan oleh prinsip-prinsip akuntansi dengan tujuan untuk memberikan informasi menyesatkan para pengguna untuk kepentingan pihak manajer.

Meskipun secara prinsip, praktek manajemen laba ini tidak menyalahi prinsip-prinsip akuntansi yang diterima urnum, namun adanya praktek ini dapat mengikis kepercayaan masyarakat terhadap laporan keuangan eksternal dan menghalangi kompetensi aliran modal di pasar modal. Praktek ini juga dapat menurunkan kualitas laporan keuangan suatu perusahaan. Manajemen laba juga merupakan hal yang merugikan investor karena tidak akan mendapat informasi yang benar mengenai posisi keuangan perusahaan.

Adapun audit merupakan suatu proses untuk mengurangi ketidakselarasan informasi yang terdapat antara manajer dan para pemegang saham dengan menggunakan pihak luar untuk memberikan pengesahan terhadap laporan keuangan. Auditor diharapkan dapat membatasi praktek manajemen laba serta membantu menjaga dan meningkatkan kepercayaan masyarakat umum terhadap laporan keuangan. Namun demikian efektifitas dan kemampuan auditor untuk mendeteksi manajemen laba tergantung kepada kualitas auditor tersebut.

Beberapa penelitian terdahulu telah membuktik bahwa terdapat hubungan antara kualitas audit dengan manajemen laba. Kualitas audit ini biasanya dikaitkan dengan ukuran auditor yaitu Big dan non-Big. Auditor Big dianggap memiliki kualiuk yang lebih tinggi dibandingkan dengan auditor non-Big. Auditor yang diklasifikasikan sebagai juga dianggap akan lebih mampu membatasi praktek manajemen laba dibandingkan dengan auditor non-Big.

MANAJEMEN LABA

Terdapat beberapa definisi mengenai mabajemen laba, bahwa manajemen laba adalah proses di mana dilakukan langkah-langkah yang disengaja dalam batasan prinsip-prinsip akuntansi untuk memperoleh tingkat pendapatan yang diinginkan.

Pendapat lain, manajemen laba adalah intervensi dalam proses pelaporan keuangan eksternal dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan pribadi. Manajemen laba terjadi apabila manajer menggunakan penilaian dalam pelaporan keuangan dan dalam struktur transaksi untuk mengubah laporan keuangan guna menyesatkan pemegang saham mengenai prestasi ekonomi perusahaan atau mempengaruhi akibat-a¬kibat perjanjian yang mempunyai kaitan dengan angka-angka yang dilaporkan dalam laporan keuangan.

Selain itu manajemen laba dianggap sebagai tindakan yang dapat menurunkan kualitas laporan keuangan. Manajemen laba merupakan pengikisan dalam kualitas pendapatan sekaligus kualitas laporan keuangan. Terdapat beberapa alasan yang mendororrg manajer untuk rnelakukan manajemen laba yaitu: Alasan Kontrak, Alasan Pasaran, Management Buyout Offers (MBOs) dan Alasan Peraturan.

Tiga pendekatan yang biasanya digunakan untuk e.rIcieteksi adanya praktek manajemen laba:

  1. Pendekatan yang mengkaji akrual agregat dan menggunakan model regresi untuk menghitung akrual yang diharapkan dan yang tidak diharapkan.
  2. Pendekatan yang menekankan pada akrual spesifik seperti cadangan hutang ragu-ragu, atau akrual pada sektor yang spesifik seperti tunrutan kerugian pada industri asuransi.
  3. Pendekatan yang mengkaji ketidaksinambungan dalam pendistribusian pendapatan.

Terdapat dua jenis manajemen laba, yaitu income increasing earnings management dan income decreasing earnings management. Sistem akuntansi akrual sebagaimana yang ada pada prinsip akuntansi yang diterima umum memberikan kesempatan kepada manajer untuk rnembuat pertimbangan akuntansi yang akan memberi pengaruh kepada pendapatan yang dilaporkan. Dalam hal ini pendapatan dapat dimanipulasi malalui discretionary accruals. Konsep model akrual rnemiliki dua komponen. Komponen non-discretionary dan discretionary. Komponen discretionary accruals merupakan bagian akrual yang dapat dimanipulasi oleh manajer. Hal ini disebabkan karena manajer memiliki kemampuan untuk mengontrolnya dalam jangka pendek. Sebaliknya komponen non-discretionary ditentukan oleh faktor-faktor luar seperti kondisi ekonomi atau permintaan terhadap penjualan serta faktor-faktor lain yang tidak dapat dikontrol oleh pihak manajer. Discretionary accruals diantaranya penilaian piutang, pengakuan biaya garansi (future warranty extense) dan asset modal (capitalization assets). Manajer akan melakukan manajemen laba dengan manipulasi akrual-akrual tersebut untuk mencapai tingkat pendapatan yang dinginkannya.

KUALITAS AUDIT

Audit merupakan suatu proses untuk mengurangi ketidakselarasan informasi yang terdapat para manajer dan para pemegang saham dengan menggunakan pihak luar untuk memberikan pengesahan terhadap laporan keuangan. Para pengguna laporan keuangankeuanganterutama para pemegang saham akan mengambil keputusan berdasarkan pada laporan yang telah dibuat oleh auditor mengenai laporan keuangan suatu perusahaan. Hal ini berarti auditor mempunyai peranan penting dalam pengesahan laporan keuangan suatu perusahaan. Oleh karena itu kualitas audit merupakan hal penting yang harus diperhatikan oleh para auditor dalam proses pengauditan.

Laporan auditor mengandung kepentingan tiga kelompok yaitu: (1) manajer perusahaan yang diaudit; (2) pemegang saham perusahaar; dan (3) pihak ketiga atau pihak luar seperti calon investor, kreditor dan suplier. Masing-masing kepentingan ini merupakan sumber gangguan yang akan memberikan tekanan pada auditor untuk menghasilkan laporan yang mungkin tidak sesuai dengan standar profesi. Lebih lanjut hal ini akan menganggu kualitas audit.

Kemungkinan bahwa auditor akan menemukan dan melaporkan pelanggaran dalam sistem akuntansi klien. Temuan pelanggaran mengukur kualitas audit berkaitan dengan pengetahuan dan kemampuan auditor. Sedangkan pelaporan pelanggaran tergantung kepada dorongan auditor untuk mengungkapkan pelanggaran tersebut. Dorongan ini akan tergantung kepada independensi yang dimiliki oleh auditor tersebut.

Kualitas audit bukanlah merupakan suatu yang dapat langsung diamati. Persepsi terhadap kualitas audit berkaitan dengan nama auditor. Dalam hal ini nama baik perusahaan merupakan gambaran yang paling penting. Baik secara teori ataupun empirik, kualitas auditor seringkali diukur dengan menggunakan ukuran kantor akuntan publik.

INDEPENDENSI

Independensi auditor merupakan suatu hal penting yang sudah sejak lama menjadi pembicaraan baik di kalangan praktisi, pembuat kebijakan ataupun para akademisi. Hal ini dikarenakan pendapat yang diberikan oleh auditor berkaitan dengan kepentingan banyak pihak. Namun demikian pendapat yang diberikan oleh auditor terhadap laporan keuangan suatu perusahaan tidak akan mempunyai nilai apabila auditor tersebut dianggap tidak memiliki independensi oleh para pengguna laporan keuangan.

Berkaitan dengan independensi, AICPA memberikan prinsip-prinsip sebaga panduan:

  1. Auditor dan perusahaan tidak boleh tergantung dalam hal keuangan terhadap klien.
  2. Auditor dan perusahaan seharusnya tidak terlibat dalam konflik kepentingan yang akar mengganggu objektifitas berkenaan dengan cara-cara yang mempengaruhi laporan keuangan.
  3. Auditor dan perusahaan seharusnya tidak memiliki hubungan dengan klien yang akan mengganggu objektifitas auditor.

Selain definisi yang diberikan oleh AICPA, SEC (Securities Exchange Committee) sebagai badan yang juga berkepentingan terhadap auditor yang independen memberikan definisi berkaitan dengan independensi. SEC memberikan empat prinsip dalam rnenentukan auditor yan independen. Prinsip-prinsip ini menyatakan bahwa independensi dapat terganggu apabila: (1) memiliki konflik kepentingan dengan kliennya; (2) mengaudit pekerjaan mereka sendiri (3) berfungsi baik sebagai manajer ataupun pekerja dari kliennya; (4) bertindak sebagai penasehat bagi kliennya.

Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) sebagai pihak yang mempunyai kompetensi mengatur dan mengawasi aktivitas akuntan di Indonesia juga memberikan aturan berkaitan dengan independensi, kejujuran dan objektifitas akuntan dalam melaksanakan aktivitasnya. Di mana dalam menjalankan tuagasnya anggota Kantor aAkuntan Publik (KAP) harus selalu mempertahankan sikap mental independen dalam memberikan jasa profesi sebagaimana diatur dalam Standard Profesional Akuntan Publik yang ditetapkan oleh IAI. Sikap mental independen tersebut harus meliputi independen dalam kenyataan (in facts) maupun yang kelihatan (in appeareance).

Kepercayaan yang diberikan untuk verifikasi auditor terhadap laporan keuangan kliennya cenderung tergantung kepada kompetensi dan independensi. Kompetensi bermakna kelayakan profesional individu yang memiliki kemampuan teknik untuk rnengetahui wujudnya pelanggaran dalam suatu sistem akuntansi. Adapun independensi mensyaratkan auditor untuk mempunyai pandangan yang tidak bias dalam segala hal yang berhubungan dengan hasil auditnya. Pandanganan tidak bias ini diartikan sebagai kebebasan untuk melaporkan pelanggaran yang ditemukannya.

Auditor yang independen seharusnya dapat menjadi pelindung terhadap praktek-praktek akuntansi yang memperdayakan, karena auditor tidak hanya dianggap nemiliki pengetahuan yang mendalam di bidang akuntansi tetapi juga dapat berhubungan dengan audit committe dan dewan direksi yang bertanggung jawab untuk memeriksa dengan teliti para pembuat keputusan di perusahaan.

Dari berbagai pendapat mengenai independensi, terdapat satu kesepakatan bahwa independensi merupakan hal penting yang mesti dimilli oleh auditor. Terdapat berbagai jenis idependensi, tetapi dapat disimpulkan bahwa independensi yang dapat dinilai hanyalah adependensi yang kelihatan. Dan penilaian terhadap independensi yang kelihatan ini selalu berkaitan dengan hubungan yang dapat dilihat serta diamati antara auditor dan kliennya.

NON-AUDIT SERVICE

Salah satu faktor yang banyak dibicarakan berkaitan dengan gangguan terhadap auditor yang independen ialah adanya non-audit services. Terdapat pendapat yang bertentangan berkaitan dengan non-audit services. Sebagian menganggap bahwa pemberian jasa selain audit tidak mengganggu independensi auditor. Pendapat yang lain menyatakan bahwa pemberian jasa selain pengauditan dapat mengganggu independensi auditor.

Berkaitan dengan non-audit services ini, Securities Exchange Commission (SEC) US menerapkan peraturan baru pada tahun 2000 yang mensyaratkan perusahaan yang terdaftar di bursa untuk mengungkapkan informasi berkaitan dengan bayaran non-audit services yang diberikan pada auditor.

Dikaitkan dengan keempat prinsip yang diberikan oleh AICPA dalam menentukan apakah iependen auditor terganggu ataupun tidak, adanya non-audit services tidak sesuai dengan prinsip yang keempat, yang menyatakan bahwa auditor dan perusahaan seharusnya tidak memiliki hubungan dengan klien karena dikhawatirkan akan mengganggu objektifitas audior tersebut.

BERBAGAI PENELITIAN

Terdapat beberapa ciri yang ada pada praktisi akuntansi yang dapat mengurangi independensi auditor, terutama mengurangi independensi yang kelihatan. Antaranya ialah ketergantungan keuangan auditor terhadap kliennya dan wujudnya hubungan pribadi di antara auditor dan manajer. Terdapatnya potensi dari hubungan yang lama antara auditor dan manajer yang akan mempengaruhi prestasi auditor.

Pertukaran auditor merupakan usaha untuk mengurangi pengaruh dari berkurangnya independensi auditor. Dinyatakan bahwa hubungan yang lama antara auditor dan klien akan menyebabkan sulit bagi auditor untuk benar-benar bebas. Salah satu alternatif yang digalakkan ialah menukar auditor setelah beberapa tahun.

Mereka yang menyokong adanya pertukaran auditor menyatakan bahwa. semakin lama suatu perusahaan audit mempertahankan hubungan dengan kliennya semakin berkurang kernainpuannya untuk dapat bertindak objektif. Kemungkinan mereka tidak dapat mendeteksi kesalahan-kesalahan yang ada dalam laporan keuangan. Sebaliknya mereka yang menolak adanya pertukaran auditor, menyatakan bahwa pertukaran auditor akan melibatkan biaya yang lebih tinggi sementara keuntungannya hanya sedikit kalaupun ada.

Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa tuntutan terhadap auditor dan praktek manajemen laba diantaranya dipengaruhi oleh kualitas auditor yang berkaitan. Kualitas auditor yang tinggi, yang diklasifikasikan sebagai Big-5 dianggap akan mengurangi timbulnya praktek manajemen laba sekaligus mengurangi tuntutan terhadap auditor. Income-increasing discretionary accruals pada klien KAP non-Big lebih tinggi dari klien KAP Big.

Pada perusahaan yang diaudit oleh non-Big, discretionary accruals berhubungan secara positif dan signifikan dengan rasio bayaran non-audit services. Sementara pada perusahaan yang diaudit oleh Big, discretionary accruals berhubungan secara negatif dengan rasio bayaran non-audit services dan secara statistik tidak signifikan. Manakala dilakukan tes untuk kedua kelompok baik Big ataupun non-Big hubungan antara discretionary accruals dan rasio bayaran non-audit services secara signifikan lebih tinggi pada non-Big daripada Big. Perusahaan yang memperoleh lebih banyak non-audit services berkemungkinan melaporkan absolute discretionary accruals yang lebih besar.

Masa jabatan auditor secara positif berhubungan secara signifikan dengan absolute discretionary accruals. Temuannya menyatakan perusahaan audit Big 5 secara positif berhubungan dengan absolute discretionary accruals. Lamanya auditor jabatan berhubungan secara negatif dengan discretionary accruals. Hal ini menunjukkan bahwa auditor menjadi semakin serasi dengan aktivitas klien dan lingkungan pelaporan keuangannya.

Independensi selalu berkaitan dengan persepsi para pengguna laporan keuangan mengenai independensi yang dimiliki auditor. Hal ini adalah karena hanya independensi yang kelihatan yang dapat dinilai serta diamati oleh para pengguna laporan keuangan. Terdapat empat hal yang mungkin berkait erat dan dapat mempengaruhi auditor yang independen yaitu: persaingan, non-audit services, ukuran KAP dan masa jabatan auditor.

Persepsi terhadap auditor yang independen dipengaruhi keempat variabel secara signifikan. Lima ukuran yang digunakan untuk menilai auditor yang independen. Yaitu bayaran audit, adanya jasa penasihat manajer, iuran kontintiensi, kerjasama dengan klien yang diaudit, serta tekanan budgeting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden menganggap kelima ukuran atas dapat mengurangi independensi auditor. Walaupun tidak terdapat kesimpulan yang sama dari penelitian-penelitian tersebut, namun terdapat kesepakatan bahwa faktor-faktor yang dianggap dapat mengganggu independensi auditor antaranya ialah bayaran audit, adanya non-audit services, ukuran KAP dan lama jabatan sebagai auditor.

Bartlett. 1993. A Scale of Perceived Independence: New Evidence of an Old Concept. Accounting, Auditing, Accountability Journal.

Blecker. L.C., Defond, M.L., Jiambalvo, J. and Subramanyam, K.R. 1998. The Effect of Audit Quality on Earn¬ings Management. Contemporary Accounting Research Spring.

Beneish, M.D. 2001 Earnings Management: A Perspective. Managerial Finance.

Copley, P.A. and Doucet,M.S. 1993. Auditor Tenure, Fixed Fee Contract, and The Supply of Substandard Single Audits. Public Budgeting & Finance.

Davidson, R.A. & D.Neu. 1993. A Note on the Association Between Audit Firm Size and Auditor Quality. Contemporary Accounting Research.

Davis, L.R., Soollilly and Trompoter, G. 2000. Auditor Tenure, Auditor Independence and Manajemen laba.

De Angelo, L.E. 1981. Auditor Size and Audit Quality. Journal of Accounting and Economics.

De Angelo, L.E. 1986. Accounting Numbers as Market valuation Substitutes: A Study of Management. Buyouts of Publics Stockholders. The Accounting Review (July).

Ebrahim Ahmad. 2001. Auditing Quality, Auditor Tenure, Client Importance and Earnings Management: An Additional Evidence.

Frankel, R.M. and Johnson, M.F. 2002. The Relation Between Auditor's Fee fir non-Audit Services and Earnings Quality.

Goldman, A. & Barlev, B. 1974. The Auditor-Firm Conflict of Interest: Its Implications for Independence. The Accounting Review ( October).

Gul, F.A. 1991. Size of Audit Fees and Perceptions of Auditors Ability to Resist Management Pressure in Audit Conflict Situation. ABACUS.

Healy, P.M. and Wahlen, J.M. 1999. A Review of The Earnings Management Literature and its Implications for Standard Setting. Accounting Horizons.

Ikatan Akuntan Indonesia. 2002. Standard Profesional Akuntan Publik.

Jones, J.J. 1991. Earnings Management During Import Relief Investigations. Journal ofAccounting Research.

Palmrose, Z.V. 1988. An Analysis of Auditor Litigation and Audit Service Quality. The Accounting Review.

Schipper, K. 1989. Earning Management. Accounting Horizons.

Scott, B.J. and Marshal, K.P. 2001. Auditors and Earnings Management. CPA Journal.

Sharaf, A.H. and Mautz,R.K. 1960. An Operational Concepts of Independence. The Journal of Accountancy (April).

Shockley, R.A. 1981. Perceptions of Auditor's Independence: An Empirical Analysis. The Accounting Reviex.

Watts, R.L and Zirumerman, J.L. 1986. Positive Accounting Theory. Englewood Cliff's: Prentice Hall.

Artikel Lainnya:

Jurnal Sains