KeSimpulan.com Dokumentasi Berita Sains
(2008-2013)
HOME - ARSIP - PENCARIAN

Tuesday, April 28, 2009

Kesulitan Belajar

(kesimpulan) Masalah belajar merupakan salah satu masalah penting yang timbul pada anak usia sekolah, mencakup masalah yang timbul saat belajar di sekolah maupun di luar sekolah. Anak dengan kesulitan belajar mempunyai intelegensi yang bervariasi. Banyak anak dengan Intellegence Quotient (IQ) umumnya normal bahkan tinggi mempunyai prestasi belajar yang rendah. Ini disebabkan oleh banyak faktor seperti motivasi yang kurang, gangguan emosi dan situasi keluarga yang tidak mendukung.

Kesulitan belajar merupakan kumpulan gangguan yang bervariasi manifestasinya, berupa kesulitan dalam memperoleh dan menggunakan kemampuan mendengar, berbicara, membaca, menulis, berpikir dan berhitung. Gangguan ini bersifat organik dan berhubungan dengan disfungsi Sistem Saraf Pusat (SSP).

Kesulitan belajar bisa juga berarti adanya psikopatologi perkembangan kognitif dan gangguan perkembangan mental yang terbatas, tetapi banyak pula dijumpai kesulitan belajar karena gangguan neurologi yang mendasari seperti epilepsi, cerebral palsy (CP), Disfungsi Minimal Otak (DMO), dan lain-lain.

Kesulitan belajar ada banyak jenis seperti disfasia, disleksia, diskalkulia, dispraksia, gangguan pemusatan perhatian, autis, dan gangguan memori karena terjadi gangguan pemrosesan pada SSP. Salah satu kesulitan belajar yang spesifik dan paling banyak mendapat perhatian adalah kesulitan membaca atau disleksia karena kemampuan membaca merupakan kemampuan dasar untuk memperoleh kepandaian skolastik lainnya.

Semua gangguan diatas dimasukkan dalam DMO karena lesinya minimal sehingga tidak nampak pada neuroimaging tetapi terlihat sebagai gangguan fungsional dan sering diikuti adanya gangguan perilaku dan gangguan belajar. Dalam praktek sering dijumpai kesulitan belajar pada bidang yang satu bisa juga berhubungan dengan bidang yang lainnya. Karena itu dapat dilakukan pemeriksaan khusus dengan ”tes kecepatan membaca” sebab kesulitan membaca (disleksia) tidak berdiri sendiri tetapi bisa timbul bersama dengan gejala lain dan membaca merupakan kemampuan dasar.

Kesulitan belajar sudah diketahui sekitar 100 tahun yang lalu. Bahkan sejak tahun 1960 istilah kesulitan belajar digunakan sebagai identifikasi pada anak dengan kesulitan membaca (disleksia), DMO, hambatan persepsi, disfungsi persepsi motorik, gangguan bahasa spesifik serta prestasi belajar rendah dibidang tertentu. Seseorang disebut menderita kesulitan belajar bila prestasi belajarnya berada jauh dibawah yang diharapkan dan tidak sesuai dengan tingkat intelegensinya.

Kesulitan belajar merupakan kumpulan dari gangguan heterogen yang bisa timbul berupa gangguan bahasa lisan, bahasa baca, bahasa tulis, juga berhitung. Dalam praktek sering dijumpai kesulitan belajar pada bidang yang satu bisa juga berhubungan dengan bidang yang lainnya.

Diketahui penyebab kesulitan belajar berhubungan dengan banyak hal. Beberapa teori mengatakan, kesulitan belajar disebabkan oleh gangguan struktural dan fungsi otak yang minimal dan disebut DMO. Anak dengan DMO mempunyai intelegensia bervariasi, mulai dari mendekati rata-rata, rata-rata atau diatas rata- rata (tinggi) dan disertai kesulitan belajar spesifik atau kelainan perilaku, juga penyimpangan fungsi SSP.

DMO seringkali tidak dapat dideteksi dengan pemeriksaan alat canggih seperti CT scan kepala, MRI, dan PET Scan karena yang terganggu terjadi ditingkat sel seperti akson, dendrit dan neurotransmiter. Pemeriksaan diagnostik pada DMO yang paling sesuai adalah pemeriksaan neuropsikologik melalui wawancara dan tes khusus, yang juga diikuti pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang berupa EEG dan Brain mapping.

Kesulitan belajar dipengaruhi juga oleh gangguan pada pemusatan perhatian, daya ingat, serta aspek-aspek lain yang juga turut berpengaruh seperti:

  1. Status Perkembangan Otak.
  2. Status Panca indra
  3. Status Lingkungan Psikososial

The Federal Register United State Office Of Education (1977) membuat patokan dalam menentukan kesulitan belajar yaitu apabila terdapat ketidak cocokkan yang berat antara prestasi belajar yang dicapai dengan kemampuan intelektual yang dimiliki dalam satu atau lebih bidang seperti ekspresi oral, komprehensi mendengar, ekspresi tertulis, kecakapan membaca dasar, komprehensi membaca, kalkulasi matematik dan penalaran matematik.

DEFINISI

Ketidakmampuan atau tidak bisa belajar karena gangguan-gangguan neuropsikologik dan yang terganggu adalah proses internal belajar serta penyebabnya karena gangguan mekanisme yang terjadi di otak.

Kesulitan belajar adalah ketidakmampuan untuk menggabungkan satu fungsi modalitas dengan modalitas yang lain dan ketidakmampuan untuk mengkonversikan informasi sehingga terjadi defisit pada kemampuan akademik di bidang motorik, persepsi, bahasa, kognitif dan sosial.

SEJARAH

Sejarah kesulitan belajar dibagi menjadi empat fase oleh Wiederholt (1974) dan Lerner (1988).

  1. Fase pertama (foundation phase) tahun 1800-1930, penelitian tentang otak oleh Paul Broca (1861), Hinshelwood (1917) dan Goldstein (1939), yang menjadi dasar para pakar untuk menghubungkan kesulitan belajar dengan fungsi dan disfungsi otak.

  2. Fase kedua (transition phase) tahun 1930-1960, penyelidikan klinis pada anak kesulitan belajar untuk mencari cara dalam mengajar. Fernald (1943) dan McGinnis (1963) pelopor dalam membuat dasar bagaimana menangani anak-anak kesulitan belajar, yang dilanjutkan oleh Cruickshank, Barsch, Frostig, Kephart, Kirik dan Myklebust.

  3. Fase ketiga (integration phase) tahun 1960-1980 meliputi perkembangan program untuk anak kesulitan belajar di sekolah dan ditemukan cara diagnostik medik, juga menentukan kemungkinan penyebab kesulitan belajar.

  4. Fase keempat (contemporary phase) tahun 1980 sampai sekarang, Pengembangan upaya untuk penanganan kesulitan belajar pada anak sampai dewasa melalui komputerisasi mengingat meningkatnya usia yang mengalami kesulitan belajar.

INSIDENSI DAN PREVALENSI

Secara keseluruhan kesulitan belajar pada anak usia sekolah mempunyai insidensi yang bervariasi, kurang lebih 3-7% pada anak usia sekolah. Di negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa insidens kesulitan belajar kurang lebih 10-15% dari populasi anak sekolah. Insidensi pada anak laki-laki lebih banyak dibandingkan pada anak perempuan sebesar 8:1. Prevalensi dari kesulitan belajar juga sangat bervariasi, di Amerika Serikat melalui data National Health Interview Survey (1988) didapatkan 6,5% pada anak usia sekolah dan pada tahun 2001 meningkat menjadi 7,7%. Melalui penelitian epidemiologik menemukan kesulitan membaca pada lebih dari 90% dari keseluruhan kesulitan belajar non psikiatrik.

Di Indonesia belum ada laporan mengenai prevalensi kesulitan belajar diduga secara keseluruhan sebanyak 6-12% pada anak usia sekolah. Di Semarang, sebanyak 11,4% pada anak usia sekolah. Dan yang menderita kesulitan membaca (disleksia) sebanyak 1,7% sedangkan yang gabungan antara disleksia, disfasia, dan diskalkulia sebesar 18,6%.

ETIOPATOGENESIS

Perkembangan otak manusia berlangsung secara bertahap dan terjadi sejak di dalam kandungan mulai masa pra natal sampai pasca natal, masa dewasa dan usia lanjut. Periode perkembangan otak dimulai saat usia 2-4 bulan dan mencapai puncak pada usia 8 bulan, dimana bayi mulai menyadari lingkungan di sekitarnya sehingga akan terjadi pertumbuhan sel-sel otak yang sangat cepat.

Pada usia 2 tahun jumlah jaringan saraf dan metabolisme di otak mencapai dua kalinya dari orang dewasa dan menetap pada usia 10-11 tahun. Otak yang sedang berkembang mempunyai kemampuan yang sangat besar untuk memperbaiki diri (plastisitas) dan untuk mengadakan kompensasi baik yang disebabkan faktor eksternal maupun internal sehingga masa ini disebut Golden Age.

Menjelang remaja sekitar usia 18 tahun plastisitas otak akan berkurang tetapi kekuatannya akan meningkat. Ini dipengaruhi juga oleh faktor genetik dan lingkungan. Pada orang dewasa sel-sel otak tidak dibentuk baru lagi tetapi tiap sel dapat mengadakan cabang baru dan berhubungan antar sel saraf sebagai kompensasi adanya sel-sel yang rusak. Penyimpangan fungsi SSP dapat disebabkan karena faktor genetik, biokimiawi, penyakit atau cedera kronis saat masa perkembangan dan maturasi sel saraf juga kejadian saat perinatal.

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya kesulitan belajar.

  1. Masa Pranatal: Kelainan kromosom dan genetik; Infeksi intra uterine; Obat-obat yang bersifat teratogenik; Stres maternal yang berhubungan dengan hormon stres seperti kortikosteroid; Ibu hamil dengan kecemasan tinggi; Kondisi ibu saat hamil seperti DM, gangguan endokrin, malnutrisi, ketergantungan obat dan zat, merokok, hiperemesis gravidarum; Ibu hamil pemakai alkohol.

  2. Masa Pascanatal: Proses kelahiran yang lama dan sulit menyebabkan hipoksi otak; Infeksi Susunan Saraf Pusat; Penyakit kronik dan intermiten seperti epilepsi bila semakin sering kejang dan semakin muda usia saat onset maka semakin banyak gangguan pada SSP; Gangguan gizi dan anemia zat besi kronik; Gangguan penglihatan dan pendengaran; Gangguan karena penyakit kronik lain; Faktor psikososial.

SIMTOMATOLOGI

Keluhan yang sering diungkapkan oleh orang tua yang mempunyai anak kesulitan belajar sangat bervariasi dan berhubungan dengan DMO serta usia anak pada saat itu sehingga tidak ditemukan gangguan neurologi. Kepekaan orang tua dan guru sangat membantu dalam detaksi dini.

Gejala klinis yang terlihat pada anak dengan kesulitan belajar bisa berdiri sendiri atau saling berhubungan/kombinasi seperti: sulit bicara, terlihat pendiam, sulit membaca dan menulis, sulit berhitung/matematika, sulit menggambar atau tidak trampil, sulit memusatkan perhatian dan gangguan memori. Gejala dan tanda:

Anak pra-sekolah

  1. Keterlambatan bicara dibanding usianya/kesulitan dalam pengucapan kata

  2. Kemampuan penguasaan jumlah kata minim atau sulit menemukan kata yang sesuai untuk suatu kalimat

  3. Sulit mempelajari dan mengenali angka, huruf, nama-nama hari

  4. Sulit menghubungkan kata dalam suatu kalimat

  5. Gelisah, mudah teralih perhatian dan menghindari permainan ”puzzles”

  6. Sulit interaksi dengan anak seusianya

  7. Sulit mengikuti suatu petunjuk/rutinitas tertentu dan menghindari pelajaran menggambar/prakarya

Anak usia sekolah

  1. Kemampuan daya ingat buruk

  2. Selalu membuat kesalahan konsisten dalam mengeja dan membaca seperti ; b dibaca d, m dibaca w dan kesalahan transposisi seperti: roda dibaca dora

  3. Lambat mempelajari hubungan antara huruf dengan bunyi pengucapannya

  4. Bingung dengan oprasionalisasi tanda dalam matematika misalnya membedakan tanda (+) dan (-), atau tanda (+) dan (x).

  5. Sulit mempelajari ketrampilan baru, terutama yang perlu daya ingat

  6. Sangat aktif, tidak mampu menyelesaikan tugas secara tuntas

  7. Impulsif

  8. Sulit konsentrasi atau perhatian mudah teralih

  9. Sering melakukan pelanggaran disekolah dan dirumah

  10. Tidak bertanggung jawab terhadap kewajiban

  11. Tidak mampu merencanakan kegiatan sehari-hari

  12. Problem emosional (murung, acuh, cepat tersinggung, menyendiri)

  13. Menolak bersekolah

  14. Kesulitan mengikuti petunjuk/rutinitas tertentu

  15. Tidak stabil dalam menggenggam pensil/pen

  16. Sulit mempelajari pengertian tentang hari/waktu.

JENIS-JENIS KESULITAN BELAJAR

Berdasarkan aspek klinis dan pengelolaannya serta banyaknya kasus yang ditemukan, maka terdapat berbagai jenis kesulitan belajar dan yang akan di teliti saat ini adalah kesulitan membaca (disleksia).
Disfasia

Definisi : Terdapat kelainan pada fase perkembangan bahasa dan bicara, dimana kemampuan produksi bicara mengalami kelambatan dibandingkan dengan kemampuan pemahaman.

Disfasia terjadi karena adanya gangguan pada proses transisi dari observasi obyek, perasaan, pikiran, pengalaman atau ide terhadap kata yang diucapkan. Disfasia dapat terjadi sejak dalam kandungan, dimana yang lebih terganggu adalah bahasa ekspresif, sehingga anak lebih mengerti apa yang dikatakan kepadanya dari pada yang akan diucapkannya. Gangguan bicara dapat sekunder karena gangguan pendengaran, retardasi mental, gangguan psikiatri dan lingkungan yang tidak menunjang.

Perkembangan bicara-bahasa bervariasi pada masing-masing individu karena dipengaruhi oleh banyak faktor misalnya genetik, jenis kelamin (banyak pada anak laki-laki), kerusakan otak saat pranatal dan perinatal. Penyimpangan biasanya pada otak bagian kiri tetapi ada beberapa pada otak kanan, korpus kalosum atau lintasan pendengaran.

Disfasia merupakan kelainan penting yang sering menjadi basis dari gangguan lain seperti disleksia, disgrafia, dan diskalkulia, juga dapat muncul bersama dengan dispraksia dan Gangguan Pemusatan Pikiran (GPP).
Diskalkulia

Merupakan gangguan fungsi berhitung atau aritmatika, sehingga kemampuan berhitung anak menjadi dibawah rata-rata usianya. Umumnya diskalkulia spesifik apabila kuosien perkembangan untuk berhitung rendah, serta IQ dan aspek dalam bidang lain lebih tinggi. Kemampuan dalam berhitung dipengaruhi oleh genetik dan kerusakan otak sebelumnya. Untuk kecakapan menghitung kedua hemisfer diperlukan, juga bahasa, perseptual, perhatian dan daya ingat (memori).

Diskalkulia murni sering disebut diskalkulia sentral yang meliputi gangguan pemahaman numerik dan pengertian tentang tata kerja/mekanisme aritmatika sebagai faktor sentral gangguan fungsi berhitung. Diskalkulia tidak murni atau diskalkulia marginal disebabkan disfungsi lain seperti perkembangan berbahasa, perseptual, perhatian dan daya ingat (memori).

Dispraksia

Gangguan motorik yang penting pada DMO, karena dapat menimbulkan kesulitan belajar dan tingkah laku. Anak kecil yang tidak dapat belajar tentang gerakan kompleks dan tidak trampil secara optimal disebut dispraksia, sebagai contoh gerakan dalam menyikat gigi, memakai baju, menulis, bicara, main piano, dan berakting.

Dispraksia bisa timbul secara terpisah atau sebagai bagian dari retardasi yang luas seperti tampak pada gangguan bahasa-bicara pada anak kesulitan belajar di usia sekolah. Dispraksia berpengaruh pada kehidupan sehari-hari seperti bermain, olahraga, menulis, pekerjaan rumah tangga serta perkembangan emosional anak. Pada dispraksia tidak boleh terdapat gangguan motorik elementer seperti paresis, diskinesia, ataksia dan sensorik. Dispraksia dapat terjadi dan berhubungan dengan anggota badan lain seperti korporal, postural atau manual (tangan) juga dapat mengenai oral/mulut dan wajah.
Gangguan Pemusatan Perhatian (Attension Defisit Hiperaktif & Disorder)

Attension Defisit Hiperaktif & Disorder (ADHD) merupakan gangguan perilaku yang ditandai gangguan pemusatan perhatian (inattentiveness), prilaku impulsif dan dapat disertai aktivitas berlebihan (overactivity/ hyperactivity) yang tidak sesuai dengan umurnya. Gangguan ini juga disebut gangguan dalam pengolahan informasi.

ADHD ditemukan sekitar 4-12% pada anak sekolah. Anak laki-laki lebih banyak yaitu 9,2% dan anak perempuan 2,9%. ADHD menyebabkan gangguan jangka panjang dalam kemampuan akademik, perkembangan, sosial, emosi dan pekerjaan di masyarakat sehingga memberi dampak pada penderita, keluarga dan masyarakat.

Etiologinya heterogen dengan bermacam-macam patogenesisnya, ada pendapat karena kelainan anatomi, aktivitas bahan kimia di otak, penurunan aktivitas listrik diotak dan genetik. Manifestasi klinis tidak selalu sama dapat berupa gangguan pemusatan perhatian, impulsiv dan hiperaktifitas.

Diagnosis tergantung dari sudut mana penderita dinilai, biasanya dengan pemeriksaan penunjang seperti EEG, PET, CT scan, dan neurokimia. ADHD dapat dibagi menurut jenis, sebab, dan penampilan. Pada pemberian terapi terdapat banyak perbedaan, tergantung gambaran klinisnya.
Gangguan Memori

Gangguan memori merupakan kelainan kognitif yang cukup banyak ditemukan. Memori itu sendiri tidak dapat dilepaskan dari proses belajar karena berhubungan dengan proses pemeliharaan dan mengingat kembali informasi atau pengalaman yang sudah direkam. Memori mempunyai dua fungsi yaitu sebagai kamus (menemukan kata) dan ensiklopedi (memberi arti pada kata). Karena itu memori sangat penting pada semua proses termasuk membaca. Memori dapat dibagi menjadi:

  1. Memori segera. Daya pengingat kembali rangsang yang diterima beberapa detik lalu dan perlu konsentrasi.

  2. Memori baru. Rangsangan yang diterima memori baru dan disimpan untuk waktu agak lama bisa beberapa menit, jam, hari. Ini berhubungan dengan kemampuan belajar hal baru. Kesulitan belajar biasanya berhubungan dengan memori baru.

  3. Memori lama. Daya ingat kembali peristiwa yang sudah lama terjadi, seperti masa kecil dan masa remaja. Biasanya dapat terganggu pada tahap yang lebih berat.

Gangguan memori digolongkan menjadi:

  1. Gangguan memori auditorik. Gangguan memori yang pemrosesannya melalui indra pendengaran. Pada gangguan memori jangka pendek menyebabkan berkurangnya pencetakan memori, dan pengungkapan kembali. Pada gangguan memori jangka panjang ditandai kegagalan mengingat angka yang banyak. Umumnya anak dengan gangguan memori jangka panjang masuk ke sekolah khusus.

  2. Gangguan memori visual. Gangguan memori yang diproses melalui indra penglihatan. Anak dengan gangguan ini akan mempunyai masalah kognitif lain seperti membaca, visuospasial, dan pemusatan perhatian visual.

  3. Gangguan memori auditorik dan visual. Merupakan gabungan dari kedua gangguan diatas dan banyak ditemukan pada anak ADHD.

Disleksia

Pada disleksia atau kesulitan membaca merupakan kelainan yang akan diteliti saat ini. Disleksia adalah kesulitan belajar membaca, menulis dan mengeja tanpa gangguan sensorik perifer, intelegensia rendah, lingkungan yang kurang menunjang, masalah emosional primer atau kurang motivasi. Beberapa definisi disleksia yang relatif konvensional adalah kesulitan belajar membaca.

Disleksia perkembangan merupakan salah satu gangguan perkembangan fungsi otak yang terjadi sepanjang rentang hidup. Disleksia dianggap suatu defek yang disebabkan karena gangguan dalam asosiasi daya ingat (memori) dan pemrosesan sentral yang disebut kesulitan membaca primer. Untuk dapat membaca secara automatis anak harus melalui pendidikan dan intelegensi yang normal tanpa adanya gangguan sensoris.

Seperti kesulitan belajar lain yang disebabkan oleh DMO, disleksia bisa timbul pada anak-anak yang amat cerdas atau kecerdasannya dibawah rata-rata. Jadi tidak tergantung pada intelegensia tetapi banyak faktor yang mempengaruhi dan sebagian besar faktor sudah ada sejak pra atau perinatal. Beberapa faktor penyebab disleksia seperti genetik didahului disfasia, pengaruh hormonal prenatal seperti testosteron, gangguan migrasi neuron, serta kerusakan akibat hipoksi-iskemik saat perinatal di daerah parieto-temporo-oksipital.

Disleksia diklasifikasikan berdasarkan mekanisme serebral sebagai:

  1. Disleksia dan gangguan visual. Ini disebabkan adanya gangguan fungsi otak di bagian belakang yang dapat menimbulkan gangguan persepsi visual dan memori visual, sehingga anak membaca atau menulis huruf yang bentuknya mirip sering terbalik, disebut juga disleksia diseidetis /visual (Myklebust).

  2. Disleksia dan gangguan bahasa. Sering dijumpai dan setengahnya dilatar belakangi disfasia pada masa sekolah, ini disebut disleksia verbal atau linguistik yang ditandai dengan kesukaran dalam diskriminasi atau persepsi auditoris sehingga anak sulit dalam mengeja dan menemukan kata atau kalimat.

  3. Disleksia dengan diskoneksi visual-auditoris. Terjadi akibat gangguan dalam koneksi visual-auditif, sehingga membaca terganggu atau lambat. Dalam hal ini bahasa verbal dan persepsi visualnya baik. Diduga terdapat disfungsi pada girus angularis kiri atau amigdala yang disebut disleksia auditoris (myklebust).

Hartono B. Aspek neurologik dari kesulitan belajar spesifik. Neurona majalah kedokteran Neuro-Sains. PERDOSSI. Jakarta, vol 21, no 1, 2003.

Lumbantobing SM. Gangguan belajar. Dalam: Anak dengan mental terbelakang. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta, 1997.

Bernal SJ, Barney TP, Mc Fadyen A, Prendergast M. Psychiatric services for children and adolescents with a learning disability. Council report CR 70, Royal college of psychiatrists. London, 2003.

Sidiarto LD. Aspek Neurologis Disleksia. Neurona majalah kedokteran Neuro Sains. PERDOSSI. Jakarta, vol 14, no 3, 1997.

Royanto LRM. Identifikasi anak dengan disleksia. Dalam Kesulitan belajar darimasa ke masa “deteksi dini & intervensi terkini”. dalam: Konferensi Nasional Neurodevelopmental II. Jakarta, 2006.

Hartono B. Kesulitan belajar karena disfungsi minimal otak (DMO). Dalam: Hadinoto S, Hartono B, Soetedjo (ed) Kesulitan belajar dan gangguan bicara.Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang, 1991.

Saputro D. Pemeriksaan brain elektro activity mapping pada gangguan tingkah laku anak. Jiwa. Indon Psychiat Quqrt ; XXXI 2: Jakarta,1998.

Sidiarto LD. Aspek neurologis anak-anak dengan disfungsi minimal otak. Neurona majalah kedokteran Neuro-Sains. PERDOSSI. Jakarta, vol 14, no 1,1997.

Widyawati I. Deteksi dini kesulitan belajar. Jiwa, Indon pschiat Quart, XXX: 3, Jakarta, 1997.

Kerr M. Improving the general health of people with learning disabilities. Advances in psychiatric treatment, 2004, vol 10.

Sidiarto LD. Aspek neurologis anak-anak dengan kesulitan belajar. Neurona majalah kedokteran Neuro-Sains. PERDOSSI. Jakarta, vol 8, 1990.

Njiokiktjien C, Panggabean R, Hartono B. Masalah-masalah dalam perkembangan psikomotor. Semarang. Diponegoro university press – SUYI Publ Indonesia, 2003.

Siegel LS. Basic cognitive processes and reading disability. In: handbook of learning disabilities. New York. The Guildford press, 2003.

Widyawati I. Penatalaksananan gangguan belajar. Dalam Penatalaksanaan gangguan perkembangan dan belajar pada anak. Jakarta, Pertemuan ilmiah tahunan I Perdosri, 2002.

Kusumoputro S. Pandangan umum disleksia. Neurona majalah kedokteran Neuro-Sains. PERDOSSI. Jakarta, vol 14, no 3, april, 1997.

Kavale KA, Forness SR. Learning disability as a discipline. In: handbook of learning disabilities. New York, the Guilford Press, 2003.

Boyle CA, Decoufle P, Yeargin A - Allsupp. Prevalence and Health impact of developmental disabilities in US children. Develepmental disabilities branch, enters for disease control and prevention. Atlanta, GA.

Hadisubrata MS. Meningkatkan intelegensi anak balita. Dalam pola pendidikan untuk lebih mencerdaskan anak balita. Jakarta, BPK Gunung Mulia 1999.

Soejadmiko. Pentingnya stimulasi dini untuk merangsang perkembangan bayi dan balita terutama pada bayi-bayi beresiko berat dalam: Konferensi Nasional Neurodevelopmental II. Jakarta, 2006.

Binnie CD. Significance and management of transitory cognitive impairment due to subclinical EEG discharges in children. Brain Development 15(1).

Kasteleijn, Nolst - Trenite DG. Transient cognitive impairment during sub clinical epileptiform elektroencephalographic discharges. Semin pediatric neurology. Dec, 2(4), 1995.

Tjahjadi MI, Sidiarto LD. Disfasia perkembangan. Neurona majalah kedokteran Neuro-Sains. PERDOSSI. Jakarta, vol 11: 3, 1994.

Azwar S. Pengantar Psikologi Intelegensi. edisi II, yogyakarta, Pustaka Pelajar Offset, 1999.

Manford M. Electroencephalography In: Practical Guide to Epilepsy, Burlington, Butterworth – Heinemann: 2003.

Artikel Lainnya: