KeSimpulan.com Dokumentasi Berita Sains
(2008-2013)
HOME - ARSIP - PENCARIAN

Tuesday, April 21, 2009

Manajemen Komunikasi dan Konflik dalam Rumah Tangga

(kesimpulan) Pada dasarnya manusia selain sebagai individu juga merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri yang membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya berinteraksi dimana ia akan berkomunikasi, menyampaikan kehendak, perasaan, dan gagasan atau ide yang dimilikinya. Kehidupan manusia ditandai dengan pergaulan di antara manusia dalam keluarga, lingkungan masyarakat, sekolah, tempat kerja, organisasi sosial dan lain sebagainya.

Perkawinan ditandai dengan adanya ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami isteri. Ikatan lahir adalah ikatan yang nampak, sesuai dengan peraturan-peraturan yang ada. Ikatan batin adalah ikatan yang tidak nampak secara langsung, merupakan ikatan psikologis. Antara suami istri harus saling mencintai saling berbagi perasaan dan berbagi kebahagiaan. Perkawinan merupakan salah satu aktivitas individu yang pada umumnya akan terkait pada suatu tujuan yang ingin dicapai individu yang bersangkutan. Tanpa adanya kesadaran akan kesatuan tujuan yang harus dicapai bersama, maka dapat dibayangkan bahwa rumah tangga itu akan mudah mengalami hambatan-hambatan, yang akhirnya akan dapat menuju keretakan rumah tangga yang dapat berakibat lebih jauh. Tujuan sebenarnya sangat mulia jika dilandasi untuk saling memberi yang terbaik bagi pasangannya. Kesepakatan diatas dapat dijadikan dasar yang kokoh untuk membina kehidupan keluarga yang yang harmonis.

Dalam perkawinan dapat ditemukan komunikasi yang lebih intim. Perkawinan adalah merupakan bersatunya seorang pria dan wanita sebagai suami istri untuk membentuk rumah tangga. Pada umumnya masing-masing pihak telah mempunyai pribadi yang telah terbentuk, karena itu untuk menyatukan satu dengan yang lain perlu adanya saling penyesuaian, saling pengorbanan, saling pengertian dan hal tersebut harus disadari benar-benar oleh kedua pihak yaitu oleh suami istri. Dalam kaitannya dengan hal itu maka peranan komunikasi dalam rumah tangga adalah sangat penting. Antara suami istri harus saling berkomunikasi dengan baik untuk dapat mempertemukan satu dengan yang lain, sehingga dengan demikian kesalahpahaman dapat dihindarkan. Hal ini dapat dicapai dengan komunikasi dua arah. Dengan komunikasi yang terbuka antara pasangan suami istri, maka akan terbina saling pengertian, mana-mana yang baik perlu dipertahankan dan dikembangkan, dan mana-mana yang tidak baik perlu dihindarkan. Dengan demikian akan terbentuklah sikap saling terbuka, saling mengisi, saling mengerti dan akan terhindar dari kesalah pahaman. Komunikasi yang terjadi antara suami istri membuat keduanya saling berbagi dalam hal yang rahasia dengan bercerita juga melakukan segala sesuatu secara bersama atau saling mempengaruhi.

Kehidupan perkawinan tak jarang dihadapkan oleh beraneka macam konflik karena memiliki hambatan komunikasi, mungkin ada batasan jarak, sarana, dan waktu yang tidak akan mudah disediakan oleh suami-istri. Oleh sebab itu komunikasi yang mereka lakukan haruslah didasarkan pada keterbukaan, kejujuran, kepercayaan dan masih banyak aspek lainnya.

Komunikasi antar pribadi sebenarnya merupakan satu proses sosial dimana orang saling mempengaruhi. Komunikasi antar pribadi merupakan pengiriman pesan-pesan dari seorang dan diterima oleh orang yang lain atau sekelompok orang dengan efek dan umpan balik yang langsung. Suatu komunikasi antar pribadi mengandung ciri-ciri: a) keterbukaan atau openess; b) empati atau emphaty; c) dukungan atau supportiveness; d) rasa positip atau positiveness; dan e) kesamaan atau equality.

Dalam komunikasi tidak dapat dihindari adanya perbedaan pendapat dan pertentangan pendapat yang kemudian dapat mengarahkan pada terjadinya konflik. Konflik merupakan hal yang tidak dapat dihindarkan dalam semua hubungan antar pribadi. Patut disayangkan bahwa dalam masyarakat kita sebagian menganggap konflik sebagai hal yang harus dihindari, padahal sebenarnya konflik juga dapat bersifat positif dan membuat hubungan menjadi lebih sehat. Konflik dapat meningkatkan kesadaran tentang adanya masalah dalam hubungan tersebut, dapat juga memberikan kekuatan dan motivasi dalam menghadapi masalah dan bukannya menghindari masalah, dapat membantu membuat keputusan yang lebih baik, dan membantu kita untuk memahami dan lebih mengerti diri kita sendiri, serta dapat memperdalam suatu hubungan. Kebutuhan-kebutuhan yang ada pada diri individu merupakan pendorong dalam diri individu untuk bertindak mencapai tujuannya. Namun tidak jarang terjadi bahwa dalam rangka mencapai tujuan individu menghadapi berbagai macam rintangan. Dalam menghadapi rintangan atau hambatan itu ada berbagai macam reaksi yang diambil oleh individu yang bersangkutan. Hal itu membuktikan bahwa dalam kehidupan perkawinan pun tidak jarang diwarnai dengan konflik yang merupakan bagian kehidupan dari rumah tangga itu sendiri. Salah satu sifat konflik adalah universal karena tidak ada satu pun rumah tangga di dunia ini yang tidak pernah mengalami konflik.

Komunikasi interpersonal dinyatakan efektif bila pertemuan komunikasi merupakan hal yang menyenangkan bagi komunikan. Komunikasi interpersonal yang efektif ditandai dengan hubungan interpersonal yang baik. Kegagalan komunikasi sekunder terjadi, bila isi pesan kita dipahami, tetapi hubungan diantara komunikan menjadi rusak. Setiap kali kita melakukan komunikasi, kita bukan hanya sekedar menyampaikan isi pesan namun kita juga menentukan kadar hubungan interpersonal.

Dalam konflik antar pribadi prinsip-prinsip efektivitas antar pribadi menghadapi ujian paling berat. Terdapat beraneka macam gaya penyelesaian konflik yaitu penyelesaian konflik kalah-kalah (Lose-lose) dengan menghindar (avoidance) dan mendominasi (forcing), menang-kalah (win-lose) dengan cara menyenangkan kedua pihak (smoothing) dan kompromi (compromising), kemudian menang-menang (win-win) dengan cara mempersatukan (maximization). Namun hal yang paling mendasar untuk menyelesaikan konflik atau paling tidak mengelolanya adalah sikap saling menghormati dan menghargai pasangan, disamping rasa saling mempercayai dan dipercaya pasangan.

Faktor sosiodemografis yang di antaranya terdiri dari usia, pekerjaan, latar belakang keluarga, pendidikan dan sebagainya ternyata juga berpengaruh pada penyelesaian konflik dalam rumah tangga. Komunikasi antar pribadi sangatlah diperlukan untuk menjalin keharmonisan di dalam suatu kehidupan berumah tangga yang tidak jarang ditandai oleh adanya konflik.

Komunikasi mengacu pada tindakan oleh satu orang atau lebih yang mengirim dan menerima pesan yang terdistorsi oleh gangguan, terjadi dalam suatu konteks tertentu dan ada kesempatan untuk melakukan umpan balik. Komunikasi dikatakan efektif bila pesan seperti yang dimaksudkan oleh pengirim berkaitan erat dengan pesan yang ditangkap dan diterima oleh penerima. Efektivitas komunikasi erat hubungannya dengan tujuannya.

Dalam definisi komunikasi antar pribadi, komponen-komponen diidentifikasi berdasarkan: hubungan atau diadik, komunikasi antar pribadi didefinisikan sebagai komunikasi yang berlangsung antara dua orang yang mempunyai hubungan yang jelas, dalam definisi berdasarkan pengembangan, komunikasi antar pribadi didefinisikan sebagai suatu perkembangan atau kemajuan dari komunikasi tak-pribadi pada satu ekstrim ke komunikasi pribadi di ekstrim yang lain.

Adanya beberapa karakteristik tertentu yang membedakan bentuk hubungan suami-istri dengan bentuk hubungan interpersonal lainnya, menjadikan hubungan interpersonal antara suami-istri sebagai suatu hubungan yang unik.

Karakteristik yang membedakan bentuk hubungan suami-istri dengan bentuk hubungan interpersonal lainnya adalah:

  • Prediksi yang mereka lakukan terhadap reaksi pasangannya berdasar pada data psikologis. Mereka menyadari bahwa pasangannya berbeda dari anggota-anggota kelompoknya. Jumlah data psikologis yang dimiliki oleh suami-istri tentunya lebih banyak dari jumlah data psikologis yang dimiliki oleh teman, sahabat ataupun kekasih. Misalnya seorang istri mengetahui bahwa setiap bangun pagi, yang dilakukan suaminya adalah berdoa di sisi tempat tidur, minum segelas air putih sambil membaca surat kabar.

  • Dalam interaksi suami-istri, mereka mendasarkan komunikasinya pada pengetahuan yang menjelaskan (explanatory knowledge) tentang masing-masing dari mereka, dan bukannya menduga-duga seperti yang terjadi pada hubungan interpersonal lainnya. Bila suatu hari sang suami tidak bangun pagi dan tidak melakukan aktivitas rutinnya, istri dapat menjelaskan alasan perilaku suaminya pada hari itu. Misalnya dengan mengatakan suaminya sedang tidak enak badan.

  • Suami-istri menetapkan aturan-aturan interaksinya berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak, sehingga sifatnya lebih pribadi.


Faktor-faktor yang menumbuhkan hubungan interpersonal dalam komunikasi interpersonal adalah:

1. Percaya (Trust)

Di antara berbagai faktor yang mempengaruhi komunikasi antar pribadi, faktor percaya adalah yang paling penting. Apabila di antara suami-istri terdapat rasa saling percaya maka akan terbina saling pengertian sehingga akan terbentuk sikap saling terbuka, saling mengisi, saling mengerti dan terhindar dari kesalahpahaman. Sejak tahap yang pertama dalam hubungan antar pribadi (tahap perkenalan), sampai tahap kedua (tahap peneguhan), “percaya” menentukan efektivitas komunikasi.
Selain pengalaman, ada tiga faktor utama yang dapat menumbuhkan sikap percaya atau mengembangkan komunikasi yang didasarkan pada sikap saling percaya, yaitu: a. Menerima adalah kemampuan berhubungan dengan orang lain tanpa menilai dan tanpa berusaha mengendalikan. Sikap menerima tidak semudah yang dikatakan. Kita selalu cenderung menilai dan sukar menerima. Akibatnya, hubungan interpersonal kita tidak berlangsung seperti yang kita harapkan. b. Empati dianggap sebagai memahami orang lain yang tidak mempunyai arti emosional bagi kita. c. Kejujuran menyebabkan perilaku kita dapat diduga. Ini mendorong orang lain untuk percaya pada kita. Dalam proses komunikasi antar pribadi pada pasangan suami istri, kejujuran dalam berkomunikasi amatlah penting terlebih, jika pasangan itu terpisah secara fisik antara satu dengan yang lain. Honest Communications mengajarkan bahwa tujuan komunikasi adalah memahami diri sendiri dan orang lain secara akurat dan bahwa pemahaman tersebut hanya terjadi melalui komunikasi sejati (genuine communication). Menurut psikologi humanistik, pemahaman antar pribadi terjadi melalui self disclosure, feedback, dan sensitivity to the disclosures of others. Kesalahpahaman dan ketidakpuasan dalam suatu jalinan antar pribadi diakibatkan oleh ketidakjujuran, tidak adanya keselarasan antara tindakan dan perasaan, serta terhambatnya pengungkapan diri.

2. Sikap Suportif

adalah sikap yang mengurangi sikap defensif dalam berkomunikasi yang dapat terjadi karena faktor-fakor personal seperti ketakutan, kecemasan, dan lain sebagainya yang menyebabkan komunikasi antar pribadi akan gagal, karena orang defensif akan lebih banyak melindungi diri dari ancaman yang ditanggapinya dalam komunikasi ketimbang memahami pesan orang lain.

3. Sikap Terbuka (open-mindedness)

sikap ini amat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan komunikasi interpersonal yang efektif. Dengan komunikasi yang terbuka diharapkan tidak akan ada hal-hal yang tertutup, sehingga apa yang ada pada diri suami juga diketahui oleh istri, demikian sebaliknya. Bersama-sama dengan sikap saling percaya dan sikap suportif, sikap terbuka mendorong timbulnya saling pengertian, saling menghargai, dan paling penting-saling mengembangkan kualitas hubungan interpersonal. Walaupun berkomunikasi merupakan salah satu kebiasaan dan kegiatan kita sepanjang kehidupan, namun tidak selamanya dan pasti akan memberikan hasil sebagaimana diharapkan. Seperti pada pasangan suami istri yang terpisah secara fisik adalah munculnya prasangka dan kecurigaan terhadap pasangannya, namun semua itu akan dapat dihindarkan bila diantara pasangan suami istri tersebut terdapat saling keterbukaan.

Kita mengkomunikasikan sikap positif dalam komunikasi antarpribadi dengan sedikitnya dua cara; (1) menyatakan sikap positif dan (2) secara positif mendorong orang yang menjadi teman kita berinteraksi.

Sikap positif mengacu pada sedikitnya dua aspek dari komunikasi antarpribadi. Pertama, komunikasi antarpribadi terbina jika orang memiliki sikap positif terhadap diri mereka sendiri. Orang yang merasa negatif terhadap diri sendiri selalu mengkomunikasikan perasaan ini kepada orang lain, yang selanjutnya barangkali akan mengembangkan perasaan negatif yang sama. Sebaliknya, orang yang merasa positif terhadap diri sendiri mengisyaratkan perasaan ini kepada orang lain, yang selanjutnya juga akan merefleksikan perasaan positif ini. Kedua, perasaan positif untuk situasi komunikasi pada umumnya sangat penting untuk interaksi secara efektif. Dorongan positif ini mendukung citra-pribadi kita dan membuat kita merasa lebih baik.

Dalam suatu hubungan antarpribadi yang ditandai oleh kesetaraan, ketidaksepakatan dan konflik lebih dilihat sebagai upaya untuk memahami perbedaan yang pasti ada ketimbang sebagai kesempatan untuk menjatuhkan pihak lain.

Pemahaman terhadap situasi kondisi dan juga konflik sangat berpengaruh terhadap efektivitas komunikasi antar pasangan suami-istri. Seperti pada kasus istri yang harus dapat menerima konsukuensi dari pekerjaan suami yang memiliki jam kerja yang tidak tentu dan istri juga harus selalu siap ditinggal suami untuk pergi menjalankan tugas sewaktu-waktu menyebabkan mereka menghadapi berbagai macam konflik seperti terganggunya komunikasi antar kedua pasangan yang disebabkan jarak yang jauh membuat mereka harus tergantung pada media yang tidak jarang menyebabkan komunikasi berjalan kurang lancar. Selain itu faktor-faktor dari dalam diri kedua pasangan seperti keterbukaan dan kepercayaan sangatlah berperan baik dalam menciptakan maupun menyelesaikan konflik itu sendiri. Seperti telah diuraikan pada latar belakang permasalahan bahwa komunikasi antar persona melibatkan faktor keterbukaan. Sehubungan dengan hal tersebut, dalam konteks ini ada beberapa pemikiran teoritik yang mendasarinya.

Pemahaman antar pribadi juga bermanfaat untuk menghasilkan hubungan yang lebih baik dalam rumah tangga, oleh karena itu diperlukan adanya suatu kesediaan untuk membuka diri seperti yang dikemukakan dalam Teori self disclosure, konsep ini mempunyai arti bahwa dalam hubungan yang ideal menghendaki anggota-anggota yang terlibat untuk mengenal diri orang lain sepenuhnya dan membiarkan dirinya terbuka untuk dikenal orang lain sepenuhnya. Iklim kesediaan untuk membuka diri ini dapat menimbulkan kesadaran untuk membuka diri bagi orang lain. Jadi kesediaan pada satu pihak cenderung akan mendorong kesediaan untuk membuka diri pada orang lain. Teori ini dilandasi oleh pemikiran psikologis humanis yang menekankan pada unsur kejujuran dalam berkomunikasi. Hal ini dikarenakan tujuan dari komunikasi adalah memahami diri sendiri dan orang lain secara akurat. Dimana pemahaman tersebut hanya terjadi melalui komunikasi yang sejati dan tidak dibuat-buat.

Sebuah teori yang disebut Social Penetration Theory atau Teori Penetrasi Sosial. Menurut teori ini, individu menentukan nilai atau besarnya perbandingan antara imbalan (reward) dan biaya (cost) dari suatu interaksi yang sedang berjalan dan juga memprediksi implikasi interaksi-interaksi di masa mendatang pada lapisan pertukaran yang sama atau lebih dalam. Andaikan prediksi seperti itu menguntungkan, maka diasumsikan bahwa pasangan yang berinteraksi itu secara bertahap bergerak ke tingkatan yang lebih intim, yaitu dari aspek-aspek biografis yang tidak mendalam ke aspek emosi dan sikap. Ada empat tahap perkembangan hubungan, yaitu orientasi, menuju pertukaran afektif, pertukaran afektif dan pertukaran stabil. Hubungan suami-istri berdasarkan pendapat tersebut berada pada tahap yang keempat, yaitu tahap pertukaran stabil. Pada tahap ini dimensi keluasan (breadth) subjek yang dibicarakan suami-istri saat melakukan self-disclosure dan kedalaman (depth) informasi yang dibagikan saat itu berada pada tingkat yang tinggi. Namun bila hubungan suami-istri tersebut mulai rusak, terjadilah apa yang dinamakan dengan depenetrasi. Keluasan dan kedalaman seringkali (tidak selalu) berbalik arah dengan sendirinya. Sebagai contoh, suami-istri yang sedang mengalami konflik akan mengurangi topik-topik pembicaraan mereka dan akan mendiskusikan suatu topik secara tidak mendalam.

Terdapat tiga tipe perkawinan berdasarkan dimensi ideologi, interdepedensi, dan konflik:

1. Tradisional atau konvensional, terjadi semacam pemisahan peran (role separation) di antara suami-istri di satu pihak, suami berperan sebagai kepala keluarga yang memiliki tugas menetapkan peraturan rumah tangga, pengambil keputusan dalam rumah tangganya, dan menghidupi keluarga. Di pihak lain istri, berperanan dalam urusan membantu suami, membesarkan anak, dan mengurus rumah tangga. Mereka memiliki pandangan yang konvensional tentang pernikahan dan menempatkan nilai lebih pada kestabilan dan kepastian dalam tugas keluarga daripada terhadap keragaman dan spontanitas. Hal ini menyebabkan di antara mereka memiliki rasa ketergantungan yang sangat kuat terhadap pasangannya, sehingga tidak banyak terjadi konflik dalam kehidupan rumah tangganya.

2. Independen atau mandiri, di mana masing-masing individu memilki pandangan yang cenderung tidak konvensional mengenai perkawinan. Mereka meluangkan waktu bersama dan berbagi banyak hal dengan tetap menghargai otonomi mereka sendiri. Akibat sifat perorangannya, terjadi banyak konflik dalam perkawinan tipe ini. Mereka seringkali bersaing mencapai kekuatan, menggunakan berbagai teknik membujuk dan tidak malu menyangkal pendapat satu sama lain. Pasangan tipe ini juga ekspresif, tanggap terhadap isyarat non verbal, dan biasanya mengerti satu sama lain dengan baik.

3. Separated atau terpisah, ditandai dengan keambivalenan individu terhadap tugas dan hubungan mereka. Walaupun mereka memiliki pandangan yang agak konvensional tentang perkawinan, namun tidak banyak terjadi ketergantungan dan berbagi. Mereka punya opini sendiri dan dapat menjadi pertengkaran tetapi konflik tersebut tidak pernah bertahan lama karena pasangan ini terpisah cepat mundur dari konflik. Pasangan ini tidak begitu ekspresif dan tidak mengerti emosi pasangannya dengan baik.

Faktor sosiodemografis yang terdiri dari: Usia, pekerjaan dan tingkat pendidikan juga dapat mempengaruhi upaya mengatasi konflik dalam rumah tangga. Tingkat pendidikan berkaitan dengan pendidikan terakhir yang pernah ditempuh oleh seseorang sehingga dengan pendidikan yang telah diperoleh seseorang akan berusaha menerapkan apa yang telah di dapat ketika sekolah untuk menghidupkan komunikasi yang efektif dalam suatu rumah tangga.

Dengan bertambahnya umur dari seseorang, diharapkan keadaan psikologisnya juga akan makin bertambah matang. Perkawinan pada umur yang masih muda akan banyak mengundang masalah yang tidak diharapkan. Seperti contohnya pada seorang istri anggota Polri yang baru berusia 20an dan harus berpisah dengan suaminya karena bertugas diharuskan menghadapi berbagai macam persoalan rumah tangga yang masih sangat baru baginya seperti mengurus anak seorang diri dimana di sisi lain ia sangat mengkhawatirkan keadaan suaminya bahkan terkadang merasa curiga karena komunikasi yang berjalan kurang lancar diantara keduanya. Hal yang terlihat sepele namun sebenarnya dapat menyulut konflik yang berkepanjangan sebenarnya dapat dihindari oleh pasangan suami-istri tersebut. Berbeda dengan istri yang sudah berusia 30-an dimana ia akan lebih matang dalam melihat suatu permasalahan sehingga berpengaruh dalam penyelesaian konflik yang juga akan lebih matang. Berhubung dengan hal tersebut maka dalam perkawinan kemasakan atau kematangan psikologis perlu mendapatkan pertimbangan yang mendalam.

Sebuah analisis tentang kondisi-kondisi esensial dari konflik yang membentuk sebuah definisi operasional:

  • Konflik menuntut setidaknya dua pihak yang mampu menjatuhkan sanksi terhadap satu sama lain

  • Konflik muncul akibat adanya sasaran yang sama-sama dikehendaki tetapi sama-sama tidak bisa dicapai

  • Setiap pihak di dalam sebuah konflik memiliki kemungkinan empat alternatif tindakan, yaitu: (a) Untuk mencapai sasaran yang sama-sama diinginkan. (b) Untuk mengakhiri konflik. (c) Untuk menjatuhkan sanksi terhadap lawan. (d) Untuk mengkomunikasikan sesuatu kepada lawan

  • Pihak-pihak di dalam konflik mungkin memiliki sistem nilai atau persepsi yang berbeda-beda

  • Setiap pihak memiliki sumber daya yang bisa ditingkatkan atau diturunkan melalui implementasi alternatif-alternatif tindakan
  • Konflik berakhir hanya bila setiap pihak merasa bahwa ia telah “menang” atau “kalah” atau meyakini bahwa kemungkinan kerugian dengan meneruskan konflik tersebut lebih besar daripada kemungkinan kerugian dengan mengakhiri konflik itu

Faktor-faktor yang dapat menjadi sebab munculnya konflik dalam hubungan suami-istri diungkapkan, antara lain:

1. Melunturnya alasan-alasan untuk membina hubungan. Contohnya suami-istri yang terkadang harus tinggal terpisah karena tugas dalam jangka waktu yang cukup lama merasakan adanya kesepian yang semakin tinggi. Akibatnya salah satu atau kedua belah pihak melirik ke arah lain. Bila daya tarik meluntur, mereka kehilangan alasan terpenting untuk mempertahankan hubungan.

2. Munculnya hubungan dengan pihak ketiga. Adanya kebutuhan yang sangat besar dalam membina rumah tangga untuk mendapatkan kesenangan yang maksimal dan penderitaan yang minimal. Apabila kebutuhannya tidak terpenuhi maka ia atau mereka akan mencari pemuasannya dari pihak lain.

3. Sifat hubungan yang mengalami perubahan. Perubahan yang dimaksud adalah perubahan psikologis (perkembangan minat intelektual yang berbeda), perubahan keperilakuan (kesibukan dengan bisnis/pekerjaan), dan perubahan status. Ketiga macam perubahan tersebut dapat menimbulkan masalah dalam hubungan suami-istri yang terkadang harus hidup terpisah.

4. Harapan yang tak terkatakan. Adakalanya konflik menyangkut soal-soal “remeh”. Kenapa tidak menelpon dan jarang menulis surat? Apa yang sedang dikerjakan pasangannya disana? dan lain sebagainya. Seringkali konflik mengenai hal-hal kecil sebenarnya bersumber dari perasaan marah dan permusuhan yang menyangkut perasaan tidak puas atau tidak bahagia.

5. Pekerjaan. Ketidakbahagiaan dengan pekerjaan seringkali menimbulkan kesulitan hubungan. Seringkali istri anggota Polri berharap agar suaminya tidak harus bertugas jauh darinya namun karena hal itu sudah merupakan konsukwensi awal saat menikah dengan seorang anggota Polri, sang istri pun harus menerimanya dengan tabah karena sebenarnya suami pun mungkin tidak ingin hidup terpisah dengan keluarganya.

6. Komitmen Emosional. Seorang anggota Polri yang harus selalu siap untuk ditempatkan kapan saja dan dimana saja, tidak terkecuali harus bertugas ke daerah konflik yang dapat mencelakainya sewaktu-waktu, menyebabkan istri dapat sangat tertekan emosinya.

Dalam konflik antarpribadi prinsip-prinsip efektivitas antarpribadi menghadapi ujian yang paling berat. Selama konflik antarpribadi kita hampir tidak mungkin menahan diri sejenak, menganalisis situasi dan mengevaluasi prinsip efektivitas yang mungkin paling relevan.

Dalam pendekatan manajemen konflik dapat dijelaskan, yaitu:

1. Pendekatan kalah-kalah (lose-lose)

  • Penyelesaian konflik dengan menghindar (avoiding). Pendekatan dimana tak seorangpun yang menang karena masalah yang dihadapi justru dihindari. Makin lama hal ini berlangsung, akan semakin menyakitkan dan memburuk. Hubungan akan terganggu dan tak ada penyelesaian. Penghindaran berarti bahwa tidak ada kepentingan atau harapan dari salah satu pihak pun yang dianggap penting. Penyelesaiannya lebih diserahkan pada nasib atau kesempatan.

  • Penyelesaian konflik dengan dominasi (Dominating). Metode ini dapat dinilai paling tidak produktif untuk menangani konflik adalah pemaksaan. Bila dihadapkan pada konflik banyak orang berusaha memaksakan keputusan atau cara berpikir mereka dengan menggunakan pemaksaan. Apapun yang dilakukan, pokok masalahnya tetap tidak terselesaikan.

2. Pendekatan menang-kalah (win-lose)
  • Penyelesaian konflik dengan cara kerelaan membantu (Obliging), Kerelaan membantu menempatkan nilai yang tinggi untuk orang lain sementara dirinya dinilai rendah.

  • Gaya penyelesaian konflik dengan kompromi (compromising). Penyelesaian ini memisahkan perbedaan yang ada. Tidak mungkin keinginan seseorang dapat terpenuhi semuanya, tetapi kadang-kadang kompromi merupakan jalan terbaik dan pendekatan yang paling sedikit menimbulkan kerugian bagi suatu hubungan. Dan di saat yang sama mendapatkan penyelesaian yang dapat diterima.


3. Pendekatan menang-menang (win-win)

Penyelesaian konflik dengan cara mempersatukan (maximization), dimana berusaha memaksimalkan usaha untuk memanajemen konflik. individu yang memilih gaya ini melakukan tukar-menukar informasi, mencari alternatif dan mendorong tumbuhnya creative thinking (berpikir kreatif). Namun penyelesaian konflik menjadi tidak efektif bila pasangan yang berselisih kurang memiliki komitmen atau bila waktu menjadi sangat penting, karena penyelesaian konflik dengan cara mempersatukan ini membutuhkan waktu yang sangat panjang. Suami-istri membicarakan permasalahan secara menyeluruh. Ini merupakan suatu pendekatan dimana segala harapan dan kebutuhan pasangan diperhitungkan. Gaya penyelesaian konflik ini bila digunakan secara efektif dapat mengawetkan dan melanggengkan hubungan.

Liliweri, Alo. “Komunikasi Antarpribadi”. Citra Aditya Bakti, Bandung,1997.

Devito, Joseph, A. “Komunikasi Antar Manusia” (Edisi Kelima). Professional Books, Jakarta, 1997.

Hendricks, William. “Bagaimana Mengelola Konflik” Petunjuk Praktis untuk Manajemen Konflik Yang Efektif. Penerjemah Arif Santoso. Sinar Grafika Offset, Jakarta, 2001.

Lembaga Demografi FE UI. “Dasar-dasar Demografi”. Lembaga Penerbit FE UI; Jakarta, 2000.

Littlejohn, Stephen W. “Theories of Human Communication” Seventh Editions; Relmont California, Wadsworth Publishing Company, 2002.

Rakhmat, Jalaluddin. “Psikologi Komunikasi” edisi revisi. Remaja Rosdakarya. Bandung, 1998.

Tayeb, Syaref. “Psikologi Pendidikan”. Grasindo, Jakarta, 1988.

Tubbs, Stewart L., Sylvia Moss, penerjemah Dedy Mulyana. “Human Communication”. Prinsip-Prinsip Dasar. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2001.

Walgito, Bimo. “Bimbingan dan Konseling Perkawinan”. Penerbit Andi Yogyakarta, 2002.

Artikel Lainnya: