Dokumentasi Berita Sains (2008-2013)

Penerimaan Diri Pada Lanjut Usia Ditinjau Dari Kematangan Emosional

(kesimpulan) Periode usia lanjut, seperti halnya periode lain dalam perkembangan, akan ditandai dengan adanya kondisi-kondisi khas yang menyertainya, di antaranya tumbuh uban, kulit yang mulai keriput; penurunan berat badan, tanggalnya gigi geligi sehingga mengalami kesulitan makan. Selain itu muncul juga perubahan yang menyangkut kehidupan psikologis, seperti perasaan tersisih, tidak dibutuhkan lagi, ketidakikhlasan menerima kenyataan baru misalnya penyakit yang tidak kunjung sembuh atau kematian pasangan. Dua perubahan lain yang harus dihadapi oleh individu lanjut usia, yaitu perubahan sosial dan perubahan ekonomi. Perubahan sosial meliputi perubahan peran, dan meninggalnya pasangan atau ternan-teman. Perubahan ekonomi menyangkut ketergantungan secara finansial pada uang pensiun dan penggunaan waktu luang sebagai seorang pensiunan. Sikap tidak senang terhadap kondisi penuaan itu dipengaruhi juga oleh adanya label-label yang berkembang dalam masyarakat terhadap diri individu lanjut usia.

Perjalanan hidup individu lanjut usia, seperti halnya periode lain dalam perkembangan, juga akan ditandai oleh adanya tugas-tugas perkembangan yang harus dijalani di dalam masa hidupnya sesuai dengan norma masyarakat dan norma kebudayaan. Apabila lanjut usia mampu menyelesaikan tugas-tugas perkembangan tersebut maka akan merasa berhasil dalam hidup dan akhirnya akan timbul perasaan bahagia. Namun apabila individu lanjut usia berada pada kondisi despair maka akan merasakan ketakutan yang mendalam, merasa hidupnya tidak berarti, timbul rasa benci, dan penolakan terhadap lingkungan, yang intinya di dalam perasaan putus asa itu tersembunyi kebencian dan penolakan terhadap diri sendiri. lndividu yang despair tersebut tidak dapat merasakan kebahagiaan, karena salah satu komponen kebahagiaan bagi individu lanjut usia adalah penerimaan diri.

Penerimaan diri adalah suatu tingkatan kesadaran individu tentang karakteristik pribadi dan adanya kemauan untuk hidup dengan keadaan tersebut. Individu dengan penerimaan diri merasa bahwa karakteristik tertentu yang dimiliki adalah bagian diri yang tidak terpisahkan. Segala apa yang ada pada dirinya dirasakan sebagai sesuatu yang menyenangkan, sehingga memiliki keinginan untuk terus dapat menikmati kehidupan. Perubahan apapun yang terjadi berkaitan dengan proses menua dapat diterima oleh dengan penerimaan hati lapang.

Semakin banyak usaha yang dikerahkan oleh individu lanjut usia untuk melakukan mekanisme pertahanan diri, maka semakin banyak tenaga yang dicuri, yang sebenarnya tenaga itu dapat digunakan untuk melakukan hal-hal yang sesuai dengan usianya dan menarik minatnya. Semakin banyak waktu dan tenaga dihabiskan oleh individu lanjut usia agar senantiasa muda, individu ini akan semakin merasa tidak berdaya, lalu semakin merasa putus asa, dan akhirnya malah akan semakin terlihat tua.

Individu memiliki emosi matang tidak menghabiskan seluruh waktu dan tenaganya untuk kembali muda. Hal ini dikarenakan individu lanjut usia dengan kematangan emosi mengetahui bagaimana cara menghadapi perubahan yang terjadi. Dapat dikatakan bahwa individu lanjut usia dengan kematangan emosi mampu menyikapi secara positif perubahan-perubahan yang terjadi berkaitan dengan proses penuaan.

Kematangan emosi berarti individu dapat menempatkan potensi yang dikembangkan dirinya dalam suatu kondisi pertumbuhan, di mana tuntutan yang nyata dari kehidupan dewasa dapat di atasi dengan cara yang efektif dan sehat. Artinya, individu dengan kematangan emosi mampu menerima tanggung jawab akan perubahan-perubahan dalam hidup sebagai tantangan dari pada menganggap sebagai beban, dan dengan rasa percaya diri berusaha mencari pemecahan masalah dengan cara-cara yang aman untuk diri dan Iingkungannya, serta dapat diterima secara sosial.

Pada akhirnya, individu lanjut usia yang memiliki kematangan emosi akan mampu menerima dirinya seperti apa adanya, sehingga mudah beradaptasi dengan lingkungannya. Sebaliknya, individu lanjut usia yang tidak memiliki kematangan emosi akan memandang diri secara depresif, atau malah terlalu membangga-banggakan masa lalu, atau menggunakan mekanisme pertahanan diri untuk menghadapi perubahan-perubahan dirinya berkaitan dengan pertambahan usia. Mekanisme pertahanan diri yang sering dialami oleh individu lanjut usia pria adalah terjadinya post power syndrome. Adapun fenomena menarik yang terjadi pada individu lanjut usia wanita di beberapa kota besar di Indonesia adalah upaya-upaya untuk mengatasi perubahan penampilan fisik dirinya dengan menggunakan produk-produk berteknologi canggih yang iklannya menawarkan kemampuan untuk mengendalikan proses penuaan dalam waktu singkat, contohnya saja kosmetika, terapi sulih hormon, dan bedah plastik.

Penerimaan Diri

Penerimaan diri adalah suatu keadaan di ana individu memiliki keyakinan akan karakteristik dirinya, serta mampu dan mau untuk hidup dengan keadaan tersebut. Jadi, individu dengan penerimaan diri memiliki penilaian yang realistis tentang potensi yang dimiliki, dikombinasikan dengan penghargaan atas dirinya secara keseluruhan. Artinya, individu ini memiliki kepastian akan kelebihan-kelebihannya, dan tidak mencela kekurangan-kekurangan dirinya.

Individu dengan penerimaan diri memiliki toleransi terhadap frustrasi atau kejadian-kejadian yang menjengkelkan, dan toleransi terhadap kelemahan-kelemahan tanpa harus menjadi sedih atau marah. Individu ini dapat menerima dirinya sebagai seorang manusia yang memiliki kelebihan dan kelemahan. Jadi, individu yang mampu menerima dirinya adalah individu yang dapat menerima kekurangan sebagaimana dirinya mampu menerima kelebihannya.

Penerimaan diri adalah keinginan untuk memandang diri seperti adanya, dan mengenali diri sebagaimana adanya. Ini tidak berarti kurangnya ambisi karena masih adanya keinginan-keinginan untuk meningkatkan diri, tetapi tetap menyadari bagaimana dirinya saat ini. Kemampuan untuk hidup dengan segala kelebihan dan kekurangan diri ini tidak berarti bahwa individu tersebut akan menerima begitu saja keadaannya, karena individu ini tetap berusaha untuk terus mengembangkan diri. individu dengan penerimaan diri akan mengetahui segala kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya, dan mampu mengelolanya.

Ciri-ciri individu dengan penerimaan diri adalah memiliki penghargaan yang realistis terhadap kelebihan-kelebihan dirinya, memiliki keyakinan akan standar-standar dan prinsip-prinsip dirinya tanpa harus diperbudak oleh opini individu-individu lain, memiliki kemampuan untuk memandang dirinya secara realistis tanpa harus menjadi malu akan keadaannya, mengenali kelebihan-kelebihan dirinya dan bebas memanfaatkannya, mengenali kelemahan-kelemahan dirinya tanpa harus menyalahkan dirinya, memiliki spontanitas dan rasa tanggung jawab dalam diri, menerima potensi dirinya tanpa menyalahkan dirinya atas kondisi-kondisi yang berada di luar kontrol mereka, tidak melihat diri mereka sebagai individu yang harus dikuasai rasa marah atau takut atau menjadi tidak berarti karena keinginan-keinginannya tapi dirinya bebas dari ketakutan untuk berbuat kesalahan, merasa memiliki hak untuk memiliki ide-ide dan keinginan-keinginan serta harapan-harapan tertentu, tidak merasa iri akan kepuasan-kepuasan yang belum mereka raih.

Komponen penerimaan diri adalah memiliki keyakinan akan kemampuan dirinya dalam menjalani kehidupan, menganggap dirinya berharga sebagai seorang manusia yang sederajat dengan individu lain, menyadari dan tidak merasa malu akan keadaan dirinya, menempatkan dirinya sebagaimana manusia yang lain sehingga individu lain dapat menerima dirinya, bertanggung jawab atas segala perbuatannya, menerima pujian atau celaan alas dirinya secara objektif, mempercayai prinsip-prinsip atau standar-standar hidup tanpa harus diperbudak oleh opini individu-individu lain; tidak mengingkari 'atau merasa bersalah atas dorongan-dorongan dan emosi-emosi yang ada pada dirinya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan diri adalah pendidikan dan dukungan sosial. Penerimaan diri akan semakin baik apabila ada dukungan dari lingkungan sekitar, hal ini dikarenakan individu yang mendapat dukungan sosial akan mendapat perlakuan yang baik dan menyenangkan. Selain itu, juga dikatakan bahwa faktor pendidikan juga mempengaruhi penerimaan diri; dimana individu yang memiliki pendidikan lebih tinggi akan memiliki tingkat kesadaran yang lebih tinggi pula akan datangnya masa tua dan segera mencari upaya untuk menghadapi masa tua ini. Dengan kata lain, di kalangan individu yang memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi, upaya untuk menghadapi masa tua bisa diantisipasi lebih dini.

Individu disebut matang emosinya jika potensi yang dikembangkannya dapat ditempatkan dalam suatu kondisi pertumbuhan, dimana tuntutan yang nyata dari kehidupan individu dewasa dapat dihadapi dengan cara yang efektif dan positif. Hal itu berarti tuntutan kehidupan individu dewasa akan dihadapi dengan sikap yang tidak menunjukkan pola emosional kekanak-kanakan, akan tetapi terus diupayakan cara-cara penyelesaian dewasa yang tidak merugikan diri sendiri dan lingkungannya.

Individu yang matang emosinya dapat dengan bebas merasakan sesuatu tanpa beban. Perasaannya tidak terbebani, tidak terhambat, dan tidak terkekang. Hal ini bukan berarti ada ekspresi emosi yang berlebihan, sebab adanya kontrol diri yang baik dalam dirinya sehingga ekspresi emosinya tepat atau sesuai dengan keadaaan yang dihadapi. Selanjutnya, kontrol diri tidak menyebabkan individu yang matang emosinya menjadi kaku, melainkan dapat berpikir dan bertindak fleksibel. Penampilannya seadanya, tanpa dibuat-buat, spontan, dan memiliki rasa humor. Keadaan ini dapat terjadi karena individu dengan kematangan emosi memiliki kapasitas untuk bereaksi sesuai dengan tuntutan yang ada dalam situasi tersebut. Respon yang tidak sesuai dengan tuntutan yang dihadapi akan dihilangkan. Selain itu, individu dengan kematangan emosi akan berusaha untuk melihat situasi dari berbagai sudut pandang dan menghindari sudut pandang yang mengarahkan dirinya pada reaksi emosional. Hal ini berarti individu dengan kematangan emosi akan lebih mampu beradaptasi karena individu dapat menerima beragam orang dan situasi dan memberikan reaksi yang tepat sesuai tuntutan yang dihadapi.

Individu yang matang terbuka terhadap pengalaman, tidak berpura-pura, dan percaya pada kapasitas dirinya untuk mengorganisasikan dan menginterpretasikan bahan pengalamannya. Kematangan emosi adalah kemampuan untuk mengekspresikan perasaan yang ada dalam diri secara yakin dan berani, yang diimbangi dengan pertimbangan-pertimbangan akan perasaan dan keyakinan individu lain.

Kematangan emosi seharusnya sudah dicapai pada akhir masa remaja, akan tetapi kematangan emosi pada akhir masa remaja akan berbeda dengan kematangan emosi pada individu yang lebih tua. Semakin bertambah usia individu, maka emosinya diharapkan akan lebih matang dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya. Hal ini dapat dipahami karena konsep kematangan emosi tidak menunjukkan pada suatu kondisi yang statis, atau tujuan akhir yang ingin dicapai oleh seorang individu pada suatu periode kehidupannya.

Istilah kematangan menunjukkan adanya proses menjadi matang. Menjadi matang berarti adanya usaha peningkatan dan perbaikan. Individu yang dianggap telah memenuhi persyaratan untuk disebut matang masih akan terus berkembang, sehingga pada tiap-tiap saat individu memiliki taraf kematangan yang berbeda antara waktu yang lalu dengan waktu yang akan datang. Hal ini dikarenakan kematangan emosi adalah kondisi relatif yang menunjukkan tingkatan dimana individu mampu menggunakan potensi-potensi yang ada pada dirinya dalam menjalani proses perkembangan dan berusaha untuk mencapai kematangan. Individu yang emosinya matang tidak berarti akan selalu bertindak berdasarkan penilaian emosi yang balk dan bertanggung jawab, namun lebih menjelaskan gaya hidup mereka cenderung lebih banyak menunjukkan tingkah laku yang matang. Hal ini berarti fluktuasi keadaan emosi dan fluktuasi dalam hubungan interpersonal merupakan hal yang normal. Akan tetapi, jika fluktuasi ini tnenjadi suatu pola yang terus menerus berlangsung dan menjadi suatu cara hidup, maka dapat dikatakAn bahwa keadaan tersebut mencerminkan ketidakmatangan emosi.

Dalam banyak penelitian ditemukan bahwa kematangan emosi berhubungan secara erat dengan kesehatan fisiologis individu. Secara lebih khusus banyak diteliti bahwa kematangan emosi berperan secara signifikan pada individu lanjut usia. Hasil dari penelitian tersebut diantaranya adalah tingkat morbiditas dan mortalitas, serta serangan jantung pada individu yang memiliki kematangan emosi ditemukan lebih rendah dibandingkan dengan individu yang tidak memiliki kematangan emosi. Selain itu ditemukan juga bahwa emosi yang matang berpengaruh terhadap peningkatan respon imunologi tubuh.

Individu dengan kematangan emosi memiliki karakteristik: mampu untuk Acerirna kenyataan, mampu beradaptasi rapkenyataan hidup secara fleksibel, riumpu mengambil pelajaran dad peristiwa lalu, memiliki penilaian yan jrktif, mampu untuk mempergunakan ria menikmati kekayaan sumber-sumber emosi yang dimiliki marnpu menyalurkan tenaga dari rasa sarah ke dalam bentuk perilaku yang intstruktif, mampu untuk menjalin hubungan interpersonal yang bersifat saling menguntungkan, dan mampu untuk empati.

Enam aspek kematangan emosi adalah sikap untuk belajar, memiliki tanggung jawab, memiliki kemampuan berkomunikasi dengan efektif, memiliki kemampuan untuk menjalin lingkungan sosial, beralih dari egosentrisme ke sosiosentrisme, dan falsafah hidupnya terintegrasi.

Dalam psikologi perkembangan dikenal konsep usia, diantaranya adalah usia krologis, yaitu usia yang diukur mulai dari tahun kelahiran sampai dengan tahun ketika dilakukan pengukuran. Selain itu dikenal juga istilah usia psikologis, yaitu usia yang menunjukkan pada kemampuan adaptif tividu terhadap perubahan-perubahan aag terjadi pada dirinya dibandingkan itgan usia kronologisnya.

Seorang individu dapat saja secara kronologis sudah memasuki periode perkembar gan dewasa, tetapi secara psikologis masih belum matang. Artinya, tidak ada korelasi yang positif antara bertambahnya usia dengan bertambah dewasanya pola pikir, perilaku, dan emosi individu. Hal ini akan mengakibatkan, bagi sebagian individu, tetap munculnya perilaku kekanak-kanakan ketika sudah memasuki periode dewasa.

Individu lanjut usia yang dapat menerima perubahan-perubahan berkaitan dengan proses penuaan akan gembira dalam menjalani kehidupan masa tua. Hal ini disebabkan individu dengan penerimaan diri memiliki toleransi terhadap frustrasi atau kejadian-kejadian yang menjengkelkan, dan toleransi terhadap kelemahan-kelemahan diri tanpa harus menjadi sedih atau marah. lndividu dapat menerima dirinya sebagai seorang manusia yang memiliki kelebihan dan kelemahan. Jadi, individu yang mampu menerima dirinya adalah individu yang dapat menerima kekurangan dirinya sebagaimana kemampuannya untuk menerima kelebihannya.

Individu yang mampu menghadapi kenyataan dan bertindak secara konstruktif untuk mengatasi kenyataan tersebut adalah individu yang memiliki kematangan emosi. Dalam hal ini individu lanjut usia yang matang adalah individu yang mampu menghadapi kenyataan bahwa dirinya sudah tidak muda lagi dan banyak hal yang berubah berkaitan dengan proses penuaan tersebut; dimana individu ini tidak akan memunculkan perilaku yang destruktif untuk menerima perubahan dirinya. Jadi, individu lanjut usia yang matang mampu menghadapi perubahan-perubahan dirinya dengan cara yang tepat sesuai dengan usianya. lndividu ini tidak akan memunculkan mekanisme pertahanan diri untuk mengatasi "ketidakenakan" di masa tuanya. Semakin matang seorang individu, maka akan semakin mampu menerima perubahan-perubahan tersebut.

Individu lanjut usia sang memiliki kematangan emosi adalah individu yang mampu, menyesuaikan diri secara baik dengan proses penuaan dirinya. Artinya, individu memiliki kontrol diri yang baik, memiliki rasa tanggung jawab, mampu memberi arti, pada hubungan sosial yang dilakukannya, dan mampu menghargai keberadaan dirinya saat ini. Ada dua gambaran dari individu lanjut usia yang tidak memiliki kematangan emosi, yaitu (1) Angry. Individu-individu akan memusuhi lingkungan, menyalahkan lingkungan apabila ada sesuatu yang salah, melihat dunia sebagai suatu perlawanan yang kompetitif. (2) Self-haters. Individu-individu akan menyalahkan diri, memiliki hubungan sosial yang buruk, dan sangat depresi dalam menjalani kehidupan masa tua.

Teori kepribadian lanjut usia diketahui gambaran secara jelas bahwa individu lanjut usia yang memiliki kematangan emosi mampu untuk menerima diri apa adanya, artinya individu lanjut usia tidak akan memarahi lingkungan maupun dirinya akan perubahan-perubahan keadaan yang dialami sebagai lanjut usia karena individu mampu melihat dengan jujur potensi diri, dapat tabah untuk menerima kekurangan dirinya dan hal-hal lain yang tidak dapat diubahnya, serta memunculkan potensi-potensi positif dirinya, sehingga individu mampu menjalankan perannya sebagai lanjut usia tanpa harus memaksakan diri melakukan sesuatu di luar batas kemampilannya. Hal ini dapat dilakukan oleh individu lanjut usia karena memiliki kontrol diri yang baik. Individu lanjut usia yang memiliki kematankan emosi mampu rnenghargai dirinya dan tetap mampu untuk memberikan arti bagi dirinya di tengah lingkungan sosialnya.

Barefoot, J.C., Beckham, J.C., Haney, J.L., Siegler, I.C., and Lipkus, 1.M. 1993. Age differences in Hostility among Middle-Aged and Older Adults. Journal Psychology and Aging.

Birren, J.E., and Schaie, K.W. 1996. Handbook of the Psychology of Aging. 4th Edition. London: Academic Press.

Carstensen, L.L. 1992. Social and Emotional Pattern in Adulthood: Support for Socioemotional Selectivity Theory. Journal of Psychology and Aging.

Chaplin, J.P. 1999. Kamus Lengkap Psikologi. Kartini Kartono (Pen.). Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Cronbach. L.J. 1963. Educaeional Psychology. 2nd Edition. New York: Harcourt, Bruce, and World.

Decker, D.L. 1980. Social Gerontology: An Introduction to the Dynamics of Aging. Boston: Little, Brown, and Co.

Hall, M.R.P., MacLennan, W.J., and Lye, M.D.C.N. 1993. Medical Care of the Elderly. 3rd Edition. West Sussex: John Wiley and Sons.

Herzog, A.R., House, J.S., and Morgan,. J.N. 1991. Relation of Work and Retirement to Health and Well-Being in Older Age. Journal of Psychology and Aging.

Hurlock, E. B. 1959. Developmental Psychology. 3rd Edition. New Delhi: Tata McGraw Hill.

Hurlock, E.B. 1973. Adolescent Development. 4th Edition. Tokyo: McGraw Hill Kogakusha.

Hurlock, E.B. 1974. Personality Development. New Delhi: Tata McGraw Hill Publishing.

Hurlock, E.B. 1980. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Cetakan Ke-5. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Jersild, A.T. 1963. The Psychology of Adolescent. New York: The McMillan.

Jersild, A.T., Brook, J.S., and Brook, D.W. 1978. The Psychology of Adolescent. 3rd Edition. London: Collier McMillan Publishers.

Kimmel, D.C. 1974. Adulthood And Aging: An Interdisciplinary, Development View. New York: John Wiley and Sons.

Kimmel, D.C. 1990. Adulthood and Aging. 3rd Edition. Toronto: John Wiley and Sons.

Levenson, R.W., Carstensen, L.L., Friesen, W.V., and Ekman, P. 1991. Emotion, Physiology, and Expression in Old Age. Journal Psychology and Aging.

Moks, F.J., Knoers, A.M.P., dan Haditono, S.R. 1998. Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Mouly, G.J. 1960. Psychology for Effective Teaching. New York: Henry Holt and Co.

Munandar, U. 2001. Bunga Rampai Psikologi Perkembangan dari Bayi sumpai dengan Lanjut Usia. Dalam Utami Munandar (Ed.). Tanpa Tahun. Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Newman, B.M., and Newman, P.R. 1979. Development through Life. A Psychological Approach. Revised Edition. Illinois: The Dorsey Press.

Prawitasari, J.E. 1993. Aspek Sosio-Psikologis Usia Lanjut di Indonesia. Dalam Buletin Penelitian Kesehatan. No.4 (Vol.21). Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Rubin, T.E. 1974. DR. Rubin, Please Make Me Happy: The Common Sense of Mental Health. New York: Arbor House.

Ryff, C.D. 1989. Happiness is Everything, or is It? Exploration of the Measuring of Psychological Well-Being. Journal of Personality and Social Psychology.

Sartain, A.Q, North, A.J., Strange, J.R., and Chapman, H.M. 1973. Psychology: Understanding Human Behavior. Singapore: McGraw Hill.

Schaie, K.W., and Willis, S.L. 1991. Adult Development and Aging. 3rd Edition. New York: Harper Collins.

Schneiders, A.A. 1955. Personal Adjust¬ment and Mental Health. New York: Holt, Rinehart, and Winston.

Skinner, C.E. 1958. Essentials of Educational Psychology. New Jersey: Prentice Hall, Inc Englewood Cliffs.

Skinner, C.E. 1977. Educational Psychology. 4th Edition. New Delhi: Prentice Hall.

Walgito, B. 1997. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Artikel Lainnya: