Dokumentasi Berita Sains (2008-2013)

Kemampuan Persepsi Anak Tentang Substansi Tayangan Televisi

(kesimpulan) Masa kanak-kanak sangat kental dengan satu proses pencarian informasi yang mendasar, baik secara fisik maupun sosial. Human infants do not possess culture at birth; they do not have a conception of a world, a language, or a morality. All of these things must be acquired by them from the prosess of acquisition is called socialization.

Anak-anak memperoleh informasi tentang kehidupan dari berbagai sumber, sosial dan non-sosial. Pengalaman langsung/pribadi dengan lingkungan nyata menyediakan informasi tentang realitas awal. Lewat pengalaman langsung anak-anak belajar benda keras dan benda lunak, benda kasar dan benda halus, ada benda panas dan dingin.

Lewat komunikasi simbolik anak-anak mampu mendefinisikan konsep-konsep yang sifatnya abstrak, seperti moralitas dan keadilan; yang terbentang ke belakang menjadi sejarah dan ke depan dalam bentuk masa depan. Konsep-konsep semacam itu hanya bisa dimediasikan oleh orang lain, apakah itu secara langsung atau tidak, dikomunikasikan secara simbolik. Di dalam masyarakat, media massa memiliki peran yang sangat potensial untuk mempengaruhi perjalanan hidup anak-anak yang polos. Sebab, media komunikasi massa dapat ditembus, diakses, didatangi dan termasuk diimitasi oleh anak-anak.

Secara tradisional, penelitian tentang efek-efek televisi telah mengasumsikan anak-anak sebagai individu pasif dengan televisi sebagai sesuatu yang powerful untuk mempengaruhi. Sejak pertengahan 1970-an, penelitian media-efek telah berkembang pesat dengan pemahaman baru, bahwa anak-anak adalah seorang penjelajah yang aktif dan motivasi tinggi, tidak sekedar penonton yang pasif. Anak merupakan evaluator dan imitator yang kritis tentang segala macam hal yang mereka lihat.

Anak-anak menyukai isi media atas dasar sejumlah alasan, termasuk di dalamnya perbedaan pengalaman, perkembangan kognitif dan emosional yang dimiliki. Dua faktor utama yang membedakan tingkatan pengertian anak akan media adalah usia atau tingkat perkembangan dan jenis kelamin dari anak yang bersangkutan.

Jean Piaget (1896-1980), membedakan usia anak-anak ke dalam Periode Sensorimotorik (0–2 tahun), Periode Pra-operasional (2–7 tahun), Periode Operasionalisasi Konkret (7–11 tahun), dan Periode Operasionalisasi Formal (11+ tahun). Akan tetapi, secara kualitas dimulai pada Periode Pra-operasional karena pada awal Periode Pra-operasional (2 tahun) anak-anak baru mulai menggunakan fungsi-fungsi simbolik secara lebih luas. Perkembangan kemampuan berbahasa dan bentuk-bentuk permainan yang menuntut kekuatan imajinasi. Periode ini juga ditandai dengan tumbuhnya kemampuan dalam mengimitasi perilaku orang lain yang menandai kemampuan mengingat perilaku orang-orang di sekitarnya secara simbolik.

EMPAT DALIL PERSEPSI KRECH DAN CRUTCHFIELD

Dalil Persepsi I: Persepsi bersifat selektif secara fungsional, bahwa obyek-obyek yang mendapat tekanan dalam persepsi biasanya obyek-obyek yang memenuhi tujuan individu yang melakukan persepsi.

Dalil Persepsi II: Medan perseptual dan kognitif selalu diorganisasikan dan diberi arti. Anak-anak mengorganisasikan stimuli dengan melihat konteks. Walaupun stimuli yang diterima tidak lengkap, mereka akan mengisi dengan interpretasi yang konsisten dengan rangkaian stimuli yang dipersepsi.

Dalil Persepsi III: Sifat-sifat perseptual dan kognitif dari substruktur ditentukan pada umumnya oleh sifat-sifat struktur secara keseluruhan. Jika individu dianggap sebagai anggota kelompok, semua sifat individu yang berkaitan dengan sifat kelompok akan dipengaruhi oleh keanggotaan kelompoknya, dengan efek yang berupa asimilasi atau kontras.

Dalil Persepsi IV: Obyek atau peristiwa yang berdekatan dalam ruang dan waktu atau menyerupai satu sama lain, cenderung ditanggapi sebagai bagian dari struktur yang sama. Pada persepsi sosial, pengelompokkan terjadi tidak murni struktural sebab apa yang dianggap sama atau berdekatan oleh seorang individu tidaklah sama dengan individu yang lain. Di sini, berperan juga faktor fungsional, seperti kerangka rujukan dan nilai budaya yang dianut oleh si anak.

COGNITIVE-DEVELOPMENT

Unclear Fantasy-Reality Distinction

Bagi anak-anak terdapat batas samar atau tidak jelas antara khayalan dan kenyataan. Secara virtual/khayalan segala sesuatu adalah mungkin terjadi dalam imajinasi anak-anak pada usia ini; busa bisa menjadi batu, beruang bisa berbicara, dan angin bisa membuat terbang. Selanjutnya, antara usia tiga hingga sepuluh tahun anak-anak secara bertahap menjadi semakin akurat dalam membedakan antara khayalan dan kenyataan dalam tayangan televisi. Pada awalnya anak percaya bahwa segala sesuatu yang ada dalam televisi adalah nyata. Anak-anak terkadang masih berpikir bahwa tokoh-tokoh tinggal di dalam kotak pesawat televisi.

Kegagalan anak dalam membedakan antara yang khayal dengan yang nyata akan sangat mempengaruhi kecenderungan dalam menanggapi isi media. Pertama, karena tokoh khayalan dianggap nyata, maka anak-anak memperlakukannya seperti layaknya benda nyata. Kedua, sejumlah special effect atau peran pengganti, seperti tokoh yang hilang dibalik kepulan asap, bisa melahirkan pengaruh yang luar biasa bagi anak.

Perceptional Boundedness and Centration

Kualitas berpikir lain yang ditunjukkan oleh anak-anak usia pra-sekolah hingga sekolah dasar adalah kecenderungan untuk menitikberatkan pada seseorang, hal atau imej yang mencolok di mana bagi sebagian orangtua hal atau kesan tersebut dianggap remeh-temeh. Kecenderungan ini sebagai centration atau perceptual boundedness. Tipikal yang dimiliki anak usia pra-sekolah dan sekolah dasar adalah daya tarik yang mencolok. Ketika menilai sebuah produk atau isi media, anak-anak usia ini memfokuskan perhatian hanya pada sebuah karakteristik mencolok tanpa memperhatikan detail-detailnya. Deskripsi anak-anak tentang tokoh-tokoh di televisi cenderung tetap pada satu hal tertentu, atribut-atribut fisik, tanpa mengintegrasikannya menjadi sesuatu yang utuh. Anak-anak usia pra-sekolah memberi sedikit perhatian pada tokoh yang berbicara, dan lebih banyak memperhatikan pada gambar-gambar sederhana, cerah warna-warni, dan karakter-karakter yang tidak menakutkan.

Responsiveness to Language, Rhymes, and Music

Anak-anak memiliki kecenderungan bawaan untuk merespon bahasa. Jauh sebelum bisa berbicara, anak-anak sangat responsif dengan ujaran-ujaran manusia di sekitarnya. Mereka secara khusus memperhatikan sebuah bentuk ujaran yang dinamakan sebagai motherese. Motherese ditandai oleh sebuah irama lamban, tekanan suara tinggi, dan inotasi yang berlebihan. Kecenderungan semacam ini berlangsung selama beberapa tahun. Anak-anak juga sangat menyukai lagu-lagu, sajak, dan musik. Hampir semua anak-anak ini telah berinteraksi dengan program-program televisi sembari menontonnya dengan ikut bernyanyi, menari, atau bertepuk tangan.

Limited Cognitive Capacities

Karenakan kapasitas kognitif anak-anak belum cukup dewasa, mereka memerlukan tambahan waktu dibanding orang dewasa dalam menginterpretasikan dan memahami informasi dan kesan televisi. Oleh sebab itulah, anak merespon program-program yang berkecepatan tinggi dengan banyak pengulangan. Juga sering memilih konteks/gambar dan obyek/binatang yang bisa mereka kenali, seperti kucing, anjing, dan ayam. Anak-anak suka menonton program-program yang menampilkan bayi dan memuja binatang-binatang.

Pustaka

Chen, Milton 1996. Anak-anak dan Televisi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Dworetzky, John P. 1987. Introduction to Child Development. St. Paul: West Publishing Company

Fisch, Shalom M. 2002. Children’s Comprehention of Television, Encyclopedia of Communication and Information: Volume I. New York: Macmillan Reference USA, an imprint of Gale Group

Hidayati, Arini. 1998. Televisi dan Perkembangan Sosial Anak. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Kline, F. Gerald dkk. 1971. Mass Communication and Youth: Some Current Perspective. Beverly Hills: SAGE Publications

Parker, Edwin B. 1971. Handbook of Communication: Book I. Chicago: Rand McNally Colledge Publishing Company


Rakhmat, Jalaluddin. 1994. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya

Rakhmat, Jalaluddin dkk. 1997. Hegemoni Budaya. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya

Sears, David O. 1994. Psikologi Sosial. Jakarta: Erlangga

Valkenburg, Patti M. 2002. Children’s Preferences for Media Content, Encyclopedia of Communication and Information - Volume I. New York: Macmillan Reference USA, an imprint of Gale Group

Walgito, Bimo. 1994. Psikologi Sosial: Suatu Pengantar. Yogyakarta: Y.T. Fakultas Psikologi UGM

Artikel Lainnya: