Dokumentasi Berita Sains (2008-2013)

Kepemimpinan Transformasional dan Transaksional

(kesimpulan) Persepsi pada hakikatnya adalah proses kognitif yang dialami oleh setiap orang dalam memahami informasi tentang lingkungannya, merupakan suatu penafsiran yang unik terhadap situasi. Individu di dalam suatu organisasi senantiasa menilai, baik sesama anggota maupun terhadap gaya yang di terapkan pemimpin, dan sebaliknya pemimpin memberi penilaian terhadap perilaku anggota. Penilaian ini dipengaruhi oleh proses persepsi dengan didominisasi oleh faktor-faktor subjektif, sehingga hasil suatu penilaian tidak terlepas dari suatu faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi individu yang menilai. Sementara itu, setiap individu dalam kehidupan berorganisasi melakukan pengambilan keputusan yaitu dengan membuat pilihan dari dua alternatif atau lebih di mana semua keputusan menuntut penafsiran dan evaluasi terhadap informasi.

Salah satu teori kepemimpinan di tengah perubahan lingkungan organisasi sekaligus menjelaskan hubungan pertukaran antara pemimpin dan pengikutnya adalah teori kepemimpinan transformasional dan transaksional. Burn menerapkankannya dalam konteks politik, selanjutnya oleh Bass disempurnakan dan diperkenalkan ke dalam konteks organisasional.

Teori kepemimpinan transformasional dan transaksional berdasarkan atas pemenuhan kebutuhan yang lebih rendah bagi para pengikutnya berdasarkan teori hirarki kebutuhan dari Maslow seperti kebutuhan fisiologis, dan rasa aman. Hal tersebut wajar, karena untuk memenuhi kebutuhan yang lebih rendah dapat dilakukan dengan kepemimpinan transaksional. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi, seperti kebutuhan harga diri dan aktualisasi diri dapat terpenuhi dengan kepemimpinan transformasional. Jika dikaitkan dengan two factor theory of motivation dari Herzberg, bahwa kondisi ekstrinsik atau job context (hygiene factors) dapat terpenuhi dengan kepemimpinan transaksional sedangkan kondisi intrinsik atau job content (motivator factors) seperti dorongan untuk berusaha, meningkatnya tanggung jawab, dan pengakuan dapat terpenuhi dengan kepemimpinan transformasional. Pemenuhan kondisi intrinsik dapat meningkatkan motivasi pada level yang lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi ekstrinsik untuk mencapai kinerja yang baik.

Kepemimpinan transformasional sebagai sebuah proses di mana pemimpin dan pengikut saling meningkatkan diri ketingkat moralitas dan motivasi yang lebih tinggi. Pemimpin tersebut mencoba menimbulkan kesadaran diri anggota dengan menyerukan cita-cita yang lebih tinggi dan nilai-nilai moral, seperti kemerdekaan, keadilan, dan hak asasi manusia, bukan di dasarkan atas emosi, seperti keserakahan, kecemburuan atau kebencian.

Nilai kepemimpinan transformasional dapat dipandang dari bentuk-bentuk reaksi anggota terhadap perilaku pemimpin, yaitu: (1) Identifikasi terhadap visi pemimpin. Apabila anggota merasa percaya, kagum, hormat, dan memiliki efeksi terhadap visi pemimpin, maka proses kepemimpinan bisa dikatakan berhasil. (2) Tingkatan emosional puncak, artinya anggota menyadari bahwa perilaku kepemimpinan yang diterapkan oleh pemimpin mampu membawa anggota dalam kondisi puncak kepuasan. Pemimpin dinilai mampu membangkitkan suasana emosional. (3) Kesediaan untuk menjadi subordinat. Kesediaan anggota ini menjadi sangat penting karena hal ini merupakan modal penting bagi pemimpin untuk membawa organisasi ke arah visi yang benar. (4) Perasaan berharga pada diri anggota. Dalam proses ini, anggota kelompok tidaklah sekedar sebagai objek, tetapi juga merasa adanya eksistensi peran. Pemimpin transformasional lebih terpusat pada perubahan yang dimaksudkan untuk pengembangan organisasi.

Perbedaan perilaku kepemimpinan transformasional dan transaksional dari fungsi dan perannya. Dikemukakan bahwa pemimpin transformasional lebih menunjukan fungsinya sebagai pemimpin yang sesungguhnya, dalam arti seorang pemimpin mampu menjalankan fungsinya dengan menggunakan pengaruhnya untuk memotivasi dan mendorong anggota organisasi guna mencapai tujuan organisasi. Sebaliknya, pemimpin transaksional lebih berfungsi sebagai manajer yang tugasnya memastikan bahwa pekerjaan telah dilakukan dengan benar.

Beberapa pendapat menyatakan, bahwa pemimpin transformasional lebih terpusat pada perubahan yang di maksudkan untuk pengembangan organisasi, sedangkan pemimpin dalam budaya organisasi yang telah ada. Perilaku kepemimpinan transformasional dan transaksional dapat ditampilkan oleh pemimpin yang sama, hanya jumlah dan intensitasnya saja yang berbeda.

Masih berkaitan dengan kepemimpinan transformasional dan transaksional, bahwa gaya kepemimpinan transformasional dan transaksional tidak dapat dipilah secara tegas dan keduanya bukan merupakan gaya kepemimpinan yang saling bertentangan. Kepemimpinan transformasional dan transaksional sangat penting dan dibutuhkan setiap organisasi. Organisasi membutuhkan visi, dorongan, dan komitmen yang di bentuk oleh pemimpin transformasional. Namun organisasi juga membutuhkan pemimpin transaksional untuk dapat memberikan arahan, berfokus pada hal-hal yang sifatnya rinci, menjelaskan perilaku diharapkan dan memberi imbalan atas usahan yang telah di lakukan. Lebih lanjut, pendekatan kepemimpinan transformasional tidak menggantikan konsep kepemimpinan transaksional. Namun pendekatan kepemimpinan transformasional memberi peluang terhadap pemimpin untuk berbuat lebih besar dalam mengembangkan dan meningkatkan motivasi organisasi.

Kepemimpinan transformasional dan transaksional memiliki pengaruh yang berbeda-beda pada anggota. Kepemimpinan transformasional akan menyebabkan anggota melakukan pekerjaan melebihi apa yang telah ditetapkan karena adanya pengaruh dari pemimpin. Tingkat usaha ekstra, motivasi kerja yang tinggi, rasa memiliki visi dan misi disebabkan oleh komitmen pengikut terhadap pemimpin sehingga mendorong kinerja lebih baik dari yang telah ditetapkan sebaiknya, kepemimpinan transaksional mendorong kepemimpinan mencapai tingkat kinerja yang telah disepakati. Baik pemimpin maupun pengikut mencapai persetujuan tentang apa yang harus dicapai. Sejumlah penelitian menunjukan bahwa perilaku kepemimpinan transformasional dan transaksional bisa mempengaruhi kinerja anggota.

PUSTAKA

Bass, B.M. 1990. Bass and Stogdill's Handbook of Leadership. New York: Free Press.

Bass, B.M. 1990. From Transactional to Transformational Leadership: Learning to Share the Vision. Organizational Dynamics. Dalam Steers, R.M., Porter, L.W., dan Bigley, G. A. (Eds.). 1996. Motivation and Leadership at Work. Sixth Edition. New York: The McGraw-Hill Companies. 628-640.

Bass, B.M. 1997. The Transactional-Transformational Leadership Paradigm Transcend Organizational and National Boundaries? Journal American Psychologist, 52: 130-139.

Gibson, J.L., Ivancevich, J.M., dan Donnely, J.H. Jr. 2000. Organizations: Behavior, Structure, Processes. Tenth Edition. Singapore: McGraw-Hill.

Howell, J.M., dan Avolio, B.J. 1993. Transformasional Leadership, Transactional Leadership, Locus of Control, and Support for Innovation: Key Predictors of Consolidated-Business Unit Performance. Journal ofApplied Psychology, 78 (6): 891-902.

Howell, J.M., dan Hall-Merenda, K.E. 1999. The Ties That Blind: The Impact of Leader-Member Exchange, Transformational and Transactional Leadership, and Distance on Predicting Follower Performance. Journal of Applied Psychology, 84 (5): 680-694.

Keller, R.T. 1992. Transformational Leadership and The Performance of Research and Development Project Groups. Journal of Management, 18 (3): 489-501.

Koh, W.L., Sterrs, R.M., dan Terborg, J. R. 1995. The Effect of Transformational Leadership on Teacher Attitudes and Student Performance in Singapore. Journal of Organizational Behavior, 16: 319-333.

Neale, M., dan Northcraft, G.B. 1990. Organizational Behavior: A Management Challenge. Florida: The Dryden Press.

Pawar, B.S., dan Eastman, K.K. 1997. The Nature and Implications of Contextual Influences on Transformational Leadership: A Conceptual Examination. Academy of Management Review, 22 (1): 80-109.

Popper, M., dan Zakkai, E. 1994. Transactional, Charismatic, and Transformational Leadership: Condition Conductive To Their Predominance. Leadership and Organization Development Journal, 15 (6): 3-7.

Riggio, R.E. 1990. Introduction To Industrial and Organizational Psychology. London: Scott, Forestman and Company.

Yukl, G.A. 1998. Leadership in Organization. Second Edition. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.

Artikel Lainnya: