Dokumentasi Berita Sains (2008-2013)
HOME - ARSIP - PENCARIAN

Kinerja Efisiensi Bank Umum

(kesimpulan) Bank merupakan lembaga keuangan terpenting dan sangat mempengaruhi perekonomian baik secara mikro maupun secara makro. Di Indonesia, perbankan mempunyai pangsa pasar sebesar 80 persen dari ke seluruahan sistem keuangan yang ada. Mengingat begitu besarnya peranan perbankan, pengambil keputusan perlu melakukan evaluasi kinerja yang memadai. Untuk mengukur kinerja bank indikator yang biasa digunakan adalah pendekatan kinerja bank secara ekonomi.

Pada hakekatnya kinerja ekonomi terdiri dari dua kinerja utama, yaitu kinerja keuangan dan kinerja effisiensi produktivitas Di dalam industri perbankan, analisa yang banyak di gunakan oleh banyak negara untuk mengukur kinerja keuangan dan mengevaluasinya adalah Capital (C), Asset Quality (A), Management (M), Earning (E), Liability (L), dan Sensitivity Market to Risk (S) yang biasa disingkat dengan CAMELS.

Sedangkan untuk mengukur dan mengevaluasi tingkat produktivitas dan efisiensi suatu bank, digunakan pendekatan parametrik dan non-parametrik, parametrik dan non parametrik dibagi menjadi dua bagian yaitu frontier dan non frontier. Walaupun terjadi dua macam pendekatan dalam penilaian kinerja tetapi beberapa hasil studi menunjukan terdapat hubungan positip antara kinerja keuangan dan kinerja effisiensi.

Selama ini, penilaian mengenai kinerja keuangan perbankan di Indonesia telah banyak dibahas dan disajikan dengan CAMEL namun jarang yang menilai berdasarkan tingkat efisiensi. Di lain pihak, pemahaman akan kinerja efisiensi bank mutlak diperlukan dalam situasi persaingan industri perbankan yang semakin ketat, terutama untuk mengantisipasi kriteria bank jangkar seperti yang disyaratkan di dalam Arsitektur Perbankan Indonesia (API).

Studi dengan mengunakan analisa ratio keuangan dan DEA-Malmquist, kinerja keuangan mempunyai hasil yang konsisten di mana kinerja bank asing lebih baik dibandingkan dengan bank domestik (pemerintah dan swasta). Selanjutnya dengan periode dan sampel yang sama, evaluasi dengan metode SFA dan DEA, dari hasil studi menunjukan bahwa kinerja bank setelah krisis keuangan lebih baik dibandingkan dengan sebelum masa krisis dan hasil evaluasi dengan model DEA dan SFA mempunyai hubungan moderat.

Studi evaluasi kinerja bank di Indonesia pada periode 1997 hingga 2003 dengan alat analis DEA menyimpulkan bahwa periode 1998 dan 1999 bank swasta devisa paling efisien sedangkan pada akhir tahun 2001 hingga ahir tahun 2003 bank pemerintah yang paling efisien.

Studi di Yunani pada periode 1982 hingga 1997, dengan model DEA-Malmquist dan DEA , menunjukan bahwa kinerja bank lebih efisien setelah 1992 yang dimungkinkan karena adanya deregulasi di sektor industri bank. Hasil juga menunjukan bahwa bank yang lebih besar akan menjadi lebih efisien.

Evaluasi kinerja efisiensi di negara Eropa dan di USA pada periode 1995 hingga 1999, menyimpulkan bahwa bank besar di kedua wilayah tersebut menunjukan lebih efisien dibandingkan dengan bank kecil. Studi dengan menggabungkan metode SFA dan DEA di 12 negara Central Eastern Europe pada 1993 hingga 2000, menyatakan bahwa bank asing berkinerja lebih baik (efisien) dibandingkan dengan bank domestik.

DEA mengukur efisiensi relatif yang mengukur inefisiensi suatu bank dengan membandingkannya dengan bank lain yang paling efisien. Dalam analisa DEA, bank dengan tingkat efisiensi 1 atau 100 persen menunjukkan bank tersebut adalah bank paling efisien pada waktu tertentu. Sedangkan bank yang mempunyai tingkat efisiensi kurang dari 100 persen dapat meningkatkan efisiensi dengan melihat sumber efisiensinya dan melakukan benchmarking pada bank yang efisien.

Studi yang dilakukan di Indonesia menyatakan sebagian besar bank asing mencapai tingkat efisien yang bagus dan lebih unggul kinerjanya dibandingkan dengan bank domestik. Bila mengacu pada teori yang menyebutkan bahwa bank asing yang beroperasi di negara berkembang lebih dominan karena jaringan dan manajemen yang berskala international. Nampaknya teori tersebut sesuai dengan beberapa bank asing yang beroperasi di Indonesia. Namun bank asing mempunyai kelemahan untuk beradaptasi dengan cepat dalam mengatasi isu-isu domestik, hal ini disebabkan karena kurangnya kedekatan dengan para pengambil keputusan bila dibandingkan dengan kelompok bank domesik terutama BUMN.

Kinerja bank merupakan concern bersama baik dari sisi pengelola, masyarakat maupun para pengambil keputusan. Beberapa hasil publikasi kinerja bank ditinjau dari sisi keuangan melalui seperangkat ratio-ratio keuangan namun hanya sedikit sekali tinjaun kinerja efisiensi pada bank umum. Kelompok bank Pemerintah dan Bank Asing lebih bagus kinerja efisiensinya dibadingkan kelompok bank lain. Bank BUMN yang mempunyai jaringan sangat besar dan luas yang notabene dekat dengan para pengambil keputusan membuat bank tersebut berkinerja lebih baik. Di lain pihak Bank Asing yang mempunyai kelebihan jaringan dan management yang berskala internasional membuat bank kelompok ini mempunyai kinerja yang bagus pula.

Abidin and Cabanda (2006). Financial and Production Performances of Domestic and Foreign Banks in Indonesia: Pre and Post Financial Crisis. Manajemen Usahawan Indonesia, No.06.

Abidin and Cabanda (2007). Frontier Approaches to Production Efficiency of Commercial Banks in Indonesia. Manajemen Usahawan Indonesia. No.06

Aigner, DJ, CAK Lovell and P.Schmid (1977). Formulation and estimation of Stochastic Frontier production Function Models. Journal of Economtrics, 6, 21-37.

Barr, Richard, K. Killgo, F. Siems and S. Zimmel (2002). Evaluating the Productive Efficiency and Performance of U.S. Commercial Banks. Managerial Finance vol.28 no.8.

Berger, N. Allen and D.B Humphrey (1992). Measurement and Efficiency issue in Commercial Banking. National bureau of Economic Research, University of Chicago Press

Bos, Jaap W. and Kolari, James (2005). Large Bank Efficiency in Europe and the United States: Are There Economics Motivations for Geographic Expansion in Financial Service. The Journal of Business. July 78:4.

Charnes, A., W.W Cooper and E. Rhodes (1978). Measuring the Efficiency of Decision Making Units. European Journal of Operation Research, vol.2.

Denizer, A. Cevdet and Dinc Mustafa (2000). Measuring Banking Efficiency in the pre and Post Liberalization Environment: Evidence from the Turkish Banking System. George Washington University.

Karim, Mohd Zaini Abd (2001). Comparative Bank Efficiency Across Select ASEAN Countries. ASEAN Economic Bulletin vol.18.

Lee, Jun Yen (2005). Comparing SFA and DEA methods on measuring production efficiency for forest and paper companies. Forest Product Journal 55.

Li, Shanling, S. Liu and G.A Whitmore (2001). Comparative Performance of Chinese Commercial Banks. China: Review of Quantitative Finance and Accounting, January.

Mahadevan, Renuka (2003). To Measure or Not To Measure Total Factor Productivity Growth. Oxford Development Studies, vol.31, no.3.

Oral, M and R.Yolalan (1990). An Emperical Study on Measurement Operating Efficiency and Profitability of Bank Branches. European Journal of Operational Research, 46.

Rezitis, N. Anthony (2006). Productivity Growth in the Greek Banking industry: A Non Parametric Approach. Journal of Applied Economics. May 9:1.

Yildirim, Semih and G.O Philippatos (2003). Efficiency of Bank: Recent Evidence From The Transition Economies of Europe. University of Tennessee.

Yudistira, Donsyah. (2003). Efficiency in Islamic Banking: an Empirical Analysis of 18 Banks. United Kingdom: University Leicestershire.

Artikel Lainnya: