KeSimpulan.com Dokumentasi Berita Sains
(2008-2013)
HOME - ARSIP - PENCARIAN

Sunday, May 10, 2009

Peran Media dan Mencairnya Stereotip Etnis China

(kesimpulan) Pada umumnya kesan terhadap etnis Cina itu lebih bersifat negatif, dianggap asosial, pelit, the economic animal, suka ngakali dan banyak lagi lainnya. Sukses ekonomi kalangan etnis Cina di masa Orde Baru telah melahirkan sejumlah konglomerat. Di masyarakat sendiri perekonomian cenderung didominasi pelaku ekonomi kalangan etnis Cina. Sehingga menimbulkan kesenjangan yang sering dilukiskan secara simplistik sebagai kesenjangan pri-nonpri, di mana golongan masyarakat super kaya umumnya terdiri dari non-pribumi, sedangkan golongan masyarakat yang masih hidup pas-pasan dan terperangkap dalam kemiskinan, didominasi oleh masyarakat pribumi. Orang etnis Cina di samping dituduh tidak nasionalis juga dipandang tidak memikirkan bangsa dan negara, hanya memikirkan suku bangsa dan perutnya sendiri, eksklusif, dan opportunis.

Keberadaan etnis Cina sekarang tidak lagi dipandang sebelah mata, bahkan masyarakat mulai akrab dengan budaya Cina. Apalagi setelah Tahun Baru Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional. Banyak masyarakat yang mencari pernak-pernik Tahun Baru Cina itu, bukan warga keturunan Tionghoa. Atraksi barongsai juga sudah mulai ditampilkan di depan umum kembali. Kejuaraan menyanyi dalam bahasa Mandarin pun mulai sering dilombakan. Bahkan sekarang hampir semua radio swasta mempunyai program acara, yang khusus memutar lagu-lagu berbahasa Mandarin. Di televisi pun ada program acara infotainment yang khusus membahas berita-berita seputar artis Asia. Sekarang hampir semua orang berniat belajar bahasa Mandarin, bukan hanya karena trend sesaat tetapi persaingan di dalam dunia pekerjaan juga sudah mulai memperhitungkan keahlian berbahasa ini.

Stereotip adalah gambaran (citra, persepsi) tentang suatu kelompok sosial dalam kognisi kelompok sosial lainnya. Biasanya bersifat simplisitik namun tetap punya fungsi, yakni membantu seseorang dari satu kelompok untuk mulai bersikap terhadap kelompok lainnya. Stereotip dapat menumbuhkan prasangka yang pada gilirannya melahirkan sikap diskriminatif. Stereotip etnis merupakan konsep relatif yang ditetapkan pada suatu kelompok etnis yang dikenal sejak seseorang masih kecil, melalui interaksi seorang anak diajar untuk mengenal dunia di luar dirinya. Seperti latar belakang keluarga, status orang tua bahkan suku atau ras yang diturunkan padanya. Semenjak itu, anak mulai melakukan stereotyping yang hampir selalu berkaitan dengan asal-usul seperti jenis kelamin, daerah atau negara, atau kelas sosial. Stereotip dapat berupa atribut-atribut yang biasanya melekat pada kelompok tertentu, misalnya logat bicara, penggunaan bahasa, gaya berpakaian dan berdandan, sudut pandang terhadap sesuatu hingga pemakaian benda atau lambang simbolis tertentu.

Peranan stereotip pada individu yang berprasangka sangat besar dalam pergaulan sosialnya, apalagi bila sampai dapat mengubah perilaku (attitude) seseorang terhadap suatu etnis yang dikenai stereotip tersebut. Attitude-attitude tersebut dibentuk sepanjang perkembangannya. Peranan attitude di dalam kehidupan manusia adalah peranan besar, apabila sudah dibentuk maka attitude-attitude akan turut menentukan cara-cara tingkah lakunya terhadap objek-objek attitude-nya dan akan bertindak secara khas terhadap objek-objeknya.

Stereotip adalah suatu keyakinan yang digeneralisir, dibuat mudah, disederhanakan atau dilebih-lebihkan mengenai suatu kategori atau kelompok orang tertentu. Keyakinan tersebut biasanya bersifat kaku dan diwarnai emosi, walaupun tidak jarang stereotip dilontarkan dalam kemasan humor. Sedangkan etnis adalah kelompok yang bisa dibedakan dari kelompok lain berdasarkan ciri-ciri budayanya seperti bahasa, agama, asal-usul kebangsaan. Etnis biasanya diterapkan oleh kelompok minoritas yang terpisah menurut sikap tradisi kultural.

Cognitive theory yang dicetuskan oleh Kretch and Crutchfield yang menekankan andil seperti kategorisasi, penonjolan dan skema yang kesemuanya bersifat sistematik dan biasanya menyertai terjadinya pembentukan kesan. Stereotip dapat dibentuk melalui beberapa tahap:

  1. Proses kategorisasi: orang cenderung untuk mengkategorikan orang lain ke dalam berbagi tipe. Namun sampai taraf tertentu keseluruhan pemikiran tersebut dapat bersifat penyederhanaan yang dilebih-lebihkan. Proses itu dapat mengaburkan perbedaan diantara anggota kelompok lain, karena seringkali hanya didasarkan pada isyarat yang paling jelas dan menonjol.

  2. Stimulus yang menonjol: orang biasanya lebih banyak memperhatikan stimulus yang relevan dan menonjol. Sehingga perbedaan itu cenderung muncul di dalam benak mereka ketika berhadapan dengan anggota kelompok lain terutama bila mereka tampak mencolok di lingkungan. Sehingga stereotyping dan generalisasi bersifat seperti kejadian alamiah.

  3. Proses skema: kecenderungan untuk berpegang teguh pada stereotip yang kaku juga berkait erat dengan tendensi untuk mendikotomikan dan berpikir dalam pola yang kontras secara ekstrem. Tahapan akhir ini menjelaskan bahwa bila stereotip merupakan struktur kognitif yang terdiri dari sekumpulan harapan mengenai kelompok sosial, stereotip itu bisa dianggap sebagai skema. Informasi baru yang tidak konsisten dengan skema cenderung ditolak.

Dalam konteks Komunikasi Antar Budaya, stereotip juga bervariasi dalam beberapa dimensi, (1) dimensi arah: tanggapan bersifat positif atau negatif; (2) dimensi intensitas: seberapa jauh seseorang percaya pada stereotip yang dipercayai; (3) dimensi keakurata: seberapa tepat suatu stereotip dengan kenyataan yang biasa ditemui; (4) dimensi isi: sifat-sifat khusus yang diterapkan pada kelompok tertentu. Gordon Allport menyatakan bahwa pembentukan stereotip yang disederhanakan itu besifat fungsional dalam arti memudahkan pemrosesan pengambilan keputusan. Teori kognitif menegaskan kaitan antara stereotip dan memori seseorang. Maka sewaktu seseorang menjelajah memorinya, ia akhirnya hanya akan menemukan bukti bahwa orang lain memang seperti apa yang ia katakan.

Karena media massa melaporkan dunia secara selektif, sudah tentu media massa mempengaruhi pembentukan citra tentang lingkungan sosial. Bahkan karena adanya distorsi, media massa juga dapat memberikan citra dunia yang keliru. Citra adalah gambaran tentang realitas dan tidak harus selalu sesuai dengan realitas. Citra adalah dunia menurut persepsi kita. Media massa ikut berpengaruh dalam pembentukan citra ini. Sehingga citra mengenai etnis Cina juga mungkin akan berubah.

Constructivism theory milik Jesse Delia mengemukakan bahwa individu menginterpretasikan dan beraksi sesuai dengan kategori konseptual yang ada dalam pikiran mereka. Individu memahami pengalaman dengan mengelompokkan peristiwa-peristiwa yang mempunyai kesamaan dan membedakannya diantara hal-hal yang berbeda. Budaya dapat mempengaruhi komunikasi bertujuan yang sedang dirumuskan. Individu dengan skema pembentukan penafsiran yang tinggi, lebih diskriminatif daripada mereka yang memandang dunia secara simplistik. Meskipun pembentukan perilaku melalui pengalaman masa kecil, remaja bahkan ketika dewasa, terjadi perbedaan yang luas dalam tataran kognitif mereka yang kompleks.

Theory of cognitive dissonance yang dikemukakan Leon Festinger, pada umunya orang berperilaku konsisten dengan apa yang diketahuinya. Tetapi kenyataaan menunjukkan bahwa sering pula seseorang berperilaku tidak konsisten. Keterpautan perilaku dengan pengetahuan mengenai situasinya itu dinamakan disonansi. Jika seseorang mempunyai informasi atau opini yang tidak menuju ke arah menjadi perilaku, maka informasi atau opini itu akan menimbulkan disonansi dengan perilaku. Apabila disonansi tersebut terjadi, maka orang akan berupaya menguranginya dengan jalan mengubah perilakunya atau opininya.

Cultural norms theory oleh Melvin De Fleur pada hakikatnya bahwa media massa melalui penyajiannya yang selektif dan penekanannya pada tema-tema tertentu, menciptakan kesan-kesan di mana norma-norma budaya umum mengenai topik yang diberi bobot itu, dibentuk dengan cara-cara tertentu. Oleh karena itu perilaku individual biasanya dipandu oleh norma-norma budaya mengenai suatu hal tertentu maka media komunikasi secara tidak langsung akan mempengaruhi perilaku. Terdapat tiga cara dimana media secara potensial mempengaruhi situasi dan norma-norma bagi individu:

  1. Pesan komunikasi massa akan memperkuat pola-pola yang sedang berlaku dan memandu khalayak untuk percaya bahwa suatu bentuk sosial tertentu tengah dibina oleh masyarakat.

  2. Media komunikasi dapat menciptakan keyakinan baru mengenai hal-hal dimana khalayak sedikit banyak telah memiliki pengalaman sebelumnya.

  3. Komunikasi massa dapat mengubah norma-norma yang tengah berlaku dan karenanya mengubah khalayak dari suatu bentuk perilaku menjadi bentuk perilaku yang lain.

Pustaka

Alo, Liliweri. 1991. Memaham Peran Komunikasi Massa Dalam Masyarakat. Bandung : Pt Citra Aditya Bakti

Andreas, Pardede dkk. 2002. Antara Prasangka dan Realita, Telaah Kritis Wacana Anti Cina di Indonesia. Jakarta: Pustaka Inspirasi.

Arini, Hidayat. 1998. Televisi dan Perkembangan Sosial Anak. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Berger, Charles R. and Stephen H. Chafee (ed). 1989. Handbook of Communication Science. California: Sage Publication.

Blalock, Jr, Hubert M. 1982. Race and Ethnic Relations. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.

Gerungan. 1988. Psikologi Sosial. Bandung: PT Eresco.

Griffin, Em. 2000. A First Look at Communication Theory. Washington: Wadsworth Publishing Company.

Infante, Dominic A. 1990. Building Communication Theory. Illinois: Waveland Press.

Jalaluddin, Rakhmat dan Deddy Mulyana. 1996. Komunikasi Antar Budaya. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Jalaluddin, Rakhmat. 2001. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Littlejohn, Stephen W. 1999. Theories of Human Communication. Washington: Wadsworth Publishing Company.

Onong, Uchjana Effendy. 1993. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung: PT Citra Aditya Bakti.

Samovar, Larry A. Richard E. Porter, Nemi C. Jain.1985. Understanding Intercultural Communication. Washington: Wadsworth Publishing Company.

Sears, David O. 1999. Psikologi Sosial. Jakarta: Erlangga.

Artikel Lainnya: