Dokumentasi Berita Sains (2008-2013)
HOME - ARSIP - PENCARIAN

Stress Pekerjaan

(kesimpulan) Stress dapat didefinisikan sebagai suatu situasi di mana pengaruh interaksi seseorang yang menyebabkan adanya perubahan psikologis dan/atau kondisi fisiologis, sehingga orang tersebut dipaksa melakukan penyimbangan dari fungsi normal. Sebagian besar peneliti setuju sebagai perspektif interaksional, di mana stress dianggap sebagai produk dari hubungan antara seseorang dan lingkungan. Variabel individu di dalamnya termasuk aspek kepribadian dan metode coping, sedangkan variabel lingkungan digambarkan berbagai potensi stressor.

Banyak bukti di lingkungan akademik bahwa tingkat stres yang berlebihan memiliki dampak negatif pada siswa, dengan ketidakmampuan untuk melakukan kegiatan sekolah dan takut akan kegagalan akademik. Bahkan, sebanyak 50 persen mahasiswa di Amerika Serikat dilaporkan gagal menyelesaikan kuliah sesuai dengan waktu yang ditentukan. Manifestasi lainnya dari stres di kalangan pelajar termasuk penggunaan alkohol, penyalahgunaan narkoba, bunuh diri dan kehamilan prematur. Sehubungan dengan bunuh diri, statistik menunjukkan bahwa sekitar 50.000 anak-anak muda berusia antara 15-24 tahun mencoba bunuh diri setiap tahunnya dan lebih dari 5.000 berhasil melakukan bunuh diri.

Tingkat stres yang berlebihan di tempat kerja juga berakibat parah di bidang ekonomi, biaya pengeluaran yang harus ditanggung akibat dari stress pekerjaan total melebihi $150 miliar per tahun di Amerika Serikat. Bahkan, stress menimbulkan klaim pekerjaan meningkat 700 persen setiap lima tahun dengan biaya satu klaim diperkirakan antara $10.000 sampai $15.000. National Institute for Occupational Safety and Health, Amerika Serikat (NIOSH) melaporkan tingkat stres sebagai salah satu dari sepuluh pekerjaan yang berhubungan dengan penyakit.

Tidak mengherankan, banyak penelitian dikhususkan untuk topik manajemen stress dalam pekerjaan. Secara umum, sebagian besar untuk metode coping stressors dijadikan sebagai cara untuk mengurangi tingkat stress dengan klasifikasi sekunder (stress management) atau tersier (program bantuan karyawan). Metode pengurangan stressor yaitu termasuk perubahan dalam desain organisasi, struktur, meningkatkan komunikasi, meningkatkan partisipasi dan pemberdayaan karyawan. Manajemen stress mencakup metode meditasi dan relaksasi mendalam, latihan, nutrisi dan teknik pencegahan stres yang lebih baik. Program-program bantuan layanan konseling karyawan tentang teknik untuk stress coping yang bersifat kuratif. Metode untuk menangani stressor akademis termasuk tentang kemajuan siswa dalam kesulitan yang dihadapi, peningkatan layanan kesehatan mental, mengorganisir rekan konseling dan swadaya kelompok, meningkatkan orientasi pada siswa baru, lebih fleksibel, perluasan peran pendampingan fakultas.

PENYEBAB STRESS

Ada tiga variabel laten yang dianggap penyebab dari stress, yaitu perilaku tipe A, locus of kontrol (LOC) dan coping

Tipe A

Tipe A dicirikan oleh perilaku kronis tentang penggunaan waktu yang berlebihan dan kompetitif. Suatu jenis kebiasaan tingkah laku yang jelas memiliki hubungan dengan tekanan dengan akibat-akibatnya. Individu dengan Tipe A meremehkan kualitas dalam menyelesaikan tugas-tugas (karena tekanan waktu). Mereka bekerja dengan cepat dan menunjukkan ketidaksabaran. Kinerja akan menurun jika dipaksa untuk bekerja lambat. Mereka bekerja keras dan menikmati pengalaman arousal fisiologis ketika tugas dianggap menantang, menyatakan permusuhan dan sensitif dalam menanggapi ancaman, serta berusaha mengendalikan lingkungan untuk memenangkan kompetisi.

Locus of control (Tempat kontrol)

Locus of control (LOC) digambarkan sebagai sebuah kontinum atas jalan hidup ditentukan oleh diri sendiri (orientasi internal) atau ditentukan oleh anggapan karena memang sudah menjadi nasib (orientasi eksternal). Orang yang percaya bahwa nasib ditentukan oleh dirinya sendiri menempatkannya pada faktor internal, dan orang-orang yang percaya bahwa kehidupan mereka akan bergantung pada keberuntungan, kesempatan, atau nasib akan jatuh pada tempat eksternal. Orang dengan locus control internal dilaporkan lebih berakibat dengan konflik peran, keluhan somatik, frustrasi-agresi, dan withdrawal jika dibandingkan dengan eksternal.

Metode Coping

Coping merujuk kepada tingkah laku sebagai upaya dalam mengatasi dampak psikologis yang mengalami stress sebagai pengalaman yang merugikan. Model ini menunjukkan bahwa ada kemungkinan pada setiap individu dalam mengadopsi cara untuk mengatasi situasi. Coping alternatif selalu tersedia untuk setiap orang untuk mempengaruhi persepsi tentang stress di kemudian hari. Seseorang mengembangkan coping stress secara aktif, artinya melakukan variasi-rariasi pengembangan dan selalu mengadopsi cara-cara alternatif. Di lain pihak ada juga kecenderungan bagi individu lain yang relatif konsisten hanya satu cara tertentu dalam mengadopsi strategi coping.

Dukungan dari jaringan sosial, sangat membantu untuk bertindak sebagai penyangga terhadap stres dan pengembangan coping secara lebih tepat. Ada enam hal yang mempengaruhi metode individu dalam mengadopsi coping untuk mengatasi stres:

  1. Dukungan sosial (tingkat ketergantungan individu pada orang lain sebagai alat coping dengan stres);

  2. Strategi (tingkat upaya individu mengembangkan strategi yang diarahkan pada pengulangan pekerjaan seperti perencanaan ke depan, menetapkan prioritas dan delegating);

  3. Logika (upaya rasional dan menangani situasi yang objektif);

  4. Hubungan pekerjaan dan rumah (rumah dapat dilihat sebagai tempat perlindungan atas permasalahan-permasalahan yang diperoleh di pekerjaan);

  5. Waktu (penggunaan waktu, misalnya mengatasi masalah dengan segera atau ditunda);

  6. Keterlibatan (derajat individu untuk memaksa diri sendiri dalam mencapai kompromi dengan realita, melalui strategi seperti mengakui keterbatasan diri untuk dapat melepaskan ketegangan, dan berkonsentrasi pada masalah spesifik).

STRESSOR

Ada berbagai faktor lingkungan, di tempat kerja dan pekerjaan/non-kerja yang terkait dengan potensi penyebab stress dalam pekerjaan. Ada enam potensi sumber yang menimbulkan stress pada umumnya yaitu:

  1. Faktor intrinsik ke pekerjaan, misalnya memiliki terlalu banyak pekerjaan yang harus dilakukan, dan harus bekerja dalam waktu lama;

  2. Kurangnya kuasa dan pengaruh, ketidakjelasan, konflik tuntutan tugas dan peran;

  3. Hubungan dengan orang lain, seperti coping di bidang politis, harus mengawasi orang lain, kurangnya dukungan dari kolega dan kurangnya dukungan dari atasan;

  4. Tingkat penghargaan yang diberikan orang lain, dan apakah puas dengan kesempatan untuk kemajuan di tempat kerja;

  5. Iklim atau struktur dari suatu organisasi, dalam hal kurangnya bimbingan dari atasan, kualitas dan pengembangan program-program pelatihan dan bukti sikap pilih kasih atau diskriminasi;

  6. Saling membaur antara masalah pekerjaan dengan masalah rumah.

DAMPAK STRESS

Sebagian besar peneliti yang mempelajari proses stress biasanya menganggap konsekuensi yang terkait dengan pengalaman stres peristiwa yang terkait fisiologis, psikologis dan perilaku.

  1. Sakit. Ukuran sakit pada dasarnya adalah sebuah sindrom kesehatan fisik dan mental. Sintom fisiologis seperti sakit kepala, gangguan pencernaan, sesak nafas, peningkatan tekanan darah dan perasaan kelelahan. Sintom psikologis termasuk ketidakmampuan untuk berpikir jernih, rasa gelisah dan perasaan yang lekas marah. Gejala perilaku termasuk perubahan dalam makan, minum, tidur, dan pola merokok.

  2. Kepuasan kerja. Lima aspek kepuasan pekerjaan yaitu: 1) Sejauhmana penilaian dan peluang bagi berkembangnya tingkat kepuasan kerja; 2) Aspek dari pekerjaan itu sendiri (misalnya keamanan); 3) Desain dan struktur organisasi; 4) Proses organisasi (misalnya pengawasan); 5) Hubungan dengan orang lain (misalnya rekan-rekan, atasan, bawahannya).

PUSTAKA

Anderson, C.R., Hellriegel, D. and Slocum, J.W. (1977), “Managerial response to environmental induced stress”, Academy of Management Journal, Vol. 6, pp. 260-72.

Beehr, T.A. and Newman, J.E. (1978), “Job stress, employee health, and organizational effectiveness: a facet analysis, model and literature review”, Personnel Psychology, Vol. 31, pp. 665-99.

Caplan, R.D., Cobb, S., French, J.R.P., Van Harrison, R. and Pinneau, S.R. (1975), Job Demands and Worker Health, Health Education Welfare, Washington, DC, pp. 75-160.

Cohen, S. and Edwards, J.R. (1988), “Personality characteristics as moderators of the relationship between stress and disorder”, in Neufeld, R.J. (Ed.), Advances in the Investigation of Psychological Stress, Wiley, New York, NY.

Cooper, C.L. (1986), “Job distress: recent research and the emerging role of the clinical occupational psychologist”, Bulletin of the British Psychological Society, Vol. 39, pp. 325-31.

Cooper, C.L. and Payne, R. (1978), Stress at Work, John Wiley, London.

Cooper, C.L., Cooper, R.D. and Eaker, L.H. (1988), Living with Stress, Penguin Books, Middlesex.

Cummings, R.C. (1990), “Job stress and the buffering effect of supervisory support”, Group and Organization Studies, March, pp. 92-104.

Dolan, C.A. and White, J.W. (1988), “Issues of consistency and effectiveness in coping with daily stressors”, Journal of Research in Personality, Vol. 22, pp. 395-407.

Fleishman, J.A. (1984), “Personality characteristics and coping patterns”, Journal of Health and Social Behavior, Vol. 25, pp. 229-44.

Frew, D.R. and Bruning, N.S. (1987), “Perceived organizational characteristics and personality measures as predictors of stress/strain in the work place”, Journal of Management, Vol. 13, pp. 633-46.

Friedman, M. and Rosenman, R.H. (1974), Type A Behavior and Your Heart, Times Books, New York, NY.

Froggatt, K.L. and Cotton, J.L. (1987), “The impact of type A behavior pattern on role overload – induced stress and performance attributions”, Journal of Management, Vol. 13, pp. 87-90.

Fusilier, M.R., Ganster, D.C. and Mayes, B.T. (1987), “Effects of social support, role stress, and locus of control on health”, Journal of Management, Vol. 13, pp. 87-98.

Ganster, D.C., Sime, W.E. and Mayes, B.T. (1989), “Type A behavior in the work setting: a review and some new data”, in Siegman, A.W. and Dembroski, T.M. (Eds), In Search of Coronary-prone Behavior: Beyond Type A, Erlbaum, Hillsdale, NJ.

Gemmill, G.R. and Heisler, W.J. (1972), “Fatalism as a factor in managerial job satisfaction, job strain, and mobility”, Personnel Psychology, Summer, pp. 241-50.

Greenhaus, J.H. and Parasuraman, S. (1987), “A work – nonwork interactive perspective of stress and its consequences”, in Ivancevich, M. and Ganster, D.C. (Eds), Job Stress: From Theory to Suggestion, The Howarth Press, New York, NY.

Hockey, R. (1979), “Stress and the cognitive components of skilled performance”, in Hamilton, V. and Warbutin, E.M. (Eds), Human Stress and Cognition, John Wiley & Sons, New York, NY.

House, J.J. (1981), Work Stress and Social Support, Addison-Wesley, Reading, MA.

Jackson, S.E. and Schuler, R. (1985), “A meta-analysis and conceptual critique of research on role ambiguity and role conflict in work settings”, Organizational Behavior and Human Decision Processes, Vol. 36, pp. 16-78.

Jayaratne, S., Himle, D. and Chess, W.A. (1988), “Dealing with work stress and strain: is the perception of support more important than its use?”, Journal of Applied Behavioral Science, Vol. 24, pp. 191-202.

Lazarus, R.S. (1991), “Psychological stress in the workplace”, Journal of Social Behavior and Personality, Vol. 6, pp. 1-13.

Marino, K.E. and White, S.E. (1985), “Departmental structure, locus of control and job stress: the effect of a moderator”, Journal of Applied Psychology, Vol. 70, pp. 782-4.

Minter, S.G. (1991), “Relieving workplace stress”, Occupational Hazards, April, pp. 39-42.

Murphy, L.R. (1988), “Workplace interventions for stress reduction and prevention”, in Cooper, C.L. and Payne, R. (Eds), Causes, Coping and Consequences of Stress at Work, John Wiley, Chichester.

Pearlin, L.I. and Schooler, C. (1978), “The structure of coping”, Journal of Health and Social Behavior, Vol. 19, pp. 2-21.

Robbins, S.P. (1993), “Organizational Behavior: Concepts, Controversies, and Applications”, Prentice-Hall, Englewood Cliffs, NJ.

Shipman, C. (1987), “Student stress and suicide”, The Practitioner: A Newsletter for the On-line Administrator, Vol. 14, pp. 1-12.

Storms, P.L. and Spector, P.E. (1987), “Relationships of organizational frustration with reported behavioral reactions: the moderating effect of locus of control”, Journal of Occupational Psychology, Vol. 60, pp. 227-34.

Van Sell, M., Brief, A.P. and Schuler, R.S. (1981), “Role conflict and role ambiguity: integration of the literature and directions for future research”, Human Relations, Vol. 34, pp. 43-71.

Williams, R. (1989), The Trusting Heart: Great News about Type A Behavior, Times Books, New York, NY.

Zylanski, S.J. and Jenkins, C.D. (1970), “Basic dimesions within the coronary-prone behavior pattern”, Journal of Chronic Diseases, Vol. 22, pp. 781-95.

Artikel Lainnya: