KeSimpulan.com Dokumentasi Berita Sains
(2008-2013)
HOME - ARSIP - PENCARIAN

Jumat, 12 Juni 2009

Batik Indonesia Masuk Nominasi Daftar Representatif Warisan Budaya Tak Benda UNESCO

(kesimpulan) Walaupun Malaysia telah mematenkan batik, keberadaan batik Indonesia tetap tak terhalangi masuk nominasi daftar representatif warisan budaya tak benda UNESCO (Representative List of Intangible Cultural Heritage-UNESCO).

Upaya Indonesia untuk memasukkan batik ke dalam daftar representatif nominasi warisan budaya tak benda UNESCO terus mendapat sambutan. Sebagai bagian dari proses nominasi tersebut dengan melakukan kegiatan sosialisasi dan promosi baik di dalam maupun luar negeri. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mengatakan rangkaian proses nominasi batik Indonesia telah dipersiapkan secara matang dengan melibatkan berbagai pihak terkait dan telah disampaikan pada September 2008. Seluruh berkas dinyatakan lengkap oleh Sekretariat UNESCO pada 9 Januari 2009.

Ada enam negara anggota subsidiary body yang menilai usulan nominasi karya budaya dunia yang diajukan kepada UNESCO, yaitu Uni Emirat Arab, Korea Selatan, Kenya, Turki, Meksiko, dan Estonia. Sidang tertutup telah digelar pada 11-15 Mei 2009 di Paris, Perancis. Draf keputusan dari hasil sidang ini akan dibahas pada sidang ke-4 Intergovernmental Committee (IGC)-UNESCO di Abu Dhabi, pada 28 September hingga 2 Oktober 2009. Sidang tersebut akan mengukuhkan nominasi yang disetujui UNESCO.

Pakar dan pemerhati budaya, sekaligus narasumber/konsultan proses nominasi batik Indonesia ke UNESCO, Gaura Mancacaritadipura mengatakan bahwa berkas nominasi dilengkapi dengan dokumentasi tertulis, foto, dan video oleh tim peneliti yang diketuai Imam Sucipto Umar dari Yayasan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia. Sepanjang tahun 2008 telah dilakukan penelitian besar-besaran, di antaranya dengan komunitas dan ahli batik di 19 provinsi di Indonesia.

Direktur Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Tjetjep Suparman mengatakan bahwa sebagai bagian dari nominasi tersebut, pada 22 Agustus 2008 dibentuk Forum Komunitas Batik yang berperan untuk memfasilitasi komunikasi dan kerja sama di antara spektrum komunitas batik yang luas, baik pemerintah maupun dari swasta. Satu usaha dalam rangka melindungi, menghidupkan, dan mengembangkan lagi budaya batik untuk masa kini dan mendatang secara berkesinambungan.

Pengakuan UNESCO terhadap kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia tentu saja akan membawa efek positif yang menguntungkan. Hal ini terlihat dari efek baik yang diperoleh pasca pengakuan UNESCO pada dua mata budaya Indonesia yaitu wayang pada tahun 2003 dan keris pada tahun 2005.

Berkaitan dengan perjuangan batik untuk dinominasikan ke UNESCO tersebut, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Rachmat Gobel di Bantul, Yogyakarta, mengatakan bahwa warisan budaya memang harus menjadi perhatian pemerintah. Untuk itu, Kadin Indonesia akan merintis perhatian secara khusus terhadap batik, karena Malaysia diam-diam bisa mengambil semua karya kreatif di negara-negara Asia, termasuk Indonesia, dengan kekuatan slogan ”Truly Asia”. Antisipasi tersebut dilakukan karena Malaysia telah mematenkan batik secara resmi. Kadin Indonesia menjajaki pembuatan roadmap industri berbasis warisan budaya. Padahal secara empiris dan faktual, batik telah terbukti menjadi salah satu warisan budaya asli bangsa Indonesia yang adiluhung.

Ketua Institut Museum Batik Mohammad Basyir Ahmad mengatakan, Museum Batik di Pekalongan, Jawa Tengah, selama tiga tahun terakhir aktif memperkenalkan modul pendidikan dan pelatihan batik dalam kurikulum tingkat taman kanak-kanak hingga politeknik. Program pelatihan serupa telah dimulai di Jakarta, Semarang, Yogyakarta, dan Surakarta. Kegiatan tersebut telah menarik perhatian UNESCO dan program pendidikan serta pelatihan itu dinominasikan sebagai Best Practices, sebagai daftar lain di bawah Konvensi UNESCO pada 2003 (Sumber: Kompas, Batik Indonesia: Nominasi Warisan Budaya UNESCO, Jumat 12 Juni 2009).





Artikel Lainnya:

Jurnal Sains