Dokumentasi Berita Sains (2008-2013)

Gunung Api Di Bawah Laut

(kesimpulan) Gunung berapi di Indonesia yang berjajar dari barat ke timur terbentuk akibat subduksi lempeng samudra terhadap lempeng benua. Gunung berapi muncul di darat dan laut. Gunung-gunung api di bawah laut ditemukan di utara Sulawesi dan Maluku, perairan timur Pulau Timor hingga Laut Banda.

Penemuan gunung api bawah laut di selatan wilayah perairan Indonesia pernah terjadi tahun 1998 ketika penelitian geologi dan geofisika kelautan di bawah koordinasi BPPT dan Jerman dengan kapal riset milik Pemerintah Jerman, Sonne menemukan struktur yang diduga bakal gunung api bawah laut yang baru. Lokasinya dekat Gunung Krakatau di Selat Sunda.

Penelitian pada tahun 1997 juga mendeteksi kandungan, gas metan atau gas alam yang potensial di perairan selatan Jawa Barat dan Bengkulu. Dari survei di daerah busur depan di dua lokasi tersebut, sumber gas alam diketahui berada sekitar 500 meter di bawah dasar laut. Pemetaan struktur geologi bawah laut dari perairan di selatan Cilacap, Selat Sunda, hingga ke selatan Bengkulu tersebut untuk menyusun peta zonasi bahaya aktivitas tektonik. Di wilayah itu, juga teridentifikasi terusan dari zona patahan Sumatera yang membelok di Selat Sunda, lalu terus ke selatan. Diketahui pula zona patahan Mentawai temuan peneliti Indonesia dan Perancis.

Sementara itu, penelitian yang dilakukan berbagai ekspedisi di antaranya oleh LIPI telah menemukan gunung api yang aktif di bawah laut. Aktivitas vulkanik antara lain ditunjukkan oleh asap hitam dan gelembung. Hal ini ditemukan di barat Morotai, Maluku Utara. Pegunungan itu ditemukan berjajar dari utara Manado dan Sangir selain di Busur Banda yang membentang dari Laut Banda hingga Selat Alor di tenggara Indonesia. Penelitian gunung api di utara Manado hingga ke Sangihe dilakukan pada Mei 2009 dengan Kapal Baruna Jaya IV. Ekspedisi ini merupakan penelitian awal untuk penelitian lebih lanjut dengan kapal Okeanor milik NOAA pada 2010.

Temuan gunung api bawah laut tidak hanya oleh peneliti dengan sarana lengkap, tetapi juga dapat dilihat oleh penduduk pesisir karena lokasinya relatif mudah dijangkau. Banyak penduduk di Kepulauan Mahengtang pada awal Mei 2009, menemukan gelembung-gelembung yang keluar dari celah tumpukan batu di titik kawah Banua Wuhu yang letaknya 300 meter dari bibir Pulau Mahengetang di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara.

Gelembung gas itu keluar berbentuk buih-buih kecil yang berbaris-baris tanpa henti. Pada lokasi tempat gelembung keluar tidak ada terumbu karang yang tumbuh walau penetrasi cahaya matahari bisa dibilang sangat cukup. Mungkin karena suhu air di lokasi tersebut cukup hangat, yaitu sekitar 37-38 derajat celsius. Bahkan, pada titik di Banua Wuhu terdapat sejumlah lubang yang mengeluarkan air yang panasnya, menurut penduduk setempat, sanggup untuk mematangkan sebutir telur.

Akan tetapi, di wilayah sekitar titik gelembung keluar, koloni terumbu karang cukup rapat. Pemandangan lembah dan perbukitan terbentuk dari formasi batu-batu dengan berbagai bentuk, mulai dari yang kecil hingga raksasa. Pemandangannya menjadi amat fantastis.

Banua Wuhu yang berjarak 45 kilometer dari Gunung Awu di Pulau Sagihe Besar mempunyai ketinggian sekitar 400 meter dari dasar laut. Puncak tempat gelembung keluar berada pada kedalaman delapan meter, tetapi pada saat air surut hanya sekitar 4 meter. Sejarah mencatat terbentuknya puncak sementara (ephemeral islands) yang muncul lalu menghilang.

Pada tahun 1835 muncul bukit setinggi 90 meter di atas permukaan laut yang kemudian runtuh menjadi bebatuan pada tahun 1848. Tahun 1889 tumbuh kembali dan pada 1894 mencapai tinggi 50 meter. Pulau hilang timbul ini kemudian muncul lagi pada 1919, lalu menghilang pada 1935. Mungkin dari situlah awal nama Banua Wuhu yang artinya dalam bahasa setempat adalah banua (pulau/dunia) wuhu (baru).

Sementara sejarah letusan yang paling awal tercatat terjadi 23-26 April 1835. Lalu, selanjutnya pada tahun 1889, 1895, 1904, 1918, dan 1919. Letusan yang cukup hebat terjadi pada tahun 1989 dan 1919. Pada Juli 1989, letusan menghasilkan batu apung yang tersebar di permukaan laut sejauh mata memandang. Sebulan kemudian terdengar suara hebat disertai bau belerang yang kuat dan banyak ikan yang mabuk dan mati. Pada April 1919, letusan eksplosif dan lava disertai laut pasang mengiringi ledakan hebat yang merusak pohon kelapa dan membakar rumah penduduk di pantai timur.

Pulau Mahengetang dapat dikatakan bagian dari Banua Wuhu. Ini terlihat dari jenis tanah yang berpasir, berdebu, dan kecoklatan pada pulau yang luasnya kira-kira satu kilometer persegi. (Sumber: Kompas, Senin 1 Juni 2009)


Artikel Lainnya: