KeSimpulan.com Dokumentasi Berita Sains
(2008-2013)
HOME - ARSIP - PENCARIAN

Selasa, 30 Juni 2009

Keanekaragaman Hayati Bambu Endemik Indonesia Terancam Punah Pada 2019

(kesimpulan) Sebanyak 30-40 persen dari 88 jenis bambu endemik Indonesia terancam mengalami kepunahan. Ada tiga penyebab utama kepunahan bambu di Indonesia yaitu:

  1. Alih tata guna lahan
  2. Pengambilan secara berlebihan
  3. Penyelundupan ke luar negeri.

Pakar bambu dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Penelitian Indonesia (LIPI), Elizabeth Widjaja, dalam Seminar Nasional "Bamboo for Modern Life" di Saung Angklung Udjo, Bandung, Jawa Barat, mengatakan bahwa saat ini di Indonesia tumbuh sekitar 159 jenis bambu dan sebanyak 88 jenis di antaranya endemis, jika dibiarkan, kepunahan kemungkinan besar akan terjadi pada tahun 2019-2025. Pengaruh terbesar ancaman kepunahan bambu disebabkan alih guna lahan di habitatnya yang dialihfungsikan menjadi lahan pertanian dan perkebunan.

Bambu Buluh Regen di Sumatera Utara dan bambu Kuring di Jambi, keduanya sering digunakan masyarakat sebagai bahan bangunan. Dendrochalamus Buar yang banyak terdapat di Siberut, Sumatera Barat; Fimbribambusa di Makassar, Sulawesi Selatan; dan Dendrochalamus Hait di Lampung. Bambu-bambu tersebut sering digunakan sebagai bahan bangunan dan kerajinan tradisional. Ancaman kepunahan akibat pengambilan bambu tanpa penanaman kembali menjadi penyebab lain.

Di Jawa, keberadaan bambu Eul-eul yang banyak digunakan sebagai bahan bangunan dan pengobatan. Bambu ini semula banyak ditemui di Kota Bandung, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat. Namun, akibat ditebang sembarangan, bambu Eul-eul semakin sulit, ditemui. Bambu Fimbribambusa di Meru Betiri, Jawa Timur, dan Schizotachyum di Kalimantan Barat. Keduanya banyak diambil sebagai bahan kerajinan dan bahan bangunan.

Selain alih fungsi (guna) lahan yang menyebabkan bambu semakin berkurang dengan cepat adalah maraknya penyelundupan ke luar negeri. Ada modus sindikasi penyelundupan bambu ke luar negeri dari Yogyakarta ke Amerika Serikat. Di negara tersebut bambu dikembangbiakkan dan dijual 1.000 dollar AS per batang.

Kondisi tersebut sangat memprihatinkan, karena belum banyak kelebihan bambu endemik tersebut yang masih belum diketahui masyarakat. Selama ini bambu hanya digunakan sebagai bahan bangunan yang dipandang tidak memiliki nilai ekonomis tinggi.
Padahal jika diolah dengan alat tertentu secara benar, bambu bisa dijadikan sebagai bahan pakaian, papan bambu, atau bambu lapis.

Pemerintah diharapkan memerhatikan hal tersebut karena bila terus dibiarkan, keanekaragaman hayati bambu di Indonesia akan semakin berkurang. Pemerintah dianggap belum tertarik melindungi bambu sebagai kekayaan alam, hal itu akan menjadi pukulan besar bagi upaya perlindungan kekayaan alam yang dimiliki indonesia Indonesia. Hingga kini belum melihat ada usaha serius oleh pemerintah, terlihat dari minusnya dana penelitian pengembangan dan inovasi di bidang bambu.

Bambu yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia berpotensi untuk dikembangkan baik sebagai tanaman hias maupun bahan baku produk. Kepala Laboratorium Teknik Struktur Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Morisco, mengatakan bahwa kegunaan bambu Indonesia belum dimanfaatkan maksimal. Arsitektur dan konstruksi bambu masih dianggap kuno meski kekuatannya tidak kalah jika dibandingkan dengan baja. Akibatnya, perlindungan terhadap jenis bambu diabaikan. Padahal, bila dilakukan rekayasa dengan benar, bambu bisa menjadi andalan berbagai bahan bangunan pengganti kayu yang semakin sulit didapatkan.

Kompas, ”Bambu Endemik Kini Terancam Punah”, Senin 29 Juni 2009.
Koran Tempo, ”Bambu Indonesia Terancam Punah”, Senin 29 Juni 2009.



Artikel Lainnya:

Jurnal Sains