Dokumentasi Berita Sains (2008-2013)

Memodifikasi Pementasan Wayang Agar Tetap Digemari dan Lestari

(kesimpulan) Wayang kulit selama ini identik dengan generasi lama atau orang tua, kuno, serta Jawa karena bahasa pengantarnya bahasa Jawa yang tidak populer lagi di kalangan generasi muda. Untuk menarik minat generasi muda, wayang kulit sebagai kesenian tradisional sebaiknya dipertunjukkan dengan sentuhan kreatif. Wayang yang telah didaftarkan sebagai warisan budaya tak benda ke UNESCO pada tahun 2005 sebagai bagian dari mata budaya Indonesia. Dengan berbagai bentuk kreativitas dalam penyajian, wayang kulit diharapkan untuk tetap bertahan di tengah gerusan arus globalisasi.

Dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Eddy Pursubaryanto mengatakan bahwa kesenian tradisi harus selalu mengikuti perubahan dan tuntutan zaman agar dapat terus hidup dan bertahan. Ditonton tidaknya sangat tergantung cara membawakannya. Jika tidak dapat berubah, maka sebuah kesenian akan mati.

Modifikasi yang membuat pertunjukan wayang kulit berbeda dari biasanya dapat menjadi daya tarik tersendiri. Unsur kekinian perlu dimasukkan sebagai bagian dari pertunjukan meskipun tidak mengubah substansinya. Modifikasi wayang kulit agar dapat selalu mengikuti perkembangan jaman meliputi: Musik, kosa kata, bahasa, maupun gaya humor yang terbaru.

Wayang kulit dapat menjadi tontonan yang segar jika dikemas secara menarik. Pertunjukan wayang kulit tidak harus dengan bahasa Jawa dan semalaman suntuk, tetapi bisa disajikan dengan cara lain agar tidak bikin ngantuk. Banyaknya tontonan seperti sinetron maupun film layar lebar bukanlah menjadi penghalang bagi wayang kulit untuk tetap dilestarikan. Apalagi, pesan yang disampaikan lakon wayang kulit lebih mendidik dibandingkan sinetron.

Untuk menarik minat generasi muda terhadap wayang kulit, Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (DKPPO) Kabupaten Blora menggagas konsep wayang kontemporer remaja, serta membina dalang cilik dan remaja. DKPPO bekerja sama dengan Paguyuban Dalang Indonesia (Pepadi) Blora rutin menggelar program wayang kulit masuk sekolah. Kepala DKPPO Blora Pudiyatmo mengatakan telah menjalin kerja sama dengan Jurusan Pedalangan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta untuk mengemas wayang kontemporer yang diminati semua kalangan.

Pemerintah Kabupaten Temanggung juga akan merintis program "Wayang Masuk Sekolah". Kegiatan ini dilaksanakan dengan mementaskan wayang selama satu jam di sekolah. Di Kabupaten Magelang, pemerintah kabupaten akan menggelar roadshow pementasan wayang kulit ke kecamatan-kecamatan mulai tahun 2010. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Magelang Wibowo Setyo Utomo mengatakan bahwa sasaran utama kegiatan tersebut adalah kelompok generasi muda dan anak-anak yang saat ini semakin jarang melihat pementasan wayang kulit.

Dukungan pelestarian wayang bisa datang dari siapa saja, terutama yang paling dibutuhkan dari kalangan intelektual. Pada tanggal 12 Juni 2009, Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang, mengelar pementasan wayang dengan lima bahasa yaitu bahasa Jawa, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Mandarin, dan bahasa Belanda. Pagelaran wayang yang berjudul ”The Downfall of Rahwana” dipentaskan di Ruang Theater, Gedung Thomas Aquinas tersebut dalam rangka memperingati Dies Natalis Ke-11 Fakultas Sastra Unika Soegijapranata

“Rahwana! You can have your ambitions, but don’t let your ambitions control you. I am only a white monkey, butt will keep an eye on you....”, kata Hanoman kepada Rahwana, yang dimainkan empat dalang dan didukung sejumlah dubber (pengisi suara). Dalam pertunjukan tersebut juga adegan percakapan antara Togog dan Bilung, lelucon segar yang dibawakan dalang perempuan, Ruschka Trisnadi (21), mahasiswa Unika Soegijapranata ysng juga melibatkan mahasiswa dari Akademi Bahasa (Akaba) 17 Agustus 1945. Penampilan mereka mendapat apresiasi penonton.

Dibutuhkan inovasi tertentu agar menjadi daya tarik tersendiri, pergelaran bertujuan untuk menumbuhkan apresiasi terhadap kesenian lokal meskipun dengan menggunakan media bahasa asing. Kreasi diharapkan dapat menginspirasi generasi muda lainnya untuk melestarikan kesenian lokal. Penampilan wayang kulit lima bahasa tersebut merupakan sebuah respons dari kalangan intelektual dalam upaya mempertahankan budaya tradisional.

DINAMIKA PERKEMBANGAN WAYANG KULIT

Wayang sebagai hasil karya seni warisan nenek moyang telah mengalami perubahan dan penyempurnaan baik dari segi seni pertunjukan maupun kreasi terhadap bentuk para tokoh pewayangan. Perubahan dan penyempurnaan yang menandai zaman baru dunia wayang versi Jawa Tengah ala Surakarta ini dimulai pada masa kerajaan Demak.

Wayang kulit purwa yang tertulis di relief candi peninggalan Kerajaan Majapahit bentuknya diubah menjadi pipih lalu digambar dengan warna hitam dan putih. Kreasi seni terhadap wayang terus berkembang meskipun Kerajaan Demak runtuh. Kreasi tersebut tercermin dari lahirnya jenis-jenis wayang yang berkembang sesuai dengan karakter para penguasa kerajaan. Dinamika tersebut tidak menghilangkan bentuk dan cita rasa asli dari wayang yang sudah ada.

Periode Kerajaan Demak

Wayang dibuat pipih menjadi bentuk gambar (dua dimensi) dan dalam bentuk miring sehingga tidak menyerupai wayang pada relief candi.

  1. Bahan dibuat dari kulit kerbau yang dihaluskan dan ditatah dengan halus

  2. Wayang digambar dengan dua warna: putih sebagai warna dasar dan hitam sebagai warna pada bagian-bagian wayang

  3. Gambar dengan muka miring dan tangan masih bersatu dengan badan, diberi gapit untuk pegangan

  4. Pola gambar pada umumnya diambil dari wayang Beber Majapahit

  5. Tambahan jumlah wayang dan peralatan pentas

Periode Kerajaan Pajang

  1. Golongan raja memakai mahkota (topong mahkota)
  2. Ksatria memakai gelung juga dodotan dan celana
  3. Dibuat berbagai senjata seperti panah, keris gada dan lain-lain

Periode Kerajaan Mataram

  1. Menambah binatang seperti kera, gajah, garuda
  2. Rambut ditata halus dengan campuran seritan

Pariode Pasca Kerajaan Mataram

  1. Memakai punakawan Bagong
  2. Dewa memakai selendang membawa keris, tak bercelana, memakai baju dan sepatu
  3. Pendeta memakai baju dan sepatu
  4. Membuat Dasamuka bermata satu dengan wanda Belis (setan)
  5. Membuat Kumbakarna bermata satu dengan wanda Mendung (awan hitam)
  6. Wayang rama, yaitu wayang yang khusus untuk ceritra-ceritra Ramayana.

PENGGOLONGAN WAYANG KULIT

Wayang Ekspresif Dekoratif, yaitu wayang yang mengekspresikan perwujudan watak-watak manusia, yang terletak pada watak baik, watak buruk, dan watak setengah baik. Klasifikasi:

  1. Golongan dewa
  2. Golongan pendeta
  3. Golongan ksatria
  4. Golongan raja
  5. Golongan putran (nom-noman); putra raja masih muda
  6. Golongan putri
  7. Golongan punggawa/rempekan
  8. Golongan raksasa
  9. Golongan kera

Wayang Humor Karikatur, yaitu wayang yang menggambarkan rasa humor (lucu). Klasifikasi:

  1. Pengikut ksatria : Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong
  2. Pengikut raksasa : Togok dan Sarawito
  3. Pengikut dewa : Patuk dan Temboro
  4. Pengikut pendeta: Cantrik Janaloka
  5. Wayang humor karikatur wanita : Cangik dan Limbuk

Wayang yang menggambarkan kelompok pasukan atau kompleks tumbuh-tumbuhan, binatang, dan bangunan yaitu Perampogak (Ampyaan dan Gunungan)

Wayang yang melukiskan binatang dan kendaraan, seperti kuda, kereta kencana, gajah, naga, burung gar.uda, dan sebagainya

Wayang yang melukiskan senjata, seperti panah, keris, gada, alugara, senjata cakra, dan lain-lain

Wayang yang melukiskan roh halus berupa siluman, seperti Jurumeya, Jarameya Keblok, dan sebagainya. (Sumber: Kompas, Edisi Jawa Tengah Sabtu 13 Juni 2009).



Artikel Lainnya: