KeSimpulan.com Dokumentasi Berita Sains
(2008-2013)
HOME - ARSIP - PENCARIAN

Wednesday, June 17, 2009

Potensi Bioteknologi Maritim Indonesia Belum Dikembangkan Secara Optimal

(kesimpulan) Potensi bioteknologi maritim Indonesia selama ini belum dikembangkan secara optimal. Padahal dari nilai ekonomi yang terkandung di dalamnya diperkirakan mencapai 40 miliar dollar Amerika Serikat, di antaranya pemanfaatan untuk obat anti kanker, makanan laut, pembuatan kertas, hingga bioetanol.

Kepala Balai Besar riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Perikanan dan Kelautan Departemen Kelautan dan Perikanan Hari Eko Irianto mengatakan bahwa selama ini potensi bioteknologi maritim belum dikembangkan karena perhatian lebih banyak pada potensi di darat. Padahal, banyak peneliti dari luar negeri yang sangat tertarik megembangkan potensi kadungan di laut.

Indonesia ebagai negara kepulauan memiliki potensi pengembangan bioteknologi maritim yang sangat besar. Saat ini, setidaknya telah diketahui 500 jenis potensi bioteknologi tersebar di seluruh perairan Indonesia, baik itu sebagai bahan obat-obatan, makanan, ataupun kertas. Sebagai contoh karang lunak Demonspongia yang tersebar di perairan Nias dan Sulawesi Selatan. Bila dimanfaatkan, Demonspongia bisa dijadikan sebagai obat antitumor. Untuk obat antitumor, juga bisa didapatkan dari karang lunak lain seperti Dendronephyta Sp dan Sarcophyton yang banyak ditemukan di perairan Karimun Jawa.

Potensi maritim lainnya bisa ditemukan pada rumput laut, selain digunakan untuk bahan makanan, rumput laut baik sebagai bahan pembuatan teh, bahan kertas, hingga bioetanol. Produk-produk dari potensi bioteknologi tersebut nantinya bisa dipatenkan dan dijual ke luar negeri, sehingga memiliki nilai ekonomis dan bisnis. Potensi ekonominya bisa mencapai 40 miliar dollar AS. Kendala utama dan hambatan terbesar menuju pemanfaatan bioteknologi itu adalah minimnya dana dan peralatan penelitian, sebagai dampaknya yaitu banyak potensi bioteknologi belum dikembangkan menjadi produk siap pakai.

Ketua Konsorsium Bioteknologi Indonesia Bambang Prasetya mengatakan bahwa dana yang dimiliki peneliti bioteknologi Indonesia masih minim. Saat ini, rata-rata dana yang dimiliki peneliti tidak lebih dari Rp120 juta per orang. Dana tersebut biasanya digunakan untuk melakukan tiga kali penelitian dalam jangka waktu 2-3 tahun per penelitian, hal tersebut sangat jauh dari ideal. Dana bagi peneliti bioteknologi seharusnya mencapai Rp.500 juta per orang. Dana tersebut digunakan untuk penelitian dari bahan mentah hingga pengembangan aplikasi di lapangan.

Minimnya dana membuat banyak penelitian bioteknologi berhenti sebelum pengembangan sampai aplikasi di lapangan, akibatnya hasil penelitian tidak bisa diteruskan menjadi barang siap pakai. Hal lain yang menghambat jalannya penelitian adalah minimnya pendapatan peneliti. Saat ini, rata-rata pendapatan peneliti di Indonesia Rp2 juta-Rp4 juta per bulan. Pendapatan tersebut tidak seimbang dengan beban kerja yang disandangnya.

Pada saat ini ada sekitar 2.200 peneliti bioteknologi dari 43 institusi dan 88 universitas yang masih harus pusing memikirkan kesejahteraan keluarga. Kalau hal ini masih terjadi, banyak penelitian yang ada mungkin terabaikan. (Sumber: Kompas, ”Potensi Bioteknologi Maritim Potensial”, Rabu 17 Juni 2009)


Artikel Lainnya: