Dokumentasi Berita Sains (2008-2013)

Sinar Mas Forestry atau SMF Bangun Cagar Biosfer Giam Siak Kecil – Bukit Batu atau GSK-BB

(kesimpulan) Sebagai salah satu negara pemilik hutan tropis terluas di dunia, Indonesia dihadapkan pada tiga hal penting: Pertama, bagaimana potensi yang sangat besar dalam pengembangan industri kehutanan dapat dioptimalisasikan hingga mampu menjadi motor penggerak perekonomian serta kesejahteraan bangsa. Kedua, bagaimana keanekaragaman hayati yang begitu kaya pada setiap jengkal hutan yang ada dapat terus terlestarikan. Ketiga, bagaimana menciptakan sinergi dan harmoni antara sisi industri dengan pelestarian lingkungan tersebut.

Bagi masyarakat agraris, harmonisasi antara manusia dengan beragam kebutuhannya serta lingkungan sekitar, pada dasarnya telah menjadi bagian keseharian yang telah ada sejak lama. Salah satu pendekatan yang telah ada sebelumnya dan sedang menjadi percontohan, ketika industri kehutanan melakukan pengelolaan hutan secara lestari. Di antaranya Sinar Mas, sebuah institusi bisnis melalui Sinar Mas Forestry (SMF) yang selama ini bertugas sebagai pemasok bahan baku utama Asia Pulp & Paper (APP), mengembangkan sebuah cagar biosfer (biosphere reserve) di Giam Siak Kecil-Bukit Batu (GSK-BB).

Beberapa manfaat dari adanya cagar biosfer sebagai konsep wahana pengelolaan lansekap (bentang alam) yaitu: Fungsi konservasi, Fungsi pembangunan ekonomi dan sosial masyarakat setempat secara berkelanjutan, dan Fungsi pendukung logistik yang dibutuhkan dalam pengembangan beragam proyek percontohan, pendidikan dan latihan, berikut penelitian di bidang konservasi.

Manakala ketiga fungsi tersebut berjalan dengan selaras, maka diyakini akan mampu membangun dan memelihara harmoni antara manusia dan lingkungannya. Pengembangan cagar biosfer di Giam Siak Kecil-Bukit Batu (GSK-BB) digagas bersama para pemangku kepentingan terkait, mulai dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Departemen Kehutanan, pemerintah provinsi dan kabupaten serta kalangan akademik seperti Universitas Riau hingga Universitas Kyoto, Jepang. Konsep Man and the Biospehere (MAB) UNESCO dijadikan pedoman pengembangan.

Munculnya kebutuhan akan kelestarian alam harus didukung adanya manajemen pengelolaan kawasan secara kolaboratif dan terintegrasi, sehingga pelestarian sumber daya alam hayati serta keseimbangan ekosistem mampu ikut mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat. Penasihat Manajemen Lingkungan SMF, Canecio P. Munoz, mengatakan bahwa kebutuhan bagi industri kehutanan, keberlanjutan usaha dapat terbangun melalui sinergi aspek produksi yang ramah lingkungan serta pelestarian lingkungan. Untuk dapat terus berproduksi industri kehutanan harus senantiasa melakukan penanaman berikut memelihara lansekap ekosistem sekitar sesuai konsep pengelolaan hutan tanaman secara lestari. Inilah yang mendorong Sinar Mas Forestry (SMF) mengajukan usulan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu.

Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu (GSK-BB) berawal ketika pada tahun 2004, SMF bersama mitra kerjanya dengan dukungan APP menyisihkan areal hutan produksi seluas 72.255 hektar sebagai koridor ekologis, sehingga hutan rawa gambut Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil seluas 84.967 hektar dan Suaka Margasatwa Bukit Batu seluas 21.500 hektar yang merupakan bagian dari eco-region hutan Sumatera dapat tergabung menjadi sebuah kawasan konservasi dengan areal inti cagar biosfer seluas 178.722 hektar. Kedua kawasan Suaka margasatwa tersebut, sebelumnya telah teridentifikasi oleh LIPI sebagai sebuah areal yang didiami ratusan jenis flora dan fauna yang langka dan dilindungi. Sebagian besar dari zona penyangga seluas 222.425 hektar disekitar cagar biosfer terdiri atas hutan tanaman yang menjadi kunci efektivitas perlindungan area inti, karena selalu mendapatkan pengelolaan dan pengawasan yang baik. Pada bulan September 2008, usulan (nomination form) cagar biosfer berikut rencana pengelolaannya diajukan ke UNESCO Paris melalui Komite Nasional Program Man and the Biosphere Indonesia. Pada tanggal 18 Oktober 2008, Departemen Kehutanan RI melakukan peninjauan kesiapan di lapangan pasca pengajuan usulan. Sementara gelaran UN Climate Change Conference di Bali tahun 2007 menjadi tempat pertama usulan diperkenalkan kepada masyarakat international.

Keberadaan Cagar Biosfer GSK-BB sebagai satu dari 553 cagar biosfer yang tersebar di 124 negara anggota UNESCO's World Network of Biosphere Reserves (WNBR) menjadi begitu penting dan berharga bagi Indonesia, mengingat dengan luas wilayah berikut keunikan dan keanekaragaman hayati yang dimiliki, Indonesia telah menanti sepanjang 27 tahun untuk memiliki lagi sebuah cagar biosfer melengkapi enam cagar yang telah ada sebelumnya. Terasa lebih istimewa karena cagar biosfer GSK-BB adalah untuk pertama kalinya diinisiasi oleh sektor industri. Prof. Dr. Endang Sukara, Ketua Komite Nasional Man and the Biosphere Indonesia yang juga Deputi Ilmu Pengetahuan mengatakan bahwa usulan pembangunan cagar biosfer yang diajukan Sinar Mas ini adalah pertama kalinya di dunia datang dari sektor industri. Jika dapat terus berjalan dengan konsisten sekaligus menjadi contoh awal yang baik bagi kalangan industri untuk selalu peduli pada pelestarian keanekaragaman hayati. Lingkungan yang lestari adalah kepentingan seluruh pihak, termasuk pula sektor industri.

Pengesahan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu dalam 21st Session of the International Coordinating Council of the Man and the Biosphere Programme UNESCO, pada 26 Mei 2009 di Pulau Jeju, Korea bukanlah sebuah puncak dan akhir, melainkan sebuah awal dari begitu banyak hal yang harus dilakukan seputar pelestarian keanekaragaman hayati. Namun, kehadirannya menunjukkan apresiasi dunia atas komitmen, determinasi dan inovasi dari kalangan industri yang akan selalu dinantikan dalam melestarikan lingkungan. (Kompas, ”Komitmen dan Inovasi Tanpa Henti Industri Kehutanan Melestarikan Lingkungan”, Senin 22 Juni 2009).


Artikel Lainnya: