KeSimpulan.com Dokumentasi Berita Sains
(2008-2013)
HOME - ARSIP - PENCARIAN

Thursday, July 23, 2009

30 Danau Harus Dikeruk Karena Mengalami Sedimentasi Parah

+ Program Pengelolaan Danau Prioritas 2010-2014 berjumlah 15 danau.
+ Danau Limboto, tanpa rehabilitasi pada tahun 2034 hanya tinggal legenda
+ Danau Tempe pada tahun 2018 akan hilang setiap musim kering
+ 840 danau besar dan 735 danau kecil suplai 72% air permukaan di Indonesia
+ Kerusakan danau di Indonesia, ironi setelah pembabatan hutan dan eksploitasi alam
+ Kematian massal ikan Danau Maninjau pada 2008 capai 13.413 ton atau Rp150 miliar

(kesimpulan) Dua danau di Pulau Sulawesi direkomendasikan untuk dikeruk karena mengalami sedimentasi berat. Keduanya adalah Danau Limboto di Provinsi Gorontalo dan Danau Tempe di Provinsi Sulawesi Selatan. Keduanya danau tersebut masuk Program Pengelolaan Danau Prioritas pada Tahun 2010-2014 yang total berjumlah 15 danau. Sebanyak 15 danau lainnya masuk prioritas program rehabilitasi tahun 2015-2019.

Selain dua danau dikeruk, juga dilakukan peningkatan kualitas air, peningkatan komitmen pemerintah, pemulihan kawasan terpadu, pengawasan pemanfaatan multifungsi danau, peningkatan pariwisata, dan program perubahan iklim. Deputi III Menteri Negara Lingkungan Hidup Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam daft Pengendalian Kerusakan Lingkungan, Masnellyarti Hilman, mengatakan bahwa pihaknya butuh kerja sama departemen lain dan pemerintah daerah untuk memenuhi target program tersebut.

Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KNLH) memprakarsai Konferensi Nasional Danau Indonesia yaitu: Pengelolaan Danau dan Antisipasi Perubahan Iklim di Bali, 13-15 Agustus 2009. Diperkirakan ada 700, peserta dari sembilan departemen dan kementerian serta pemerintah daerah. Data KNLH menunjukkan, dari 22 sungai yang mengalir ke Danau Limboto, hanya dua sungai masih mengalir ketika musim kemarau. Kondisi hampir sama terjadi di Danau Tempe.

Selama tahun 1972-2002 laju penyusutan luas Danau Limboto 50 hektar per tahun dan laju sedimentasi 1,5-50 sentimeter (cm) per tahun. Tanpa rehabilitasi kerusakan lahan dan pengendalian limbah domestik, maka pada tahun 2034 danau itu akan tinggal menjadi legenda. Sementara itu, laju sedimentasi di Danau Tempe mencapai 1-3 cm per tahun. Tanpa intervensi rehabilitasi, Danau Tempe diperkirakan hilang setiap musim kering pada tahun 2018. Asisten Deputi III Urusan Pengendalian Kerusakan Sungai dan Danau, Antung D Radiansyah, mengatakan banyak lahan kritis, hutannya juga sedikit.

Masifnya kerusakan danau-danau di Indonesia akan menambah deretan ironi kekayaan alam Tanah Air setelah pembabatan hutan dan eksploitasi sumber daya alam secara besar-besaran. Dari data KNLH, ada 840 danau besar dan 735 danau kecil di Indonesia. Danau-danau itu menyediakan 72 persen suplai air permukaan di Indonesia. Danau-danau juga dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik, wisata, irigasi, dan budidaya perikanan. Namun, daya dukungnya terus menyusut drastis akibat pola pembangunan dan pengelolaan yang mengabaikan fungsi penting dan daya tampungnya.

Salah satu contoh pengabaian perhitungan daya tampung danau adalah kematian massal ikan di Danau Maninjau, Sumatera Barat, pada akhir tahun 2008, hingga mencapai 13.413 ton atau setara dengan Rp150 miliar. Kejadian serupa pernah terjadi di tempat lain dalam skala berbeda-beda. Namun, terus berulang dan merugikan para pembudidaya ikan. Mungkin.

Sebagai langkah perubahan, setidaknya membutuhkan komitmen sembilan departemen dan kementerian untuk kesepakatan pengelolaan danau yang berkelanjutan. Sejumlah target sudah dibuat dan rencana pengelolaan berkelanjutan disusun untuk dibahas pada pertemuan di Bali pada Agustus 2009. Untuk mendanai program tersebut butuh dana besar. Untuk itu, KNLH akan mengajak semua departemen dan kementerian yang terlibat pengelolaan untuk turun tangan. (Kompas, 15 Danau Mengalami Sendimentasi Parah, Rabu 22 Juli 2009)

10 Besar Danau dengan Persentase Lahan Kritis Terbesar

1. Semayang-Melintang = Lahan kritis 74,4% (Total 11.029 Ha)
2. Rinjai = 64,3% (3.245 Ha)
3. Taliwang = 54,0% (4.702 Ha)
4. Kelimutu = 47,0% (121 Ha)
5. Paniai = 29,0% (138.198 Ha)
6. Tempe = 25,7% (252.082 Ha)
7. Rawa Pening = 24.0% (939 Ha)
8. Toba = 23,4% (330.146 Ha)
9. Kerinci = 23,2% (100.745 Ha)
10.Jempang = 18,8% (50.246 Ha)




Artikel Lainnya: