KeSimpulan.com Dokumentasi Berita Sains
(2008-2013)
HOME - ARSIP - PENCARIAN

Sunday, July 12, 2009

Laju Sedimentasi Laguna Segara Anakan Cilacap 1 Juta Meter Kubik Per Tahun

(kesimpulan) Laju sedimentasi Segara Anakan di Cilacap, Jawa Tengah, semakin mengkhawatirkan. Setiap tahun, sebanyak 1 juta meter kubik sedimen memenuhi laguna terbesar di Indonesia tersebut. Kepala Badan Pengelola Kawasan Segara Anakan (BPKSA) Supriyanto, mengatakan, dari jumlah sedimen per tahun tersebut, sebanyak 750.000 meter kubik di antaranya digelontorkan dari Sungai Citanduy, sisanya dari Sungai Cimeneng.

Sekarang luas laguna kurang dari 800 hektar atau seperlima dibandingkan luasan pada tahun 1984 yaitu sekitar 3.800 hektar. Selain menyempitkan laguna, material sedimentasi merusak habitat biota laguna beserta ekosistem di dalamnya. Sejak tahun 1904, sedimentasi di laguna lebih dari 5 juta meter kubik.

Jika tidak segera ditangani, penumpukan sedimen di laguna semakin tinggi. Saat ini celah Plawangan yang menghubungkan Segara Anakan dan laut lepas mulai tertutup sedimen. Padahal, celah Plawangan sangat penting untuk mengalirkan sedimen dan air ke laut. Selain itu menjadi jalur pintu masuk biota laut untuk memijah di laguna. Kerusakan daerah aliran sungai (DAS) di Citanduy dan Cimeneng menjadi penyebab sedimentasi. Sebagian besar DAS Citanduy berada di Jawa Barat.

Untuk mengatasi sedimentasi, BPKSA bekerja sama dengan instansi terkait akan melaksanakan program pemberdayaan masyarakat di Segara Anakan. Hal itu meliputi pembenahan aliran sungai, budidaya perikanan, dan pemanfaatan air hujan untuk sumber air. Langkah ini ditempuh karena sedimentasi mengakibatkan jatuhnya ekonomi masyarakat serta krisis sumber air bersih.

Pada tahun 2011, Segara Anakan akan dikeruk, khususnya di celah Plawangan. Deputi III Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Emil Agustiono mengatakan, diperlukan strategi besar untuk menyelesaikan masalah Segara Anakan, termasuk normalisasi DAS Citanduy. (Kompas, Sedimentasi 1 Juta Meter Kubik Per Tahun, Kamis 9 Juli 2009)

TIPOLOGI SEGARA ANAKAN CILACAP

Tanah dan Geologi

Secara genesis, Segara Anakan terbentuk sebagai produk kegiatan tektonik, melalui proses pembentukan zona depresi Citanduy, yaitu zona yang relatif datar dan rendah yang terjadi karena merosok turun ke bawah sehingga mempunyai ketinggian lebih rendah dari wilayah sekitarnya. Zona depresi ini terbentang luas dari Pedataran Banjar sampai ke Cilacap, sepanjang lebih dari 50 kilometer dan lebar sekitar 15 kilometer, dibatasi sesar-sesar besar, yang justru sebagai penyebab merosoknya zona depresi itu (Wibisono, 2000).

Pasang Surut

Perairan Segara Anakan dalam waktu satu hari (24 jam) terjadi 2 kali pasang dan 2 kali surut atau disebut dengan tipe diurnal. Hal ini sesuai dengan pasang surut yang terjadi diperairan laut bebas. Pasang tertinggi terjadi pada pukul 11.00-17.00 dan pukul 23.00-02.00, surut terendah terjadi pada pukul 22.00-02.00 dan pukul 17.00-19.00.

Air laut dari samudara Hindia masuk ke Segara Anakan melalui dua arah, dari sebelah timur air laut masuk melalui Sungai Donan yang merupakan celah pasang surut dan dari barat melalui celah Nusawere. Aliran air yang paling berpengaruh terhadap perairan di Segara Anakan adalah yang melalui Nusawere yang terletak di sebelah barat Pulau Nusakambangan. Saat pasang air laut dan air tawar yang tercampur didistribusikan ke Sungai Citanduy ke laguna utama dan sungai-sungainya yang ada dan ke hutan mangrove. Massa air yang melewati muara sebelah barat saat banjir, merupakan pencampuran air tawar dan air laut. Saat surut air tawar dari Sungai Citanduy langsung masuk ke Lautan Hindia melewati muara sebelah barat. Sebagian besar air ini, serta sedimen yang dibawanya akan tetap dimuara tersebut, terutama saat arus laut lemah. Setelah tercampur dengan air laut, air ini mengalami resirkulasi menuju laguna selama pasang tertinggi berikutnya.

Vegetasi

Vegetasi mangrove yang berada di Kawasan Segara anakan merupakan merupakan yang terluas di Pulau Jawa yang masih tersisa (LPP Mangrove.1998). Jenis-jenis tumbuhan di hutan mangrove Segara Anakan Cilacap yaitu: Avicennia alba, Avicennia marina, Avicennia oficinalis (Api-api), Sonneratia alba (Bogem/Perepat), Rhizophora mucronata (Bakau Bandul), Rhizophora apiculata (Bakau kacangan), Bruguiera gymnoorrhiza (Tancang), Bruguiera parviflora (Tanjan), Xylocarpus granatum (Nyirih), Xylocarpus molluccensisi Lam (Nyuruh), Cerbera manghas Linn (Bintaro), Heritiera littoralis (Dungun), Aegiceras corniculatum (Gedangan), Excoecaeia agallocha (Buta-buta atau kayu getah), Ficus retuso (Panggang), Premna obtusifolia (Singkil), Dolichaudrone spathaceae (Jaranan), Nypa fruticans (Nipah), Achanthus ilicifolius (Drujon, jerujon), Derris heterophylla (Godelan, Gadelan), Acrostichum aureum (Warakas), Clerodendron marae coset (Glontang warak), Atalantia trimera oliv (Jerukan), Lumnitzera llitorea (Kayu duduk), Amalan, Corypha uton (Gebang), Ceriops Tagal (Tingi), Hibiscus Tiliaceus (Waru, kembang kuning) (Sumber : LPP Mangrove, 1998)




Artikel Lainnya: