Dokumentasi Berita Sains (2008-2013)

Penurunan Suku Bunga Bank Indonesia (BI Rate) dan Pengaruhnya Terhadap Bursa Efek Indonesia (BEI)

(kesimpulan) Guna mendorong perekonomian semakin baik, Bank Indonesia (BI), pada Jumat 3 Juli 2009, menurunkan suku bunga acuan bank sentral (BI Rate) 25 basis poin menjadi 6,75 persen. Penurunan BI Rate yang terus-menerus sejak Desember 2008, Bank Indonesia memberi sinyal bahwa kondisi perekonomian ke depan kondusif bagi kegiatan sektor riil. BI Rate yang rendah juga pada akhirnya akan menekan bunga kredit. Pejabat Sementara Gubernur BI Miranda Swaray Goeltom menyatakan bahwa perkembangan ekonomi sudah menunjukkan tanda-tanda perbaikan, negara lain juga sudah ada perbaikan (1).

Kontraksi laju ekonomi, yang semula diperkirakan terus berlangsung hingga akhir 2009, diyakini telah berhenti pada akhir semester I 2009. Selanjutnya, pada semester II 2009, laju perekonomian domestik akan memasuki fase stabil untuk kemudian terakselerasi mulai 2010. Dengan perkembangan tersebut, Bank Indonesia merevisi perkiraan pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2009 dari semula kisaran 3,75 persen menjadi kisaran 4 persen.

Pada triwulan 1-2009, perekonomian Indonesia tumbuh 4,4 persen secara setahunan (year on year), terkontraksi signifikan dari tahun 2008 sebesar 6,1 persen. Pada triwulan 11-2009, laju ekonomi kembali terkontraksi menjadi 3,8 persen. Namun, Bank Indonesia optimistis tidak akan lagi terjadi kontraksi pertumbuhan pada triwulan III dan IV 2009. Selama semester II 2009, ekonomi Indonesia diperkirakan akan stabil. Kinerja ekspor diperkirakan juga membaik meskipun masih dalam zona negatif. Berdasarkan data yang dihimpun Bank Indonesia, ekspor lebih baik dan menunjukkan current account surplus hingga US$ 2,2 miliar.

Berhentinya kontraksi laju ekonomi salah satunya tertolong oleh pengeluaran dana pemilu yang cukup besar. Pengeluaran untuk pemilu presiden diperkirakan sanggup menjaga pertumbuhan konsumsi rumah tangga tetap tinggi, mencapai 4,5 persen. Selain itu ditopang oleh inflasi yang amat rendah, yang mencerminkan kestabilan harga dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi perbankan nasional juga baik, seperti tecermin dari perkembangan rasio kecukupan modal (CAR) tercatat rata-rata 17 persen, sedangkan rasio kredit bermasalah (NPL) di bawah 5 persen gross.

Jika stimulus moneter dan fiskal dapat ditingkatkan serta lancar dan efektif, pertumbuhan ekonomi semakin baik. Namun, Bank Indonesia mengkhawatirkan masih rendahnya penyaluran kredit perbankan sehingga akan mengurangi potensi pembiayaan untuk menumbuhkan ekonomi, baik dari segi konsumsi maupun investasi. Penyaluran kredit perbankan per Mei 2009 masih mencatat kontraksi 1,1 persen. Seretnya penyaluran kredit diperparah masih tingginya bunga kredit yang membuat perusahaan dan masyarakat enggan meminjam. Penurunan BI Rate pasti berpengaruh terhadap bunga kredit perbankan, namun bank sentral tidak bisa memaksa penurunan bunga kredit perbankan karena tanggung jawab terhadap risiko yang mungkin terjadi dari pinjaman berada di tangan bank yang menyalurkan kredit.

Untuk meningkatkan penyaluran kredit, bank sentral meminta perbankan tidak menyimpan dananya dalam instrumen jangka panjang pada semester kedua 2009. Deputi Gubernur Bank Indonesia, Hartadi A. Sarwono mengatakan bank membutuhkan jika ingin melakukan ekspansi kredit. Tapi yang terjadi justru kecenderungan menyimpan dananya di sertifikat BI, yang jatuh temponya panjang (2).

Meskipun BI Rate telah diturunkan berkali-kali, namun suku bunga kredit tetap masih bertengger di level 13-14 persen per tahun. Bahkan, perbankan masih menaikkan suku bunga kredit konsumsi. Penurunan BI Rate bertransmisi cukup baik ke suku bunga deposito. Pada periode April-Mei 2009, rata-rata tertimbang suku bunga deposito satu bulan untuk seluruh kelompok bank turun 65 BP, lebih besar daripada penurunan BI Rate yang 50 BP. Penurunan tersebut khususnya ditopang oleh pelaku bank asing dan bank swasta nasional.

Namun, penurunan BI Rate tidak bertransmisi dengan baik pada suku bunga kredit. Sepanjang April-Mei 2009, suku bunga dasar kredit hanya turun 29 BR Berdasarkan penggunaannya, suku bunga kredit modal kerja turun 31 BP menjadi 14,68 persen dan suku bunga kredit investasi turun 11 BP menjadi 13,94 persen. Sementara itu, suku bunga kredit konsumsi justru naik sebesar 11 BP menjadi 16,57 persen.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Mirza Adityaswara mengatakan bahwa pelaku usaha hanya menunggu rampungnya pemilu presiden (pilpres). Setelah pilpres selesai, pengusaha akan melakukan ekspansi usaha dan perekonomian akan kembali bergerak. Untuk ekspansi, perusahaan membutuhkan dana sehingga mengajukan kredit ke bank. Seiring dengan menurunnya risiko sektor rill, bank pun akan menurunkan bunga kredit. (1)

Wakil Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiatmadja mengatakan bahwa penentuan sikap besaran bunga akan diputuskan setelah menggelar rapat yang direncanakan pada akhir bulan Juli 2009 (2). Direktur Utama Bank Mandiri Agus Martowardojo mengusulkan agar perbankan, termasuk bank asing, dilarang menawarkan suku bunga deposito di atas bunga penjaminan yang saat ini sebesar 7,5 persen (3).

Menteri Negara Perumahan Rakyat M Yusuf Asy'ary mengimbau perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit pemilikan apartemen dan kredit pemilikan rumah (3). Direktur Utama BTN Iqbal Latanro mengatakan, pihaknya baru menurunkan suku bunga kredit sebesar 0,5-2 persen pada Juli 2009. Suku bunga KPR BTN selama ini sebesar 13 persen per tahun. (3)

Dampak BI Rate Terhadap Bursa Saham

Analis BNI, Ryan Kiryanto, mengatakan bahwa penurunan suku bunga acuan bank sentral akan menggairahkan pasar modal. Pemodal akan masuk lantai bursa untuk memburu saham yang diuntungkan turunnya BI Rate (2).

Pada penutupan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat 3 Juli 2009, setelah penurunan BI Rate, indeks harga saham gabungan menguat 9,55 poin atau 0,46 persen menjadi 2.075,30. Adapun Indeks LQ45 naik 2,72 poin atau 0,68 persen ke level 404,83 dan Indeks Kompas100 naik 3,19 poin atau 0,63 persen menjadi 504,71. Sekalipun tipis, penguatan indeks harga saham cukup mencengangkan pelaku pasar modal.

Sebelumnya, sejumlah analis memperkirakan, indeks harga saham dalam negeri akan anjlok menyusul derasnya sentimen negatif yang mengalir beberapa hari terakhir sehingga menekan indeks di bursa global, termasuk Amerika Serikat, Eropa, dan Asia. Pada sesi pertama perdagangan, Jumat 3 Juli 2009, IHSG sempat anjlok sampai 20 poin atau hampir 1 persen. Namun, di sesi kedua, IHSG berangsur membaik dan akhirnya ditutup positif. Sementara itu, mayoritas bursa kawasan ditutup melemah.

Indeks Nikkei-225 di Jepang turun 0,61 persen dan Indeks Straits Times di Singapura turun 0,91 persen, sedangkan Indeks Hang Seng di Hongkong naik 0,14 persen. Adapun Indeks Dow Jones Industrial Average pada perdagangan saham di New York Stock Exchange, sehari sebelumnya, anjlok hingga 2,63 persen. Pelemahan ini terjadi karena adanya sentimen negatif pelaku pasar modal terhadap peningkatan angka pengangguran di AS, dari 322.000 orang pada Mei 2009 jadi 467.000 orang (Juni 2009) atau tertinggi sejak 1983.

Direktur PT CIMB-GK Securities Indonesia, William Henley memperkirakan tingginya angka pengangguran di AS akan mengurangi konsumsi minyak dunia sehingga akan berpengaruh pada harga komoditas dan energi lainnya. Harga minyak yang saat ini berada di kisaran 66 dollar AS per, barrel diperkirakan akan diperdagangkan berdasarkan harga fundamentalnya, yaitu 50-55 dollar AS per barrel (4).

Pengamat pasar modal, Robert Nayoan, mengatakan penguatan indeks harga saham di BEI termasuk anomali. Penguatan dipicu oleh pengumuman Bank Indonesia yang menurunkan BI Rate, selain didukung fundamental yang kuat. Turunnya BI Rate kembali memperkuat tesis bahwa Indonesia dan BEI adalah "firdaus investasi global" atau tempat yang sangat menjanjikan bagi investor. Dinilai cukup menjanjikan karena pasar modal Indonesia berpotensi memberikan tingkat keuntungan di atas yang disyaratkan oleh investor global. Selanjutnya, keuntungan yang diperoleh investor di bursa Indonesia dipakai untuk menutup kerugian investasi akibat krisis pada akhir 2008. (4)




1. Kompas, ”BI Berniat Mendorong Kredit”, 4 Juli 2009.
2. Koran Tempo, ”Perbankan Diminta Turunkan Bunga”, 4 Juli 2009.
3. Kompas, ”Suku Bunga Kredit Tetap Tinggi”, 4 Juli 2009.
4. Kompas, ”Anomali Pada Bursa Indonesia”, 4 Juli 2009.

Artikel Lainnya: