KeSimpulan.com Dokumentasi Berita Sains
(2008-2013)
HOME - ARSIP - PENCARIAN

Jumat, 31 Juli 2009

Peta Kerjasama Dua Raksasa Ekonomi Dunia Amerika Serikat dan China

(kesimpulan) Jika disandingkan, dinamika perekonomian AS dan China sebagai dua negara raksasa terlihat kontras di tengah krisis keuangan global 2008-2009. Perekonomian AS lesu, sementara China bergairah. Kegairahan China semakin mengesankan karena hampir dipastikan akhir tahun 2009, China akan mengambil alih posisi Jepang sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua dunia. Sebaliknya AS sebagai kekuatan ekonomi nomor satu dunia sedang kerepotan oleh kesulitan ekonomi yang berawal dari krisis keuangan. Upaya melepaskan diri dari krisis semakin sulit karena defisit anggaran sampai di atas satu triliun dollar AS.

China Sebagai Kekuatan Ekonomi Dunia

Sebagai masalah mendesak, persoalan defisit anggaran dan defisit perdagangan dengan China dijadikan topik pembicaraan AS-China selama dua hari awal pekan Agustus 2009 di Washington, AS. Hingga Mei 2009, defisit AS dalam perdagangan dengan China mencapai 84,6 miliar dollar AS, sementara tahun 2008 mencapai 268 miliar AS. Kondisi perekonomian AS dan banyak negara lainnya berada dalam kesulitan sebagai dampak krisis keuangan global, yang berawal dari AS. Sebaliknya perekonomian China terus tumbuh. Tanda-tanda China menjadi raksasa ekonomi menjadi semakin jelas.

Sudah muncul perkiraan, mungkin tidak sampai 50 tahun lagi China akan menjadi kekuatan ekonomi nomor satu dunia, menggeser AS. Jika perkiraan itu benar, sejarah kesuksesan China seperti terulang. Pernah disinggung, China awal abad ke-19 merupakan raksasa ekonomi nomor satu dunia. Menurut perkiraan, tahun 1820 China menguasai sekitar 29 persen perekonomian global, sedangkan nomor dua diduduki India, sekitar 16 persen. Tanda-tanda India meraih kembali posisi nomor dua itu juga mulai kelihatan. Dinamika pembangunan perekonomian India tidak kalah gairahnya dengan China. Kedua negara Asia itu menjadi bagian dari sangat sedikit negara di dunia yang mampu menjaga pertumbuhan di tengah krisis ekonomi global, yang merupakan terburuk sejak depresi ekonomi dunia tahun 1930-an.

Para pengamat cenderung berpendapat, China dapat menjadi lokomotif yang dapat menarik negara lain keluar dari antara lain karena mampu menjaga pertumbuhan ekonomi sekitar 7 persen dan sukses menjalankan paket stimulus. Sudah terbayang, setelah krisis berlalu, China akan lebih melaju lagi karena sudah tersedia infrastruktur yang dibangun selama krisis dengan paket stimulus 586 miliar dollar AS. Sementara AS masih kelimpungan oleh defisit anggaran yang tinggi, dan juga karena paket stimulus ekonomi 787 miliar dollar AS, yang disetujui Kongres bulan Februari lalu, tidak begitu berjalan lancar. Kemampuan AS segera keluar dari krisis akan besar pengaruhnya bagi dunia untuk terlepas dari jebakan krisis yang lebih rumit.

Kerjasama AS-China

AS meningkatkan kerja sama dengan China untuk menggerakkan ekonomi global. Penciptaan lapangan kerja dan penyelamatan lapangan kerja di dua negara besar, termasuk dari segi kekuatan ekonomi, akan membantu pemulihan. Kerja sama kedua negara adalah mutlak. Presiden Barack Obama, Senin 27 Juli 2009 di Washington, mengatakan, relasi di antara kekuatan Pasifik sama penting dengan relasi lain di dunia. Relasi AS dan China akan membentuk abad 21, yang membuat relasi itu sama penting dengan relasi bilateral lain di dunia. Realitas itu harus mendasari hubungan kedua negara. Inilah tanggung jawab yang harus diemban bersama.

Obama memberi pidato saat membuka dialog China-AS untuk membahas berbagai masalah strategis. Ini adalah era di mana AS sangat membutuhkan uang China untuk menutupi defisit anggaran Pemerintah AS. Kedua negara harus bersedia memperluas basis kerja sama untuk kepentingan bersama, mengurangi perbedaan, meningkatkan saling pengertian, dan memperkuat kerja sama. Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton dan Menteri Keuangan Timothy Geithner dalam tulisan di The Wall Street Journal, Senin 27 Juli 2009, menegaskan perlunya kerja sama yang lebih erat di antara kedua negara. Ada masalah global yang hanya bisa diselesaikan oleh AS dan China. Sedikit yang dapat diselesaikan tanpa AS dan China bersama-sama.

Delegasi China dipimpin Ketua Dewan Kabinet Dai Bingguo dan Wakil Perdana Menteri Wang Qishan, mengatakan bahwa seiring dengan upaya pemulihan, kedua negara harus mengambil langkah ekstra untuk meletakkan dasar yang kuat bagi pertumbuhan berimbang dan berkesinambungan pada masa datang. Pernyataan ini merupakan sindiran kepada AS, yang mengonsumsi lebih besar daripada tabungan. Clinton dan Geithner kembali mengulangi permintaan AS agar China membuka pasar uang dan melepaskan diri dari ketergantungan ekspor. Untuk itu, AS meminta China meningkatkan permintaan di dalam negeri. Ekspor China pada tahun 2008 tercatat sebesar 1,43 triliun dollar AS dan menempati urutan kedua setelah Jerman yang bernilai 1,47 triliun dollar AS.

Charles Freeman, peneliti di Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang berbasis di Washington, mengatakan, tujuan utama dialog adalah membangun kepercayaan antara Washington dan Beijing. Walaupun AS dan China telah membangun hubungan yang semakin membaik selama bertahun-tahun, masih ada ketidakpercayaan mendasar. AS dan sekutunya, Jepang, prihatin mengenai pengembangan militer China yang luar biasa. Kapal perang AS dan China sering kali saling berhadapan di laut. Selain itu, catatan perlindungan hak asasi Beijing juga tidak terlalu baik di mata AS.

Adapun Zhu Guangyao, Asisten Menteri Keuangan China, mengatakan, China akan menekan AS untuk menjamin keamanan aset-aset China. Sebagai investor yang penting, China sangat prihatin atas keadaan perekonomian AS dan terhadap paket stimulus AS. He Zhicheng, ekonom senior di Bank Pertanian China, mengharapkan kedua belah pihak akan berbicara mengenai isu ekonomi dibandingkan dengan isu strategic, seperti kerusuhan rasial di Xinjiang, China. Dalam krisis finansial ini, posisi China jauh lebih baik daripada posisi AS. China adalah penutup utang terbesar bagi AS.

Proteksionisme dan Penurunan Nilai US Dollar

Kerja lama dua negara raksasa Amerika Serikat (AS) dan China, bakal lebih erat setelah krisis global. Apalagi, mereka telah membuat kesepakatan awal untuk lebih peka terhadap pertumbuhan global setelah resesi berakhir. Kesepakatan itu di ungkapkan oleh Menteri Keuangan Timothy Geithner usai pertemuan. Geithner menyebut kedua negara telah menyelesaikan pembicaraan dengan membuat kesepakatan untuk membuat solusi guna mempersempit perbedaan di bidang ekonomi.

Pada sesi pembicaraan yang berlangsung, kedua negara sepakat untuk memerangi proteksionisme, yang dianggap sebagai salah satu penyebab kecenderungan menurunnya pertumbuhan ekonomi dunia. Selain itu, China meminta peran yang lebih besar dari lembaga keuangan internasional seperti IMF dan Bank Dunia. Terutama, untuk memantau kondisi keuangan global. Meski terlihat akrab, kekhawatiran masih terlihat, terutama dari delegasi China, yang merupakan pemegang obligasi hutang asing milik AS terbesar yang mencapai USD80 1,5 miliar, khawatir investasi mereka menurun karena terjadinya inflasi atau penurunan nilai USD. Selain itu, negeri Paman Sam masih dalam kondisi defisit anggaran.

Keinginan AS dan China Untuk Kedua Negara

Keinginan AS

  1. AS, pemilik perekonomian terbesar di dunia, dan China, dengan pertumbuhan ekonomi tercepat sejagat raya, tampaknya akan berkomitmen mengelola kebijakan stimulus fiskal dan moneter untuk mendorong pemulihan ekonomi dan mencoba menyelamatkan dunia dari krisis.

  2. Menyeimbangkan perekonomian. AS, yang dipaksa mengurangi konsumsi dan menaikkan tabungan akibat krisis, meminta China melakukan hal sbaliknya, yakni berkonsumsi dan menabung lebih sedikit. Ini bertujuan mengurangi defisit neraca perdagangan AS, yang lebih banyak terjadi dengan China.

  3. Perdagangan dan kurs. AS, yang memiliki defisit perdagangan 266 miliar dollar AS dengan China pada 2008, sedang mencari upaya menyeimbangkan perdagangan, termasuk meminta China meliberalisasikan kurs yuan sehingga yuan mengalami apresiasi. Ini dimaksudkan untuk mengurangi ekspor dan mendorong impor ke China.
  4. Energi bebas polusi dan perubahan iklim. AS dan China, penyebab polusi terbesar dunia, ingin mendorong terciptanya teknologi pengurang polusi dan mengurangi dengan cara lain emisi gas

  5. Korea Utara dan Iran. AS dan China, sama-sama anggota tetap Dewan Keamanan PBB, mendiskusikan penghentian program nuklir Korea Utara, dan juga ambisi program nuklir Iran. Ini penting karena China memiliki hubungan kuat dengan Iran dan Korea Utara.

  6. Masalah-masalah global. Negara-negara yang sedang mengalami konflik internal, seperti Myanmar, Sudan, dan Zimbabwe, kini semakin dekat dengan China. AS ingin China, yang memiliki hubungan dekat dengan negara-negara itu, untuk menggunakan pengaruhnya demi perbaikan sosial politik domestik di berbagai negara itu.

  7. Hak asasi manusia. AS prihatin dengan peredaman kebebasan, termasuk penyiksaan pada minoritas di Tibet dan Xinjiang.

Keinginan China
  1. Stabilitas kurs dollar AS menjadi fokus perhatian utama China demi keamanan 801,5 miliar dollar AS investasi China pada obligasi terbitan Pemerintah AS.

  2. Tidak mau didikte soal masalah domestik karena China punya cara tersendiri mengatasi persoalannya.

Kompas, China Segera Jadi Nomor Satu, Selasa 28 Juli 2009.
Kompas, AS-China Mutlak Bekerja Sama, Selasa 28 Juli 2009.
Jawa Pos, Sepakat Untuk Perangi Proteksi, Rabu 29 Juli 2009.

Artikel Lainnya:

Jurnal Sains