Dokumentasi Berita Sains (2008-2013)
HOME - ARSIP - PENCARIAN

Seorang Ayah Dijerat Pasal 44 Ayat 2 Undang-undang RI Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan (KDRT) Karena Aniaya Anak Kandung Sendiri

(kesimpulan) Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) kembali terjadi di Kebumen. Kali ini seorang ayah dilaporkan ke pihak kepolisian karena menganiaya anak kandungnya sendiri. Penyebabnya dianggap sepele, si ayah tidak terima mendengar omongan anaknya sendiri yang menyatakan tak sudi kumpul dengan ibu tirinya.

Sekitar setahun lalu (2008), tersangka yang bernama Masrur, 46, warga RT l RW 1 Desa Tlepok Kecamatan Karangsambung ini menikah lagi dengan M, 35, warga Bogor, tanpa seijin dan sepengetahuan istri pertama beserta empat anaknya. Termasuk Eli Marlina, 18, yang dianiaya tersangka. Peristiwa memilukan ini bermula ketika korban sedang menghadiri acara hajatan di rumah saudaranya Rabu malam 22 Juli 2009.

Di acara tersebut, korban merasa tidak cocok dan enggan berkumpul dengan ibu tirinya. Sebab dia masih menyimpan luka akibat bapaknya menikah lagi tanpa seijin pihak keluarga. Celakanya, omongan tersebut disampaikan oleh orang lain ke tersangka. Bapak empat anak ini tersulut emosinya dan langsung pulang ke rumah menyusul Eli Marlina yang sudah pulang terlebih dahulu.

Tanpa basa-basi, tersangka langsung marah-marah dan membekap mulut korban dengan tangan. Merasa terancam, korban pun menggigit jari ayahnya yang kebetulan masuk ke dalam mulut. Emosi tersangka semakin memuncak. Tanpa pandang bulu, sang ayah mendorong dan menghajar anak keduanya dari empat bersaudara yang sudah dalam posisi terduduk. Belum puas, dia pun menginjak-injak kepala dan telinga korban berkali-kali.

Akibat perlakuan itu, korban yang baru lulus sekolah langsung tak sadarkan diri. Korban rnengalami luka cukup parah di bagian muka, telinga dan mata. Pihak tetangga dan sanak saudara langsung membawa korban ke Puskesmas Karangsambung untuk mendapat pertolongan. Korban juga mengalami shock pasca penganiayaan yang dilakukan oleh bapak kandungnya sendiri.

Tidak terima dengan perlakuan tersangka, malam itu juga sekitar pukul 20.00 pihak keluarga melaporkan perbuatan tersangka ke Polsek Karangsambung. Salah satu kerabat keluarga korban menjelaskan, perilaku kasar tersangka bukan kali pertama ini terjadi. Pada 2007 silam, tersangka juga pernah menghajar istrinya sendiri (40 tahun), hingga babak belur. Tersangka juga pernah mau dihajar warga gara-gara perbuatannya tersebut, namun saat itu berhasil dicegah aparat.

Korban tinggal bersama ibunya. Sementara tersangka tinggal dengan istri mudanya. Sehari sebelum kejadian, secara bersamaan mereka pulang kampung karena ada saudara yang punya hajat. Tersangka pulang dengan istri mudanya. Sementara Eli Marlina pulang sendirian. Ibu kandung korban tidak ikut pulang karena masih ada keperluan di Jakarta. Kapolres Kebumen AKBP Ahmad Haydar MM melalui Kasatreskrim AKP Priyo Handoko menjelaskan, bahwa tersangka berhasil ditangkap petugas saat bersembunyi di rumah saudaranya di Desa Kalisana Kecamatan Karangsambung, Kamis 23 Juli 2009. Tersangka dijerat dengan Pasal 44 Ayat 2 Undang-undang RI Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan (KDRT). Ancaman hukumannya pidana kurungan maksimal selama 10 tahun. (Radar Semarang, Sabtu 25 Juli 2009)

Pasal 44 Undang-undang RI Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan (KDRT)

(1) Setiap orang yang melakukan perbuatan kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp15.000.000,00 (lima belas juta rupiah).

(2) Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan korban mendapat jatuh sakit atau luka berat, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun atau denda paling banyak Rp30.000.000,00 (tiga puluh juta rupiah).

(3) Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mengakibatkan matinya korban, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun atau denda paling banyak Rp45.000.000,00 (empat puluh lima juta rupiah).

(4) Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh suami terhadap isteri atau sebaliknya yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencaharian atau kegiatan sehari-hari, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) bulan atau denda paling banyak Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah).

Artikel Lainnya: