Dokumentasi Berita Sains (2008-2013)
HOME - ARSIP - PENCARIAN

Upacara Pengantin Paguyuban Penganut Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa Kekadangan Wringin Seto Blora

(kesimpulan) Sepasang mempelai menerima bendera Merah Putih dan Garuda Pancasila dari pemuka penganut kepercayaan Kekadangan Wringin Seto dengan tulus hati. Kemudian "Indonesia Raya" berkumandang, kedua mempelai tersebut memegang sang saka Merah Putih dengan erat-erat. Begitu pula ketika Pancasila dibacakan, pasangan tersebut berdiri tegap sembari memandangi lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila. Setelah itu, mereka mendapat pesan agar menyimpan dua pusaka Indonesia ke dalam pribadi masing-masing.

Ketua Kekadangan Wringin Seto Ignatius Untung Sadimin mengatakan bahwa Merah Putih dan Garuda Pancasila merupakan semangat dan tuntunan hidup manusia. Merah Putih melambangkan keseimbangan antara kerja keras dan relasi dengan Tuhan. Garuda Pancasila mengayomi dan menuntun manusia ke jalan yang benar.

Demikianlah salah satu rangkaian pernikahan penganut kepercayaan Tuhan Yang Maha Esa Kekadangan Wringin Seto yang digelar di Padepokan Wringin Seto, Desa Soko, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, pada hari Jumat 3 Juli 2009. Pernikahan pernikahan tersebut itu menyatukan Latifa Ayu Prabandari asal rembang dan KresnoAndhi Cahyono asal Purwodadi.

Upacara pernikahan terbagi menjadi empat tahap, yaitu serah-serahan, jamasan dan siraman, penyerahan pusaka, dan larungan. Serah-serahan dilakukan di depan gerbang Padepokan Wringin Seto. Kemudian kedua mempelai dan keluarga harus melewati 27 anak tangga menuju Sanggar Agung yang berdinding batu alam. Di dalam sanggar, kedua mempelai melakukan sungkeman, jamasan, siraman, dan memotong sedikit rambut.

Jamasan merupakan upacara penyucian kedua mempelai dengan air kendi. Setelah itu, kendi dipecahkan sebagai simbol menyirnakan kegelapan. Siraman merupakan pembersihan hati menggunakan air bunga tujuh rupa. Setelah itu, rambut kedua mempelai dipotong sedikit dan diletakkan di daun sirih bernama Suruh Wulung Temu Rose.

Ketika ritual di Sangar Agung selesai, hadirin berebut janur kembar mayang yang dirangkai dari aneka hasil bumi, di gerbang Sanggar Agung. Mereka percaya, jika memperoleh aneka hasil bumi itu pasti mendapat berkah. Upacara dilanjutkan di Sasana Hangudi Sembah Raosing Gesang. Di tempat yang berarti ucapan rasa syukur atas hidup, kedua pasangan memperoleh pusaka berupa keris, bendera Merah Putih, dan Garuda Pancasila.

Penuntun Kekadangan Wringin Seto Eko Agustijana Budi mengatakan bahwa mempelai juga mendapat pusaka piyandel (kepercayaan kepada Tuhan), pangucap (perkataan), dan pakarti (budi pekerti). Pusaka merupakan inti hidup relasi manusia, khususnya suami-istri. Kedua mempelai harus merampungkan upacara pernikahan di Pantai Parangkusumo, DI Yogyakarta. Mereka harus melarung tumpeng krobyong atau nasi kuning berisi kuluban dan lauk-pauk, serta suruh wulung temu rose.

Dilindungi Undang-Undang

Pemerintah Kabupaten Blora dan paguyuban penganut kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa berkomitmen melestarikan pernikahan adat kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain telah diatur dalam undang-undang dan peraturan pemerintah, pernikahan itu merupakan salah satu tradisi unik bangsa Indonesia yang melestarikan semangat kebangsaan.

Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Blora Slamet Pamuji, mengatakan bahwa pernikahan adat kepercayaan secara resmi baru pertama kali digelar di Blora. Dahulu saat pemerintahan Orde Baru, pernikahan tersebut tidak diakui negara karena kepercayaan bukan agama.

Kini, pencatatan pernikahan dan status penganut kepercayaan tersebut diatur dalam Pasal 61 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 (UU 23/2006) tentang Administrasi Kependudukan. Kemudian diperjelas lagi dengan Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2007 (PP 37/2007) tentang Pedoman Pelaksanaan UU Nomor 23/2006 Pasal 81, 82, dan 83.

Peraturan tersebut hanya berlaku pada paguyuban penganut kepercayaan yang telah terdaftar di Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Di Blora, dari puluhan paguyuban penganut kepercayaan, yang terdaftar hanya lima paguyuban. Selain itu, untuk melaksanakan pernikahan, paguyuban itu harus mempunyai pemuka penganut kepercayaan. Pemuka tersebut harus memiliki sertifikasi atau Surat keputusan (SK) Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

Kepala Bidang Kebudayaan DKPPO Kabupaten Blora Suntoyo mengemukakan bahwa pemerintah berkomitmen melestarikan pernikahan adat penganut kepercayaan. Adat pernikahan tersebut sangat unik dan kental dengan semangat kebangsaan.



Kompas, ”Blora Lestarikan Pernikahan Adat Kepercayaan”, Edisi Jateng Senin 6 Juli 2009.
Kompas, ”Upacara Pengantin Wringin Seto”, Edisi Jateng Senin 6 Juli 2009.

Artikel Lainnya: