2.800 Penyelam Ikut Pecahkan Rekor Dunia Menyelam Dalam Sail Bunaken

Tinuku

(kesimpulan) Sebanyak 2.800 penyelam dari tanah air dan luar negeri berpartisipasi dalam pemecahan rekor dunia penyelaman masal di Manado dalam rangkaian Sail Bunaken 2009. Acara tersebut berlangsung Minggu 16 Agustus 2009 di Pantai Malalayang. Pada 17 Agustus di tempat sama, akan diadakan pengibaran bendera di bawah air dalam rangka HUT Ke-64 RI. Jumlah penyelam tersebut kemungkinan masih akan bertambah karena panitia pendaftaran untuk pemecahan rekor dunia menyelam tersebut masih memberi kesempatan bagi peserta dari luar negeri.

Kepala Dinas Penerangan AL (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Iskandar Sitompul, di Manado Sabtu 15 Agustus 2009, mengatakan, para penyelam tersebut berasal dari berbagi unsur. Mulai unsur TNI, mahasiswa, instansi pemerintah, swasta, klub menyelam dan masyarakat umum. Sitompul juga mengatakan selain peserta selam ada juga dari VIP sebanyak 30 orang, partisan luar negeri 42 orang yang semuanya akan berpartisipasi dalam pelaksanaan acara tersebut. Menurut Iskandar, upacara pengibaran bendera di bawah air juga diharapkan bisa mendapatkan pengakuan dari Guinness Book of Record. Upacara bawah air bisa menciptakan rekor baru.

Selama ini, rekor dunia selam masal berturut-turut telah dipecahkan. Pada 2004, rekor tersebut dipegang Australia dengan jumlah 600 penyelam. Kemndian, tahun berikutnya 2005 rekor itu dipecahkan Thailand pada Festival Kohtao yang melibatkan 725 penyelam. Dua tahun berikutnya 2007, rekor tersebut kembali pecah di Maladewa oleh 925 penyelam. Kali ini, Bunaken akan rebut rekor itu dengan 2.612 penyelam.

Sejumlah orang asing mendatangi tempat tersebut dan mendaftar untuk ikut dalam pemecahan rekor tersebut. Seorang peserta asing dari Turki bernama Surreya mengatakan, berniat ikut karena sejak lama menyukai alam bawah air, dan ini adalah sebuah kesempatan ikut dalam pemecahan rekor dunia menyelam. Selain warga Turki ini, juga ada puluhan orang asing yang juga mendatangi sekretariat untuk mendaftar ikut dalam pemecahan rekor ini, tetap dilayani panitia, sementara sejumlah peserta lokal yang sudah mendaftar sehari sebelumnya datang menyelesaikan adiministrasi.

Anak Buah Kapal (ABK) kapal perang dari Filipina, Thailand dan Indonesia yang menjadi peserta Sail Bunaken juga mengikuti lomba permainan tradisional, lari karung dan tarik tambang yang digelar di Lapangan Sari Cakalang, Kota Bitung, Sulawesi Utara (Sulut) pada hari Sabtu. Kepala Seksi Lomba Tradisional, Mayor Laut (KH) Hasan Kabakoran di Bitung mengatakan, lomba tersebut selain diikuti peserta Sail Bunaken juga dari instansi pemerintah, swasta maupun TNI dan Polri yang ada di daerah itu.

Lomba ini untuk menjalin persahabatan dan persaudaraan antara angkatan laut Indonesia dengan negara lainnya seperti Filipina dan Thailand. Dalam lomba tarik tambang dan lari karung ini, para peserta Sail Bunaken juga berbaur bersama-sama dengan masyarakat. Poi Chumpol, salah seorang peserta dari Thailand mengatakan, merasa senang dalam mengikuti lomba permainan tradisional tersebut.

Dalam lomba tradisional itu, untuk tarik tambang kategori peserta Sail Bunaken, juara pertama dari Filipina disusul Thailand dan Indonesia (KRI Dewaruci). Tarik tambang kategori umum juara pertama Dinas Pendidikan Nasional, disusul Yonif 712 dan Tim Madidir Ure. Sementara untuk lari karung juara pertama KRI Dewaruci disusul tim Polda Sulut dan Kodim Bitung.

Lomba yang dilaksanakan di lapangan Sari Cakalang Bitung itu, disaksikan sejumlah pejabat, di antaranya Wali kota Bitung Hanny Sondakh, Sekretaris Kota Bitung Max J Lomban. Lomba tradisional yang merupakan salah satu kegiatan pendukung Sail Bunaken itu, masih akan berlangsung hingga Minggu 16 Agustus 2009 dengan lomba bakiak serta panjat pinang. Kegiatan Sail Bunaken yang berlangsung pada 12-20 Agustus tersebut, diikuti antara lain sekitar 25 kapal perang asing dari 14 negara, tiga "tall ships" dan 158 "yacht", serta sejumlah KRI.




Tinuku Store