Dokumentasi Berita Sains (2008-2013)
HOME - ARSIP - PENCARIAN

Ancaman Inflasi 2010 Makin Sulit Suku Bunga Bank Turun

(kesimpulan) Ancaman inflasi yang meningkat di 2010 diperkirakan akan membuat BI menaikkan kembali suku bunga acuan. Suku bunga kredit pada 2010 diperkirakan akan semakin sulit turun karena adanya ancaman inflasi yang meningkat. Naiknya inflasi terjadi seiring dengan perbaikan ekonomi. Anggota DPR RI, Harry Azhar Azis, Selasa 18 Agustus 2009, di Jakarta, mengatakan, potensi itu ada (bunga perbankan akan sulit turun), BI (Bank Indonesia) juga sudah memberikan sinyal inflasi ke depan yang menguat.

Ancaman inflasi yang meningkat akan direspons oleh otoritas moneter yaitu BI agar tetap terkendali. Di antaranya dengan kebijakan penyesuaian suku bunga acuan (BI rate). Padahal langkah tersebut bisa menjadi kontraproduktif, karena reaksi perbankan terhadap kenaikan BI rate sangat cepat. Bank biasanya segera menaikkan suku bunga simpanan apabila BI rate meningkat. Naiknya suku bunga simpanan, memicu naiknya suku bunga pinjaman. Hal itu berbanding terbalik dengan turunnya suku bunga BI rate yang direspons lambat oleh perbankan.

Data BI, yakni, ketika pada Juni 2008, BI rate tercatat sebesar 8,5%, suku bunga kredit untuk modal kerja tercatat sebesar 12,9%, bunga kredit investasi 12,23%, dan konsumsi 15,14%. Kemudian ketika BI rate terus melonjak, dan puncaknya pada November 2008 menjadi 9,75% atau naik 1,25%, kredit modal kerja naik 1,75% menjadi 14,65%, kredit investasi melonjak 1,62% menjadi 13,85%, sedangkan konsumsi meningkat 0,55% menjadi 15,69%. Sementara itu, ketika BI rate turun, bank meresponsnya dengan lambat. Sebagai ilustrasi, BI rate kini telah di level 6,5% atau turun hingga 300 basis poin (bps) sejak Desember 2008. Dalam periode serupa, rata-rata bunga kredit masih berkisar 13% atau hanya turun 24 bps (0,24%).

BI ke depan diharapkan tetap bisa menjaga suku bunga acuannya. Setidaknya untuk beberapa waktu, agar menahan suku bunga kredit tidak ikut melejit. Sebab, apabila BI kembali menaikkan suku bunga acuannya, hal itu bisa membuat sektor riil yang belum benar-benar sembuh dari krisis kembali terancam. Kisaran BI rate yang kini berada di posisi 6,5% dinilai masih wajar untuk inflasi sekitar 6%. Ini dibutuhkan, kalau naiknya sekitar 6%, maka (BI rate) 6,5% untuk beberapa waktu bisa dilakukan.

Adapun mengenai adanya ancaman inflasi yang melonjak tahun 2009, Deputi Gubernur Senior Darmin Nasution mengatakan, dengan basis inflasi sekarang yang rendah, yakni sebesar 2,71% pada Juli (year on year), pemerintah perlu mewaspadai ancaman lonjakan inflasi pada 2010. Menurutnya, asumsi inflasi 5% pada RAPBN 2010 bisa dikatakan optimistis. Padahal, dengan adanya pertumbuhan yang membaik, tekanan inflasi dipastikan akan kembali menguat.

Menanggapi lambannya suku bunga bank turun mengikuti BI rate, maka perlu koordinasi sisi fiskal dan moneter perlu segera diperbaiki. Kegagalan pemangkasan BI rate untuk mengerek bunga perbankan turun karena tidak adanya kesatuan pemahaman antara sektor fiskal dan moneter. Untuk itu, sebaiknya BI sebagai otoritas moneter dan pemerintah di sisi fiskal segera berkoordinasi mendorong penurunan suku bunga perbankan tersebut.

Bank BUMN yang dimiliki pemerintah bisa menjadi salah satu penyeimbang pasar. Artinya, bila pasar tidak segera merespons kebijakan penurunan BI rate, bank-bank tersebut dapat memelopori penurunan bunga. Kalau keempat bank BUMN secara bersama-sama menurunkan bunganya, tentu yang lain akan ikut, tapi yang terjadi saat ini saling berkompetisi di antara empat bank pemerintah tersebut. Akibat dari penurunan suku bunga oleh bank BUMN secara masif, kemungkinan terjadinya pengalihan dana dipastikan akan minimal.

Sementara itu, Ketua Umum Perhimpunan Bank-Bank Nasional Sigit Pramono menilai masih sulitnya bunga perbankan turun karena biaya dana masih tinggi. Para pemegang dana kelas kakap masih menginginkan bunga tinggi untuk penempatan dananya. Saat ini diperlukan kerelaan semua pihak, ya para pemegang dana jangan meminta bunga tinggi, bank juga jangan mengeruk NIM (nett interest margin atau selisih bunga simpanan dan pinjaman) tinggi, sementara pemerintah jangan menerbitkan SUN dengan imbal hasil yang tinggi (Media Indonesia, Inflasi 2010 Tahan Penurunan Suku Bunga Bank, Rabu 19 Agustus 2009)


Artikel Lainnya: