Dokumentasi Berita Sains (2008-2013)

Biaya Besar Produksi Film Bukan Jaminan Sukses di Pasaran

(kesimpulan) Jangan kaget apabila mendengar ongkos produksi sebuah film selalu berbilangan miliaran rupiah. Biaya pembuatan sebuah film sangat dipengaruhi lokasi "shooting", jumlah kru dan pemain, serta berbagai properti dan trik di dalamnya. Celakanya, biaya besar tak selalu berbanding lurus dengan hasil yang bisa diraih.

Sebutlah Merah Putih (MP), film yang sedang digadanggadang mengisi kekosongan pasar film perang di Tanah Air. Menurut Yadi Sugandi, sutradara, film ini disiapkan menjadi trilogi yang secara keseluruhan menelan dana sampai Rp 60 miliar. Angka yang boleh dibilang menyamai produksi film Ketika Cinta Bertasbih (KCB) 1 dan 2, yang sebagian besar pengambilan gambarnya di Mesir. Menurut Line Producer KCB Lili Sunawati, Sabtu 15 Agustus 2009, film ini memakan waktu shooting sebulan di Mesir dengan total biaya Rp 40 miliar.

Film MP yang di antaranya didanai pengusaha Hasjim Djojohadikusumo terbilang paling ambisius meraih sukses. Tak tanggung-tanggung, mereka melibatkan deretan sineas yang malang-melintang dalam industri perfilman Hollywood. Penata efek khusus Adam Howarth dan koordinator pemeran pengganti, Rocky McDonald, yang didatangkan langsung dari Hollywood. Adam pernah terlibat dalam pembuatan "Saving Private Ryan" dan "Blackhawk Down", sementara Rocky pernah menangani "Mission Impossible II" dan "The Quite American". Pembuatan MP bahkan melibatkan ahli persenjataan John Bowring yang pernah menangani "The Matrix" serta penulis skenario ayah dan anak Rob dan Connor Allyn.

Menurut Yadi Sugandi, angka yang mendekati Rp.60 miliar itu terbilang wajar, biaya produksi film-film drama kolosal saja di Indonesia sudah di atas Rp.10 miliar. Apalagi bagi MP, kebutuhan dana tak hanya untuk membayar para profesional dari Hollywood, tetapi juga berbagai properti, seperti truk dan senjata yang mereka rekonstruksi dari bentuk-bentuk lawas.

Harus dihitung

Produser film Mira Lesmana mengungkapkan, sebelum turun ke lokasi shooting perencanaan dana dan perkiraan jumlah penonton yang bisa diraih sudah harus dihitung. Film Laskar Pelangi, misalnya, yang mengambil lokasi shooting di Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, tak kurang menghabiskan ongkos 8-12 miliar rupiah. Setidaknya, film ini harus meraih penonton sekitar tiga juta. Dengan estimasi keuntungan dari tiket Rp.5.000, baru berhasil ditangguk sekitar.Rp 15 miliar. Sejauh ini film Laskar Pelangi sudah ditonton sekitar lima juta orang. Keuntungannya harus dibagi antara produser dan investor tentu saja.

Chaerul Umam selaku sutradara KCB pantas ketar-ketir lantaran dana yang dikeluarkan telah begitu besar. Sunawati mengatakan bahwa saat ini, film KCB 1 baru meraih sekitar empat juta penonton meski telah beredar sejak 1 Juni 2009. Baru 70 persen dari modal yang kembali. Setidaknya film ini harus meraih lima juta penonton. Seluruh ongkos produksi film ini mengharapkan ditutup lewat peredaran KCB2 yang akan diluncurkan pertengahan September 2009.

Ongkos Mahal

Perihal ongkos produksi film yang mahal itu, Mira Lesmana tak begitu gundah. Secara natural membuat film memang mahal. Untuk produksi Sherina saja, menghabiskan lebih dari Rp.2 miliar. Jadi, jangan kaget dengan hitungan milyar. Bahkan, untuk film-film yang menggunakan teknologi digital pun, ongkos produksinya tetap berbilang miliar. Di Indonesia tidak ada patokan pasti untuk mengukur ongkos produksi sebuah film. Biaya terbesar Laskar Pelangi dan kelanjutannya, Sang Pemimpi, terjadi pada saat pengambilan gambar di Belitung. Selain itu, biaya promosi, yang biasanya sudah dimulai saat shooting, bisa menelan sampai Rp.5 miliar.

KCB menghabiskan 50 persen dari total anggaran untuk shooting selama sebulan di Mesir. Promosinya menghabiskan 30 persen dan sisanya 20 persen untuk pascaproduksi dan kopi film. Biaya promosi KCB bahkan termasuk audisi pemain di sembilan kota di Indonesia.

Namun, ongkos pembuatan film yang begitu mahal tidak menjadi jaminan bagi kesuksesan sebuah film secara artistik dan raihan jumlah penonton (modal). Banyak kalangan meragukan kesuksesan MP dari sisi artistik meski memakai para profesional dari Hollywood. Soal apakah akan sukses pula dalam meraih penonton dan artinya pula investasi sebesar Rp.60 miliar itu segera balik, tentu harus menunggu sampai benar-benar film ini melewati batas masa edarnya (Putu Fajar Arcana, Biaya Besar Belum Jadi Jaminan, Kompas Minggu 16 Agustus 2009)





Artikel Lainnya: