Langsung ke konten utama

Cin(T)a : Labih Baik Berdiskusi Daripada Mengurui

loading...
bisnis online

(kesimpulan) Kenapa Allah menciptakan kita beda-beda kalau Allah cuma ingin disembah dengan satu cara?" Seorang gadis, Annisa, bertanya. "Makanya, Allah menciptakan cinta. Meski berbeda-beda, kita bisa menyatu." Jawab seorang pemuda bernama Cina. Annisa dan Cina terus mengumbar perdebatan. Tak hanya soal perbedaan etnis yang biasa memicu konflik. Keduanya juga mengulik soal keyakinan, Tuhan, dan agama. Dalam sebuah percakapan, Cina melontarkan gugatan. Kenapa doktrin agama itu justru sering menjadi cara efektif untuk mengobarkan semangat manusia untuk saling membunuh? Padahal, esensi agama justru ingin menciptakan perdamaian dan kehidupan harmonis.

Dialog itu tak berlangsung di bangku kuliah kelas teologi. Percakapan itu terjadi dalam film Cin(T)a arahan sutradara Sammaria Simanjuntak produksi Sembilan Matahari Film dan Moonbeam Creations. Cin(T)a pernah ditayangkan di National Film Theater-British Film Institute, London, 29 Mei 2009. Cina (diperankan Sunny Soon) adalah pemuda dari Sumatera keturunan China, beragama Kristen. Annisa (Saira Jihan) berasal dari Jawa, pemeluk Islam. Keduanya bertemu saat kuliah arsitektur di Bandung. Keduanya jatuh cinta.

Meski saling mengasihi, hubungan dua sejoli itu penuh ketegangan. Perbedaan etnis dan agama membuat mereka sulit menyatu. Kebetulan, hubungan mereka bersemi saat konflik agama meletus di beberapa daerah, antara lain ditandai pembakaran gereja, juga pertempuran lokal yang menelan korban. Saat bersamaan, Annisa sulit mengelak perjodohan oleh keluarga. Di tengah situasi sulit itu, tanya-jawab tadi menjadi semacam katarsis, keluhan, sekaligus protes atas tekanan sosial yang menghalangi cinta mereka.

Pada film ini penyelesaian tak begitu penting. Yang lebih menarik justru dialog-dialog tadi. Film ini berani mengangkat perbincangan terbuka tentang Tuhan, agama, etnik, dan segala segenap potensi konflik akibat perbedaan itu. Dalam konteks Indonesia, kehadiran film semacam ini patut dihargai. Tak ikut-ikutan tren seperti tema hantu, roman kaum urban, atau roman Islam. Karya ini menggumuli akar dan efek perbedaan etnis dan teologis yang jarang dibicarakan. Padahal, keragaman adalah bagian kehidupan yang di negeri ini kerap disalahpahami sehingga memicu konflik.

Film dengan skenario garapan Sammaria dan Sally Anom Sari ini menjadi penting karena membuka ruang dialog bagi persoalan laten itu. Barangkali penonton tak menemukan jawaban memuaskan atas berbagai soal tadi hingga akhir film. Namun, bagaimanapun, film ini mencoba meretas jalan menuju ke arah itu. Sammaria, sutradara, pada konferensi pers di Jakarta, Kamis 13 Agustus 2009, mengatakan, daripada menggurui, kami memilih melontarkan berbagai pertanyaan.

Catatan lain. Kisah perdebatan etnis, Tuhan, dan agama tadi masih terasa sekadar tempelan. Soal-soal itu belum menyatu sebagai bagian dari penokohan dan kehidupan dalam cerita. Dalam beberapa momen, karya ini lebih menjadi film tentang diskusi etnis dan agama ketimbang kehidupan nyata tokoh-tokohnya yang terbelit masalah itu (Kompas, Mari Berdiskusi Soal Tuhan, Sabtu 16 Agustus 2009)


bisnis online
Ikuti sains dan teknologi terkini di: Laporan Penelitian. Update via: Google+ Twitter Facebook Pinterest YouTube
Kesimpulan.com menerima konten tentang teknologi, sains, lingkungan dan bisnis dari siapa saja. Kami siap untuk publikasi dan press release. Informasi lanjut kunjungi laman ini.