Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Banyak Dipengaruhi Masalah Kultural

Tinuku

(kesimpulan) Kasus kekerasan dalam rumah tangga banyak dipengaruhi masalah kultural. Dalam budaya sebagian masyarakat, pertengkaran atau kekerasan oleh anggota keluarga adalah aib yang harus ditutup rapat. Secara tidak langsung hal ini ikut melanggengkan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Konstruksi sosial yang menempatkan perempuan atau anak pada kelompok masyarakat rentan menyebabkan mereka berada pada posisi yang semakin terpuruk.

Demikian benang merah yang mengemuka pada diskusi peluncuran buku Panduan Pelatihan HAM: Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga, yang diterbitkan Direktorat Jenderal Hak Asasi Manusia Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia RI bekerja sama dengan Kedutaan Besar Perancis di Indonesia, Selasa 18 Agustus 2009 di Jakarta.

Direktur Jenderal HAM, Harkristuti Harkrisnowo mengatakan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sudah menjadi fenomena sosial yang sering terjadi di semua lapisan masyarakat, baik kelas ekonomi tinggi maupun bawah. Korban kekerasan terbesar menimpa perempuan. Statistik yang dikeluarkan Komnas Perempuan, tahun 2008 tercatat 54.425 perempuan di Indonesia menjadi korban kekerasan dan 91 persen di antaranya adalah kasus KDRT.

Hadi Supeno dari Komnas Perlindungan Anak Indonesia mengatakan, persoalan KDRT selama ini dianggap persoalan domestik setiap rumah tangga dan bukan persoalan publik. Perlu ada terobosan untuk menghentikan dan mengatasi persoalan ini (Kompas, Kekerasan Dipengaruhi Faktor Kultural, Rabu 19 Agustus 2009)

Tinuku Store