KeSimpulan.com Dokumentasi Berita Sains
(2008-2013)
HOME - ARSIP - PENCARIAN

Sabtu, 15 Agustus 2009

Kebun Raya Bogor Diprotes Karena Keragaman Jenis Burung Terus Berkurang

(kesimpulan) Sudjati, Kepala Bidang Koservasi Ex Situ Kebun Raya Bogor, pernah mengungkapkan kewalahannya membatasi jumlah pengunjung di kebun itu. Pemadatan tanah karena terus terinjak-injak sehingga mulai menyebabkan air tergenang dan terganggunya beberapa koleksi memaksanya melarang beberapa kegiatan yang terlalu jauh dari rekreasi dan pendidikan, seperti pernikahan. Keputusan menaikkan harga tiket masuk juga diambil untuk secara tidak langsung membatasi jumlah pengunjung, meski hasilnya tidak kentara, terutama di liburan hari raya.

Kebun Raya Bogor memang semakin mempesona dari tahun ke tahun. Kebun yang sudah berusia hampir 200 tahun ini tetap menjadi tempat wisata favorit karena semakin tertata dengan rerumputannya yang rapi. Kesan gelap dan seram di beberapa sudutnya dikikis, juga dengan bantaran sungainya, yang kini aman dengan balutan talut. Warga biasa penikmat wisata konservasi tumbuhan tentu senang atas perkembangan itu, tapi tidak demikian halnya dengan para ahli burung di Pusat Penelitian Biologi di Cibinong. Buat mereka, percuma saja kebun dibuat seindah apa pun tanpa kehadiran burung-burung.

Para ahli burung sudah melontarkan protes karena penataan dan pengelolaan lingkungan yang berlaku di Kebun Raya Bogor malah mengusir beberapa jenis burung. Noerdjito, salah satu peneliti burung mengatakan bahwa jenis-jenis burung yang hidup di Kebun Raya Bogor kini jauh berkurang, membandingkan dengan kondisi pada 1980-an. Pada 1990-an, jumlah. keanekaragaman burung sudah berkurang 50 persen.

Ketika banyak jenis berkurang, beberapa jenis tertentu malah mengalami ledakan populasi. Jenis burung yang kini mendominasi Kebun Raya Bogor adalah kutilang (Pycnonotus aurigaster). Sejak tahun 2009, populasi burung itu sudah melonjak sampai lima kali lipat. "Kutilang bersama cerocokan (Merbah cerukcuk, Pycnonotus goiavier) adalah indikator bahwa kondisi lingkungan setempat sudah kacau, tidak seimbang lagi.

Pembabat habis semak dan lebih diprioritaskannya tumbuhan tingkat tinggi membuat burung-burung seperti ciblek (Perenjak jawa, Prinia familiaris) dan emprit-empritan (pipit) meninggalkan kebun raya bogor bersama kicauannya. Padahal jenis-jenis burung seperti keduanya membutuhkan semak untuk berkembang biak. Burung-burung tersebut biasa membuat sarang di rerumputan atau semak-semak hingga ketinggian sekitar 1,5 meter. Jenis-jenis makanan yang ditinggalkan dimanfaatkan kutilang, sehingga populasi burung yang satu ini meledak.

Sudaryanti, peneliti lainnya, pernah meneliti keragaman jenis burung di Kebun Raya Bogor pada 1986. Waktu itu mendata ada 56 jenis. Selanjutnya jumlah keragaman semakin berkurang. Beberapa kelompok pengamatan burung yang meneropong di antara pepohonan di sana cuma mendapati paling banyak belasan ekor saja pada awal-awal tahun 2009. Data yang diberikan kelompok konservasi burung liar di habitatnya, Burung Indonesia, menunjukkan bahwa ragam burung di Kebun Raya Bogor sudah berkurang menjadi 46 jenis pada 2000. Pengaruh hilangnya semak sebagai berkurangnya relung hidup yang secara estetika tidak indah tapi diperlukan oleh burung-burung jenis tertentu.

Sugiharti, juru bicara Kebun Raya Bogor, mengaku pernah mendapat protes tersebut. Seperti dikeluhkan Noerdjito cs. Namun pihaknya tidak bisa berbuat banyak karena adanya perbedaan sudut pandang dan prioritas. Mungkin yang mereka lihat penting itu adalah semak liar yang harus kami rapikan". Pengelola mengatakan "prioritas kami nomor satu adalah tanaman." Penataan juga dilakukan agar kebun tidak terkesan seperti hutan. Itu termasuk yang dilakukan pada awal 1990-an ketika diputuskan dibangun talut di bantaran Sungai Ciliwung, yang membelah kebun. Tempat yang sering dilanda longsor itu dulu juga banyak ditumbuhi semak. "Kadang kepentingan memang berbeda".

Ugi mengungkapkan, tim peneliti di Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor (pusat konservasi ini dan pusat penelitian biologi sama-sama di bawah koordinasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) bahkan bisa merekomendasikan jenis blekok alias kowak maling (karena sering keluar malam) karena mengancam kematian jenis pepohonan tertentu. Populasinya yang melimpah membuat kotorannya bisa penuh menutupi dahan. "Pohon bisa mati," katanya.

Meski begitu, Ugi memastikan hilangnya semak sebatas upaya pembersihan lingkungan. Tidak ada keputusan mengurangi koleksi perdu atau tumbuhan rendah demi memberi tempat bagi jenis pohon tinggi. Di Kebun Raya Bogor, semua sudah ada area peruntukannya masing-masing. Koleksi tanaman obat juga banyak yang perdu, dan tidak mungkin menghilangkan atau mengurangi koleksi itu (Koran Tempo, Hijau Tak Berkicau, Jumat 14 Agustus 2009)



Artikel Lainnya:

Jurnal Sains