KeSimpulan.com Dokumentasi Berita Sains
(2008-2013)
HOME - ARSIP - PENCARIAN

Rabu, 05 Agustus 2009

Kondisi Penyu di Taman Wisata Alam Tanjung Belimbing Kalimantan Barat Memprihatinkan

(kesimpulan) Selain persoalan yang muncul bahwa Taman Wisata Alam Tanjung Belimbing, Kalimantan Barat, dibiayai dari penjualan ribuan telur penyu, kondisi penangkaran tukik di sana juga ternyata memprihatinkan. Pengelolaan yang tidak sesuai dengan kaidah konservasi mengakibatkan setiap hari sebagian besar tukik mati.

Kepala Resor Konservasi Sumber Daya Alam Kecarnatan Paloh Furcion yang membawahi Taman Wisata Alam Tanjung Belimbing, Senin 3 Agustus 2009 menyatakan bahwa dari 25 telur yang ditangkarkan, paling-paling hanya dua butir yang menetas. Itu pun belum tentu bisa bertahan selama pembesaran. Padahal tiap hari diberi pakan dua kali dan airnya diganti.

Saat ini diperkirakan ada sekitar 500 ekor tukik yang dipelihara di kolam pembesaran TWA Tanjung Belimbing. Ada tiga jenis tukik yang dipelihara di sana, yakni dari jenis penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), serta penyu lekang (Lepidochelys olivacea). Di kolam pembesaran tersebut sedikitnya ada empat tukik yang mati dan mengapung di permukaan air.

Data pelaporan Resor Konservasi Sumber Daya Alam Paloh mengenai penetasan telur, dari sekitar 5.000 telur yang ditetaskan pada Januari-April 2009, ternyata hanya 10 butir telur yang menetas. Selebihnya telur-telur itu membusuk dan terpaksa dibuang. Turtle Monitoring Officer WWF-Indonesia Program Kalimantan Barat, Dwi Suprapti menilai, lokasi tempat penetasan telur yang jauh dari tepi pantai turut memengaruhi kegagalan penetasan telur penyu.

Di lokasi itu kemungkinan besar terdapat banyak bakteri yang bisa membusukkan telur penyu. Selain itu, suhu di sana juga diperkirakan tidak memenuhi standar ideal penetasan telur penyu yang berkisar 20 derajat hingga 30 derajat sehingga banyak embrio penyu yang mati. Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah III Singkawang, yang membawahi TWA Tanjung Belimbing, Junaidi mengungkapkan, idealnya memang telur penyu itu dibiarkan di habitat aslinya dan tidak dipindahkan.

Pemindahan yang dilakukan petugasnya dimaksudkan untuk menyelamatkan telur dari perburuan liar. Adapun pembesaran dilakukan agar tukik terlindungi dari predatornya di alam. Namun, pemeliharaan penyu di kolam pembesaran justru tidak baik bagi daya tahan hidup penyu saat dilepas ke habitat aslinya. Pasalnya, penyu yang dibesarkan di kolam tidak lagi memiliki kemampuan berenang yang cepat untuk menghindari predator di laut. Selain itu, penyu menjadi bergantung pada manusia yang memberi pakan. Pengalaman di Alas Purwo (Jawa Timur) dengan memelihara penyu selama satu tahun baru dilepas dengan harapan bisa lebih bertahan dari predator. Namun, yang terjadi justru penyu yang dilepas ke laut selalu mendatangi kapal nelayan karena dikira mereka mau memberi pakan.

Sekretaris Desa Temajuk Asman, Minggu, 2 Agustus 2009, mengatakan, perburuan telur penyu sudah lumrah bagi sebagian warga untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Mereka melakukan perburuan saat melintasi tepi pantai yang menjadi jalur transportasi darat satu-satunya. Selama akses jalan darat belum dibangun dan warga masih lewat tepi pantai besar kemungkinan bagi mereka mengambil telur penyu. Telur penyu kadang-kadang didapatkan dengan membunuh langsung induknya dan mengambil telur dari rahim induknya (Kompas, Kondisi Tukik di TWA Tanjung Belimbing Memprihatinkan, Selasa 4 Agustus 2009)

Artikel Lainnya:

Jurnal Sains