Langsung ke konten utama

2.500 Pakar dalam Global Framework for Climate Services di Geneva Untuk Memperbaharui Data Perubahan Iklim

loading...
bisnis online

(kesimpulan) Sejumlah pakar cuaca mulai Senin 31 Agustus 2009 berkumpul dalam Konferensi Iklim Sedunia di Geneva, Swiss. Dalam pertemuan "Global Framework for Climate Services" itu disebut perlu upaya "genting" untuk berbagi informasi yang dibutuhkan masyarakat dunia dalam rangka beradaptasi dengan perubahan iklim. Keterlibatan sekitar 2.500 pakar tersebut terjadi tepat di saat situasi muram perundingan iklim global menjelang Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) di Kopenhagen, Denmark, Desember 2009 mendatang. Konferensi di Geneva ini bukan bagian dari proses menuju Kopenhagen.

Direktur Jenderal Organisasi Meteorologi Sedunia (WMO) PBB Michel Jarraud menyatakan, konferensi mendiskusikan langkah-langkah untuk mendorong peramalan cuaca dan iklim jangka panjang, khususnya di Afrika dan negara-negara berkembang. Ada jurang informasi besar yang harus segera diisi. Pihak penyelenggara menyebutkan, konferensi akan menjadi kunci menolong dunia memperoleh informasi yang dibutuhkan. Khususnya, untuk beradaptasi dengan iklim ekstrem yang disebabkan pemanasan global. Direktur Lingkungan Gedung Putih, Sherburne Abbott menyatakan, hasil pertemuan lima hari itu "genting untuk mengopi variabilitas iklim".

Sebelumnya, WMO memperingatkan bahwa pemanasan global mendorong perubahan keputusan untuk beberapa hal, di antaranya mengantisipasi banjir, pertanian, atau pembangkitan listrik, yang pada masa lalu sering dikaitkan dengan pola cuaca dan permukaan laut. Saat ini dunia harus mengantisipasi perubahan. Dunia tak bisa lebih lama menggunakan data masa lalu untuk memutuskan masa depan. Banyak hal dibicarakan dalam diskusi, yang diharapkan dapat memperoleh penajaman terkait pengambilan kebijakan, seperti persoalan air, pertanian, perikanan, kesehatan, kehutanan, transportasi, pariwisata, energi, dan persiapan-persiapan menghadapi berbagai bencana alam.

Dibutuhkan kerja sama internasional dalam peramalan cuaca untuk memperluas cakupan prediksi iklim. Selain membutuhkan kemampuan analisis para ahli cuaca, perundingan iklim global butuh kepemimpinan. Setelah Barack Obama terpilih sebagai Presiden AS, kemenangan kelompok oposisi di Jepang juga membawa harapan keterlibatan intensif dalam negosiasi iklim. Seperti diutarakan Ketua Harian Dewan Nasional Perubahan Iklim Rachmat Witoelar, komitmen sejumlah negara maju (Annex I), dengan kewajiban menurunkan emisi karbon dalam jumlah besar, melemah dan terkesan mengulur waktu (Kompas, Ribuan Pakar Bahas Cuaca di Geneva, Selasa 1 September 2009)


bisnis online
Ikuti sains dan teknologi terkini di: Laporan Penelitian. Update via: Google+ Twitter Facebook Pinterest YouTube
Kesimpulan.com menerima konten tentang teknologi, sains, lingkungan dan bisnis dari siapa saja. Kami siap untuk publikasi dan press release. Informasi lanjut kunjungi laman ini.