KeSimpulan.com Dokumentasi Berita Sains
(2008-2013)
HOME - ARSIP - PENCARIAN

Kamis, 10 September 2009

Batuan Ultramafic Untuk Mengikat Karbon Dioksida (CO2) di Atmosfir dalam Bentuk Mineral Padat

(kesimpulan) Untuk memperlambat laju pemanasan global, ilmuwan di dunia melakukan berbagai eskperimen yang bisa dipakai untuk menyerap dan membuang gas karbon dioksida dari atmosfer. Proses fotosintesis oleh pepohonan tidaklah cukup. Tim peneliti geologi di Amerika Serikat merilis sebuah laporan penelitian dan peta yang mengidentifikasi batuan ultramafic di negeri. Batuan yang terbentuk dari pendinginan magma dengan kandungan silika yang sangat rendah itu dianggap ideal untuk dijadikan perangkap (sequestration) karbon di dalam tanah.

Batuan ultramafic memiliki mineral yang bereaksi mengikat karbon dioksida dari udara ke dalam bentuk mineral-mineral padat. Proses alamia biasanya butuh ribuan tahun. Namun, yang dilakukan tim peneliti adalah mempercepat proses yang biasa disebut mineral karbonasi itu. Mereka melarutkan karbon dioksida dalam air dan menyuntikkannya ke batuan. Panas hasil reaksi mineral kalsium atau magnesium silikat dalam batuan dengan gas karbon dioksida itu juga coba ditangkap untuk mempercepat lagi proses mineralisasi.

Jika sukses, diharapkan dapat menyempurnakan teknologi capture carbon and storage (CCS) karena simpanan karbon dalam bentuk mineral (padat) akan mengeliminasi kekhawatiran karbon bakal bocor lagi ke atmosfer. Formasi geologis yang sama di penjuru dunia bisa dikerahkan sebagai sumber pengendapan (sink) panas di atmosfer. Sam Krevor dari Earth Institute, Columbia University, mengatakan bahwa ada begitu banyak jenis material yang melimpah di bumi untuk menyimpan sebanyak mungkin emisi gas rumah kaca.

Riset dan pemetaan batuan untuk menangkap CO2 di atmosfer bumi yang dilakukan Krevor tersebut sebagai bagian dari disertasi PhD. Ia dibantu mahasiswa Columbia University lainnya, Christopher Graves, dan dua peneliti di Badan Survei Geologis (USGS), yakni Bradley van Gosen dan Anne McCafferty. Mereka membuat satu peta digital sebaran batuan ultramafic. Menurut peta itu, Amerika Serikat memiliki batuan tersebut seluas 6.000 mil persegi yang sebagian besar terbentang di sepanjang pantai barat dan timur. Seluruh batu itu cukup untuk menyimpan emisi CO2 domestik sepanjang lebih dari 500 tahun berturut-turut.

Klaus Lackner adalah orang yang memiliki ide pertama kali tentang pemisahan mineral karbon pada 1990-an dan menganggap survey Krevor dan timnya menuju pemetaan global batuan ultramafic sebagai sebuah lompatan besar. Teknik pemisahan karbon memang telah berkembang menjadi bidang riset yang mejanjikan. Namun, kebanyakan hanya berfokus pada penyimpanan dalam bentuknya yang cair ataupun gas di bawah permukaan bumi seperti lapisan akuifer asin, sumur minyak, dan lapisan berpori batu bara yang sudah tidak komersial.

Khawatir simpanan itu bocor, para ilmuwan mencari reaksi kimia alami di dalam bumi sana yang bisa mengubah karbon ke dalam bentuk padat. Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change pada 2005 menyebut ada teknik Krevor merupakan terobosan, karena belum ada yang membuat pemetaan lapisan batuan ultramafic, termasuk potensinya seperti apa. Juerg Matter, peneliti di Lamont-Doherty Earth Observatory, Columbia University, tempat serangkaian proyek serupa sedang berjalan menyebut bahwa teknik ini menawarkan sebuah cara untuk mengenyahkan emisi CO2 secara permanen.

Matter dan Peter Kelemen, kini juga sedang meneliti formasi peridotite, satu di antara berbagai jenis batuan ultramafic, di Oman yang menurut mereka bisa digunakan untuk memineralisasi hingga 4 miliar ton CO2 setiap tahunnya. Jumlah itu setara dengan 12 persen output CO2 tahunan dunia. Matter juga terlibat dalam pilot project bersama Reykjavik Energy dan yang lainnya menginjeksikan air yang jenuh dengan CO2 ke dalam formasi basalt di Islandia. Selama sembilan bulan setelahnya, batuan itu diharapkan dapat mengasup 1.600 ton CO2 yang diambil langsung dari emisi pembangkit listrik geotermal di sekitar lokasi. Teknik serupa, dapat dilakukan untuk menangkap CO2 langsung dari cerobong asap pembangkit listrik atau industri lalu mengkombinasikannya dengan air dan menyalurkannya ke dalam tanah, yang dilakukan Matter dalam sebuah studi Pacific Northwest National Laboratory di Wallula, Washington.

Karakteristik Batuan Ultramafic

Batuan beku dan meta-beku ultramafic dikenal juga dengan ultrabasic. Kandungan silikanya rendah (kurang dari 45 persen) dan lebih banyak mineral mafic (mineral berwarna gelap kaya magnesium dan besi). Batuan ultramafic umumnya terbentuk di mantel bumi, dari kedalaman sekitar 12 mil (sekitar 20 kilometer) di bawah permukaan hingga setebal ratusan mil ke dalam perut bumi. Sebagian kecil dari jenis batuan ini, seperti peridotite, dunite, dan lherzholite, bisa muncul ke permukaan ketika lempeng tektonik be rbertumbukan di lempeng samudera, atau ketika bagian interior lempeng benua tipis dan merenggang.

Ketika batuan terpapar dengan karbon dioksida (CO2), mineral kalsium atau magnesium silikatnya bereaksi membentuk kapur dan batuan kapur produk dari kalsium atau magnesium karbonat padat. Tapi, kalau mengandalkan prosesnya yang alami bisa butuh ribuan tahun untuk batuan menjerat sejumlah besar CO2 dari atmosfer (Koran Tempo, Tak Cukup Pohon Batu Pun Bisa, Senin 7 September 2009)




Artikel Lainnya:

Jurnal Sains