Langsung ke konten utama

Komunitas hacker (peretas) Serta Penggila Komputer dan Internet Siap Bantu Polisi Bongkar Terorisme

loading...
bisnis online

(kesimpulan) Komunitas hacker (peretas) serta penggila komputer dan Internet bersedia membantu polisi menghadapi propaganda teroris dan jihad di dunia maya. Praktisi komputer dan Internet, Muhammad Salahudin, Minggu 6 September, mengatakan bahwa Hacker juga punya nasionalisme.

Salahudin yang menjabat sebagai Wakil Ketua Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure, menyatakan bahwa kepolisian harus memasok data yang dibutuhkan dalam perang propaganda di Internet itu. Artinya, produksi informasi dan data oleh aparat. Para hacker pun siap membantu jika dilibatkan oleh kepolisian dalam kampanye anti jihad teroris dan pengeboman.

Dalam konteks antiterorisme, para penggila dunia komputer dan Internet juga memiliki idealisme perlawanan. Komunitas hacker adalah mereka yang punya nilai kemanusiaan, antiperang, dan antikekerasan. Salahudin menerangkan, perang propaganda di dunia Internet sangat besar pengaruhnya.

Kekalahan dalam propaganda via Internet membuat Timor Timur dan Pulau Sipadan-Ligitan lepas dari Indonesia. Opini yang terbentuk di dunia maya sampai hingga ke belahan dunia lain. Malaysia memiliki tim antipropaganda yang bertugas memasok informasi tentang Sipadan dan Ligitan versi Malaysia. Sedangkan Indonesia sama sekali tak punya.

Bahkan Detasemen Khusus 88 Antiteror Markas Besar Kepolisian RI kesulitan membuka situs-situs tertentu yang ditengarai mengandung informasi terorisme. Maka Mabes Polri menyambut baik tawaran komunitas hacker. Kepala Divisi Pembinaan Hukum Inspektur Jenderal Aryanto Setiadi, Minggu 6 September 2009, mengatakan bahwa inisiatif para Hacker tersebut perlu digalakkan. Selama ini kepolisian kekurangan tenaga yang andal di bidang teknologi informasi.

Polisi sangat kesulitan membongkar situs-situs yang mempropagandakan jihad dan aksi terorisme. Bahkan kepolisian sampai mendatangkan ahli dari luar negeri. Padahal ahli dalam negeri masih belum disentuh. Itu sebabnya, bantuan dari ahli teknologi informasi diharapkan mampu menangkis kejahatan terorisme yang menggunakan teknologi informasi.

Keingin para Hacker untuk membantu polisi semacam itu adalah bentuk pola kerja polisi yang mengedepankan polisi kemasyarakatan, yakni memberdayakan masyarakat di lingkungan masing-masing. Aryanto mengatakan bahwa tebukti ada yang sukarela membantu dan menjadi kebanggaan. Para Hacker tak melulu mencari duit. Ini cara berbakti untuk negara.

Sebelumnya, Kepala Polri Jenderal Bambang Hendarso Danuri, menjelaskan aliran dana teroris sudah menggunakan fasilitas perbankan phone banking. Pengambilan uang pun melalui anjungan tunai mandiri (ATM). Phone banking memungkinkan seseorang mengirim uang hanya dengan mengirim pesan pendek telepon seluler, by hand by courier.

Menurut Kepala Badan Reserse Kriminal Komisaris Jenderal Susno Duadji, bahwa pelaku terorisme tetap menutupi identitas mereka dengan cara menggunakan identitas palsu atau identitas orang lain (Koran Tempo, Hacker Siap Bantu Polisi Lawan Teroris, Senin 7 September 2009)


bisnis online
Ikuti sains dan teknologi terkini di: Laporan Penelitian. Update via: Google+ Twitter Facebook Pinterest YouTube
Kesimpulan.com menerima konten tentang teknologi, sains, lingkungan dan bisnis dari siapa saja. Kami siap untuk publikasi dan press release. Informasi lanjut kunjungi laman ini.