Satelit komunikasi Palapa-D milik PT Indosat Tbk Kesulitan Memasuki Orbit

Tinuku

(kesimpulan) Satelit komunikasi Palapa-D milik PT Indosat Tbk, yang diluncurkan dari Xichang, China, Selasa petang 1 September 2009, pukul 05.28 waktu setempat, kesulitan memasuki orbit. Pada tahap pertama dan kedua, roket memasuki luar angkasa dengan normal. Tapi pada tahap ketiga terjadi kegagalan. Pada menit-menit pertama, roket tiga tingkat buatan China, Long March 3B, yang membawa satelit, meluncur tanpa gangguan. Kegagalan terjadi sekitar 20 menit sesudahnya, saat tingkat ketiga roket akan melepaskan diri. Tingkat ini ditenagai oleh dua mesin YF-75 berbahan bakar campuran hidrogen dan oksigen cair.

Mesin tersebut diduga sudah menyelesaikan satu dari dua proses pembakaran untuk menempatkan roket dan Palapa-D memasuki orbit. Namun, masalah terjadi pada proses pembakaran kedua. Belum jelas apakah mesin gagal menyala atau mati lebih awal. Untunglah, beberapa jam kemudian, perusahaan Prancis pembuat Palapa-D, Thales Alenia Space, berhasil menangkap satelit tersebut dan berupaya mengembalikannya ke orbit. Problem ini sedang diinvestigasi tim ahli. Pada Maret, China telah berjanji mengganti satelit komunikasi milik Nigerian Communication Satellite senilai US$340 juta. Penggantian itu dilakukan setelah gagal 18 bulan di orbit. Satelit itu juga diluncurkan dari Xichang pada 2007.

Juru bicara Indosat, Adita Irawati, memastikan satelit Palapa-D dalam kondisi normal. Buktinya, sinyal satelit ini berhasil ditangkap oleh stasiun bumi di Fucino, Italia. Bahkan, setelah melakukan pemeriksaan fungsi dan parameter, panel solar pada satelit sudah mulai dibuka sebagian. Sehingga satelit Palapa-D dapat melakukan catu daya dari matahari. Pengecekan sebagian fungsi dan parameter satelit merupakan bagian dari proses normal sebelum satelit dikonfigurasi secara penuh. Selanjutnya, secara bertahap satelit akan ditempatkan di orbit geostasioner yang membutuhkan waktu sekitar 10-12 hari sejak peluncuran. Jadi tidak bisa masuk orbit dalam waktu sehari.

Sebelumnya, Presiden Direktur dan Chief Executive Officer PT Indosat Tbk, Harry Sasongko mengungkapkan, perusahaannya siap mengoperasikan satelit berbiaya US$200-300 juta itu. Biaya pembangunan dan peluncuran didapat melalui sumber keuangan internal Indosat dan sumber eksternal. Satelit Palapa-D diharapkan dapat beroperasi mulai awal November 2009 hingga tahun 2024 dengan wilayah cakupan lebih besar, yaitu melebihi wilayah Nusantara, yakni negara-negara ASEAN, negara-negara Asia, Timur Tengah, dan Australia.

Peluncuran Palapa-D menuju orbit 113 derajat bujur timur ini berlangsung sekitar 10 merit dengan kondisi cuaca cerah. Ketegangan sempat mewarnai detik-detik menjelang peluncuran. Para tamu undangan diperbolehkan menyimak dari atap gedung Xichang Satellite Launch Center dan balkon ruang pemantauan. Semua komisaris dan pimpinan Indosat tampak haru, lega, dan berpelukan saat roket berhasil meluncur. Pemilik mayoritas saham Indosat (sekitar 60 persen), pengusaha Qatar Timur Tengah, HE Sheikh Abdullah Mohammed Al-Thani, juga hadir dalam peluncuran tersebut.

Meski Indosat menjadi perusahaan telekomunikasi pertama yang berhasil meluncurkan satelit, manajemen di dalamnya berkali-kali menegaskan bahwa Palapa-D adalah milik bangsa Indonesia. Setyanto P Santosa, komisaris PT Indosat, Senin di Xichang, mengharapkan teknologi ini dapat menyatukan negeri serta akan sangat membantu telekomunikasi di daerah terpencil dan perbatasan. Direktur Utama dan CEO Indosat Harry Sasongko, melalui Chief Wholesale and Infrastructure Officer and Director Fadzri Sentosa, menuturkan bahwa satelit Palapa-D ini digunakan untuk layanan broadcasting dan cellular backhaul sebagai basic service, VSAT service, DigiBouquet dan Telecast Service. Dari 14 televisi di Indonesia, hanya Trans Corporation (TransTV dan Trans7) yang tidak menggunakan layanan Indosat.

Seperti halnya dengan satelit Palapa-C2, satelit Palapa-D juga akan dimanfaatkan sebagai tulang punggung untuk mendukung layanan Indosat lainnya, seperti seluler, telepon tetap, dan data tetap. Palapa-D dibuat Thales Alenia Space, Perancis, berdasarkan platform Spacebus-4000B3. Palapa-D memiliki kapasitas 120 persen lebih besar dibandingkan dengan Palapa-C2. Palapa-D memiliki 24 transponder Standar C-Band, 11 transponder Extended C-Band, dan 5 transponder Ku-Band. Satelit ini memiliki berat 4.100 kilogram dan pada saat diluncurkan akan memakan daya 7.500 watt. Sebagai peluncur satelit, Indosat menggunakan jasa China Academy of Launch Vehicle Technology (CALT)




Tinuku Store