Sedimen Fosil CO2 di Atmosfer 34 Juta Tahun yang Lalu Untuk Prediksi Lapisan Es Antartika

Tinuku

(KeSimpulan) Sebuah tim ilmuwan mempelajari sampel batuan di Afrika yang menunjukkan hubungan kuat antara terbentuknya karbon dioksida (CO2) dan pembentukan lapisan es Antartika 34 juta tahun yang lalu. Hasilnya penelitian ini dapat untuk menjelaskan model-model iklim dalam memprediksi penciptaan lapisan es bila tingkat Co2 turun dan mencairnya selubung es ketika tingkat CO2 meningkat. kesimpulan 6

Tim, dari Universitas Cardiff, Bristol dan A&M Texas, menghabiskan seminggu di semak Tanzania Afrika dengan pengawal bersenjata untuk melindungi mereka dari singa untuk mengambil sampel fosil kecil yang dapat mengungkapkan tingkat CO2 di atmosfer 34 juta tahun yang lalu. Kadar karbon dioksida, gas rumah kaca utama, secara misterius terbentuk selama ini dalam proses yang disebut transisi iklim Eosen-Oligosen.

"Ini adalah peralihan iklim terbesar sejak kepunahan dinosaurus 65 juta tahun yang lalu," kata Bridget Wade dari Texas A&M University. Studi rekonstruksi tingkat CO2 di sekitar periode ini, menunjukkan kedalaman lembaran es di Antartika saat mulai terbentuk. Kadar CO2 sekitar 750 bagian/juta atau sekitar dua kali lipat pada tingkat saat ini.

"Tidak ada sampel udara dari zaman yang dapat diukur, jadi Anda perlu menemukan sesuatu yang dapat mengukur CO2 di Atmosfer," kata Paul Pearson dari Universitas Cardiff. Pearson, Wade dan Gavin Foster dari University of Bristol mengumpulkan sampel berupa sedimen dari desa Stakishari di Tanzania Stakishari, di mana terdapat endapan tipe tertentu yang berisi microfossils untuk mengungkap tingkat CO2 di masa lalu.

"Penelitian kami adalah yang pertama yang merekonstruksi CO2 untuk menunjukkan tingkat CO2," kata Pearson. CO2 menjadi gas asam, menyebabkan perubahan keasaman di laut, yang menyerap sejumlah besar gas. "Kita bisa mengetahui melalui kandungan kimia dari kerang plankton mikroskopik yang tinggal di permukaan laut pada waktu itu," jelasnya.

Menemukan bukti di sekitar Antartika akan jauh lebih sulit. "Es menutupi segalanya di Antartika. Terjadi erosi sedimen di sekitar Antartika karena pembentukan lapisan es telah melenyapkan banyak pra-bukti yang mungkin ada di sana," kata Pearson. Hasilnya dipublikasikan secara online dalam jurnal Nature. "Hasil penelitian ini dapat dijadikan model untuk memprediksi pencairan es. Mereka percaya bahwa lapisan es Antartika akan habis meleleh pada akhir abad ini, kecuali jika pemotongan emisi diterapkan secara serius (Reuters)




Foto: Reuters
Tinuku Store