Dokumentasi Berita Sains (2008-2013)
HOME - ARSIP - PENCARIAN

Tangkal Nyamuk Culex Pembawa Virus West Nile dan Filariasis dengan Aroma Alami

(kesimpulan) Berawal dari meneliti lalat buah di laboratorium, sejumlah pakar entomologi di University of California, Riverside, Amerika Serikat, justru menemukan cara mengembangkan repellent atau bahan pengusir nyamuk yang aman dan murah. Senyawa kelas baru ini diharapkan dapat memerangi penyebaran virus West Nile dan penyakit tropis mematikan lainnya.

Ketika lalat buah mengalami stres, mereka mengeluarkan karbon dioksida (CO2) yang berfungsi sebagai peringatan bagi lalat buah lain akan adanya bahaya atau predator di dekatnya. Lalat buah dapat mendeteksi CO2 itu dan kabur karena antena mereka dilengkapi dengan neuron khusus yang sensitif terhadap gas tersebut.

Para pakar serangga dari universitas tersebut kemudian tertarik mempelajari cara lalat buah mendeteksi gas tanda bahaya itu, karena buah-buahan dan sumber pangan penting lain bagi lalat buah juga mengeluarkan CO2 sebagai produk sampingan dari proses pematangan buah dan respirasi. Jika respons bawah sadar lalat buah adalah menghindari CO2, bagaimana serangga kecil itu dapat menemukan makanan?

Jawaban atas pertanyaan tersebut kini terjawab dengan penemuan Anandasankar Ray, staf pengajar di Department of Entomology, dan Stephanie Turner, mahasiswanya. Mereka berhasil mengidentifikasi odorant kelas baru, senyawa kimia berbau, yang terdapat, dalam buah masak. Odorant ini menghalangi berfungsinya neuron sensitif CO2 pada antena lalat. Dua dari beberapa senyawa bebauan itu, hexanol dan 2,3-butanedione, adalah inhibitor yang amat kuat terhadap neuron sensitif CO2 pada lalat buah.

Laporan riset ini memiliki implikasi kuat untuk upaya pengendalian penyakit mematikan yang disebarkan oleh nyamuk Culex, seperti virus West Nile dan filariasis, sejenis penyakit tropis menular yang mempengaruhi sistem limfatik. Sejak 1999, hampir 29 ribu warga Amerika Serikat dilaporkan menderita penyakit yang disebabkan oleh virus West Nile. Sedangkan filariasis menginfeksi lebih dari 120 juta orang di dunia.

CO2 yang dilepaskan dalam napas manusia adalah daya tarik utama bagi nyamuk untuk menemukan manusia, membantu penyebaran penyakit mematikan itu. Dalam eksperimen yang mereka lakukan mengidentifikasi hexanol dan bau terkait lainnya, butanal, sebagai inhibitor kuat bagi neuron sensitif CO2 pada nyamuk Culex.

Kini senyawa tersebut dapat digunakan untuk memandu riset pengembangan repellent baru dan bahan masker yang ekonomis dan metode yang ramah lingkungan untuk menghalangi nyamuk mendeteksi CO2 dalam napas manusia, sehingga dapat mengurangi kontak nyamuk-manusia secara dramatis (Koran Tempo, Aroma Alami Bahan Pengusir Nyamuk, Rabu 2 September 2009)





Artikel Lainnya: