Dokumentasi Berita Sains (2008-2013)

Kesinambungan Kehidupan Walrus dalam Ancaman Pemanasan Global

(KeSimpulan) Setengah abad setelah Walrus (singa laut) Pasifik mulai pulih dari skala industri perburuan, ahli biologi kelautan tambah khawatir bahwa mereka menghadapi ancaman dari meningkatnya pemanasan global. Walrus yang lamban dan berkerumun di pantai dan batu-batuan di sepanjang garis pantai Rusia dan Amerika di sisi Selat Bering, kini terancam tidak memiliki es yang biasanya berfungsi sebagai tempat berlindung pada akhir musim panas dan masa kawin.

Sementara lautan es di Kutub Utara pada musim panas tidak seperti seperti pada tahun 2008 atau 2007, Laut Chukchi, tempat habitat jangkauan dari sub spesies walrus jangkauan. Pada hari Kamis, ahli biologi dari United States Geological Survey mengeluarkan laporan yang menyatakan sebanyak 131 walrus ditemukan mati di dekat tanjung Icy, Alaska. Beberapa ribu walrus telah berkumpul di daerah itu. Para ilmuwan merasakan hal yang aneh dan tidak biasa atas situasi tersebut. Bulan lalu, sebuah tim dari World Wildlife Fund melaporkan pengamatan bahwa ada 20.000 walrus di pantai tanjung Schmidt. Di wilayah yang sama, para ilmuwan pada tahun 2007 melaporkan beberapa ribu walrus mati setelah berdesak-desakan di garis pantai.

Walrus telah bertahan lebih dari 15 juta tahun dengan berbagai iklim pasang surut, sehingga para ahli memperkirakan spesies ini tidak akan punah, jika perburuan tetap terkendali. Tetapi telah berkembang konfirmasi bahwa walrus akan menderita kerugian besar sebagai akibat lapisan es laut di perairan pantai menipis di musim panas. Bulan lalu, US Federal Fish and Wildlife Service, menanggapi gugatan yang dilakukan oleh Center for Biological Diversity, sebuah kelompok lingkungan hidup, yang menyatakan bahwa ada cukup bukti ilmiah meningkatnya tekanan pada berbagai binatang karena perubahan iklim sehingga perlu mempertimbangkan pemberian perlindungan bagi walrus Pasifik di bawah Endangered Species Act.

Review hukum yang sedang berjalan, dan penampungan pendapat publik dilakukan sampai tanggal 9 November. Beruang kutub, yang juga sangat tergantung pada lautan es, terdaftar sebagai spesies terancam pada tahun lalu. "Saya kira ada alasan untuk khawatir," kata Brendan P. Kelly, seorang ahli biologi kelautan di University of Alaska, Fairbanks, yang telah meneliti walrus selama beberapa dekade.

Kelly mengutip penelitian yang dilakukan pada tahun 1978 atas perburuan secara besar-besaran di kepulauan Laut Bering lebih dari satu abad yang lalu. Namun perluasan perairan terbuka sepanjang pantai meningkatkan peluang dan menambah tekanan pada binatang kutub. Untuk saat ini, walrus Pasifik tetap berlimpah, jumlah sedikitnya 200.000. Sedagnkan walrus Atlantik, sebuah sub spesies di Kanada, Norwegia, Rusia dan Greenland berjumlah sekitar 22.000, dan nampaknya populasi tidak akan pernah pulih akibat dari pembantaian yang berkelanjutan.

Dr Kelly mengatakan: "Para penduduk asli Pasifik tersebut akan pulih. Tapi sulit untuk membayangkan bahwa hal itu akan tetap berlangsung pada abad yang akan datang" (nytime)


Artikel Lainnya: