Langsung ke konten utama

Antibodi Monoklonal Manusia m102.4 untuk Melawan Virus Nipah dan Hendra

loading...
bisnis online

(KeSimpulan) Sebuah penelitian kerja sama tim dari Uniformed Services University of the Health Sciences (USU), Australian Animal Health Laboratory, dan National Cancer Institute, suatu komponen dari National Institute of Health melaporkan sebuah langkah maju dalam pengembangan terapi yang efektif terhadap dua virus mematikan yaitu virus Nipah dan virus Hendra.

Virus Nipah dan Hendra ditemukan dalam kelelawar buah Pteropid (Pteropid fruit bats atau flying foxes) yang ditandai dengan memunculan mereka sebagai agen penyebab penyakit dan kematian pada hewan dan manusia. Eksperimen yang dilakukan di ferrets, Australian Animal Health Laboratory di Geelong, Victoria, Australia, di mana memiliki fasilitas tingkat tinggi keselamatan dan keamanan untuk memperlakukan secara hidup virus Nipah dan Hendra. Tim peneliti menunjukkan bahwa pemberian terapi anti-virus, anti-virus human monoclonal antibody therapy, dapat melindungi manusia dan hewan setelah terinfeksi virus Nipah.

"Temuan ini sangat menggembirakan dan jelas menunjukkan potensi bahwa pengobatan untuk infeksi virus Hendra dengan cara yang sama juga bisa diterapkan, mengingat lintas aktivitas reaktif antibodi ini telah kuat melawan virus Hendra," kata Deborah Middleton, DVM, Ph D., yang memimpin hewan percobaan di Laboratorium Kesehatan Hewan Australia, seperti dikutip untuk sceincedaily. Sebelumnya di National Cancer Institute dan USU menghasilkan penemuan dan pengembangan suatu antibodi monoklonal manusia (human monoclonal antibody), m102.4, yang dapat melawan virus Nipah dan Hendra. Antibodi (protein yang ditemukan dalam darah atau cairan tubuh lainnya pada vertebrata) yang digunakan oleh sistem kekebalan tubuh untuk mengidentifikasi dan menetralisir virus atau bakteri.

Penulis studi Christopher C. Broder, Ph.D., profesor mikrobiologi di USU, dan Katharine Bossart, Ph.D., seorang lulusan USU dan sekarang asisten profesor di Department of Microbiology, Boston University School of Medicine dan investigator at the National Emerging Infectious Diseases Laboratories Institute in Boston. Dua pemimpin tim untuk menguji efektivitas terapi antibodi baru pada hewan. Percobaan didukung sebagian oleh National Institute of Allergy dan Infectious Diseases, NIH. The Henry M. Jackson Foundation for the Advancement of Military Medicine, Inc menyediakan dukungan penelitian dan kemampuan manajemen tim peneliti.

"Kita sekarang memiliki bukti bahwa antibodi ini dapat menyelamatkan nyawa manusia dan menawarkan wawasan tentang cara kerjanya juga bisa berpotensi memberikan titik awal untuk mengembangkan alat penargetan penyakit lain," kata rekan studi Dimiter S. Dimitrov, Ph.D. penelitian senior biomedis di National Cancer Institute. Virus Nipah dan Hendra adalah anggota keluarga henipavirus, agen sangat menular yang muncul dari kelelawar pada tahun 1990-an menyebabkan wabah penyakit serius pada manusia dan ternak di Australia, Banglades, India, Malaysia dan Singapura. Wabah baru-baru ini telah mengakibatkan sindrom gangguan pernapasan akut dan encephalitis, transmisi orang ke orang, dan sampai 75 persen kasus pada manusia berakibat fatal. Selain itu, virus ini dapat digunakan sebagai senjata bioterror.

Awal eksperimen, para peneliti menggunakan ferrets menemukan bahwa tolerasi m102.4 menunjukkan tidak ada efek samping dan mempertahankan aktivitas netral yang tinggi. Penemuan menyarankan bahwa m102.4 berpotensi digunakan sebagai pencegahan atau pasca-paparan agen, pemeriksaan diagnostik, atau reagent penelitian. Virus Hendra muncul kembali lagi pada bulan Agustus 2009, yang mengakibatkan kematian beberapa kuda dan seorang manusia. Selama wabah tersedia dosis rendah m102.4 untuk diberikan dengan gangguan encephalitic. Meskipun tidak ada efek samping, pasien tidak membaik karena kerusakan ireversibel yang dilakukan oleh virus itu. Seperti anti mikroba lainnya, keberhasilan klinis antibodi ini akan tergantung pada dosis dan waktu pemberian. Virus Hendra dan Nipah yang menyebabkan penyakit berat pada manusia, penerapan antibodi ini akan sukses sebagai terapi pasca pajanan dan kemungkinan akan membutuhkan intervensi awal.

"Untuk penggunaan terapeutik klinis antibodi terhadap virus Hendra atau virus Nipah, jumlah yang lebih besar perlu disiapkan di bawah pedoman yang tepat, dengan hati-hati dievaluasi lagi pada model hewan dan uji penggunaan untuk keselamatan manusia," kata Dr Broder. "Kami berharap ini menjadi demonstrasi anti-aktivitas virus yang akan mendorong beberapa kegiatan langsung untuk memfasilitasi pengembangan lebih lanjut bagi penggunaan pada manusia. Saat ini belum ada izin dan persetujuan vaksin atau terapi untuk pencegahan dan pengobatan penyakit yang disebabkan oleh virus ini untuk manusia atau ternak. Ini human monoclonal antibody adalah agen antivirus pertama melawan virus Nipah dan Hendra yang mempunyai potensi terapeutik manusia," kata Dr Broder. "Satu generasi terapi antibodi ini bisa membantu mengendalikan wabah di wilayah geografis yang rentan terhadap henipaviruses dan bisa mengubah informasi dari patogen yang mematikan menjadi bermanfaat bagi umat manusia," kata Dr Dimitrov.

a | A schematic representation of henipavirus structure. Henipaviruses, like other paramyxoviruses, contain a linear ribonucleoprotein (RNP) core consisting of a single-stranded genomic RNA molecule of negative polarity to which nucleocapsid proteins (N) are tightly bound in a ratio of one N for every six nucleotides. The RNP also contains smaller numbers of the phosphoprotein (P) and the large (L) polymerase protein, both of which are required to transcribe genomic RNA into mRNA and anti-genome RNA. The RNP core is surrounded by an envelope from which two spikes protrude; one is the receptor-binding glycoprotein (G) and the other the fusion (F) protein. The G and F proteins are arranged as homotetramers and homotrimers, respectively. The matrix protein (M) which underlies the viral envelope is important in determining virion architecture and is released from the RNP core on its entry into cells. b | Electron micrograph of Hendra virus (HeV). The ultrastructural characteristics of HeV and Nipah virus have been reviewed. c | The henipavirus genome. The negative-sense genomic RNA is presented in the 3' to 5' orientation. The open reading frames indicated by the yellow arrows encode the nucleocapsid protein (N), phosphoprotein (P), matrix protein (M), fusion protein (F), glycoprotein or attachment protein (G) and large protein (L) or RNA polymerase, in the order 3'-N-P-M-F-G-L-5'. The vertical lines represent gene start and stop signals. Note the long untranslated 3' regions in all genes except the L gene. All genes except the P gene are monocistronic. The P gene of henipaviruses encodes not only the P protein, but also V, C and W proteins. Genomic RNA in RNPs is transcribed by the viral polymerase which associates with the RNP at the 3' terminus and sequentially generates discrete mRNAs from each of the viral genes. The mRNAs are not produced in equimolar amounts and there is a transcription gradient from the N to the L gene, with significant attenuation at the M–F and G–L gene junctions of HeV, a pattern of attenuation more closely resembling that observed in Sendai virus than in measles virus.


Bossart et al. A Neutralizing Human Monoclonal Antibody Protects against Lethal Disease in a New Ferret Model of Acute Nipah Virus Infection. PLoS Pathogens, 2009; 5 (10): e1000642 DOI:10.1371/journal.ppat.1000642 | Nature Reviews Microbiology. doi:10.1038/nrmicro1323

bisnis online
Ikuti sains dan teknologi terkini di: Laporan Penelitian. Update via: Google+ Twitter Facebook Pinterest YouTube
Kesimpulan.com menerima konten tentang teknologi, sains, lingkungan dan bisnis dari siapa saja. Kami siap untuk publikasi dan press release. Informasi lanjut kunjungi laman ini.