Langsung ke konten utama

Bahan Bakar Nuklir Menuju Krisis Uranium?

loading...
Tinuku

(KeSimpulan) Dunia bersiap-siap untuk investasi besar untuk tenaga nuklir dalam beberapa dasawarsa, karena pemilik tambang uranium pada minggu lalu mengangkat prospek kekurangan bahan bakar. Volatile harga minyak dan gas bersama dengan ancaman pemanasan global telah mendorong banyak pemerintah untuk mempertimbangkan kembali energi nuklir, sebagian karena merupakan teknologi karbon rendah dan sebagian lagi karena pasokan uranium tampaknya masih banyak.

Tambang uranium telah melayani sekitar 60 persen dari permintaan global untuk bahan bakar nuklir. Sisanya berasal dari sumber-sumber sekunder, termasuk sisa stok dari tahun 1970-an dan 1980-an, hasil daur ulang dan konversi hulu ledak nuklir Rusia yang disebut "Megatons to Megawatts programme". Tapi pasokan mungkin tidak aman seperti pemikiran awal. Harga uranium tersungkur dari puncaknya sekitar US$130 per pon uranium oksida (US$286 per kilogram) pada tahun 2007 menjadi US$45 pada hari ini.

Beberapa penurunan ini disebabkan oleh merosotnya harga bahan bakar fosil dan beberapa dari ketidakpastian di sekitar krisis industri. Sebagai contoh, investor tidak tahu berapa banyak dan kapan reaktor tua di dunia akan dinonaktifkan. Mereka juga tidak yakin tentang pasokan uranium sekunder, misalnya "Megatons to Megawatts programme" yang bertanggung jawab atas 10 persen dari pasokan listrik AS, berakhir pada tahun 2013 dan tidak diketahui apa yang akan menggantikannya.

Ketidakpastian ini menahan investasi untuk tambang baru yang dapat menyebabkan kekurangan pasokan di masa depan, kata Jean Nortier, chief executive Uranium One, sebuah perusahaan eksplorasi pertambangan berbasis di Vancouver, Kanada. "Harga saat ini terlalu rendah untuk memberikan insentif yang diperlukan untuk pemenuhan jangka menengah dan panjang atas permintaan uranium," kata Nortier.

Ditambah kekhawatiran bahwa sumber daya uranium mungkin telah dibesar-besarkan. International Atomic Energy Agency dan Nuclear Energy Agency (NEA) menerbitkan dua tahunan perkiraan sumber daya uranium global yang disebut Red Book. Michael Dittmar, fisikawan partikel dari CERN di Jenewa, Swiss, pekan lalu merilis sebuah analisis kritis dari angka-angka dan berpendapat bahwa alasan di balik fluktuasi sumber daya diperkirakan dalam beberapa tahun terakhir tidak jelas.

Red Book pada tahun 2007 memperkirakan bahwa ada 5,5 juta ton uranium yang dapat ditambang untuk kurang dari US$130 per kilogram, naik dari 4,7 juta ton pada tahun 2005. Dalam proses normal temuan geologis, kenaikan harus mencakup semua kategori. Perubahan lain juga tampak aneh. Dittmar mengatakan, Di Nigeria, misalnya, sumber daya Uranium pada perkiraan sejak tahun 2003 telah berfluktuasi dengan cara yang sulit untuk dijelaskan secara geologis. Perubahan mungkin bermotif politik agar tidak mempengaruhi investasi di negara itu.

Robert Vance, analis energi nuklir di NEA, mengatakan tidak dapat mengesampingkan aktivitas semacam ini, tetapi ada aturan ketat yang mengatur estimasi sumber daya. "Kami bekerja sangat keras untuk memastikan bahwa data dapat diandalkan," kata Vance. Red Book menunjukkan bahwa ada lebih dari cukup sumber daya untuk memenuhi kebutuhan masa depan, industri menyadari sumber-sumber sekunder yang semakin menyusut dan siap untuk menaikan pasokan dari tambang. Sebagai contoh, Kazakhstan memiliki peningkatan produksi uranium pada tingkat 30 persen per tahun, menjadikannya salah satu produsen terbesar di dunia.

Namun, perusahaan pertambangan di negara-negara maju tidak akan mampu meningkatkan produksi pada tingkat yang sama karena undang-undang lingkungan hidup yang ketat. "Negara-negara Barat berencana untuk memperluas kapasitas nuklir mereka tanpa sumber uranium mereka sendiri dan seharusnya melihat angka-angka yang sangat hati-hati," kata Dittmar.

Ikuti sains dan teknologi terkini di: Laporan Penelitian
Update via: Google+ Twitter Facebook Pinterest YouTube
Kesimpulan.com menerima konten tentang teknologi, sains, lingkungan dan bisnis dari siapa saja. Kami siap untuk publikasi dan press release. Informasi lanjut kunjungi laman ini.