Skip to main content

Butiran Polymer Pencuci Sampah Radioaktif Isotop Cobalt (60 Co)

(KeSimpulan) Tenaga nuklir bisa memecahkan masalah energi tetapi lebih menjijikkan dari semua produk kotoran: limbah radioaktif. Tidak hanya pembuangan batang core tua tetapi juga hasil operasi reaktor dalam jumlah besar dari limbah tingkat rendah, terutama yang terkontaminasi air pendingin. Sevilimendu Narasimhan dari Bhabha Atomic Research Center di Kalpakkam, India, dan kimiawan PD Dr Börje Sellergren dari Institute of Environmental Research at Technische Universität Dortmund telah mengembangkan metode baru untuk mengurangi jumlah cukup besar limbah radioaktif ini.

Pendekatannya yaitu butiran-butiran (manik-manik) kecil yang terdiri dari polimer khusus di mana radioaktivitas keluar dari air. Dalam reaktor air bertekanan (reaktor yang paling umum), air panas beredar pada tekanan tinggi melalui pipa-pipa baja, melarutkan ion logam dari dinding-dinding pipa. Ketika air dipompa melalui inti reaktor, ion ini dibombardir oleh neutron. Karena pipa adalah pipa baja, sebagian besar ion adalah besi isotop (56 Fe) yang tidak menjadi radioaktif ketika dibombardir oleh neutron. Tetapi dalam pipa baja biasanya menerima kobalt (cobalt). Dan ketika cobalt ini menyerap neutron, sebuah isotop cobalt (60 Co) tidak stabil, muncul radioaktif dengan waktu paruh lebih dari lima tahun. Biasanya air dibersihkan dengan ion pengganti. Namun teknik ini memiliki kelemahan yang sangat penting, karena tidak membedakan antara ion besi non-radioaktif-ion dan ion cobalt radioaktif.

Untuk mengatasi masalah ini, Sellergren dan Narasimhan sedang mencari bahan yang tidak mengikat cobalt dan besi. Mereka mengembangkan polimer khusus yang dibuat melalui prosedur yang disebut "molecular imprinting." Polimer ini dibuat dalam suatu lingkungan yang mengandung cobalt. Kemudian ion cobalt diekstraksi dengan asam klorida (hydrochloric acid), artinya mereka "dicuci keluar." Maka lubang seukuran cobalt (imprinting) mampu menjebak hanya cobalt di lingkungan lain tersebut. Hasilnya, sejumlah kecil polimer ini dapat membersihkan sejumlah besar isotop radioaktif.

Tim ini sekarang membentuk polimer menjadi manik-manik kecil yang dapat melewati sistem pendingin sebuah stasiun tenaga nuklir. Mereka berharap akan lebih ekonomis dan ramah lingkungan mengatasi konsentrat radioaktivitas masuk ke dalam manik-manik dibandingkan dengan menyimpan atau membuang dalam jumlah besar limbah tingkat rendah. Secara hukum jelas ini sebuah tuntutan. Di seluruh dunia ada sekitar 40 reaktor stasiun tenaga nuklir baru sedang dibangun dan International Atomic Energy Agency (IAEA) memperkirakan sebanyak 70 reaktor akan dibangun dalam waktu 15 tahun ke depan.

Ikuti sains dan teknologi terkini di: Laporan Penelitian. Update via: Google+ Twitter Facebook Pinterest YouTube
Kesimpulan.com menerima konten tentang teknologi, sains, lingkungan dan bisnis dari siapa saja. Kami siap untuk publikasi dan press release. Informasi lanjut kunjungi laman ini.