Drama Konspirasi Petinggi Polri dalam Kriminalisasi Mantan Ketua KPK Antasari Azhar

Tinuku

(KeSimpulan) Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar melalui tim kuasa hukumnya akan mengadu ke Komisi Nasional (Komnas) HAM untuk melaporkan hal yang mereka tuduh sebagai rekayasa dalam kasus pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran (PRB), Nasruddin Zulkarnaen.

"Kami berencana ke Komnas HAM untuk mengadukan adanya rekayasa dalam kasus ini," kata anggota tim kuasa hukum, Hotma Sitompul, di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Selasa. Sebelumnya, Mantan Kapolres Jakarta Selatan, Kombes Pol Wiliardi Wizar, menyatakan kasus Antasari merupakan rekayasa. Dalam kesaksian, Wiliardi menyebut nama Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri, mantan Wakabareskrim Irjen Hadiatmoko, dan Direskrim Polda Metro Jaya Kombes Pol M Irawan.

Ada dua berkas acara pemeriksaan (BAP) terhadap Wiliardi Wizar yakni pada 29 April dan 30 April 2009."Kami pertanyakan kenapa bisa hilang atau tidak dilampiri dua BAP itu," kata Hotma Sitompul. Di dalam kedua berkas itu, Wiliardi menyatakan tidak ada kata-kata bujukan atau perintah dari Antasari Azhar dalam kasus pembunuhan itu. Wiliardi sempat bersumpah mengatakan bahwa penahanan Antasari dikondisikan petinggi kepolisian. Wiliardi mengaku ditekan Irjen Pol Hadiatmoko dan Brigjen Pol Iriawan Dahlan dalam proses pemeriksaan.

Sementara itu, istri Wiliardi, Nova Wiliardi membenarkan semua keterangan dari suaminya, Wiliardi Wizar, dalam persidangan."Semua benar, keterangan suami saya," kata Nova. Ia juga menegaskan dalam keterangan saksi lain yakni Sigit Haryo Wibisono dan Rani Juliani tidak ada yang menyatakan bahwa terdapat perintah Antasari Azhar dalam pembunuhan tersebut."Kasus ini terlalu direkayasa," katanya.

Nova Wiliadi mengaku mengetahui adanya rekayasa petinggi Polri untuk menahan Antasari Azhar yang saat itu menjabat Ketua KPK. Nova pun mendesak suaminya agar membongkar kejadian sebenarnya. "Saya sendiri tahu dan dengar juga soal rekayasa itu. Saya bilang Pak jangan. Kasih tahu saja yang sebenarnya apa yang bapak tahu. Suami saya dicuci otak," kata Nova usai sidang Antasari Azhar di PN Jakarta Selatan, Jl Ampera Raya, Jakarta, Selasa. Nova mengatakan, kalau suaminya diiming-imingi tidak dipecat agar ikut dalam rekayasa tersebut. "Pokoknya kamu nggak diapa-apain. Nggak dipecat," katanya.

Sementara itu Antasari Azhar meminta pernyataan Wiliardi Wizar yang menyebut penahanannya dikondisikan, dinilai sebagai fakta persidangan. "Keterangan tadi jelas saya dizalimi. Itu fakta sidang, perlu dicatat," kata Antasari. Pernyataan Wiliardi merupakan tuntutan nuraninya. Publik diminta untuk menilai fakta persidangan itu, Antasari menitikkan air mata karena terharu. "Saya kaget sedemikian kesaksian tadi. Itu tuntutan nurani untuk bicara yang sebenarnya. Dari awal saya sudah katakan saya tidak ingin ramai-ramai, biarkanlah mengikuti proses hukum ini dengan elegan. Ini fakta persidangan, biarkan publik yang menilai," kata Antasari yang gemar berbatik.

Sejumlah nama petinggi Polri disebut Wiliardi Wizard sebagai orang yang diperintahkan untuk mengkondisikan penahanan Antasari Azhar. Apakah mantan Kapolres Jakarta Selatan itu tidak takut? "Tidak ada (ketakutan). Itu faktanya," kata Wiliardi. Wiliardi mengaku ditekan Irjen Pol Hadiatmoko dan Brigjen Pol Iriawan Dahlan dalam proses pemeriksaan. "Jam 10.00 WIB pagi saya didatangi oleh Wakabareskrim Irjen Pol Hadiatmoko. Dia katakan sudah kamu ngomong saja, kamu dijamin oleh pimpinan Polri tidak ditahan, hanya dikenakan disiplin saja," kata Wiliardi.

Williardi memutuskan untuk mencabut semua pernyataannya di BAP karena itu semua dibuat atas dasar rekayasa penyidik polisi. "Saya nyatakan semua BAP tidak berlaku. Yang (akan) kami pakai adalah BAP tanggal 29 April 2009 dan 30 April 2009 dan yang (kami) katakan di sini," kata Williardi mengawali kesaksiannya. Ia memutuskan mencabut keterangannya di BAP karena apa yang ia katakan telah dibuat oleh penyidik, dan ia tinggal tanda tangan. Alasan lain, pihak penyidik tidak memenuhi janjinya untuk tidak menahannya jika menurut pada penyidik.

Proses Rakayasa

Rekayasa itu bermula saat ia dijemput pada satu hari dari rumahnya ke kantor polisi pukul 00.30. Dini hari itu Williardi didatangi dan diperiksa Direktur Reserse Kepolisian Daerah Metro Jaya, Wakil Direktur Reserse dan tiga orang kepala satuan. Menurut Williardi, para petinggi polri memintanya membuat BAP yang harus menjerat Antasari sebagai pelaku utama pembunuhan Nasrudin. "Waktu itu dikondisikan sasaran kita cuman Antasari. (Lalu BAP saya) disamakan dengan BAP Sigid (Haryo Wibisono), dibacakan kepada saya," ujar Williardi tanpa wajah takut. Dalam kesaksian berikutnya, Williardi pun menyebut nama Wakil Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Irjen Adiatmoko. Menurut dia, Adiatmoko juga memintanya membuat BAP demi kepentingan menjebloskan Antasari.

BAP yang dibuat Williardi pada tanggal 29-30 April ditolak penyidik, karena Antasari tidak tersangkut. "Udah bikin apa saja yang terbaik untuk menjerat Pak Antasari. Dijamin besok pulang. Kami dijamin oleh pimpinan Polri tidak akan ditahan. Paling sanksi indisipliner" kata Williardi mengulang perkataan Adiatmoko. Karena jaminan itu, lanjut Williardi, ia bersedia menandatangani BAP yang sudah dibuat penyidik. Namun, yang terjadi keesokan harinya dalam berita televisi Williardi diplot polisi sebagai salah satu pelaku pembunuhan Nasrudin.

Ia pun protes kepada Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Muhammad Iriawan yang turut memeriksanya. "Janji mana? Tolong diklarifikasi. Kami tidak sejahat itu," ujar Williardi. Protes Willardi ini menuai reaksi dari teman sejawatnya. Kembali ia dijemput. Brigjen Irawan Dahlan dan langsung dibawa ke kantor Adiatmoko. Sambil minum kopi, ia ditanya apakah kenal dengan Edo, Jerry Hermawan Lo, Antasari Azhar, Sigid Haryo Wibisono. Ia juga ditanya apakah pernah menyerahkan uang Rp.500 juta kepada Edo dari Sigid. Williardi mengiyakan semua pertanyaan, tanpa tahu ia sedang disidik. Mendengar pengakuan Williardi, Aditmoko meminta bawahannya untuk langsung menahan Williardi. "Lho kok cuman nyerahin uang ditahan?" ujar Williardi pada Adiatmoko. Sejak saat itu sampai sekarang Williardi mendekam dalam tahanan.

Dalam sidang yang dipimpin oleh Herri Swantoro di PN Jakarta Selatan, Williardi juga mengaku dicap sebagai penghianat oleh teman-teman sejawatnya ketika ia protes kenapa ia akhirnya jadi terlibat dalam kasus pembunuhan dan ditahan. Protes kerasnya itu malah ditanggapi dingin oleh penyidik. "Itu perintah pimpinan," begitu jawaban yang dia dapat saat ia menggunggap kenapa ia ditahan.

Penasaran siapa yang dimaksud dengan pimpinan, Tim Kuasa Hukum Antasari yang diketuai Juniver Girsang bertanya kepada Williardi siapa yang dimaksud pimpinan. "Kalau bicara pimpinan, pimpinan kami ya Kapolri," jawa Williardi lantang. Lebih jauh, rekayasa itu juga terjadi saat rekontruksi. Dalam suatu pertemuan di kamar kerja Sigid, seolah-olah penyidik membuat adegan Antasari memberikan amplop coklat berisi foto Nasrudin kepada Williardi. Hal ini langsung dibantah oleh Williardi.

"Itu tidak benar. Kami menerima amplop itu langsung dari saudara Sigid. Tanpa ada Pak Antasari," tutur Williardi. Dari awal memberikan kesaksian, Williardi tidak gentar membeberkan pernyataan yang dianggapnya benar. Tak ada wajah takut darinya sekalipun beberapa pejabat berbintang ia sebutkan. Terdengar pula ia beberapa kali bersumpah untuk meyakinkan majelis hakim. Selain nama-nama di atas, ia juga menyebut petinggi polri seperti Niko Afinta, Tornagogo Sihombing, dan Daniel. Jaksa penuntut umum yang diketuai Cirus Sinaga meminta nama-nama yang disebut Williardi supaya dihadirkan dalam persidangan. (10 November 2009)

www.antaranews.com (Antasari Adukan Rekayasa ke Komnas HAM), nasional.kompas.com (Inilah Kesaksian Williardi yang Menghebohkan Itu), www.detiknews.com (Istri Wiliardi Juga Tahu Ada Rekayasa Penahanan Antasari; Antasari: Kesaksian Wiliardi Bukan Rekayasa; Antasari Minta Keterangan Wiliardi Sebagai Fakta Persidangan Dicatat; Sebut Nama Petinggi Polri, Wiliardi Tidak Takut)

Tinuku Store