Koleksi Spesimen Jamur Kehormatan Shu Chun Teng

Tinuku

(KeSimpulan) Seorang sarjana China yang teraniaya selama Revolusi Kebudayaan karena menyelundupkan koleksi jamur langka keluar dari China sebelum Perang Dunia II, kini merasa terhormat ketika koleksinya dikembalikan setelah lebih dari 70 tahun kemudian.

Pada sebuah upacara di Chinese Academy of Sciences, Presiden Cornell University David Skorton menyerahkan koleksi yang telah dikumpulkan oleh sarjana peneliti Shu Chun Teng. Teng belajar ilmu cendawan di Cornell University pada tahun 1920, lalu menghabiskan dekade berikutnya dengan berpetualang di atas kuda untuk mengumpulkan mold, lichen, yeast, rust, dan morel di hutan-hutan, ladang, dan rawa-rawa seantero China. "Saya pikir bagian paling penting tentang apa yang kita lakukan di sini sekarang ini adalah benar-benar kembali tangan ke orang-orang China yang terentang tiga perempat abad yang lalu," kata Skorton.

Selama invasi Jepang pada tahun 1937, Teng mencuri spesimen yang terbaik dari National Botany Institute untuk menyelamatkan mereka dari operasi penyitaan dan kehancuran. Selama Perang Dunia II, spesimen berbagai jamur diselundupkan menggunakan gerobak sapi ke Indocina dan kemudian melalui laut ke Amerika Serikat. Sekitar 2.278 paket spesimen Teng disimpan di Cornell University. Tindakan yang dilakukan Teng menjadi target selama Revolusi Kebudayaan 1966-76. Teng menjadi sasaran pemukulan dan serangan mental setiap hari yang merusak kesehatan dan karier. Teng meninggal pada tahun 1970 di usia 67.

Putri Teng, Deng Yi, mengatakan merasa suasana penuh emosi dalam upacara itu. "Selama waktu itu ayah saya telah diklasifikasikan sebagai kontra revolusi dan diberi label penjahat. Jadi sekarang spesimen ini telah kembali ke negara asal mereka, ayahku di surga akan merasakan kebahagiaan besar dalam hatinya," kata Deng.

Zhuang Wenying, seorang mycolog dari Institute of Microbiology, memuji tindakan Teng. "Motivasi dan tindakannya adalah hal-hal besar, ia menyelamatkan harta ini sehingga kita masih dapat melihat dan penelitian dengan mereka hari ini. Beberapa dari sampel tersebut tidak ada di tempat lain," kata Wenying.

Selama petualangan ke seluruh pelosok China, Teng membuat catatan secara teliti, gambar dari jamur-jamur yang ia temukan, dan membuat duplikat. Teng kembali mengajar setelah PD II usai, National Mycology Laboratory diaktifkan kembali pada tahun 1963 dan menerbitkan buku yang tetap menjadi sumber informasi yang sangat diperlukan mengenai dunia jamur pada paruh pertama abad ke-20.

Tinuku Store