KOMPAK: Komisi III DPR RI telah Menikam Hati Nurani Rakyat

Tinuku

(KeSimpulan) Rapat antara sejumlah LSM, mahasiswa dan beberapa tokoh yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi (KOMPAK) dengan komisi III DPR berlangsung ricuh.

KOMPAK mempertanyakan kesimpulan Komisi III DPR yang mendukung Kejaksaan Agung dalam kasus Bibit S Riyanto dan Chandra M Hamzah. Sosiolog UI Thamrin Amal Tamagola menilai kesimpulan yang sudah disepakati antara Kejagung dan DPR justru memojokan KPK. "Dengan kesimpulan seperti itu Komisi III telah mengambil pihak kepada Kejagung dan menikam hati nurani rakyat. Dengan moral politik, jika saudara lebih mengacu prosedural berarti saudara menentang nurani rakyat, saudara menentang arus sejarah. Jelas demikian DPR sekarang tidak berbeda dengan DPR yang lalu. Sekarang kita tahu siapa kawan, siapa lawan," kata Thamrin.

"Semua sudah jelas, DPR mendukung Kejaksaan dan Polri bukan KPK," sindir Thamrin di Gedung DPR, Senayan, Jakarta. Kompak awalnya mempertanyakan pemahaman Benny tentang Tim Delapan. Di media massa, Benny sempat menuding bahwa Tim Delapan bias. "TPF bukan tim pencari fakta, tapi mengklarifikasi, clarify! Menyedihkan Ketua Komisi III tidak memahami prinsip kerja TPF," kata Thamrin.

Maaf… Saya tidak bisa senyum-senyum seperti orang NTT lain

Ketua Komisi III DPR Benny K Harman dinilai kurang ramah, Benny malah mengaku tidak bisa tersenyum. "Interupsi pimpinan, mohon maaf terus terang sejak saya masuk ke ruangan ini saya tidak nyaman dengan penerimaan Pak Benny sebagai pimpinan Komisi III DPR," keluh aktivis Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika, Nia Syarifuddin. Nia mengeluhkan sikap Benny yang tidak ramah dengan rakyatnya. Padahal Benny duduk di DPR sebagai wakil rakyat yang menjadi konstituennya. "Saya mohon sikapnya agak baik penerimaan lebih ramah dengan rakyat kecil seperti kami Pak Benny," kata Nia lirih.

Mendengar keluhan Nia, Benny malah jujur kalau dirinya memang tidak biasa tersenyum. Benny mengaku berbeda dengan penduduk NTT lainnya yang dikenal ramah. "Kalau saya diminta untuk senyum terus mohon maaf saya tidak bisa. Saya tidak bisa senyum-senyum seperti orang NTT lain," kata Benny serius. Nia menuturkan kekecewaannya dengan sikap Ketua Komisi III ini. "Dia harus punya kesopanan dong, dia harus belajar ramah. Kalau tidak bisa memancing amarah rakyat," ungkap Nia dengan nada kesal.

Perlu Kedewasaan dalam Berdebat

Dalam rapat dengar pendapat Komisi III DPR dengan rakyat juga terjadi tarik ulur waktu. Benny bersikeras ingin rapat selesai singkat, namun ditolak wakil masyarakat yang hadir dalam rapat. "Kita sesuai dengan kesepakatan dimulai selesai pukul 21.30 WIB," kata Benny, memotong pembicaraan dengan masyarakat yang mengunjunginya. Salah satu aktivis KOMPAK Thamrin Amal Tamagola (Dosen UI) kecewa berat dengan ucapan Benny. "Pimpinan demi keadilan pimpinan mengapa bertemu Kapolri bisa selesai pukul 3 pagi tapi dengan rakyat dibatasi," kata Thamrin dengan nada tinggi.

Anggota KOMPAK Usman Hamid yang juga Koordinator Kontras, menyayangkan rapat dengar pendapat berakhir ricuh. Kericuhan pecah ketika Kompak mengkritisi sikap DPR yang cenderung memihak Kepolisian dan Kejaksaan. "Sebenarnya budaya debat biasa di alam demokrasi. Dalam debat kita masih perlu belajar kedewasaan," kata Usman. Anggota KOMPAK Fadjroel Rachman mengaku tidak pernah membayangkan bahwa rapat dengan Komisi III DPR RI bisa berakhir ricuh, dan ditutup dengan tidak sah. "Padahal kami hanya ingin menyampaikan persoalan terkait kriminalisasi KPK dan keberadaan mafia hukum di Indonesia," tambahnya.

Anggota KOMPAK yang hadir di ataranya adalah Ray Rangkuti, Yudi Latief, Effendy Ghazali , Jerry Sumampouw, Johan Silalahi, Franky Sahilatua, Irman Putrasidin, Usman Hamid, Fadjroel Rachman, Sebastian Salang, Faisal Basri, Mahasiswa BEM UI, dan lainnya. (Selasa 10 November 2009)

www.detiknews.com (Rapat Komisi III dengan Kompak Berlangsung Ricuh; Ketua Komisi III: Maaf Saya Tidak Bisa Senyum-Senyum), nasional.kompas.com (Rapat di Komisi III-KOMPAK Ricuh; Usman Hamid: Perlu Kedewasaan dalam Berdebat)

Tinuku Store