Misi LCROSS NASA Tunjukkan Bukti Kandungan Air di Kawah Cabeus Dekat Kutub Selatan Bulan

Tinuku

(KeSimpulan) Sebuah babak baru dalam eksplorasi ruang angkasa telah dibuka setelah NASA mengkonfirmasi bahwa misi mereka mengebom Bulan telah menemukan "jumlah yang signifikan" air beku.

Para ilmuwan mengatakan butiran es sepenuhnya ditemukan di sebuah kawah di planet ini. Mereka mengatakan bahwa es berbentuk butiran bercampur dengan debu dari Bulan menjadi lompatan besar dalam eksplorasi ruang angkasa dan meningkatkan harapan pembangunan pos permanen di Bulan. Air ditemukan dari puing-puing yang terlempar dan ditangkap oleh Lunar Crater Observation dan Sensing Satellite (LCROSS) bulan lalu ketika jatuh ke kawah Cabeus dekat kutub selatan Bulan.

"Kami gembira. Memang, ya, kami menemukan air. Dan kami tidak menemukan sedikit, kami menemukan jumlah yang signifikan." kata Anthony Colaprete dari proyek ilmuwan dan peneliti utama dalam misi berbiaya £49 juta. Sebuah "momen eureka" dari analisis puing pada kawah 30 feet melontarkan air karena dampak yang ditimbukan oleh hantaman bomber LCROSS. "Ini adalah hari besar bagi ilmu pengetahuan dan eksplorasi. Hasilnya luar biasa melampaui harapan. Hal ini sangat menarik," kata Doug Cooke dari associate administrator LCROSS.

Identifikasi air dan es memiliki implikasi penting bagi tujuan ilmiah, selain itu persediaan air di Bulan akan menjadi sumber daya penting untuk eksplorasi manusia pada masa depan. Temuan ini bertentangan dengan keyakinan sebelumnya bahwa di Bulan adalah tempat gersang yang kering. Temuan air ini menjadi impian kolonial manusia yang bukan hanya berupa satelit Bumi. "Kami membuka kunci misteri tetangga terdekat," kata Michael Wargo, kepala ilmuwan Bulan di kantor pusat NASA, Washington DC.

Misi berlangsung pada tanggal 9 Oktober 2009 dan disaksikan secara live oleh jutaan orang di seluruh dunia melalui internet. Satu roket menghantam ke kawah Cabeus, dekat kutub selatan bulan, dengan kecepatan sekitar 5.600 mil (9.000 kilometer) per jam. Dampak benturan mengirim gumpalan material dari dasar kawah yang tidak pernah tersentuh sinar matahari selama miliaran tahun. Roket itu diikuti empat menit kemudian oleh sebuah pesawat antariksa yang dilengkapi dengan kamera untuk merekam kejadian.

Pada saat menghantam pada mulanya mengecewakan karena "debu dari puing-puing" tidak dapat terlihat dari teleskop berbasis di Bumi. Namun analisis jumlah besar data yang dikumpulkan pesawat ruang angkasa dan dari satelit definitif spektrometer memberikan bukti tentang keberadaan air. Spektrometer cahaya yang dipantulkan dari suatu zat mampu mengidentifikasi komposisi material.

Selama dekade terakhir, para ilmuwan telah menemukan beberapa petunjuk di bawah tanah es di kutub-kutub bulan, terutama dalam bentuk senyawa hidrogen tetapi belum memberikan bukti yang terbaik. Penemuan ini diharapkan memiliki implikasi besar bagi masa depan eksplorasi bulan dan pasokan air siap akan membantu mendirikan pangkalan di bulan atau membuka misi ke Mars. Colaprete mengatakan mungkin air dapat dimurnikan untuk diminum meskipun tampak bercampur dengan metanol beracun.

Hanya 12 orang dari semua orang Amerika Serikat yang pernah berjalan dan yang terakhir menginjakkan kaki di Bulan pada tahun 1972 yaitu pada misi Apollo. NASA memiliki rencana ambisius menempatkan kembali astronot di bulan pada tahun 2020 untuk membangun pangkalan berawak sebagai batu loncatan untuk eksplorasi lebih lanjut ke planet Mars di bawah proyek Constellation.

Namun proyek ini semakin meragukan karena anggaran dana NASA saat ini terlalu kecil untuk membayar Constellation's Orion kapsul yang lebih maju dan versi luas Apollo lunar module, serta roket Ares I dan Ares V yang diperlukan untuk menempatkan di orbit. Sebuah review panel yang ditunjuk oleh Presiden Barack Obama mengatakan bahwa anggaran yang ada tidak cukup untuk mendanai misi kembali sebelum tahun 2020.

Tinuku Store