NASA dan Esa Sepakati Mars Exploration Joint Initiative (MEJI)

Tinuku

(KeSimpulan) NASA Amerika Serikat dan ESA Eropa sepakati "letter of intent" yang mengikat bersama dalam program planet Mars. Perjanjian yang ditandatangai di Washington DC, memberi akses untuk ilmuwan dan insinyur kedua belah pihak untuk memulai perencanaan misi.

Program bersama Red Planet ini dimulai oleh Eropa yang akan mengirim orbiter pada tahun 2016, kemudian dilanjutkan dengan penjelajah permukaan pada tahun 2018, dan jaringan pendaratan pada tahun 2020. Tujuan akhir misi untuk membawa batu dan tanah Mars ke laboratorium di Bumi. Dokumen Washington ini ditandatangani oleh kepala administrator NASA Charles Bolden dan direktur jenderal ESA Jean-Jacques Dordain.

Mars Exploration Joint Initiative (MEJI) telah didiskusikan selama beberapa bulan, dengan elemen-elemen pokok meliputi lingkup, pembagian tanggung jawab, dan pembiayaan yang secara berangsur-angsur bergilir. Nota kesepakatan ini menempatkan inisiatif pada pijakan yang lebih formal. Amerika Serikat dan Eropa telah mengambil pandangan bahwa mereka dapat mencapai lebih banyak secara bersama-sama kajian ilmiah di Planet Mars jika mereka menggabungkan keahlian yang dimiliki. Selain itu kedua belah pihak juga mengalami kendala program Mars saat ini yaitu tekanan keuangan, jadi dengan kerjasam maka jadwal misi eksplorasi misi setiap dua tahun dapat dipertahankan.

ESA berjanji mengusakana dana 850 juta euro sebagai usaha menuju Planet Mars. Mereka perlu merujuk angka tersebut sampai sekitar 1 miliar euro untuk operasional MEJI. Keberadaan dana tambahan ini mungkin memberi gambaran bagi negara-negara Eropa untuk melakukan pertemuan dewan pada pertengahan Desember (meskipun akan dibahas secara rutin setiap tahun). "Yang penting saya kira adalah negara-negara anggota telah memberi ke ide; saya tidak mengharapkan ada kejutan," kata Profesor David Southwood, direktur ESA science and robotics, kepada BBC. Profesor Southwood telah mengumpulkan inisiatif bersama dengan Dr Ed Weiler dari NASA.

Misi meliputi kesempatan peluncuran yaitu:

  1. 2016: Sebuah orbit yang dipimpin Eropa untuk melacak gas termasuk metana di lingkungan Mars. Misi juga akan meletakkan stasiun meteorologi statis di permukaan. Eropa akan menangani entry, descent and landing (EDL) pada stasiun ini (sebuah kemampuan yang belum pernah dibuktikan ESA).

  2. 2018: NASA dan ESA akan meluncurkan pesawat penjelajah. NASA akan menggunakan fasilitas EDL.

  3. 2020: Jaringan pendaratan berfokus pada geofisika dan lingkungan.

NASA akan menyediakan peluncuran roket pada tahun 2016 dan 2018. Stasiun meteorologi 2016 akan lebih kecil daripada pendarat Phoenix NASA baru-baru ini. ESA akan menguji tanah yang diharapkan saat terjadi musim badai debu, ketika material Mars terangkat ke langit. Badai seperti ini kadang-kadang dapat menyelimuti seluruh planet dan mengubah karakteristik atmosfer, membuat EDL jauh lebih sulit. "Ini akan menjadi sebuah tantangan tapi kita tahu bagaimana melakukannya," kata Profesor Southwood.

Tinuku Store