Anggrek Gunakan Trik Tipu Daya Seksual Memilih Serangga Penyerbuk

Tinuku
(KeSimpulan) Sebuah penelitian baru mengungkap alasan mengapa anggrek menggunakan trik tipu daya seksual untuk memancing serangga penyerbuk, dipublikasikan edisi Januari jurnal The American Naturalist, menemukan bahwa penipuan seksual oleh anggrek mengarah usaha untuk lebih efisien sistem penyerbukan.

Kebanyakan tanaman berbunga memberi polinator dengan nektar yang lezat, sementara banyak spesies anggrek justru membuat trik tipuan, menggunakan apa yang disebut makanan bohongan. Mereka menghasilkan bunga yang terlihat atau aroma seperti menawarkan makanan, tetapi tidak memberikan imbalan. Anggrek lain menggunakan penipuan seksual, menghasilkan bunga yang tampak atau aroma seperti serangga betina, biasanya lebah atau tawon. Serangga jantan tertarik pada bunga seksi dan berusaha untuk menyunting. Dalam melakukannya, mereka sengaja mengumpulkan serbuk sari pada tubuh mereka untuk menyuburkan anggrek berikutnya yang dikunjungi.

Dari perspektif evolusi, strategi seksual agak membingungkan. Anggrek yang menawarkan makanan nektar atau meniru dapat menarik lebah, tawon, lalat, semut dan sebagainya. Tapi hanya menampilkan bunga yang berbentuk seksual tampak seperti tawon betina untuk menarik perhatian jantan, bukan serangga lain. Anggrek ini membatasi potensi penyerbukan dirinya yang tampaknya akan menjadi kerugian reproduksi diri sendiri.

Meskipun tampak aneh, penipuan seksual telah berevolusi beberapa kali dalam berbagai jenis anggrek. Jadi, harus ada keuntungan selektif, peneliti Salvatore Cozzolino dan Giovanni Scopece dari University of Naples Federico II, Steven Johnson dari University of KwaZulu-Natal (Afrika Selatan), dan Florian Schiest dari University of Z├╝rich berusaha untuk mengetahuinya. Schiest dan timnya mengamati populasi 31 jenis anggrek dengan berbagai strategi penyerbukan di Italia dan Australia Barat. Mereka mengukur jumlah serbuk sari yang diambil dari masing-masing anggrek dan jumlah serbuk sari yang membuatnya ke tempat tujuan anggrek lain dari spesies yang sama.

Mereka menemukan bahwa populasi dari tipuan seksual anggrek untuk mencari "pengiriman serbuk sari yang lebih efesien" daripada spesies dengan beberapa penyerbuk. Dengan kata lain, persentase yang lebih tinggi dari tepung sari yang diambil dari anggrek penipu sebenarnya dikhususkan untuk anggrek lain dari spesies yang sama. Anggrek dengan berbagai polinator memiliki lebih banyak serbuk sari yang diambil dari bunga, tapi lebih banyak serbuk sari yang jatuh ke tanah atau terkirim untuk bunga dari spesies yang salah (spesies lain).

Jadi, tampak bahwa perilaku anggrek mengkhususkan diri dengan satu pollinator dan menarik dengan tipuan seks untuk membuat garis yang lebih langsung dengan bunga anggrek yang lain agar semakin sedikit serbuk sari berharga yang hilang dalam proses transportasi. "Ini dapat memberikan wawasan baru dalam pemahaman tentang perubahan evolusi secara umum untuk strategi khusus dalam penyerbukan tanaman berbunga dan bahwa angrek yang seksi melakukannya dengan lebih baik!" kata Scopece.

Giovanni Scopece, Salvatore Cozzolino, Steven D. Johnson, and Florian P. Schiestl, "Pollination Efficiency and the Evolution of Specialized Deceptive Pollination Systems." The American Naturalist 175:1 (January 2010). The American Naturalist berdiri sejak tahun 1867, sebagai salah satu di dunia yang paling terkenal dalam publikasi peer-review untuk ekologi, evolusi, populasi, dan penelitian biologi integratif. Jurnal ini diterbitkan oleh The University of Chicago Press untuk American Society of naturalis.
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment