Apakah Pesawat Terbang Gunakan Biofuel Jet Sudah Siap Lepas Landas?

Tinuku

(KeSimpulan) Hasil uji coba penerbangan sudah baik, tapi pertanyaan tetap apakah pesawat jet biofuel dapat diproduksi dalam jumlah besar dan berkelanjutan. Maskapai penerbangan Belanda KLM telah menyelesaikan lima uji terbang biofuel jet dengan awak pesawat beserta penumpang.

Kimiawan Jennifer Holmgren mengatakan campuran rasio 50-50 bahan bakar reguler dan biofuel dari minyak olahan camelina pada salah satu dari empat mesin, pesawat membawa 42 "pengamat" selama satu jam pada tanggal 23 November dari Bandara Schiphol Amsterdam.

"Otoritas penerbangan sipil di Belanda mengatakan bahwa kita sudah cukup melihat bahan bakar ini dan saya merasa nyaman," kata Holmgren yang bekerja untuk pengolahan UOP, sebuah divisi dari Honeywell International. Tes penerbangan adalah bagian dari rencana industri penerbangan untuk menganti 1 persen konsumsi minyak bumi dengan bahan bakar alternatif pada tahun 2015 atau sekitar 600 juta galon per tahun.

Produsen biofuel sudah bersiap-siap produksi minyak Camelina berkelanjutan untuk memproduksi 1.000 galon yang diperlukan sebagai rencana penerbangan KLM dengan lahan lebih dari 20.000 hektar di Montana, cukup untuk mengirimkan 9,5 juta liter. Solazyme baru-baru ini memenangkan kontrak untuk memasok lebih dari 75.500 liter minyak Alga ke Angkatan Laut Amerika Serikat.

Pengujian dan prosedur sertifikasi di bawah American Society for Testing and Materials International (ASTM) sedang dilakukan bersama dengan biofuel jet yang akan dimasukkan di bawah spesifikasi synthetic paraffinic (waxy, lilin) kerosenes disetujui awal tahun 2010 untuk bahan bakar alternatif pengganti batu bara. "Sudah dipraktekan selama 15 tahun di Afrika Selatan, ini bukanlah hal yang baru. Kami berharap seluruh proses sertifikasi dilakukan sekitar tahun 2010," kata Darrin Morgan, direktur strategi biofuel di Boeing.

Namun tidak semudah membalik tanggan, tidak berarti perusahaan penerbangan akan terbang dengan campuran rasio 50:50 biofuel dan konvensional secepatnya tahun depan. Sebagian besar karena tidak banyak bahan campuran yang tersedia, bahkan jika disertifikasi oleh ASTM dan akhirnya juga Federal Aviation Administration. Penyulingan skala besar seperti minyak berbasis bio belum menghasilkan apapun. Sebaliknya, batch untuk tes seperti penerbangan atau kontrak militer selama berbulan-bulan diproses secara individual oleh UOP pada fasilitas Houston.

"Kami telah membuat 40.000 galon. Kami memodifikasi fasilitas lebih lanjut untuk meningkatkan produksi," klaim Holmgren yang mencatat kilang-kilang dapat dimodifikasi, karena core pembuatan biofuel jet hampir sama dengan core pembuatan bahan bakar konvensional yaitu hydroprocessing atau menambahkan hidrogen hidrokarbon untuk menghilangkan oksigen dan kotoran lain serta membangun molekul yang tepat. Semua versi bio adalah kurangnya hidrokarbon volatile khusus yang diperlukan agar mengembang dalam mesin pesawat, maka dibutuhkan campuran bahan bakar konvensional. Tapi agar biofuel benar-benar mengambil tempat penerbangan atau setidaknya mencapai penggunaan global minimal 1 persen, membutuhkan minimal lima fasilitas yang mampu mengaduk 100 juta galon. "Membangun perkebunan beberapa tahun. Tiga sampai lima tahun adalah jangka waktu yang wajar," kata Holmgren.

Ada juga kontroversi seputar tanaman yang digunakan untuk membuat biofuel jet, tidak hanya camelina (Camelina sativa) dan ganggang (Alga atau Algae), tetapi juga Jatropha (Jatropha curcas atau Jarak Pagar). Jatropha misalnya sebagian besar tumbuh di Afrika Timur dan India sampai saat ini, telah terbukti memerlukan lebih banyak air, masalah di mana air tawar adalah sumber daya yang langka. Tapi Morgan dari Boeing berpendapat bahwa tanaman Jatropha adalah masuk akal seperti sukses Madagaskar dan Haiti.

Sebuah studi serupa oleh Michigan Technological University disponsori oleh UOP yang menemukan formula biofuel jet dari camelina dapat mengurangi emisi gas rumah kaca sebanyak 84 persen dan dapat ditanam pada rotasi kebun gandum. Tentu saja, bahan bakar dari sumber-sumber tersebut juga lebih mahal daripada bahan bakar jet konvensional. "Ini aman untuk mengatakan 50 sen hingga 1 dolar per galon untuk langkah pengolahan. Ini bukan masa depan, tapi sekarang. Hanya soal cara mendapat tanaman tersebut. Segera setelah bersertifikat, saya tidak akan heran jika maskapai ingin terbang menggunakannya," kata Morgan.

Kelompok pertama eksplorasi produk biofuel jet juga diumumkan oleh KLM setelah penerbangan SkyEnergy menjadi usaha patungan dengan North Sea Petroleum and Spring Associates. "Ini adalah jalan untuk komersialisasi yang sudah menguji semua lingkungan penerbangan," kata Holmgren.

Tinuku Store

No comments:

Post a Comment